[Notes
from Kuala Lumpur #10] Ini kejadian sepekan yang lalu. Seorang bapak
paruh baya yang menjadi pembantu rumah tangga di sebuah keluarga elit
Indonesia di sini meninggal dunia mendadak, padahal semasa hidupnya ia
dikenal tidak memiliki penyakit apa-apa. Meninggalnya pun tanpa pamit.
Tenang dan tidak menyusahkan keluarga majikannya. Seketika pembantu ini
meninggal, sang majikan sontak menangis histeris. Barangkali karena ia
sudah bekerja sejak lama dan telah dianggap oleh sang majikan sebagai
keluarganya sendiri. Namun naifnya, keluarga elit ini tak mengerti
perkara agama, alias sedikit sekuler. Hal yang kini sudah dipandang
lumrah terjadi pada keluarga-keluarga kaya dan beruang. Pun keluarga ini
sepertinya tak cakap bertetangga, sehingga di hari itu tak satu pun
tetangganya yang datang melayat. Seandainya saat itu kami tidak datang,
barangkali jenazah bapak itu tidak akan terurus sebagaimana mestinya,
bahkan mungkin akan dibiarkan begitu saja seperti mayat kucing.
Memilukan. (Edisi 7 Juni 2012)
[Notes
from Kuala Lumpur #11] Ada resiko di setiap pilihan. Ada yang harus
dikorbankan, ada yang mesti dikesampingkan. Seperti keputusan saya
setahun silam untuk melanjutkan proses pembelajaran diri ke Negeri
Jiran ini. Setelah setahun di sini, saya justru dilanda kegalauan akut
dalam banyak hal. Salah satunya tentang kapan tepatnya diri ini akan
menggenapkan separuh agama, sementara waktu terus berputar, usia pun
terus bertambah dan bertumbuh. Ditambah lagi dengan beban studi di
sini, apalagi selevel S-2 yang jelas tak mudah dan ringan. Ya,
barangkali inilah resiko itu. Kendati berat, tapi ia harus dijalani
dengan tekun dan sabar. Sepertinya tak hanya saya yang mengalami dan
merasakan kekalutan ini. Mayoritas rekan-rekan sesama mahasiswa S-2
asal Indonesia di sini sepertinya memiliki pandangan yang sama dengan
saya. Menikah dengan berstatus mahasiswa di Malaysia itu tidaklah
gampang, terlebih dengan standar hidup di sini yang jauh di atas Indonesia.
Saya kemudian malah berpikir, ketimbang saya jadi guru agama honorer di
daerah saya yang hanya bermodal ijazah S-1, bergaji pas-pasan bahkan
sekadarnya, lalu umpamanya "memaksakan diri" menikah, maka
lebih baik saya terus meningkatkan kualitas diri dengan melanjutkan
perantauan dan pengembaraan intelektual, dengan menunda sejenak
keinginan untuk menyempurnakan agama itu sampai saat yang paling tepat
tiba, tanpa mengorbankan ekspektasi-ekspektasi pribadi. (Edisi
13 Januari 2013)
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar