Selasa, 18 Oktober 2016

[Notes from Kuala Lumpur] Saya dan Dilema Alumni Timur Tengah

Di awal tahun ajaran baru yang lalu, iklan-iklan kebutuhan guru berseliweran tak henti-henti di akun social media saya dari berbagai yayasan pendidikan, terutama dari yayasan yang menaungi sekolah-sekolah Islam yang baru tumbuh. Menariknya, sebagian besar dengan terang-terangan menyasar alumni Timur Tengah, seperti tamatan Universitas Al-Azhar Mesir, Arab Saudi, dan sebagainya.

Saat membaca satu demi satu postingan iklan tersebut, saya jadi kerap bertanya-tanya, mengapa harus demikian? Mengapa misalnya, mereka tidak mencari lulusan dalam negeri, padahal yang akan diajar juga cuma anak-anak setingkat SD dan SMP, yang tentunya hanya akan diajarkan pengetahuan Islam dasar. Rasanya tidak adil ketika mereka memandang sebelah mata lulusan-lulusan UIN, IAIN, dan STAI.

Saya kemudian berasumsi, bahwa hal ini agaknya sangat berhubungan erat dengan upaya marketing dan pencitraan sekolah, sehingga sekolah-sekolah tersebut nantinya jadi punya nilai jual di mata masyarakat. Dengan kata lain, mereka punya guru jebolan luar negeri, sehingga poin ini jadi nilai lebih dan daya tarik tersendiri untuk menggaet murid lebih banyak. Hey, ini kan sekolah-sekolah swasta. Mereka pasti juga mempertimbangkan perolehan pundi-pundi profit dong. Tidak cuma dan tidak sesederhana mengurus kegiatan ajar-mengajar doang.

Hanya saja, satu hal yang menjadi titik perhatian saya selama ini. Bahwa sesungguhnya masyarakat punya ekspektasi yang tinggi terhadap alumni-alumni Timur Tengah, dan itu adalah fakta yang tak bisa dibantah. Jebolan Timur Tengah dinilai punya kedalaman ilmu agama yang lebih, sehingga ketika seorang tamatan Timur Tengah pulang ke Tanah Air, biasanya ia akan diundang untuk berceramah ke sana ke mari, atau seperti yang saya utarakan di atas, diminta, bahkan sampai dibujuk untuk menjadi tenaga pengajar oleh pengelola-pengelola yayasan, terutama di sekolah-sekolah berbasis pesantren.



Namun, ekspektasi yang besar tersebut seringkali tidak diimbangi dengan pemberian apresiasi yang layak dan seharusnya kepada alumni Timur Tengah. Dalam hal ini, tengoklah para pemilik dan pengelola yayasan yang biasanya adalah orang-orang yang bermobil mentereng dan berumah megah. Sementara alumni Timur Tengah yang mereka pekerjakan hanya dibayar sekadarnya, sangat jauh dari cukup. Hal ini rasanya sudah menjadi rahasia bersama yang dikeluhkan oleh kalangan alumni Timur Tengah sendiri.

Saya kerap tidak mengerti, mengapa masyarakat kita, khususnya para pengelola pendidikan swasta itu punya cara pandang demikian. Apakah mereka melihat bahwa alumni Timur Tengah itu bak malaikat yang tidak perlu sandang, makan, dan papan yang layak? Ataukah mereka menilai bahwa mengajar agama itu sudah menjadi kewajiban sang alumni, sehingga tak perlu diapresiasi dan digaji? Saya sendiri sudah merasakan perlakuan semacam ini sekembali dari Mesir dulu. Bahkan hengkangnya saya ke Malaysia guna melanjutkan studi salah satunya dilatarbelakangi oleh rendahnya apresiasi materi yang saya terima selama menjadi guru.

Maka, ekspektasi besar yang mereka elu-elukan terhadap jebolan Timur Tengah seharusnya juga diimbangi dengan upaya mengapresiasi yang besar pula. Bayarlah mereka secara profesional, sebagaimana mereka sudah mengajar dan bekerja pada yayasan-yayasan tersebut dengan penuh dedikasi. Perhatikan kesejahteraan mereka. Segalanya mesti berprinsip apple to apple. Lamak dek awak, katuju dek urang. Apalagi, alumni Timur Tengah sudah dengan rela mewakafkan sepenuh usia dan dirinya kepada yayasan tersebut, bahkan menggantungkan kepulan asap dapur rumah tangganya pada yayasan mereka. []

Kuala Lumpur, 19 Oktober 2016