Setelah lama rasanya ga nge-update blog gue yang sederhana ini, kadang-kadang gue jadi pengen nulisin apa aja. Mulai dari hal yang remeh-temeh sampai hal yang ramah-tamah. Hehe... Paling tidak ya buat belajar mendeskripsikan apa saja yang gue lihat dan temukan. Seperti yang pernah gue pelajari di sebuah workshop kepenulisan dan penerbitan yang diadakan oleh Word Smart Center bersama sejumlah penerbit Indonesia yang bertandang ke Cairo beberapa waktu silam, bahwa seorang penulis itu sebisa mungkin harus memiliki prinsip atau semacam pemikiran seperti ini: apa saja yang ia baca, lihat, temukan, dengar dan rasakan, jika itu menggelitik naluri kepenulisan dalam dirinya, maka harus segera ia tulis. “Seorang penulis juga harus cakap mendeskripsikan banyak hal dalam tulisan-tulisannya”, tutur seorang pembicara ketika itu. Kontan gue tercenung dan terhenyak mendengarnya, sembari teringat bahwa titik inilah yang selama ini jarang gue fokuskan benar-benar.
Senin, 03 Desember 2012
Gue dan Seutas Inspirasi dari Workshop Kepenulisan
Tujuh Belasan Tanpa Makan Kerupuk
Pada medio Agustus tahun ini, setidaknya ada dua momentum besar dan masif yang akan menjadi titik tolak perenungan bagi kita, paling tidak dalam kapasitas kita selaku umat Muslim dan warga negara Indonesia . Pertama, momentum yang terkemas khusus bagi kaum muslimin, berupa kedatangan tamu agung yang senantiasa dinanti dan dirindukan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, yaitu bulan Ramadan. Kedua, peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang pada tahun ini tengah menapaki usianya yang ke-65. Kedua momen sakral yang datang hampir secara berbarengan ini merupakan sebongkah anugerah yang patut disyukuri. Betapa tidak, hingga detik ini bangsa Indonesia masih bisa menghirup dengan bebas hawa kemerdekaan dari kepungan dan dominasi imperialisme, imperialisme dalam definisi tersempit berupa hegemoni sepihak kaum penjajah yang mengangkangi sebuah wilayah berdaulat. Padahal, di saat yang sama, di belahan dunia sana jutaan entitas Muslim masih saja tertindas di bawah bendera angkuh zionisme. Di samping itu, Ramadan yang sejatinya merupakan jenak-jenak pelebur dosa kini kembali menyapa dan menyambangi kita. Sesungguhnya hal demikian merupakan sebentuk bukti, bahwa tak ada alasan bagi siapapun untuk tidak mendayagunakan anugerah tersebut berikut menerjemahkan wujud syukur atas segala karunia kepada Dzat Yang Maha Pemberi.
Dari tahun ke tahun, perbincangan seputar tajuk kemerdekaan dalam cakupan peringatan proklamasi pada dasarnya tak begitu banyak berubah. Setidak-tidaknya hanya berkisar pada apa dan bagaimana perjuangan para pahlawan dahulunya dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Di titik ini, nuansa yang cukup kental biasanya berupa kontemplasi, refleksi, dan reaktualisasi nilai-nilai kemerdekaan dalam konteks kekinian. Pun pembacaan atau wacana yang kemudian kerap diketengahkan ke permukaan adalah bagaimana agar spirit perjuangan para pahlawan mampu teradopsi dan terserap oleh generasi muda khususnya dalam membangun Indonesia ke depan. Hanya saja, semangat menggebu-gebu semacam ini acapkali terhenti pada tataran wacana saja, alias tanpa ada upaya tindak lanjut. Celakanya lagi, penggelindingan opini-opini konstruktif tersebut terkesan sedikit "dipaksakan" lantaran momennya "bertepatan" dengan peringatan proklamasi kemerdekaan RI. Sebagai sampel sederhana, ketika momentum tahunan ini diperingati, biasanya akan terdengar selentingan wacana seputar bagaimana meningkatkan rasa nasionalisme dan kebangsaan yang sudah mulai terkikis di kalangan anak negeri. Namun betapapun, poin ini hanyalah satu dari sederet aura sesaat yang menyemburat saat peringatan ulang tahun negeri ini digelar. Hal yang lebih menonjol tentu bukan wacana-wacana dialogis seputar refleksi kemerdekaan itu, melainkan perayaan-perayaan masif yang diselenggarakan oleh publik guna menyemarakkan even tahunan tersebut, semisal lomba panjat pinang, balap karung, lomba makan kerupuk, dan pelbagai perlombaan sejenisnya yang begitu identik dan familiar dengan momen skala nasional ini.
Lebih jauh, menyoal tentang Ramadan, jamak diketahui bahwa bulan ini merupakan masa-masa diwajibkannya berpuasa bagi umat Islam selama sebulan penuh. Berpuasa dalam artian sebenar-benarnya tidaklah melulu menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia sesungguhnya juga bermakna mempuasakan diri dari beragam perilaku dan tindak-tanduk yang bisa mencederai nilai-nilai spiritual puasa itu sendiri. Ketika seseorang berada dalam kondisi berpuasa pada bulan Ramadan, maka pada hakikatnya ia tengah memerdekakan dirinya dari kesemua bentuk belenggu dan tirani yang mampu menghegemoni ke arah negatif dan keburukan. Jika dianalogikan, maka Ramadan bisa diumpamakan sebagai sebuah instrumen paket pelatihan guna melepaskan setiap individu Muslim dari kungkungan nafsu dan egoisme diri yang boleh jadi menghegemoni selama sebelas bulan.
Pada gilirannya, capaian yang diharapkan adalah terciptanya insan-insan Muslim yang betul-betul merdeka dari sikap dan perilaku-perilaku negatif yang bertentangan dengan nilai-nilai normatif moral dan Islam. Dengan kata lain, terlahir kembali seumpama sosok-sosok baru yang bersih dari dosa. Sebab, selama sebulan penuh mereka telah "dikebiri" dan dikarantina dengan sedemikian rupa untuk memerangi segala bentuk nafsu tatkala berpuasa. Hanya saja, realita di lapangan agaknya masih sangat bertolak belakang dengan teori ideal puasa itu sendiri. Buktinya, betapa kerap terlihat bahwa puasa seakan-akan hanyalah rutinitas tahunan bagi sebagian orang. Puasa jalan, maksiat dan tindak kejahatan pun lanjut terus. Pada akhirnya, Ramadan tinggal Ramadan, tanpa membuahkan hasil dan pencapaian apapun.
Euforia Kemerdekaan Tanpa Hura-hura
Kembali ke perbincangan tentang tema kemerdekaan. Pada perhelatan proklamasi kemerdekaan tahun ini, agaknya ada yang sedikit berbeda dari peringatan tahun-tahun sebelumnya. Apa pasal? Jika pada tahun-tahun yang lampau momen peringatan proklamasi digelar beberapa pekan sebelum Ramadan, maka pada tahun ini jika menilik hitung-hitungan penanggalan kalender Masehi dan Hijriyah, ulang tahun Republik Indonesia yang ke-65 jatuh pada saat umat Islam tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Dalam pembacaan sederhana penulis, kedatangan Ramadan yang berpapasan dengan momentum peringatan proklamasi ini akan melahirkan banyak berkah dan hikmah positif. Salah satunya, spirit kemerdekaan jelas sangat berkait-kelindan dengan visi Ramadan itu sendiri, yaitu melahirkan pribadi-pribadi bertakwa yang bebas dan merdeka secara menyeluruh, sehingga pada diri mereka terbentuk kematangan yang sempurna guna melaksanakan segala tuntutan ajaran Islam.
Oleh karena itu, publik negeri ini baik itu Muslim maupun non-Muslim diharapkan benar untuk menghormati kesucian bulan Ramadan dengan tidak menggelar acara dan kegiatan yang mengandung unsur hura-hura atau bahkan yang rentan menyinggung perasaan orang-orang yang tengah berpuasa. Hal itu bukan berarti jika tak ada momen proklamasi maka dengan serta-merta juga tidak akan ada acara hura-hura. Akan tetapi, sebagaimana lazim diketahui, even perhelatan kemerdekaan adalah saat-saat yang begitu "potensial" dan krusial untuk menyelenggarakan acara yang berorientasi dan berembel-embel apapun. Di titik ini, kesakralan nilai-nilai Ramadan sudah barang tentu tidak perlu diperdebatkan lagi. Namun, terkait dengan nuansa peringatan proklamasi, sepertinya hanya butuh penyesuaian dengan kondisi yang ada, tanpa harus mereduksi hal tersebut secara utuh.
Sekitar dua pekan yang lalu, di situs jejaring sosial Facebook sejumlah teman diIndonesia menulis coretan status seperti ini: "Demi menghormati kedatangan bulan Ramadan, dihimbau kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak menggelar acara lomba makan kerupuk pada momen 17 Agustus yang akan datang." Tentu pada prinsipnya bukan sekadar lomba makan kerupuk yang berkemungkinan besar cukup mengganggu kaum muslimin yang sedang berpuasa, namun juga acara-acara sejenis yang barangkali tidak sejalan dengan spirit dan nuansa Ramadan itu sendiri. Sebagai alternatif, barangkali formula kegiatan yang diadakan bisa sedikit dimodifikasi menjadi kegiatan-kegiatan sosial atau yang bertema religius. Ketimbang menggelar acara-acara yang kontra produktif, bukankah akan lebih positif dan bermanfaat ketika misalnya even ulang tahun kemerdekaan nanti diisi dengan berlomba-lomba menyantuni anak yatim dan fakir miskin? Atau paling tidak dalam ruang lingkup yang lebih kecil dengan saling berpacu memperbanyak amalan yang mampu mendulang pundi-pundi pahala yang berlimpah-limpah di bulan Ramadan?
Sesungguhnya, cukup banyak celah hikmah yang bisa ditangkap dari kedua momentum berharga ini, terlebih lagi dengan meresapi benar-benar makna kemerdekaan dan nilai-nilai Ramadan secara luas dan makro. Dalam konteks kenegaraan misalnya, kebijakan yang ditempuh oleh Menteri Komunikasi dan Informasi, Tifatul Sembiring untuk memerdekakan generasi muda dengan cara memblokir situs-situs porno menjelang Ramadan patut diacungi jempol. Bagaimanapun, tentu tak bijak jika kita hanya berpuas diri pada level tersebut. Sebab, kemerdekaan yang dicita-citakan bersama adalah kemerdekaan yang menyeluruh dan komprehensif di berbagai lini, baik dalam skala kecil maupun besar.
*Tulisan ini dimuat di Buletin Cahaya Keadilan PIP-PKS Mesir Edisi Agustus 2010 dan portal berita detik.com Edisi 17 Agustus 2010
Menyulap Kotoran Manusia Menjadi Sumber Energi yang Tidak Pernah Habis
Bila saat ini manusia di muka bumi menggunakan bensin, solar, minyak tanah, dan gas sebagai bahan bakar dan sumber energi, maka apakah seperempat, setengah, atau satu abad yang akan datang kesemua sumber energi ini masih akan tetap ada dan eksis? Pertanyaan dan pemikiran semacam ini tentu saja perlu diwacanakan dan dicarikan solusi alternatifnya, sebab sumber-sumber energi tersebut keberadaannya bersifat terbatas dan semakin berkurang di planet bumi, sedangkan eksplorasi, konsumsi, dan kebutuhan akan sumber energi tersebut akan terus berlangsung dan meningkat selama umat manusia masih ada.
Kegelisahan dan kekhawatiran akan ketersediaan sumber-sumber energi ini di masa yang akan datang agaknya akan segera terjawab. Beberapa waktu yang lalu di salah satu stasiun televisi swasta saya menyaksikan sebuah program dokumenter tentang penemuan terbaru seputar sumber energi pengganti yang mulai dikembangkan di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Dalam acara tersebut sejumlah peneliti dan pakar energi menciptakan sebuah alat yang mampu mengubah sesuatu yang sangat remeh, jorok, dan menjijikkan menjadi sebuah sumber energi alternatif yang bisa diandalkan jika minyak dan gas suatu saat sudah habis. Ya, sumber energi tersebut adalah kotoran manusia.
Benar, hampir tak ada orang yang tak jijik dengan benda yang satu ini. Namun tidak demikian halnya dengan dunia teknologi yang melihat dan menemukan adanya potensi energi yang luar biasa pada limbah produksi manusia tersebut. Apalagi isu seputar kekurangan bahan bakar minyak dan gas pada masa yang akan datang terus mengemuka, sehingga negara-negara maju seperti Amerika dan negara-negara di Eropa sudah mulai melakukan penelitian untuk mengatasi masalah kekurangan BBM ini, salah satunya melalui produksi energi alternatif berbahan dasar kotoran manusia, yang sering disebut juga dengan biofuel atau bio-oil.
Sejumlah peneliti dan pakar energi menyatakan, bahwa hasil penelitian ini merupakan bisnis yang sangat potensial dan prospektif di masa mendatang, bahkan San Antonio, sebuah kota di Amerika telah memulai penelitian sekaligus melakukan tender bagi perusahaan-perusahaan swasta untuk mengelola bisnis pengolahan kotoran manusia ini. Kendati masih berskala kota, namun dengan skala produksi 140.000 ton kotoran manusia per tahun, kota San Antonio berhasil menyulap hasil pembuangan manusia tersebut menjadi 1,5 juta kaki kubik gas setiap harinya. Pada gilirannya, dari pengolahan kotoran ini dihasilkan gas methane yang dapat digunakan sebagai bahan bakar penggerak pembangkit listrik, sumber energi tungku untuk memasak, hingga sebagai bahan bakar alternatif kendaraan untuk masa mendatang.
Sementara di Indonesia, penelitian terhadap sumber energi potensial ini masih terbilang baru dan belum begitu dikenal. Corak sumber energi alternatif ini di Indonesia lebih familiar dengan istilah biogas. Dalam program dokumenter yang saya ceritakan di awal tadi, terlihat sekelompok ibu-ibu di sebuah daerah di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta yang tengah memasak dengan menggunakan tungku berbahan bakar gas yang dihasilkan dari proses pengolahan kotoran manusia. Mereka mengatakan bahwa ide pemanfaatan limbah hasil produksi tersebut berawal ketika warga setempat berkeinginan untuk menciptakan tempat pembuangan limbah yang sehat, dimana sebelumnya limbah kotoran di kawasan tersebut langsung dialirkan ke sungai, sehingga menciptakan aroma yang tidak sedap dan mencemari lingkungan. Kini, kampung itu sudah terlihat asri dan sehat, di samping warga yang bisa berhemat membeli gas elpiji dan minyak tanah dengan beralih menggunakan energi biogas tersebut.
Hal serupa juga dilakukan oleh warga Pondok Pesantren Darul Quran yang juga berlokasi di Kabupaten Gunung Kidul. Teknologi pengolahan limbah kotoran manusia yang belum lama dipasang di Pondok Pesantren Darul Quran ini diadopsi dari Jerman melalui Bremen Overseas Research and Development Association. Dengan mengolah kotoran manusia, pengelola pondok pesantren mengaku bisa menghemat pengeluaran uang untuk pembelian bahan bakar hingga Rp. 2,5 juta per bulan. Di samping itu, limbah cair dari instalasi pengolahan biogas juga bisa dimanfaatkan bagi pertanian. Dari lahan seluas 1.500 meter persegi, para santri bisa memanen aneka sayuran dengan nilai jual hingga Rp. 1,6 juta per bulan. Pihak pesantren merasakan betul dampak positif dari teknologi biogas ini, bahkan mereka mengatakan bahwa pengolahan limbah kotoran manusia menjadi biogas mampu menciptakan pesantren yang ramah lingkungan dan ekopesantren.
Di masa-masa mendatang, hasil teknologi pengolahan limbah produksi manusia ini bisa menjadi sumber energi baru yang solutif dan alternatif jika diseriusi dan dikelola dengan baik. Bahkan bila ditangani secara profesional dan makro, Indonesia bisa menjadi negara penghasil gas methane terbesar di dunia, terlebih dampak yang dihasilkan mampu menjaga kelestarian bumi sekaligus menciptakan sumber energi baru yang tidak pernah habis.
Mengintip Nuansa HUT RI di Negeri KCB
Menyoal perayaan HUT RI dari tahun ke tahun, sejatinya tak banyak yang berubah. Euforia kemeriahan adalah suatu hal yang sangat menonjol dalam even tahunan itu. Di berbagai sudut daerah di Tanah Air, kemeriahan ini biasanya akan lebih tampak mengemuka. Terang saja, hal itu tentunya bukan karena upacara peringatan detik-detik proklamasi. Namun justru dengan berbagai acara dan perlombaan yang digelar oleh masyarakat guna memeriahkan hari ulang tahun proklamasi itu. Sebut saja misalnya lomba panjat pinang, tarik tambang, balap karung, lomba makan kerupuk, lomba karaoke, serta berbagai perlombaan lainnya yang begitu identik dengan momen 17 Agutus ini. Belum lagi dengan sejumlah pawai dan arak-arakan yang ikut menambah semarak jalan-jalan utama selama perayaan itu berlangsung. Bagi sebagian masyarakat, kemeriahan beragam acara dan perlombaan tersebut seolah mampu membuat saraf-saraf otak mereka sedikit merenggang, untuk kemudian melupakan sejenak berbagai masalah dan carut-marut kehidupan yang mendera. Pun tanpa sokongan pemerintah, terkadang mereka jauh lebih pandai untuk menyulap perayaan hari ulang tahun negara ini menjadi lebih hidup.
Pendeskripsian saya di atas tentunya adalah sekelumit gambaran tentang suasana peringatan HUT RI di Indonesia. Setidaknya, fenomena tersebut terakhir kali terekam dalam benak saya pada tiga tahun silam. Sebab, setelah itu saya sudah tidak di Indonesia lagi dan telah terbang ke Negeri Kinanah, Mesir guna melanjutkan studi di Al-Azhar University.
Terkait dengan peringatan HUT RI, pada dasarnya banyak hal yang membedakan antara suasana di Tanah Air dengan nuansa yang tampak di negeri Ketika Cinta Bertasbih (KCB) ini. Gegap gempita dan kemeriahan yang sangat kentara di Indonesia barangkali tak akan begitu terlihat di sini. Wajar memang, sebab saya dan juga ribuan warga Indonesia lainnya di sini berada di negeri orang. Tentunya, ruang gerak kami untuk ikut bereuforia merdeka tidak seleluasa masyarakat di Tanah Air sana. Tapi itu bukan berarti kami lantas berdiam diri saja dan tidak merayakannya sama sekali. Untuk ukuran nasionalisme, kadang rasa kebangsaan yang kami miliki selaku warga negara Indonesia justru semakin tajam dan bertaji ketika berada di luar negeri, laiknya di Mesir ini. Lebih jauh, dalam satu dan lain hal, boleh jadi kami mampu melangkaui jiwa nasionalisme manusia-manusia di negeri sendiri.
Dalam menanggapi isu-isu nasional yang berkembang misalnya, saya melihat rekan-rekan sesama mahasiswa di sini cukup peka dan sensitif. Salah satu contohnya, ketika sengketa “perebutan” Pulau Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dan Malaysia mencuat ke permukaan beberapa waktu silam, imbasnya pun turut kami rasakan. Akibat panasnya kasus tersebut, beberapa rekan mahasiswa di sini bahkan mengopinikan untuk melakukan semacam “boikot interaksi” dengan mahasiswa-mahasiswa Malaysia di Cairo ini. Alasannya, hitung-hitung sebagai bentuk “pelajaran moral” bagi negara tetangga itu. Sepintas memang tampak sedikit menggelikan, sebab boleh jadi mahasiswa Negeri Jiran itu tidak tahu-menahu akar masalah tersebut sama sekali. Namun demikianlah adanya. Terkadang emosi kami cepat berdebur ketika dihadapkan pada permasalahan yang menyinggung rasa kebangsaan.
Kembali ke cerita tentang peringatan HUT RI tadi. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari jadi proklamasi tahun ini kembali digelar oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Cairo selaku perwakilan Indonesia di Mesir. Pada dua tahun sebelumnya, saya tidak pernah sekalipun menghadiri acara-acara massif yang diadakan oleh KBRI bertepatan pada momen ini. Alasannya, lokasi KBRI yang cukup jauh dan juga karena tidak tertarik. Saya juga berpikir paling-paling acaranya tidak semeriah di Indonesia. Namun ternyata dugaan saya salah. Untuk ukuran di negeri orang, beragam acara dan perlombaan yang digelar bisa terbilang sangat meriah. Yang pasti, memang tak ada lomba makan kerupuk, lomba panjat pinang atau yang sejenisnya seperti di Indonesia. Tapi paling tidak, segenap upaya yang telah dikerahkan oleh pihak KBRI guna memeriahkan even reguler tahunan ini sedikit banyak mampu mengobati kerinduan pada Tanah Air tercinta.
Mengenai perlombaan yang saya singgung di muka, ada cukup banyak lomba yang diselenggarakan oleh KBRI pada perayaan ini. Kebanyakan memang bersifat olahraga, seperti pertandingan bola voli, bulutangkis, tenis meja, dan bela diri. Di samping ada juga yang bercorak keahlian, semisal lomba nasyid, lomba menulis resensi buku, lomba menghafal Al-Quran, lomba tilawah Al-Quran, dan lomba membuat miniatur rumah daerah. Kesemua pertandingan dan perlombaan tersebut diikuti oleh mayoritas mahasiswa dan digelar beberapa hari sebelum acara puncak perayaan HUT RI. Sehari sebelum acara puncak, saya sempat berkunjung ke KBRI di bilangan Garden City guna mengurus suatu keperluan. Pada hari itu pelataran halaman KBRI sedang ramai-ramainya. Tampak beberapa orang sedang mendesain panggung dan menata sejumlah meja. Juga terlihat beberapa umbul-umbul yang dipasang di sejumlah sisi halaman utama. Ternyata pada malam harinya akan diselenggarakan malam penampilan kesenian Indonesia yang khusus dihadiri oleh diplomat-diplomat asing di Mesir. Setahu saya, ada beberapa kesenian khas Indonesia yang akan ditampilkan pada malam itu, di antaranya adalah atraksi Angklung dan Tari Saman.
Jika mengaca ke sejarah, ada satu hal yang patut dicatat tentang sejarah peringatan proklamasi di luar negeri. Bahwa pada tanggal 17 Agustus 1946, sebuah acara resepsi peringatan pertama HUT Kemerdekaan RI digelar di lapangan olahraga Jam’iyyah Syubban Muslimin di Cairo dan dihadiri sekitar 200 pembesar Arab dan Mesir. Acara tersebut bukan hanya acara peringatan pertama di Mesir, tetapi juga yang pertama kali diselenggarakan bangsa Indonesia di luar negeri pada saat belum satupun negara mengakui kemerdekaan Indonesia.Sejarah juga merekam, bahwa dari Mesirlah perjuangan untuk meraih kemerdekaan itu bermula. Setidaknya hal itulah yang dikemukakan oleh Duta Besar RI untuk Mesir, Bapak Dr. Abdurrahman Fachir dalam pidato sambutannya pada acara puncak peringatan HUT RI yang dilaksanakan di auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar Cairo pada tanggal 20 Agustus silam.
Acara puncak yang diselenggarakan pada malam hari itu berjalan sangat meriah, karena dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa Indonesia di Cairo. Berbagai atraksi dan pertunjukan dipertontonkan pada malam itu, semisal Tari Nusantara, Tari Melayu, kesenian gambus, phantomim, nasyid, kesenian Angklung, dan sebagainya. Ragam acara yang disuguhkan mampu membuat para penonton terhibur, bahkan terpingkal-pingkal saat menyaksikan penampilan kocak phantomim. Acara semakin semarak dan hidup tatkala bapak Duta Besar maju ke atas podium dan melantunkan tembang “Juwita Malam” di hadapan para hadirin. Setelah itu, beberapa lagu nasional pun kemudian dibawakan dengan apik oleh siswa-siswi Sekolah Indonesia Cairo (SIC) dengan iringan musik Angklung, yang mampu membuat haru para penonton. Acara pada malam itu ditutup dengan pemberian hadiah kepada para pemenang lomba-lomba yang diadakan sebelumnya. Saya sendiri alhamdulillah meraih juara pertama lomba menulis resensi buku.
Selama saya di Mesir, produk-produk Indonesia termasuk sesuatu yang cukup langka saya temukan. Kalaupun ada paling hanya ada satu-dua produk makanan saja. Suatu kali saat saya sedang hunting alat-alat tulis di sebuah tokostationery, tanpa sengaja saya menemukan lembaran kertas folio buatan Indonesia. Tanpa pikir panjang, langsung saja saya beli kertas tersebut. Karena dalam beberapa hal, sejatinya kualitas kertas produk Indonesia memang lebih bagus ketimbang kertas buatan Mesir. Ada lagi. Sebuah produk mie instan lisensi Indonesia di sini juga cukup populer. Jika dibandingkan dengan produk sejenis buatan Mesir, mie instan “kita” jauh lebih enak dan gurih, persis seperti aslinya di Indonesia. Praktis, tak peduli musim panas atau musim dingin, mie instan tersebut sangat akrab sebagai cemilan khas mahasiswa Indonesia di sini, bahkan juga mahasiswa-mahasiswa dari negara lain. Bagi saya, meskipun remeh, namun hal-hal di atas setidaknya mampu membangkitkan sebentuk kebanggaan pada produk negara sendiri. Terakhir, jika kelak saya pulang ke Tanah Air, saya berharap wajah Indonesia jauh lebih cerah.
Cairo, 21 September 2009
Cairo, 21 September 2009
Segalanya Berkat Doa Restu Ibu
Sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, aku merasa sangat beruntung dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang begitu peduli dan perhatian padaku. Sebenarnya tidak hanya padaku saja, kami sekeluarga pun saling berbagi perhatian dalam banyak hal. Mulai dari bagaimana sekolahku, masalah finansial keluarga, sampai soal keponakan-keponakan baruku yang minta dicarikan nama. Tentang hal ini, jangan tanya ibuku soal kasih sayang dan perhatian beliau kepadaku. Jika sudah menyoal curah-mencurah perhatian, maka seolah-olah hanya akulah anak semata wayangnya. Kalau dikaji benar tidaknya, barangkali itu hanya ungkapan gombalku saja. Saudara-saudara perempuanku juga pasti akan tergelak mencibir bila mendengar ocehanku itu. Itu baru seberapa di antaranya. Saat aku akan berangkat ke Mesir lebih kurang tahun silam, semua keluargaku tampak sibuk mempersiapkan segalanya, seolah-olah mereka akan melepas jauh seorang anak bujang yang entah kapan lagi akan bersua.
Kami sekeluarga asli Minang. Urang awak. Orang-orang dari Sumatera Barat biasanya disebut begitu. Sejatinya keluarga kami terbilang cukup besar. Kakek dari pihak ibuku mempunyai tiga orang anak: dua orang perempuan dan seorang laki-laki. Ibuku adalah anaknya yang paling bungsu. Itu artinya, aku punya seorang bibi yang sehari-hari kami panggil ibu, dan juga seorang paman yang biasa kami panggil mamak. Bibiku yang merupakan anak pertama, punya dua orang anak, dan dua-duanya perempuan. Sedangkan mamak memiliki delapan orang anak dari hasil pernikahannya dengan dua orang istri. Sementara ibuku sendiri dikaruniai empat orang anak: tiga perempuan dan satu laki-laki. Dan akulah anak lelaki semata wayang itu. Jumlah sebanyak itu tentu belum seberapa jika digenapkan dengan keponakan-keponakanku yang terus bertambah.
Dalam adat-istiadat Minangkabau, sebenarnya memanggil “ibu” kepada kakak perempuan ibu jelas sangat tidak tepat. Justru yang seharusnya aku lakukan adalah menyebut kakak perempuan ibuku itu dengan sebutan mak uwo. Hal ini baru menjadi bahan pemikiran sederhanaku waktu duduk di kelas empat SD. Kenapa bisa mak uwo dipanggil ibu? Betul-betul tidak jelas, batinku ketika itu. Namun tanpa sadar, rupa-rupanya banyak bentuk “ketidakjelasan” dalam hal penyebutan kekerabatan dalam keluargaku. Salah seorang anak bibiku justru lain lagi. Ibuku yang seharusnya ia panggil etek, malah ia sebut layaknya kami memanggil ibu kami sendiri: ama. Aku bersaudara pun tak kalah fatalnya. Kami berempat malah kompak memanggil bibiku itu dengan sebutanibu, padahal jelas-jelas itu merupakan panggilan kedua anaknya kepada beliau. Akibatnya, bagi yang tidak mengenal silsilah keluarga kami, dijamin pasti kebingungan dengan siapa anak siapa dalam keluargaku. Malah tak sedikit yang mengira bahwa ibuku adalah anak dari bibiku itu, lantaran perbedaan usia yang cukup jauh antara mereka berdua.
Aku sendiri bahkan lebih keterlaluan lagi. Waktu masih ingusan, aku terbiasa memanggil kakak-kakak kandung dan sepupuku dengan menyebut nama mereka langsung. Entah karena orangtuaku yang tidak pernah mengajariku memanggiluni kepada mereka, atau lantaran aku yang super bandel. Yang jelas, kebiasaan burukku ini terus berlanjut sampai aku menginjak bangku madrasah tsanawiyah. Bayangkan, betapa tidak berbudi pekertinya aku selama itu kepada uni-uniku.
Sebenarnya, bukannya orangtuaku yang tidak mengajariku bersopan-santun kepada mereka. Aku bahkan masih ingat betapa aku kerap dimarahi dan dijewer oleh kedua orangtuaku lantaran sikap nakalku itu. Uni-uniku pun bahkan tak tinggal diam. Mereka nyaris selalu pasang muka tebal setiap kali aku dengan tanpa rasa bersalah menyebut langsung nama mereka. Akan tetapi, dalam hal ini yang sesungguhnya terjadi adalah lebih kepada didikan orangtuaku yang menurutku kurang tepat. Aku baru diingatkan untuk memanggil “uni” kepada mereka saat aku sudah begitu tenggelam dalam kebiasaan buruk tersebut.
Uni-uniku pun begitu. Ketika berbicara denganku, mereka hampir tidak pernah menyebut “uni” pada diri mereka sendiri, sebagaimana lazimnya dilakukan oleh seorang kakak di Minang untuk mengajari sang adik. Akibatnya, jadilah aku sesosok adik yang cukup “keterlaluan” sepanjang sejarah. Namun, untunglah hal tersebut tidak berlangsung lama. Aku tidak ingat pastinya kapan, yang jelas waktu aku masih duduk di kelas dua atau tiga tsanawiyah, aku mulai menyadari kekhilafanku itu. Walau terasa kelu dan berat, lidahku mulai kupaksakan untuk memanggil “uni” kepada kakak-kakakku tersebut. Tak ayal, keluargaku pun senang bukan kepalang dengan capaian moralku itu, terutama ibu. Perubahan signifikan ini tentunya tidak terjadi dengan begitu saja. Pengetahuan agamaku yang semakin bertambah semenjak masuk madrasah tsanawiyah turut menyadarkanku terlepas dari pelanggaran etika tersebut. Bahkan menurutku, dalam hal ini justru ibukulah yang cukup berperan.
Semenjak usiaku hampir mencapai akil baligh, beliau mulai kerap menasehatiku tentang banyak hal. Mulai dari bagaimana bersopan-santun, menghormati orang yang lebih tua, sampai suruhan mengaji ke surau yang sangat tabu jika harus kulanggar. Biasanya beliau akan menyampaikan butiran-butiran nasehatnya tersebut dengan tenang dan lembut, karena memang ibuku bukanlah tipe wanita yang keras. Sangat jarang bahkan tidak pernah aku melihat beliau memarahi atau membentak kami anak-anaknya, kecuali jika kenakalan kami sudah benar-benar kelewatan. Sepertinya ibuku tahu betul bahwa ketika sang anak sudah sering dibentak dan dimarahi, maka nasehat selembut apapun akan sukar membekas pada hatinya. Benar saja, dalam beberapa kali kesempatan, aku menemukan kasus sejumlah anak tetanggaku yang tidak pernah mempan kalau diberi nasehat. Rupa-rupanya, mereka seringkali dimarahi atau dibentak-bentak oleh ayah-ibu mereka di rumah hanya karena persoalan sepele.
Di kampung-kampung di Minangkabau, masalah etika dan sopan santun masih dijunjung tinggi dalam keseharian. Misalnya, seorang anak akan dicap tidak berbudi pekerti ketika tidak menyapa atau memberikan salam kepada orang yang lebih tua. Pernah suatu sore saat pulang mengaji dari TPA, tanpa sadar aku melakukan kesalahan fatal pada seorang tokoh desa di kampungku. Waktu itu karena terburu-buru, aku tidak begitu memperhatikan kalau orang yang berjalan di depanku adalah seorang tokoh yang cukup disegani. Lantas, tanpa ba-bi-bu, langsung saja aku serobot langkah bapak tersebut yang memang ketika itu cukup menghalangi jalanku. Seharusnya waktu itu aku menyapa beliau atau setidaknya mengucapkan salam, meskipun harus jalan mendahului. Namun karena sudah dikejar waktu, segala tata krama itu musnah sudah di kepalaku.
Tak dinyana, barangkali merasa harga dirinya dilecehkan oleh bocah sepertiku, malamnya ia bertemu dengan ayah di jalan dan meminta agar aku diajari soal tata krama. Tak pelak, akibat “rekomendasi” tokoh desa tersebut, pada malam itu juga ayah dan ibuku langsung “berceramah” panjang lebar soal tata krama, khusus buatku seorang. Setelah beliau berdua selesai berbicara, aku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Meski alasanku diterima, aku tetap diperingatkan untuk tidak lagi mengulangi kesalahan tersebut.
Dalam keluarga, aku merasa sangat diistimewakan dalam banyak hal, baik oleh keluargaku sendiri maupun oleh keluarga bibiku. Terang saja, seperti yang kukemukakan sebelumnya, barangkali karena aku anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Selain itu, jika dibandingkan dengan saudara-saudara perempuanku yang lain, aku tergolong lebih rajin dan lebih pintar dari mereka. Sewaktu menamatkan SD, NEM yang aku peroleh adalah yang tertinggi di sekolah, bahkan termasuk tiga besar sekecamatan. Hal serupa juga kuperoleh ketika aku menamatkan jenjang madrasah tsanawiyah, bahkan dengan prestasi itu aku dinyatakan langsung diterima di sebuah SMA favorit di daerahku. Tapi sayang, tawaran tersebut tak kugubris. Bukannya sombong, tapi secara pribadi, aku lebih memilih melanjutkan sekolah ke sebuah madrasah aliyah negeri yang cukup bonafid di luar kota.
Keputusan-keputusan semacam ini tentu bukan hasil pertimbanganku sendiri. Bagiku, keluarga adalah segalanya dalam hal pengambilan kebijakan, terutama ibu. Ketika aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke madrasah tsanawiyah yang berada di luar kecamatan, hampir sebagian besar keluargaku tidak menyetujui, bahkan beberapa kerabat ayah ada yang mengolok-olok keputusanku tersebut, lantaran memandang rendah nilai sekolah agama. Dalam hati aku mencibir pola pikir mereka yang sempit tersebut. Laiknya di SMP, di tsanawiyah pun aku juga bisa mengasah keilmuanku, bahkan aku akan belajar banyak hal di sana, tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu umum, tangkisku sengit waktu itu. Sebenarnya maksud mereka baik, semata-mata hanya ingin menyarankan agar aku melanjutkan ke SMP saja. Siswa brilian sepertiku lebih cocok masuk ke SMP ketimbang tsanawiyah, begitu kira-kira ucapan mereka kala itu. Namun jika sudah menyoal keinginan, aku adalah sosok yang sangat keras kepala, persis seperti ayahku. Untunglah waktu itu ibu mendukung penuh keinginanku. Pada gilirannya, aku pun bisa membuktikan bahwa aku tidak sia-sia belajar di tsanawiyah. Saat aku memutuskan untuk berangkat ke Mesir pun, aku justru lebih banyak bertukar pikiran dengan ibu. Ketika itu, beliau lebih banyak bertanya tentang apa dan bagaimana tentang studi di sana, sembari sesekali memberikan pertimbangan pada sikap gamangku dalam mengambil keputusan tersebut.
Bertukar pikiran dengan ibu selalu saja menyenangkan. Biasanya, aku akan mengutarakan apa saja yang membuat hatiku gundah pada saat beliau sedang di dapur. Sebab, waktu-waktu tersebut adalah saat dimana beliau agak rileks, sehingga beliau bersedia menjadi pendengar setia tentang apapun yang aku bicarakan.
Sejatinya ibu bukanlah wanita yang berpendidikan tinggi. Beliau hanya sempat mengecap pendidikan hingga kelas enam SD, itu pun tidak tamat. Wajar, sebab keadaan tahun enam puluhan jelas amat berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Padahal, seandainya waktu itu beliau mau menamatkan SD, maka beliau berpeluang besar untuk bisa belajar di sebuah sekolah pendidikan guru di kota kabupaten, seperti yang dilakukan oleh seorang mamakku. Kini mamakku itu mengajar di sebuah sekolah akademi pelayaran di Padang. Namun meskipun begitu, yang membuatku takjub pada ibu adalah semangat ingin tahu beliau yang luar biasa. Setelah aku menamatkan sekolah di madrasah aliyah, tak jarang beliau bertanya kepadaku tentang sejumlah persoalan agama yang tak beliau mengerti, karena di sekolah itu belajar agama memang lebih banyak dan intensif ketimbang di madrasah aliyah biasa.
Jangan tanya soal peringkat berapa aku di kelas. Kalau mau diusut, selama enam tahun di SD, mungkin akulah yang menempati posisi puncak. Tapi lantaran aku bersaing dengan anak salah seorang guru di sekolah, apa lacur, selama enam tahun berturut-turut, aku dipaksa setia bertengger di posisi kedua, meski upayaku belajar sudah jungkir balik untuk memperoleh rangking pertama. Kalau ada yang mengatakan ada semacam konspirasi di balik semua itu, aku akan mengatakan mungkin saja. Sangat mustahil rasanya jika semenjak kelas satu sampai kelas enam aku tetap saja bercokol di peringkat kedua. Kegundahanku perihal rangking pertama yang begitu sulit kuraih itu pernah kuutarakan pada ibu. Waktu itu beliau hanya menjawab singkat saja. Kalau engkau memang merasa bisa untuk meraihnya, coba buktikan di ujian nasional nanti. Ibu akan selalu mendoakan, ujar beliau.
Selang beberapa lama, ujian nasional pun digelar di rayon kecamatan. Dalam pelaksanaan ujian nasional ketika itu, semua siswa SD yang berada di bawah pengawasan rayon tersebut digabungkan pada satu tempat. Itu artinya, kesemua hal yang berkaitan dengan teknis dan hasil ujian tentu saja berada di luar kontrol guru-guruku di sekolah. Saat perolehan NEM diumumkan, ternyata aku bisa membuktikan kepada semua orang dan juga kepada ibu bahwa aku lebih pintar dari anak guruku tersebut. Capaian NEM yang aku peroleh rupanya jauh meninggalkan poin “sang juara” itu. Aku pun bersyukur dan tersenyum lega atas prestasi gemilang tersebut.
Aku yakin, apapun yang aku peroleh sampai detik ini tak lepas dari doa restu kedua orang tuaku, terlebih ibu. Semenjak SD, aku sudah terbiasa mengikuti berbagai perlombaan, mulai dari olimpiade mata pelajaran hingga beberapa kali ikut serta dalam perlombaan MTQ, sampai-sampai aku menjadi sosok yang sangat kempetitif. Tak jarang ibu akan bernazar puasa sunat jika aku berhasil menjuarai sebuah lomba. Setidaknya, prestasi yang telah kutorehkan selama ini kuharapkan bisa membuat kedua orangtuaku bangga. Bahwa mereka juga punya seorang anak yang patut untuk disebut-sebut dan dibanggakan, sebagaimana yang dilakukan dan menjadi impian para orangtua lainnya.
Kini, tiga tahun sudah aku di Cairo. Itu artinya, selama itu juga aku tidak bertemu dengan ibunda yang telah melahirkan dan mendidikku itu. Nuraniku sebagai anak tentu merasakan kerinduan yang mendesak-desak kepada beliau, sementara waktu kepulanganku ke Tanah Air belumlah tiba. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dulu aku dilepas saat akan berangkat ke Negeri Seribu Menara ini. Aku dilepas dengan selaksa doa dan air mata oleh kedua orangtua dan handai taulan yang ketika itu ikut mengantar. Melihat semua pemandangan melankolis tersebut, tangisku pun pecah. Bahkan, saat memeluk ibunda untuk terakhir kalinya, mata ini kupicingkan sekuat-kuatnya. Aku tak kuasa menatap wajah beningnya. Aku yakin, di pagi yang mengharukan itu, ibunda tak sanggup membendung buliran-buliran bening yang meleleh di wajahnya yang sudah mulai mengeriput itu. Ia menangisi kepergianku. Dalam isak tangisnya, beliau hanya berujar singkat: capai cita-citamu, Nak! Kontan aku hanya bisa tergugu dengan semua itu.
Bait-bait Ummi-nya Ahmad Bukhatir yang kuputar di komputer terdengar syahdu mengiringiku menulis memoar ini, membuatku tercenung dan terdiam lama. Bagaimanapun, satu yang pasti, aku akan berupaya mewujudkan apa yang menjadi harapan kedua orangtuaku di Negeri Kinanah ini. Tentu tidak hanya dengan menggondol gelar License semata, tapi sebisa mungkin lebih dari itu.Lasaufa a’ûdu yâ ummî…
Cairo, 21 April 2010
Jumat, 16 November 2012
Aku dan Kampus Biru IIUM Malaysia (3)
27 Maret 2012, Mahallah Uthman Block PG IIUM.
Di IIUM saya kembali bertemu dengan orang-orang Mesir. Hanya saja, di sini mereka lebih “pendiam”. Tidak banyak omong dan tingkah seperti di negara mereka sendiri. Di kelas Research Methodology misalnya, ada satu orang mahasiswa dari Mesir. Dalam pertemuan dengan Doktor Handawy dua pekan silam, ia paling banyak bertanya, meski hal-hal yang ia tanyakan sebenarnya tak patut untuk ditanyakan oleh seorang mahasiswa magister. Beberapa di antara kami kala itu hanya senyum-senyum saja dengan pertanyaan-pertanyaan bersifat tekhnis yang ia ajukan. Meski tidak saling berkenalan, untuk menebak apakah ia dari Mesir atau tidak, saya rasa saya tidak perlu salah. Empat tahun di Negeri Seribu Menara sudah cukup membuat saya kenal tentang mereka dari A sampai Z. Ah, lebay. :-)
Pekan ini di IIUM memasuki masa jeda. Break time. Beberapa kantin dan cafetaria di sejumlah mahallah(asrama) banyak yang memilih tutup dan ikut meliburkan diri. Tentu saja dengan alasan logis agar dagangan mereka tidak rugi, karena memang sebagian besar pembeli dan pelanggan mereka adalah mahasiswa-mahasiswa Malaysia sendiri yang sejatinya paling mendominasi di IIUM ini. Break time dimanfaatkan oleh mereka untuk pulang kampung, sebagaimana layaknya mahasiswa-mahasiswa perantauan di Tanah Air. Kondisinya saya rasa persis seperti di Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa Negeri Jiran yang belajar di sini datang dari berbagai sudut negeri, seperti Penang, Kelantan, Johor, Negeri Sembilan, Terengganu, dan sebagainya. Bahkan tak tertutup kemungkinan ada yang berasal dari Sabah atau Serawak yang berlokasi di Pulau Kalimantan sana.

Praktis, meskipun hari ini baru hari pertama libur pertengahan semester, namun semenjak kemarin siang kampus IIUM sudah terasa sangat sepi dan lengang. Ketika saya shalat Ashar di Masjid Sultan Haji Ahmad Shah kemarin petang, shaf shalat yang biasanya sangat ramai rupanya hanya tinggal satu shaf saja. Tiba-tiba saya teringat dengan kondisi serupa di Mesir dulu. Apabila masa-masa libur semacam ini tiba, maka lihatlah situasi di Madinah Mubarak yang menjadi sentral pemondokan mahasiswa-mahasiswa asli Mesir di bilangan Nasr City, Cairo. Jika Anda melewatinya dari waktu selepas Zuhur ke atas, maka akan tampak mahasiswa-mahasiswa Mesir dari berbagai daerah yang bersiap-siap pulang kampung, yang terkadang dalam pengamatan saya cara mereka berlibur cukup norak. Misalnya, jika hari ini adalah hari terakhir kuliah, maka tak sedikit di antara mereka yang datang ke kampus dengan koper besar. Mungkin maksudnya jika selepas jam pamungkas kuliah nanti mereka bisa langsung terbang pulang. Tapi yang tak lazim adalah kebiasaan mereka membawa koper-koper raksasa itu ke dalam kelas, padahal sebetulnya mereka pun pulang hanya dengan menggunakan bis biasa atau kereta Metro saja, tidak dengan pesawat. Menggelikan sekali bukan? :-)
Di IIUM saya kembali bertemu dengan orang-orang Mesir. Hanya saja, di sini mereka lebih “pendiam”. Tidak banyak omong dan tingkah seperti di negara mereka sendiri. Di kelas Research Methodology misalnya, ada satu orang mahasiswa dari Mesir. Dalam pertemuan dengan Doktor Handawy dua pekan silam, ia paling banyak bertanya, meski hal-hal yang ia tanyakan sebenarnya tak patut untuk ditanyakan oleh seorang mahasiswa magister. Beberapa di antara kami kala itu hanya senyum-senyum saja dengan pertanyaan-pertanyaan bersifat tekhnis yang ia ajukan. Meski tidak saling berkenalan, untuk menebak apakah ia dari Mesir atau tidak, saya rasa saya tidak perlu salah. Empat tahun di Negeri Seribu Menara sudah cukup membuat saya kenal tentang mereka dari A sampai Z. Ah, lebay. :-)
Dan yang paling menarik perhatian saya di IIUM ini adalah pembawaan diri mahasiswa-mahasiswa tuan rumah Malaysia. Di Mesir dahulu, apa persepsi mahasiswa-mahasiswa Indonesia tentang mahasiswa-mahasiswa Malaysia? Sangat banyak. Bagi saya, kadang tanpa diminta, kita akan dinilai oleh orang lain. Mau atau tidak mau. Suka atau tidak suka. Di Mesir, mahasiswa-mahasiswa Malaysia jika pergi kemana-mana, sangat suka sekali bergerombol. Bergaul dan berinteraksi hanya dengan sesama mereka saja. Hampir tidak pernah saya lihat dan temukan mahasiswa Malaysia yang mempunyai pola pergaulan yang luas dengan mahasiswa dari negara-negara lain. Agak cenderung menutup diri dan punya pola interaksi yang eksklusif. Dan ternyata, di IIUM saya kembali menemukan fenomena yang serupa. Mahasiswa-mahasiswa Negeri Jiran, meskipun sudah berada di negeri mereka sendiri, tetap saja mereka sebagaimana persepsi saya di Mesir dulu. Mereka cenderung pendiam jika tengah sendiri atau sedang bersama mahasiswa dari negara lain, tapi tentu tidak dengan standar “pendiam” orang Mesir yang saya ceritakan sebelumnya. Namun lucunya, jika mereka sudah berada dalam perkumpulan sesama Malaysia, tawa lepas dan “cakap” bebas akan menghilangkan image pendiam yang sebelumnya Anda sematkan. Bahkan Amin, sepupu saya orang “asli” Malaysia yang telah terbang ke Jepang beberapa hari silam mengakui hal demikian.
Hoaaam… Sudah pukul 00.35 AM. Saya tengah begadang mengerjakan tugas-tugas paper di asrama tercinta, Mahallah Uthman. See you next time!
Aku dan Kampus Biru IIUM Malaysia (2)
10 Maret 2012. Banyak kesan dan perasaan yang menyeruak setelah sebulan lebih berada di IIUM Kuala Lumpur, Malaysia. Paling tidak, semenjak berjibaku dengan segala kegiatan akademis dan perkuliahan di kampus biru ini, aku merasa kembali dinamis dan bergerak. Tidak jalan di tempat atau malah mundur ke belakang seperti yang aku rasakan selama sebelas bulan belakangan di Indonesia. Meski berstatus sebagai jebolan Al-Azhar Mesir lantas kembali ke Tanah Air, bukan berarti segala idealisme yang mengawang di Cairo itu serta-merta akan terwujud. Ah, Indonesia tak seindah yang kau bayangkan, Kawan. Aku tiba-tiba menjadi terhenyak dan tersadar, bahwa di titik inilah selama ini mahasiswa-mahasiswa Cairo lupa dan lengah. Menjadi sosok-sosok idealis di Bumi Para Nabi, lalu membayangkan idealisme-idealisme yang melangit itu membumi seketika pulang ke Indonesia. Celakanya, mereka seolah menutup mata dari realitas yang ada dan berkembang di tengah masyarakat. Pada gilirannya, fenomena yang kerap terjadi adalah alumni-alumni Al-Azhar yang mengalami culture shock setiba di ranah kampungnya sendiri.
Kembali ke tajuk utama. Aku ingin sedikit berkisah tentang diriku dan IIUM. Di universitas internasional yang berlokasi di bilangan Gombak, Selangor ini aku menjajal peruntunganku di Kulliyah Islamic Revealed Knowledge And Human Sciences (IRKHS) pada Program Fiqh And Usul Fiqh. Dalam sepekan aku memiliki empat kali jadwal perkuliahan, yaitu dari hari Senin hingga Kamis, mulai selepas Ashar sampai waktu Maghrib menjelang dengan empat mata kuliah, yaitu: Studies of Comparative Fiqh, International Relationship, Juristic Studies of Islamic Banking, dan Research Methodology. Pada jam-jam sesenja ini, kampus Al-Azhar dan kampus-kampus di Indonesia biasanya sudah lengang karena para mahasiswa sudah pulang ke kediamannya masing-masing.
Akan tetapi, di kampus IIUM Malaysia tidak demikian adanya. Di universitas yang didirikan pada tahun 1983 ini, semenjak aktivitas perkuliahan dimulai dari jam sembilan pagi hingga bahkan tengah malam, para mahasiswa dari berbagai etnis dan bangsa tak henti-hentinya berlalu lalang di berbagai sudut kampus, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab, di IIUM tidak semua fakultas dan jurusan menyelenggarakan kegiatan perkuliahan pada jam yang sama. Yang unik dan menarik di sini, aura IIUM sebagai kampus islami sangat terasa, kendati para mahasiswa dan mahasiswi berbaur dalam satu komplek kampus dan tidak dipisah layaknya Universitas Al-Azhar, Cairo. Jarang sekali aku menemukan mahasiswa yang berlainan jenis jalan berbarengan, duduk menyepi berduaan, berboncengan sepeda motor, bermesraan di tengah keramaian publik, ataupun yang lebih parah dari itu. Kalaupun ada yang bergandengan romantis, maka bisa dipastikan mereka adalah pasangan suami istri yang legal dan sah. Kendati demikian, sesekali masih saja aku mendapati ada satu dua mahasiswa asing berkulit hitam atau putih yang merokok di lingkungan mahallah (asrama). Bagiku, orang-orang semacam inilah yang patut disentil dengan sebait pepatah, “Karena nila setitik rusak susu sebelanga.” Citra baik IIUM sebagai kampus islami selama ini bisa tercemar lantaran ulah mahasiswa-mahasiswa seperti itu.
Selain itu, belakangan ini di akhir pekan aku kerap diajak dan “dipaksa” oleh Pak Cik Fadhli datang ke rumahnya di kawasan Batu Caves. Aku tak menyangka di Negeri Jiran ini bisa dipertemukan dengan sosok yang masih terbilang keluarga dekatku itu. Sebelum berangkat ke Malaysia, aku hanya sempat mendengar cerita tentang beliau dari ayah dan ibuku. Sekedar pengetahuan singkat bahwa beliau sudah lama menetap di Malaysia dan menjadi orang besar di sini. Sebelumnya aku sama sekali tidak pernah bertemu dan berkenalan langsung dengan beliau. Sejatinya, beliau adalah keponakan kakekku. Atau dengan kata lain, beliau merupakan sepupu ibuku, sehingga dalam kekerabatan Minangkabau seharusnya aku memanggil “pak etek” kepada beliau. Namun, lantaran beliau dan keluarga sudah lama menetap dan menjadi warga negara Malaysia, agaknya panggilan kekerabatan ala Minangkabau tersebut sudah tidak berlaku lagi di sini. Apalagi dalam pengamatanku beliau sudah tak fasih lagi berbahasa Minang. Sehari-hari bersama keluarganya yang masih orang Minangkabau beliau berbicara dengan bahasa Melayu. Praktis, setiap kali aku datang ke rumahnya aku pun harus berbicara dengan bahasa Melayu yang masih patah-patah. Tak pelak, lidahku keseleo dibuatnya karena belum terbiasa.
Dan di akhir pekan ini, saat aku tengah membaca beberapa referensi yang kupinjam dari library Darul Hikmah IIUM, aku kembali ditelepon oleh beliau. Beliau mengatakan bahwa besok beliau akan menjemputku ke asrama, sehingga aku harus segera mempersiapkan curriculum vitae sebagai syarat kelayakan yang akan beliau ajukan ke sebuah ma’had tahfizh Al-Quran di sini. Rencananya aku hendak mencoba mengajar. Hitung-hitung menambah pengalaman dan mencari kesempatan untuk menghimpun pundi-pundi pemasukan. Sejauh ini aku sudah menerima beberapa tawaran untuk mengajar private, semoga pekan depan sudah bisa kumulai di sela-sela assignment kuliah yang mulai menumpuk. Memang semenjak aku bertemu beliau di sini, aku merasakan perhatian dan kasih sayang layaknya orangtua sendiri dari beliau. Bahkan atas permintaan beliau pula, dalam waktu dekat ini aku akan keluar dari mahallah dan tinggal bersama beliau sekeluarga di Batu Caves.
Sekedar informasi penting dariku, bahwa pola hidup di Malaysia sangat jauh berbeda dengan di Mesir. Di Mesir sana mahasiswa asing tidak perlu memikirkan darimana dan bagaimana mereka memperoleh pemasukan untuk bertahan hidup, karena memang banyak peluang untuk memperoleh beasiswa di samping hampir segalanya diberi oleh pihak universitas, biaya kuliah digratiskan pula. Tapi tidak dengan di Malaysia dimana segalanya diukur dengan uang, apalagi menjalani studi dengan biaya yang tergolong mahal untuk mahasiswa seukuranku. Jika sang mahasiswa bukan tipe anak yang bisanya hanya ongkang-ongkang kaki dan merengek-rengek pada orangtua, maka mau tidak mau ia harus memutar otak agar bisa membiayai kehidupan dan kuliahnya selama di Negeri Jiran ini. Sekian ceritaku kali ini. Apa ceritamu?
Aku dan Kampus Biru IIUM Malaysia (1)
24 Februari 2012. Hari ini sebulan sudah aku di Kuala Lumpur, Malaysia. Menjalani hari-hari baru dan mengesankan sebagai mahasiswa Master of Islamic Revealed Knowledge and Heritage (MIRKH) di International Islamic University Malaysia (IIUM) yang berlokasi di bilangan Gombak, Selangor. Sebuah pencapaian yang sebetulnya aku sendiri tidak bisa mempercayainya. Berkat usaha dan upaya keras yang nyaris mencapai titik nadir, bait-bait doa yang tak kunjung padam, dukungan dari orang-orang terdekat, dan tentu saja izin serta rahmat dari Dzat Yang Segala Maha, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di altar kampus biru megah IIUM Malaysia, universitas impian keduaku setelah Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Bagiku, prestasi ini menjadi resolusi dan kejutan hebat di pembuka tahun 2012.

Ya, sebulan silam, tepatnya pada tanggal 22 Januari 2012 aku kembali meninggalkan keluarga tercinta demi sebuah misi suci dan mulia. Namun tidak seperti separuh windu sebelumnya ketika aku berangkat ke Mesir dengan melintasi samudera dan benua, kali ini perjalananku jauh lebih dekat. Hanya “menyeberang” ke negeri tetangga, Malaysia. Bahkan sebenarnya jauh lebih dekat ketimbang Padang-Jakarta, harga tiketnya lebih murah pula.
Tak sedikit cerita menarik sebelum dan setelah aku sampai di Negeri Jiran ini. Semuanya saling berkait kelindan dan pada akhirnya menciptakan sebuah alur cerita yang indah untuk dikenang. Seketika aku tiba di Kuala Lumpur, lantas beberapa waktu kemudian dinyatakan lulus dalam ujian English Placement Test (EPT) IIUM yang terkenal sangat sulit dan menakutkan itu, aku benar-benar tergugu, bahkan aku menangis haru dalam diam dan kesendirian. Dalam situasi seperti ini, aku merasa bahwa Allah sangat dekat sekali denganku, bahkan barangkali lebih dekat ketimbang urat nadiku sendiri. Untuk kesekian kalinya aku mampu membuktikan kepada diri sendiri dan juga kepada semesta, bahwa aku hampir tak pernah menemukan kata sulit dan mustahil terhadap cita-cita apapun yang kuniatkan. Benar seperti kata Andrea Hirata, “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Aku membuktikan betul kata-kata ajaib penulis novel laris “Sang Pemimpi” itu. Aku meniup dan melangitkan impian untuk bisa menjajal kemampuan akademikku di kampus IIUM, hal yang sebetulnya berada di luar nalar logisku. Bukan apa-apa, secara hitung-hitungan sederhana jelas tak mudah bagiku untuk sampai ke universitas yang cukup terkemuka di Malaysia ini, mengingat besarnya pundi-pundi yang harus kuhimpun dalam rentang waktu yang tak lama, di samping sejumlah kualifikasi yang bagi sebagian calon mahasiswa cukup memberatkan. Namun, bagi Allah tak ada yang sulit, bahkan bagi-Nya sebuah kesedihan bisa tersulap menjadi seutas kemudahan.
Sesungguhnya alur perjalananku ke Kuala Lumpur, Malaysia hampir mirip saat aku memutuskan untuk berangkat ke Mesir empat tahun silam. Bimbang, serba rumit, dan butuh ragam pertimbangan. Bahkan dua pekan jelang keberangkatan aku sudah dengan tegas menyatakan kepada diri sendiri dan keluarga bahwa aku membatalkan niat ke Malaysia. Kendati demikian, aku tetap berusaha menghibur diri. Berkali-kali aku membatin sambil meyakinkan diri sendiri, “Kondisi lebih sulit dari ini sudah pernah kau alami. Jadi tenang saja. Kau akan sampai ke Kuala Lumpur.” Namun ada yang unik kala itu. Pada saat semangat mulai mengendor dan kemauan hampir tinggal separoh, aku justru nekat memesan tiket penerbangan ke Kuala Lumpur.
Akan tetapi, bukan hidupku namanya jika tak ada kejutan dan keajaiban, dan aku percaya itu. Sepekan kemudian aku berhasil memperoleh sponsor studi berkat kebaikan orang-orang dekat yang jasanya akan senantiasa kukenang, kendati nominalnya tak begitu besar dan hanya cukup untuk menutupi biaya pendaftaran ulang yang selangit. Barangkali inilah semacam firasat yang pada gilirannya mengantarkanku ke Negeri Upin dan Ipin ini. Bahwa aku harus tetap berpijak pada titik koordinat positif tempat dimana semula aku berada, tidak mundur ke koordinat negatif. Lebih dari itu, aku lagi-lagi belajar dari prinsip dan keyakinan sederhana yang kubangun dari kecil dan hingga kini tak bergeser sedikitpun. Bahwa selama dalam diri ini ada niat yang tulus, kemauan keras, dan upaya yang sungguh-sungguh, maka jalan-jalan kemudahan itu akan senantiasa terbentang. Itu saja. Sungguh Allah Maha Benar, pada gilirannya aku membuktikan betul bahwa Allah sekali-kali tidak pernah menyalahi janji-Nya.
Kamis, 15 November 2012
Hidup Adalah Ruang Pembuktian
Aku yakin, setiap orang punya paradigma atau cara pandang tersendiri dalam menerjemahkan dan memaknai arti hidup ini. Paradigma inilah yang pada gilirannya akan mengkristal menjadi filsafat hidup yang dijadikan pegangan, entah itu sifatnya temporal atau final. Ibarat hal-hal lain, hidup ini ternyata juga bisa dinilai dari beragam segi.
Kata orang awam, hidup itu perjuangan. Orang alim bilang, hidup itu ibadah. Semuanya benar dan sah-sah saja. Tapi menurutku, rumus-rumus yang dijadikan sebagai filsafat hidup setidaknya harus mampu menjadi stimulan dan titik tolak dalam berbuat. Secara pribadional, filsafat hidup yang aku yakini tidak terbatas pada jargon-jargon tertentu saja. Dengan kata lain, aku tidak begitu terpaku pada satu-dua filsafat hidup yang secara tidak langsung membuatku harus melakukan lompatan dari sana. Namun paling tidak, ada satu titik poin yang selama ini aku kontemplasikan dalam ruang-ruang renungku. Bahwa di dunia ini kita hanya dituntut untuk berbuat, berbuat dalam pengertian luas dan positif. Sebab, pada dasarnya, hidup ini adalah ruang pembuktian, yang pada gilirannya akan menunjukkan siapa di antara kita yang berbuat paling baik. Ayyukum ahsanu ‘amala. Baik itu berbuat untuk diri sendiri atau orang lain, maupun yang berorientasi dunia atau akhirat.
Lebih jauh, ada sebentuk korelasi yang mengikat antara hidup dan usia yang sedang dijalani oleh setiap individu. Titik inilah yang benar-benar sedang kupahami dan resapi sampai detik ini. Bahwa hidup ini dan juga setiap diri, sejatinya adalah artikulasi dari hari-hari yang mengkristal dalam sebuah ruang usia. Ketika hari demi hari pergi dan berlalu, maka satu demi satu bagian dari diri ini juga ikut lenyap. Begitulah Imam Hasan Al-Bashri dengan bijak membahasakan. Nilai filosofis ini jualah yang saat ini tengah aku upayakan dalam bahasa perbuatan, bagaimana agar aku senantiasa melakukan hal-hal konkret dalam hidup, memberikan sumbangsih karya, dan berbuat yang terbaik. Sebab, aku sadar bahwa aku hanya kumpulan hari, yang suatu saat akan teranulir oleh ruang dan waktu.
Berbuat dan memberi. Itulah yang lebih jelas ingin aku tegaskan. Aku jadi teringat sebuah kisah tentang lelaki embun. Ya, layaknya embun, ia selalu menyejukkan siapa saja. Ia tak pernah canggung ataupun gengsi untuk berbuat dan memberi pada orang lain. Sejatinya ia lebih mirip Abu Bakar, yang memiliki daya beri yang luar biasa dan tak terlangkaui oleh siapapun, sampai oleh Umar sekalipun.
Maka, alangkah indahnya hidup ini jika seseorang mampu berada dalam posisi pemberi. Sebab, dalam tataran realitanya, hanya orang-orang yang punya daya berilah yang akan mendapat tempat di hati khalayak. Tentu bukan hanya memberi hal-hal yang bersifat materi, namun juga memberi dalam arti seluas-luasnya. Hingga tak salah sebuah adagium mengatakan, yang kira-kira makna leksikalnya begini: Jadilah orang kaya yang senantiasa berbagi materi, atau orang alim yang selalu memberi ilmu. Terakhir, mungkin pesan moral dari novel Laskar Pelangi tak mengapa jika kututurkan di sini. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.
Langganan:
Postingan (Atom)
