Selasa, 31 Desember 2013

Mahasiswa Sebagai Duta Budaya dan Pariwisata Nusantara

Oleh: Jemmy Hendiko, Lc.

Indonesia adalah percikan sorga di muka bumi. Sepintas anekdot yang kerap terdengar dari mulut para wisatawan ini tak terlalu berlebihan. Tak dipungkiri, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang terkenal dengan kekayaan kultur dan keelokan geografisnya. Beragam suku, adat istiadat, kesenian, bahasa, dan keindahan alam bertabur dari Sabang sampai Merauke, dari barat ke timur. Menyatu dalam perpaduan Bhineka Tunggal Ika. Hanya saja, dengan kekayaan alam dan budaya yang kaya sedemikian rupa, sektor pariwisata di negeri ini agaknya masih saja tertinggal dari negara-negara lain, sebut saja dari negara-negara tetangga, semisal Malaysia dan Thailand. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan upaya promosi yang sepertinya belum tertangani secara serius dan optimal oleh pihak-pihak terkait.

Secara umum, data yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia pada tahun 2013 menyebutkan bahwa total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dari bulan Januari-Oktober lalu tercatat sebanyak 7.134.052 orang, sementara di periode yang sama pada tahun 2012 silam terdata sebesar 6.538.129 orang. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun terjadi peningkatan sekitar 8,56%.

Berdasarkan data tersebut, dari sembilan pintu masuk utama kedatangan wisatawan di seluruh Indonesia, sumber kedatangan terbesar wisatawan diperoleh melalui pintu masuk Bali, Jakarta, dan Batam, dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 10,50%, 9,49%, dan 8,00% dari tahun sebelumnya. Data tersebut juga memperlihatkan bahwa wisatawan terbanyak berasal dari Singapura, Malaysia, dan Australia.

Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah sepanjang dua tahun terakhir, mengapa hanya tiga lokasi ini saja yang ramai dituju oleh wisatawan dari luar negeri? Ada apa dengan kawasan-kawasan wisata di bahagian timur, tengah, dan barat Indonesia? Bagaimana cara menarik turis mancanegara lainnya untuk menyambangi daerah-daerah lain di nusantara? Indonesia tentu tidak hanya mempunyai Bali yang gaungnya bahkan mengalahkan nama Indonesia sendiri. Indonesia masih memiliki banyak budaya dan kawasan wisata lainnya yang tersebar di berbagai provinsi dan pulau. Di samping masalah pelayanan, keamanan, dan kenyamanan di kawasan objek wisata itu sendiri, agaknya aspek promosilah yang menjadi persoalan mendasar.

Kendati demikian, jika dibandingkan dengan Malaysia, popularitas Indonesia sebagai salah satu negara tujuan wisata tampaknya masih kalah saing. Menurut data United Nation’s World Tourism Organization (UNWTO), pada tahun 2011 lalu Malaysia menempati peringkat kesembilan dalam daftar wisata tersohor di dunia, bahkan tercatat sebagai negara destinasi wisata terpopuler kedua di Asia setelah China. Dalam beberapa tahun terakhir, Malaysia memang begitu gencar memajukan sektor pariwisatanya, salah satunya lewat program “Visit Malaysia Year” yang diluncurkan pertama kali pada tahun 1990 dengan mengambil tema “Fascinating Malaysia, Year of Festival”. Kala itu, Malaysia berhasil mendatangkan sebanyak 7,4 juta wisatawan asing dari 4,8 juta orang pada tahun 1989. Upaya promosi sektor pariwisata tersebut kemudian dilanjutkan pada tahun 1994 dan 2007 dengan mengangkat tema-tema yang mampu menarik wisatawan dan memperkenalkan “Orang Utan” sebagai maskot.

Pada perhelatan “Visit Malaysia Year” yang diadakan untuk ketiga kalinya pada tahun 2007, Negeri Jiran itu kian meningkatkan upaya promosi dan kampanye pariwisatanya. Program “Visit Malaysia Year” yang saat itu bertepatan dengan dirgahayu kemerdekaan Malaysia yang ke-50 digelar secara besar-besaran dengan menampilkan beragam kegiatan promosi dan kampanye, di antaranya 200 pergelaran budaya lintas negara dan 50 pergelaran lainnya yang menampilkan kekayaan pariwisata lokal di Malaysia. Tak tanggung-tanggung, selepas acara tersebut sukses digelar, wisatawan yang datang ke Malaysia seketika membludak. Tercatat sebanyak 20,97 juta wisatawan membanjiri Malaysia dalam kurun waktu satu tahun dengan total penerimaan dana sebesar RM 46,1 milyar! Benar-benar jumlah yang fantastis. Belum ada dalam sejarah pariwisata Indonesia capaian yang sehebat itu. Di sini, terlihat sekali arti dan kekuatan dari sebuah program promosi yang mampu menarik kunjungan wisatawan.

Pada tahun 2014 nanti, negara pimpinan Perdana Menteri Datuk Sri Najib Tun Razak itu kembali akan menggelar program serupa dengan mengangkat tema “Celebrating 1Malaysia, Truly Asia”. Sebuah tema yang merefleksikan keragaman dalam persatuan rakyat Malaysia. Dengan mengusung tema yang cukup meyakinkan itu, Malaysia seolah ingin mencitrakan bahwa negaranya merupakan kawasan Asia yang sesungguhnya. Dari program promosi pariwisata yang keempat kalinya dan direncanakan menjadi yang terbesar dan termegah ini, Malaysia menargetkan kunjungan wisatawan sebanyak 36 juta wisatawan dan penerimaan dana sebesar RM 168 milyar hingga tahun 2020, seperti yang tertera dalam the Malaysian Tourism Transformation Plan (MTTP) 2020.


Berkaca dari pengalaman Malaysia di atas, apa yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah Indonesia demi memajukan sektor pariwisata di Tanah Air? Ya, di samping membenahi aspek pelayanan, keamanan, dan kenyamanan dalam negeri, upaya promosi dan kampanye juga harus digenjot dan dilakukan secara besar-besaran. Pemerintah bisa mengajak semua lapisan masyarakat untuk terlibat dalam upaya ini. Promosi dan kampanye bisa dilakukan lewat media, peluncuran program tahun kunjungan wisata ke Indonesia, atau lewat perwakilan pemerintah di luar negeri, yang dalam hal ini adalah KBRI. Namun ada satu hal yang sepertinya terlupakan, peran mempromosikan sektor pariwisata nusantara ini juga bisa dilakukan oleh komunitas mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Mengapa demikian? Dengan pola interaksi yang luas dan pergaulan internasional multi-etnis yang terbangun di kampus, peran ini akan terasa maksimal di tangan mahasiswa.

Salah satu komunitas mahasiswa Indonesia di luar negeri yang mampu memainkan peran sebagai duta promosi budaya dan pariwisata nusantara adalah Persatuan Pelajar Indonesia – International Islamic University Malaysia (PPI-IIUM). Saat ini ada sekitar 800 mahasiswa Indonesia di semua jenjang yang tengah menimba ilmu di universitas Islam berlevel internasional di Negeri Jiran itu. Sedangkan di IIUM sendiri kini tercatat ada ribuan mahasiswa mancanegara yang berasal dari 80 negara. Melihat jumlah ini, saya melihat ada potensi besar untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata Indonesia kepada mereka di lingkungan kampus. Pun dengan jumlah mahasiswa dari berbagai negara yang meningkat dari tahun ke tahun, IIUM setiap tahun juga intens menggelar pekan atraksi seni dan budaya lintas negara bertajuk “Global Ummatic Festival” yang diikuti oleh puluhan perwakilan negara peserta. Tentu ini adalah kesempatan bagi setiap mahasiswa di lingkungan kampus IIUM untuk saling mengenal dan mempromosikan budaya dan pariwisata negara masing-masing.


Pada pergelaran “Global Ummatic Festival 2013” yang diadakan beberapa waktu yang lalu, Indonesia berhasil meraih gelar "The Best Cultural Performance" setelah di babak final mampu menyingkirkan perwakilan tuan rumah Malaysia, Singapura, dan Bangladesh. Pada tahun ini, ajang pergelaran seni dan budaya internasional yang menjadi agenda tahunan di IIUM itu diikuti oleh sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, India, China, Bangladesh, Afghanistan, Pakistan, Mesir, Yaman, Irak, Palestina, Yordania, Machedonia, Somalia, dan Nigeria.

Pada malam penutupan yang juga dihadiri oleh Rektor IIUM, Prof. Datuk Seri Dr. Zaleha Kamaruddin itu, Indonesia yang diwakili oleh sejumlah mahasiswa yang tengah menimba ilmu di IIUM, kembali mempertontonkan aksi mereka yang mengagumkan dengan mengangkat tema “Mutiara Nusantara”. Di hadapan ribuan penonton yang memadati gedung Cultural Activity Center (CAC), mereka dengan penuh percaya diri menampilkan tarian kreasi adat Papua dengan atraksi lompat bambu dan diiringi alat-alat musik daerah. Selepas itu, diketengahkan pula penampilan lagu-lagu daerah dari berbagai provinsi yang dinyanyikan secara bersambung. Saat pembukaan beberapa hari sebelumnya, mereka juga mengetengahkan penampilan serupa.

Sorak-sorak dan tepuk tangan dari ribuan penonton terdengar membahana di gedung CAC kala nama Indonesia diumumkan sebagai jawara dalam perhelatan “Global Ummatic Festival” itu. Dari informasi yang saya dengar, rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang tampil malam itu berlatih siang dan malam dan nyaris tidak tidur demi mempersiapkan penampilan spektakuler tersebut. Betapa tidak, di samping berlatih membawakan tari kreasi adat Papua, mereka harus mencari bambu yang akan digunakan dalam atraksi seni di atas panggung, membuat rumbai-rumbai dari tali, menghiasi kepala mereka dengan topi dari dedaunan, dan mencoret-coret wajah. Persis seperti suku pedalaman di Papua. Benar-benar pekerjaan yang tidak ringan. Salut.

Selain itu, acara yang dihelat sejak 8 November lalu itu juga memamerkan stan-stan pameran seni dan budaya dari perwakilan negara-negara peserta. Indonesia sendiri memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan kesenian, budaya, dan pariwisata Tanah Air, khususnya kepada para mahasiswa mancanegara yang belajar di IIUM. Selama sepekan pergelaran seni dan budaya lintas negara tersebut, Indonesia yang diwakili oleh PPI-IIUM gencar memperkenalkan berbagai kesenian, budaya, dan pariwisata nusantara kepada setiap mahasiswa asing yang berkunjung ke stan pameran. Di sana mereka memamerkan miniatur peta Indonesia, foto-foto tarian adat setiap daerah, pakaian adat, alat musik, kuliner, dan lokasi wisata yang terkenal di setiap pulau, dan berbagai kesenian lainnya. Saya melihat stan pameran Indonesia selalu ramai dikunjungi mahasiswa dari negara-negara lain. Mereka antusias bertanya tentang pakaian adat, alat musik, wayang, batik, dan wisata Pulau Bali tersohor itu. Rekan-rekan PPI-IIUM dengan penuh semangat pula menjelaskan kepada mereka. Tak jarang mereka minta berpose dengan mengenakan pakaian adat atau dengan latar miniatur peta nusantara yang dipamerkan di stan tersebut. Di bagian ini, tugas penanggungjawab juga tidak kalah beratnya. Demi mempersiapkan latar stan pameran, mereka harus mendesain miniatur peta Indonesia jauh-jauh hari sebelumnya, mempersiapkan aneka pakaian adat, alat musik, dan gambar-gambar lokasi wisata. Upaya yang sangat patut diacungi jempol.  


Dari sini, saya melihat bahwa peran mahasiswa, terlebih lagi mahasiswa yang belajar di luar negeri tidak hanya sebagai insan akademis. Mereka juga bisa berperan sebagai duta pariwisata di negara tempat mereka merantau. Mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia kepada warga negara lain yang mereka temui, baik itu di lingkungan kampus ataupun di lingkungan tempat mereka bersosialisasi. Dengan begitu, setidaknya mahasiswa sudah membantu program pemerintah dalam upaya mempromosikan budaya dan pariwisata nusantara ke kancah global. Pada gilirannya, kita harapkan citra Indonesia sebagai percikan sorga di muka bumi semakin dikenal oleh dunia, sehingga para wisatawan dari mancanegara terus berdatangan. Jika negara lain saja bisa, kenapa kita tidak?



*Esai ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Esai Gema Ilmiah Ankara (GIA) Turki 2013 dengan tema "Mempromosikan Kekayaan Budaya Indonesia". Doakan semoga juara ya. :-)

*Tulisan ini dimuat pula dalam majalah "Suara Nusantara" Yayasan Ikatan Rakyat Malaysia Indonesia (YIRMI) edisi Januari 2015.

Jumat, 29 November 2013

[LOMBA MENULIS RESENSI NOVEL 12 MENIT]

Judul Buku    : 12 Menit
Penulis            : Oka Aurora
Penerbit          : Noura Books
Harga               : Rp. 54.000,-
Cetakan           : I, Mei 2013
Tebal                : xiv + 348 halaman
ISBN                 : 978-602-7816-33-6
Resensor        : Jemmy Hendiko



12 Menit; Novel Atau Promosi Grup Marching Band?

Saat pertama kali mengetahui novel ini dari sebuah laman internet, seketika saya dibuat penasaran dan ingin segera membaca. Apalagi dalam ulasan singkatnya disebutkan bahwa novel ini bercerita tentang perjuangan sebuah tim marching band di Bontang, Kalimantan Timur untuk berlaga dalam kompetisi marching band tingkat nasional. Ditambah pula dengan desain cover yang cukup eye catching dengan tulisan “12 Menit” di antara rak-rak kayu berwarna biru elegan, yang dipadu dengan beberapa benda yang akrab dengan dunia marching band, seperti stik drum, trompet, dan topi khas pemain marching band. Secarik tulisan “Nantikan Filmnya” yang menempel di sampul depan kian me-endorsement buku ini untuk dibolak-balik. Wah, ini pasti menarik. Jarang ada novel yang mengangkat tema seputar marching band, pikir saya kala itu.

Setelah novel besutan tangan Oka Aurora ini sampai ke tangan saya di Kuala Lumpur beberapa waktu yang lalu, langsung saja saya lahap dari halaman ke halaman. Adalah tak mudah bagi saya untuk memperoleh buku ini, sebab saya harus menitipkannya lewat seorang teman yang pulang ke Padang dan baru kembali ke Malaysia sebulan kemudian. Lantas, pertanyaan pertama yang menyeruak di pikiran saya kala membuka halaman pertama dari novel perdana Oka Aurora ini adalah mengapa kisah ini bertajuk “12 Menit”? Ada apa dengan “12 Menit”? Jawaban dari tanda tanya ini akhirnya saya temukan pada bab 16, dimana Rene yang berperan sebagai pelatih utama tim Marching Band Bontang PKT tersebut berkata dengan berapi-api kepada anak didiknya, “Dalam dua belas minggu ke depan, kita akan habiskan ratusan jam, siang dan malam, demi dua belas menit. Dua belas menit di Istora nanti.” (halaman 83)

Di sinilah inti cerita dari novel yang terinspirasi dari kisah nyata ini. Ya, perjuangan dan latihan keras selama ratusan jam harus dikorbankan demi kompetisi yang hanya berdurasi dua belas menit. Satu hal yang menarik adalah ide cerita yang diketengahkan dalam novel ini sudah terlebih dahulu menjadi skenario film, baru kemudian dinovelkan. Agak berbeda dengan film-film yang biasanya diangkat dari sejumlah novel, terutama novel-novel best seller. Dengan kata lain, novel ini adalah adaptasi dari sebuah film.

Bagi saya pribadi, ada kesan tersendiri kala membaca novel 12 Menit ini. Betapa mozaik-mozaiknya mampu memutar kembali kenangan yang pernah saya alami di masa-masa SMP dulu. Ya, perjuangan tokoh-tokoh yang bermimpi dan berusaha keras demi memenangkan kompetisi Grand Prix Marching Band (GPMB) tingkat nasional tersebut seketika mengingatkan saya bahwa dahulunya di masa-masa remaja, saya pernah pula menjadi bagian dari sebuah tim drum band milik sekolah, yang dalam acara-acara tertentu disulap menjadi semacam tim marching band mini, namun tanpa pasukan trompet. Drum band yang dimiliki sekolah kami itu adalah satu dari beberapa tim drum band yang cukup populer dan dikenal sekabupaten. Hingga di acara-acara bergengsi yang dihelat setiap tahun di level kabupaten, semisal upacara peringatan 17 Agustus, upacara Hari Pahlawan, sampai aneka rupa pawai massal dan budaya, sudah dipastikan tim drum band sekolah kami didapuk sebagai kelompok musik pengiring yang tampil di garda depan.

Sampai pada suatu ketika, kami yang beranggotakan puluhan siswa laki-laki dan perempuan itu harus memacu bulir-bulir adrenalin lebih kencang dari biasanya dan berlipat-lipat meningkatkan kesungguhan dan kedisiplinan dalam berlatih, ketika sebuah surat dari Dinas Pendidikan Kabupaten menunjuk tim drum band sekolah kami sebagai delegasi kabupaten guna mengikuti kompetisi drum band tingkat propinsi. Tak pelak, durasi latihan yang biasanya hanya sepekan sekali, tiba-tiba harus ditingkatkan menjadi tiga kali dalam sepekan demi memenangkan kompetisi drum band tersebut. Berlatih dan berlatih selama ratusan jam di tengah terik panas dan guyuran hujan. Singkat cerita, setelah melewati rangkaian latihan demi latihan yang melelahkan, tim drum band kami kala itu dapat berjuang dengan penuh percaya diri melawan puluhan tim lainnya seprovinsi, tampil maksimal di hadapan para juri, dan akhirnya masuk lima besar kelompok drum band terbaik.  
Adapun tokoh-tokoh utama dalam novel ini, maka sejatinya mereka seumpama para pelatih dan teman-teman satu tim saya dahulunya, yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Adalah Tara, salah seorang tokoh sentral yang mula-mula dimunculkan di babak-babak awal. Gadis berjilbab yang memulai perjuangannya di Marching Band Bontang sebagai anggota cadet band, alias anggota junior yang hanya sibuk dengan latihan baris-berbaris dan melatih kombinasi pukulan kanan-kiri, kanan-kiri. Latihan yang cenderung membosankan. Aktivitas marching band yang menuntut kemampuan musikalitas dan membedakan bunyi nada dengan baik, menjadi masalah tersendiri bagi Tara. Betapa tidak, remaja berbakat ini mengalami masalah dengan pendengarannya akibat kecelakaan yang juga merenggut nyawa ayahnya. Di saat yang sama, ibunya pergi merantau ke Inggris demi melanjutkan studi dan meninggalkannya bersama opa dan omanya. Keterbatasan pendengarannya tersebut membuat ia harus bergantung dengan alat bantu dengar yang senantiasa ia bawa ke mana-mana, namun celakanya tidak begitu membantu. Konflik batin yang dialami Tara terbilang kompleks dan mampu memantik simpati pembaca. Kelemahan daya dengarnya membuat ia sering dibentak dan diomeli oleh pelatih, karena dianggap tidak fokus, tidak becus, dan tidak serius berlatih. Pada gilirannya, Tara memutuskan untuk berhenti dari dunia marching band, kendati kemudian ia kembali lagi setelah diyakinkan oleh opa dan oma yang sangat menyayanginya. Di antara kalimat-kalimat penyemangat sang opa untuk Tara yang membuat saya tertegun adalah: “Kadang-kadang, hidup itu, ya, kayak gitu, Dek. Kayak dorong mobil di tanjakan,” jelas Opa. “susah. Berat. Capek. Tapi, kalau terus didorong, dan terus didoain, insya Allah akan sampai.” (halaman 160)

Berikutnya Rene, pelatih tim Marching Band Bontang PKT. Gadis muda berkarakter tegas, disiplin, cerewet, keras kepala, dan suka mengomel. Khas pelatih marching band yang selalu ingin sempurna dalam segala hal. Ia adalah jebolan fakultas Music Education and Human Learning di Amerika yang begitu terobsesi dengan dunia marching band sejak SMA. Selama di Amerika, Rene bahkan bertekad untuk membiayai hidupnya dari bermusik, sampai akhirnya ia bergabung ke Phantom Regiment, sebuah tim marching band profesional berskala internasional dan memegang posisi yang cukup berpengaruh. Dengan pengalamannya yang cemerlang tersebut, ia telah berhasil memenangkan grup marching band sebuah perusahaan di Jakarta dalam kompetisi GPMB selama tiga kali berturut-turut. Masalah kemudian timbul saat Rene dipinang sebagai pelatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim untuk membawa tim tersebut ke ajang GPMB tingkat nasional. Awalnya ia tak mengiyakan, karena mengkhawatirkan ibunya yang tinggal sendiri setelah ditinggal wafat sang ayah. Namun, kala ia sudah resmi sebagai pelatih, masalah demi masalah datang menghampirinya. Ia melihat anak-anak Bontang sangat berbeda dengan murid-muridnya di Jakarta dulu. Anak-anak Bontang selalu merasa “kecil” karena berasal dari daerah. Mereka sudah berpikir kalah sejak awal. Tak pelak, Rene pun kewalahan. Masalah yang mereka hadapi ternyata bukan soal tekhnis semata, namun lebih kepada bagaimana membangun kepercayaan diri, ditambah pula dengan personel demi personel yang keluar masuk begitu saja.

Elaine. Gadis belia blasteran Indonesia-Jepang yang sangat tertarik dengan dunia musik. Sebelum pindah ke Bontang, ia adalah seorang pemain biola di sebuah sekolah internasional di Jakarta. Ia terpaksa pindah ke kota kecil di Kalimantan Timur itu demi mengikuti sang ayah yang dipindahtugaskan ke sana. Ayah Elaine, Jusuke Higoshi adalah sosok pria Jepang pekerja keras, disiplin, dan perfeksionis. Khas orang Jepang kebanyakan. Sang ayah tidak mengizinkan Elaine bergabung ke grup marching band tersebut, karena ia menginginkan puteri semata wayangnya itu menjadi ilmuwan. Marching band, di matanya, adalah sia-sia dan tidak bisa memberikan jaminan hidup. Namun, di saat yang sama, Elaine terpilih sebagai field commander yang menggantikan Ronny yang mengalami kecelakaan. Konflik Elaine dengan ayahnya kian meruncing kala gadis tersebut membuang peluang emas mengikuti Olimpiade Fisika dan lebih memilih berlaga ke GPMB di Jakarta. Salah satu karakter Elaine yang membuat saya angkat topi dalam novel ini adalah kebiasaannya yang tidak tega membuang sampah sembarangan, sehingga ia selalu membawa plastik kresek yang dilipat kecil-kecil untuk membuang sampah-sampah pribadinya, lalu ia buang jika nanti sudah menemukan tempat sampah.

Selanjutnya, Lahang. Putera Dayak pedalaman yang harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk sampai ke lokasi latihan marching band. Lahang hidup miskin bersama ayahnya yang sering sakit-sakitan, sementara ibunya sudah terlebih dahulu meninggal dunia. Dilema yang dihadapi Lahang tak kalah mengharukan dengan apa yang dihadapi Elaine. Suatu saat ia harus memilih apakah harus merawat ayahnya yang sakit keras atau berangkat ke Jakarta demi mewujudkan mimpinya. Malangnya, saat ia telah sampai di Jakarta, ayahnya wafat.

Sejatinya, Novel 12 Menit bertutur tentang perjuangan meraih mimpi. Di halaman awal dituliskan sepotong ayat yang menjadi landasan penguat ide cerita, yaitu “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d [13]: 11) Demikian pula, dalam novel ini bertabur kata-kata dan ungkapan yang mampu memantik semangat positif pembaca, seperti “Dreaming is believing”. Ya, bahwa bermimpi itu adalah soal percaya atau tidak. Bagaimana membangun kepercayaan diri demi mewujudkan mimpi dan bagaimana mempercayakannya kepada Tuhan. Di titik ini, saya teringat dengan ungkapan senada yang dipopulerkan oleh Andrea Hirata dalam novel “Sang Pemimpi”, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Selain itu, ada ungkapan ayah Lahang yang cukup memberikan daya setrum hebat dalam novel ini, “Berapapun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan, karena ketakutan, anakku, tidak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu hanya keberanian”. (halaman 104)

Terlepas dari semua itu, poin menarik dan menjadi nilai tambah adalah perjuangan meraih mimpi tersebut dikemas oleh Oka Aurora dalam kisah tim marching band dengan setting kekinian, sehingga upaya mewujudkan mimpi kolektif dan misi bersama terasa lebih kentara. Sangat berbeda dengan novel-novel bergenre serupa yang biasanya cenderung menitikberatkan pada kisah mengejar mimpi atau cita-cita pribadi, seperti cerita tentang kuliah ke luar negeri atau perjuangan menjadi “sesuatu” yang diidam-idamkan.

Kendati demikian, kekurangan novel ini menurut saya berada pada tokoh Rob yang karakternya tidak begitu dieksplorasi oleh Oka dan hanya ditayangkan sepintas lalu pada segelintir bab. Padahal, di awal cerita saya sudah menduga-duga bahwa Rob-lah yang akan menjadi lakon sentral. Rob sangat mewakili karakter pekerja keras dan pengejar mimpi yang ingin ditonjolkan dalam novel ini. Di bab 3 misalnya, diceritakan betapa Rob sudah mengagumi dunia marching band sejak masih dalam gendongan. Saat ia baru mulai belajar berjalan, bicara, hingga duduk sendiri, ia sudah diizinkan untuk menyentuh beberapa alat oleh ayahnya yang merupakan seorang pelatih marching band. Hingga saat usianya menginjak sepuluh tahun, Rob sudah terpilih sebagai anggota inti termuda di grup Marching Band Pupuk Kalimantan Timur sebagai pemain trompet, dimana kemampuan tekhnisnya mampu bersaing kuat dengan para seniornya. Bahkan, yang mengagumkan, saat usianya tujuh belas tahun, ia berhasil diterima sebagai anggota The Blue Devils, sebuah drum corps terbaik di Amerika. Selain itu, jika dibandingkan dengan novel-novel bertema serupa, pendeskripsian Oka terhadap narasi cerita rasanya tidak terlalu bertenaga. Dengan kata lain, pemilihan diksi dan kata-kata tidak begitu memukau pembaca. Kekuatan novel ini menurut saya lebih berada pada alur dan plot.

Lebih jauh, saat mula-mula membaca novel ini, tiba-tiba saja saya dilanda penasaran dengan nama Marching Band Bontang Pupuk Kalimantan Timur yang menjadi alasan novel ini ditulis. Setelah googling sana-sini, rupa-rupanya tim marching band yang berasal dari Bontang tersebut tidak sekecil yang divisualisasikan dalam novel 12 Menit. Grup marching band yang lebih populer dengan singkatan MB-PKT itu ternyata sudah pernah meraih sepuluh kali juara umum dalam kejuaraan Grand Prix Marching Band (GPMB) tingkat nasional, beberapa kali di antaranya diperoleh secara berturut-turut. Ya, tim MB-PKT ini adalah grup marching band elit dan disegani. Namun, sepertinya publik tak begitu mengenal nama MB-PKT, termasuk saya sendiri, apalagi dunia marching band nyatanya tidak begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia.

Dalam sejarahnya dikemukakan, bahwa pada awalnya grup musik ini adalah kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa-siswi SMP dan SMA Yayasan Pupuk Kaltim dan dilatih secara serius untuk dapat tampil pada perayaan HUT PT Pupuk Kaltim tahun 1989 di Jakarta. Pada perkembangannya, tim yang beranggotakan 130 orang itu kemudian diikutsertakan dalam ajang GPMB di tahun 1990 dan mulai mengembangkan sistem kepelatihan dan regenerasi dengan mendatangkan pelatih asing, yaitu Andy Dougharty dan Rene Conway sebagai pelatih tetap. Sejak saat itu pula, keanggotaan yang sebelumnya hanya dibatasi pada siswa-siswi Yayasan Pupuk Kaltim dirubah total dengan menerima keikutsertaan masyarakat sekitar.

Atas dasar fakta di atas, saya berasumsi bahwa di antara tujuan diangkatnya novel yang tak lama lagi film-nya akan segera tayang ini adalah untuk mempromosikan grup Marching Band Bontang Pupuk Kalimantan Timur (MB-PKT) secara lebih luas kepada masyarakat. Sebab, rasanya sedikit janggal bila sebuah tim marching band yang berkali-kali menjadi jawara tingkat nasional namun gaungnya hanya dikenal oleh kalangan tertentu saja.

Terakhir, kehadiran novel ini seakan ingin mempertegas dan mengingatkan kembali bahwa mimpi apapun harus diraih dengan kerja keras dan jiwa pantang menyerah. Tak ada mimpi dan cita-cita yang bisa digapai dengan mudah. Seperti kata Oka, “Tak ada yang instan di dunia ini. Tak ada. Kecuali mungkin mie. Oh, dan kopi.” 


Resensi ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit yang diadakan oleh Noura Books. 



Minggu, 27 Oktober 2013

Ingin Melanjutkan Studi di International Islamic University Malaysia (IIUM)?

Anda berniat melanjutkan kuliah ke luar negeri atau masih bingung untuk melanjutkan program master dan doktoral ke mana? International Islamic University Malaysia (IIUM) bisa menjadi pilihan.

Kenapa IIUM? 

Sebagai sebuah universitas bertaraf International, IIUM atau juga dikenal dengan nama Universitas Islam Antarabangsa (UIA) adalah universitas populer dan berpengaruh di Malaysia. Dengan mahasiswa lebih dari 100 negara di dunia, IIUM telah menghasilkan ribuan alumni mumpuni yang berkiprah di berbagai bidang. 

Kampus IIUM Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia
Kunjungi website resmi IIUM di 
http://www.iium.edu.my/

Highlight Studi di Malaysia: 
http://www.iium.edu.my/life-iium/studying-malaysia


A. Program Strata Satu (S1): Undergraduate Studies

1. Informasi umum program kuliah dan persyaratan:
http://www.iium.edu.my/programmes-courses#ug_health

2. Biaya kuliah: 
http://www3.iium.edu.my/finance/uploaded_files/2011/International%20Undergraduate4.pdf

B. Programa S2 (Master) dan S3 (Doktoral): Postgraduate Studies
1. Informasi umum program kuliah dan persyaratan:
http://www.iium.edu.my/cps
http://www.iium.edu.my/cps/programmes-offered

2. Biaya kuliah: 
http://www.iium.edu.my/cps/fee_structure
http://www.iium.edu.my/finance/services/available-services/fee-structures 

Salah satu sudut "kampus biru" IIUM
Proses sederhana mendaftar di IIUM:

Pertama: Pendaftaran berkas dan dokumen (bisa dikirim), melampirkan item-item berikut:
1. Uang pendaftaran RM 75 (Rp 260 ribu)
2. Fotocopy Ijazah dan transkrip dilegalisir masing-masing 3 lembar dengan nilai min. IPK 3.00, Good, Jayyid.
3. Terjemahan ijazah dan transkrip nilai dalam bahasa Inggris yang dilegalisir masing-masing 3 lembar.
4. Lima (5) lembar pas photo ukuran 4 x 6.
5. Dua rekomendasi (tazkiyah) dari perorangan/lembaga/ormas Islam yang dikenal (dalam bahasa Inggris diutamakan)
6. Proposal disertasi untuk program S3.
7. Bank Statement dan foto copy buku tabungan. (Surat ini adalah keterangan dari bank bahwa wali/sponsor memiliki rekening di bank bersangkutan dan mempunyai tabungan yang cukup untuk kuliah anak walinya. Surat tersebut ditujukan ke IIUM. Biasanya Bank sudah punya format untuk surat seperti ini tinggal diminta)
8. Sertifikat IELTS/TOEFL (Ini pilihan saja, kalau belum punya bisa mengikuti tes di IIUM setelah daftar ulang jika telah diterima secara administrasi)
9. Bisa dilampirkan juga fotocopy sertifikat prestasi atau kegiatan berprestise yang pernah diikuti. Dokumen ini bisa jadi pertimbangan tambahan panitia penerimaan MABA IIUM.

Kedua: Setelah berkas didaftarkan kita tunggu berkas-berkas tersebut diverifikasi sampai nanti mendapatkan Offer Letter (tanda terima). Tanda terima ini nanti dipakai untuk daftar ulang yang biasanya dilakukan 2 minggu sebelum perkuliahan dimulai. Semua dokumen asli yang dilampirkan ketika daftar sebelumnya wajib dibawa untuk verifikasi, kemudian pada fase ini kita membayar uang pendaftaran, administrasi, kesehatan, asuransi, dan uang kuliah semester pertama.

Ketiga: Setelah daftar ulang bagi mahasiswa yang tidak melampirkan sertifikat bahasa seperti TOEFL/IELTS, maka diwajibkan ikut test internal IIUM namanya EPT (English Proficiency Test) dan APT (Arabic Proficiency Test). Semua calon mahasiswa wajib mengikuti EPT, adapun APT hanya diikuti oleh calon mahasiswa yang akan masuk fakultas islamic studies seperti IRKHS (Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences) yang menggunakan pengantar bahasa Arab. Bagi lulusan Timur Tengah tidak perlu mengikuti APT, cukup memverifikasi ijazah sehingga APT dianggap lulus. Sementara EPT wajib diiikuti oleh semua calon mahasiswa.

Keempat: Ketika hasil diumumkan, selanjutnya ada proses administrasi lanjutan selama 2-4 hari. Jika nilai EPT/APT memenuhi standar, maka bisa langsung mengambil mata kuliah. Jika tidak maka calon mahasiswa harus ikut program kelas bahasa (CELPAD) dimana di setiap akhir semester tersebut akan diadakan tes EPT/APTkembali. Setelah mencapai nilai EPT/APT standar baru kemudian boleh mengikuti perkuliahan sesuai jurusan masing-masing.


Di samping itu, di IIUM ada dua kali gelombang masuk (intake), yaitu September (first semester) dan Februari (second semester). Untuk intake September, deadline-nya tanggal 31 Mei setiap tahunnya, Sedangkan untuk intake Februari, deadline-nya tanggal 18 November setiap tahun.

Kelima: Masa kuliah normal di IIUM untuk S1 4 tahun, S2 2 tahun, dan S3 3 tahun. 

Itulah proses yang akan dilalui jika ingin melanjutkan kuliah di IIUM.

INGAT... Saat ini IIUM adalah universitas international yang terjangkau dan kompetitif biaya kuliahnya di Malaysia. So, tentukan segera pilihan studi Anda!

For further information and registration, please kindly contact:

Jemmy Hendiko, Lc.
Master Student at IIUM

E-mail: jemmyhendiko55@gmail.com
Facebook: Jemmy Hendiko
Twitter: @JemmyHandy

Rabu, 09 Oktober 2013

Akhirnya Aku Berdakwah di Hadapan Bupati

Jujur, dalam berdakwah, aku bukanlah sosok yang piawai beretorika seperti ustadz-ustadz kondang yang kerap muncul di televisi. Aku bukan pula singa podium yang bisa dengan mudah memukau para audiens dan pendengar. Kemampuanku berceramah di atas mimbar cenderung biasa-biasa saja. Apalagi saat pertama kali didapuk menjadi khatib Jumat di masjid kampungku sekembali dari Mesir dulu. Lantaran sebelumnya jarang menyampaikan ceramah, kala itu aku dilanda demam panggung. Keringat dinginku berhamburan keluar, kendati akhirnya tugas tersebut bisa kutunaikan dengan baik. 

Memang, sejatinya dakwah tak melulu harus disampaikan di atas mimbar dengan gaya retorika yang berapi-api, namun sebagian besar masyarakat memandang bahwa orang yang belajar agama itu harus pandai berceramah. Sehingga mau tidak mau, kemampuan berbicara di depan publik harus benar-benar dilatih dan dikuasai oleh siapapun yang menekuni bidang agama, apalagi jika ia tamat dari sebuah universitas Islam. Hal ini sudah kusadari sejak duduk di bangku madrasah aliyah dulu, di samping dengan terus mengasah pena virtualku dengan cara berdakwah lewat tulisan. 

Dan di hari itu, seorang pejabat teras pemda kabupaten meneleponku pagi-pagi. Kebetulan ia seorang warga di kampungku, jadi aku mengenalnya dengan baik. Aku diminta untuk mengisi kajian dhuha di masjid kantor bupati sepekan ke depan. Ia menuturkan, bahwa acara tersebut adalah agenda bulanan di lingkungan pemda, yang juga akan dihadiri oleh bupati dan seluruh jajarannya. 

Tentu saja undangan itu menjadi kehormatan tersendiri bagiku, apalagi saat itu aku baru beberapa minggu menginjakkan kaki di kampung halaman. Kesempatan ini akan menjadi semacam personal branding untuk memperkenalkan diriku di hadapan bupati dan pejabat-pejabat teras di lingkungan pemda, sehingga pengaruh dakwahku nantinya kepada mereka bisa semakin dalam dan intens, di samping aku ingin sekali menyampaikan nilai-nilai Islam yang betul-betul berlandaskan Al-Quran dan Hadis dengan cara yang menggugah dan menyadarkan.  

Bukan apa-apa, aku kerap mendengar dari masyarakat bahwa kini di daerahku sudah semakin jarang dai yang berbicara dengan landasan ilmu. Dai-dai yang berceramah di masjid-masjid hanya mengulang-ulang apa yang sudah sering mereka sampaikan. Terlebih lagi banyak pula di antara mereka yang hanya berkelakar dan menyampaikan guyonan, bahkan naifnya dengan mempermainkan ayat-ayat dan hadis. Yang penting jamaah bisa terhibur dan tertawa terpingkal-pingkal. Na’ûdzubillâh. Betul-betul miris. Akhirnya, ceramah agama tak ubahnya ajang stand up comedy show. Nyaris tidak ada ilmu yang bisa diserap dan dibawa pulang. Pada gilirannya, jamaah jenuh, pengajian pun ditinggalkan.  

Saat itu pun tiba. Pagi itu, sebelum bupati dan jajarannya sampai, aku sudah berada di dalam masjid di kompleks perkantoran pemda tersebut. Para staf dan pegawai tampak sudah datang memenuhi masjid. Ketika itu aku diamanahkan oleh panitia untuk menyampaikan tafsir Surat Al-Fatihah. Berhari-hari aku mempersiapkan materi tersebut dengan membaca ragam kitab tafsir. 

Setelah acara dibuka dengan sambutan bupati, akhirnya sampailah giliranku untuk mengetengahkan kajian dhuha di pagi itu. Tafsir ayat demi ayat dari Surat Al-Fatihah aku bentangkan sedetail dan semenggugah mungkin. Bupati beserta para jajarannya itu tampak khusyuk mendengarkan pengajian yang aku uraikan. Selama lebih kurang satu jam lamanya aku berada di atas podium.

Setelah turun dari mimbar dan acara ditutup, bupati memanggilku untuk duduk bersama pejabat-pejabat lainnya. Aku lantas ditanyai tentang beberapa hal yang berkaitan dengan tema yang aku sampaikan tadi. Semuanya aku jawab sesuai dengan ilmu dan pemahaman yang kumiliki. Sesekali ia menyanggah, karena menurutnya apa yang aku sampaikan berbeda dari apa yang ia peroleh dari gurunya. Belakangan dari bisik-bisik panitia aku mengetahui, rupa-rupanya sang bupati memiliki “guru spiritual” sendiri, yang konon memiliki “pemahaman sendiri” pula. Kendati demikian, bupati tampak puas dengan penjelasanku, begitu pula dengan pejabat-pejabat itu.

Setelah bupati dan jajarannya beranjak, aku pun bersiap-siap pamit. Panitia menyampaikan terima kasih banyak atas kajian dhuha yang aku sampaikan di pagi itu. Dalam perjalanan pulang aku berandai-andai, sekiranya aku saja yang menjadi “guru spiritual” bagi bupati itu. :-) 

Kuala Lumpur, 10 Oktober 2013




Senin, 30 September 2013

[Notes from Kuala Lumpur] Sopir Travel Itu Seorang Ayah Penghafal Al-Quran

Adakalanya, tidaklah elok bila kita memandang dan menilai sesuatu secara kasat mata saja. Poin inilah yang berhasil aku renung-renungkan dari seorang sopir mobil travel jurusan Solok-Padang yang kutumpangi beberapa waktu yang lalu. Kala itu, Sabtu pagi tanggal 21 September 2013, aku bertolak dari rumah ke Padang dengan menumpang sebuah mobil travel, menuju perpustakaan kampus Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang. Tujuanku ketika itu adalah untuk melakukan riset pustaka dan mengumpulkan data-data penunjang guna kepentingan thesis yang sedang aku garap di International Islamic University Malaysia (IIUM). Karena thesis yang sedang aku susun tersebut bertema ke-Indonesia-an, maka tentu referensi dan rujukannya lebih banyak berada di Indonesia. Sehingga keberadaanku di Indonesia pada musim liburan tahun ini betul-betul aku manfaatkan demi penulisan thesis.

Dan di pagi itu, setelah beberapa saat menunggu di Simpang Empat Talang, akhirnya mobil travel yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Masih sepi dan kosong. Hanya tampak seorang penumpang lelaki paruh baya yang duduk di samping sang sopir. Sepertinya mobil travel ini sengaja tidak menunggu penumpang di sekitar kota Solok dan lebih memilih mencari di sepanjang jalan, pikirku saat itu. Akhirnya, aku dan tiga orang ibu-ibu yang membawa anak mereka masing-masing naik ke dalam mobil tersebut.

Sejatinya, mobil travel di daerahku adalah mobil-mobil bermuatan tujuh orang penumpang semacam mobil Avanza dan sejenisnya. Jika dilihat sekilas, nyaris tidak tampak perbedaan mendasar antara mobil-mobil pribadi dengan mobil jasa travel ini, memakai merk-merk travel apapun tidak. Hanya saja, ketika mobil travel tersebut melewati orang yang terlihat seperti akan pergi ke Padang, maka biasanya sang sopir akan menghentikan mobilnya dan menyapa, “Padang, Uda? Padang, Uni?” Maka, saat itulah baru diketahui bahwa mobil tersebut adalah mobil travel. Sederhana sekali.



Sejurus kemudian, sopir travel mulai melarikan mobil tersebut secara perlahan, barangkali karena penumpangnya belum penuh. Aku melemparkan pandangan ke arah jok kursi belakang. Masih ada dua kursi yang belum terisi. Aku yang saat itu duduk persis di belakang jok sopir lalu memutuskan untuk membaca sebuah buku yang kubawa dalam tas. Perjalanan ke lokasi yang aku tuju memakan waktu lebih kurang satu setengah jam.

Di sela-sela membaca, aku mendengar sang sopir berbincang-bincang ringan dengan laki-laki paruh baya yang duduk di sampingnya tadi. Sesekali aku melemparkan pandangan ke luar jendela, untuk memastikan perjalanan sudah sampai di mana. Dari hasil laporan mata, aku menangkap bahwa sopir travel itu layaknya sopir-sopir angkutan publik lainnya yang selama ini aku lihat dan temui. Biasa saja. Ia berpenampilan sederhana dengan raut wajah yang menyiratkan sosok pekerja keras.

Memasuki gerbang kota Padang, ketiga ibu-ibu tadi turun. Mereka rupanya menuju sebuah gelanggang olahraga yang berada di kompleks Perusahaan Semen Indarung Padang. Mobil travel tumpanganku itu kemudian melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba aku teringat, bahwa hari Rabu depan aku akan bertolak ke Kuala Lumpur. Tentu saja aku harus memesan mobil travel yang akan mengantarkanku ke Bandara International Minangkabau. Pasalnya, jika aku pergi ke bandara dengan angkutan umum, maka setidak-tidaknya aku harus berganti tiga kali kendaraan. Tentu saja hal demikian sangat merepotkan dan tidak nyaman. Maka, mumpung saat itu aku sedang berada di dalam mobil travel, kontan saja aku berujar kepada sopir itu dari belakang jok kursinya:

Uda, hari Rabu depan bisa ndak mengantarkan saya ke bandara?”

“Wah, sayang sekali ndak bisa, Dek. Hari Rabu itu mobil ini sudah ada yang menyewa.”

“Oh gitu. Ya udah, ndak apa-apa.”

Ia lalu bertanya, “Memangnya mau ke mana, Dek?”

“Saya mau ke Malaysia,” jawabku.

“Jadi TKI di sana?” Laki-laki paruh baya di samping sopir tersebut ikut bertanya.

“Oh, bukan, Da. Ambo kuliah di sana.”

“Begini saja,” potong sopir tadi. “Ambo berikan saja nomor handphone kawan ambo. Dia juga sopir travel seperti ambo. Nanti Adiak hubungi saja dia.”

“Oh. Baiklah,” ujarku.

Ia lalu menghubungi rekan seprofesinya tersebut, dan mengabarkan bahwa ada seorang penumpang yang memerlukan jasa travel ke bandara hari Rabu depan. Setelah dikonfirmasi, sopir travel itu lalu mengulurkan kepadaku telepon selulernya yang menampilkan nomor telepon kawannya tersebut. Aku lalu menyimpan nomor tersebut di handphone-ku.

“Sudah semester berapa?” Laki-laki paruh baya itu kembali bertanya.

“Semester empat. Ambo sedang ambil S-2 di sana, di IIUM.”

“Ooohhh.”

“Dulu S-1-nya di mana?”

Ambo dulu S-1 di Mesir, di Universitas Al-Azhar Cairo,” terangku sambil tersenyum.

“Ooohh. Bagus.”

Sopir travel itu lalu ikut menimpali. Ia yang dari tadi hanya diam dan fokus mengemudi sepertinya tertarik dengan topik pembicaraanku dengan lelaki separuh baya itu.

“Wah, Adiak tamatan Universitas Al-Azhar ya? Anak ambo juga bercita-cita ingin kuliah ke sana nanti,” ujarnya sambil tetap fokus menyetir.

“Oh ya? Sekarang anaknya sekolah di mana, Da?,” tanyaku penasaran.

“Sekarang dia baru kelas lima SD. Dia bersekolah di sebuah SDIT di Dharmasraya. Sekarang sudah hafal 3 juz Al-Quran lho, Dek,” ungkapnya bangga.

Laki-laki yang kukira-kira sudah berumur empat puluhan tahun itu kemudian menuturkan, bahwa puteranya itu bernama Shiddiq. Selaku orangtua, tak terperi bahagia jiwanya memiliki anak seperti dia. Di sekolahnya dia selalu juara kelas. Di rumah dia rajin menghafal Al-Quran. Ia sama sekali tak menyangka, dirinya yang selama ini jauh dari agama ternyata dianugerahi anak yang shaleh dan dekat dengan Al-Quran. Bahkan, baru-baru ini, anaknya tersebut memenangi lomba menghafal Juz ‘Amma tingkat SD se-Kabupaten Dharmasraya. Ia mampu mengalahkan rekan-rekannya dari sekolah-sekolah negeri. Hebatnya lagi, tuturnya, putera kebanggaannya itu kini sudah bisa pula membetulkan bacaan Al-Quran siapapun yang menurutnya tidak tepat secara tajwid. Sebelum tamat SD nanti, ia sudah menargetkan hafal 5 juz Al-Quran.

Terang saja, aku terkagum-kagum menyimak penuturan sosok sopir yang ternyata adalah ayah dari calon hafizh Al-Quran itu. Aku kemudian berkomentar, “Betapa beruntungnya Uda memiliki anak seperti dia. Memiliki anak seperti Shiddiq tentu adalah impian setiap orangtua, apalagi di zaman seperti sekarang.”

“Betul, Dek. Bahkan saya sendiri, mau dibayar berapapun, saya yakin tidak akan mampu menghafal Al-Quran. Sementara dia, alhamdulillah bisa menghafal Al-Quran di usianya yang masih dini,” tambahnya lagi sambil berkaca-kaca.

“Sejak melihat anugerah Allah pada anak saya itu, saya jadi merenungi diri, biarlah saya saja yang gagal hidup tidak berpendidikan. Toh ini juga karena kelalaian saya pada masa muda dulu. Biarlah saya saja sebagai ayahnya yang hidup membanting tulang seperti ini, asalkan ia hidup dengan ilmu, dengan pendidikan. Prestasi dan keshalehannya telah menjadi pengobat jerih dan penguap penat bagi saya sebagai orangtuanya. Kelak, demi masa depannya, apapun akan saya lakukan, akan saya hutang-hutangkan ke sana ke mari kalau perlu. Doakan ya, Dek. Semoga anak saya itu kelak bisa mencapai cita-citanya kuliah ke Mesir, ke Universitas Al-Azhar,” pungkasnya.

Aku yang duduk di belakangnya tak kuasa menahan haru selepas menyimak penuturan sopir travel tersebut. Tanpa sadar, kedua mataku pun turut berkaca-kaca, dadaku bergemuruh. Entah kenapa, rasanya saat itulah aku bisa merasakan betul bagaimana psikologi menjadi orangtua dan seperti apa kasih sayang orangtua terhadap anaknya. Seketika aku jadi teringat dengan segala pengorbanan ayah dan ibuku sendiri untukku, semenjak aku bersekolah hingga kini aku melanjutkan S-2 di Malaysia. Apa yang tidak ada diada-adakan, bahkan dihutang-hutangkan ke sana ke mari dulu bila perlu. Ya, persis seperti apa yang diungkapkan oleh sopir travel itu. Semua jerih payah mereka selama ini berkelebat di benakku. Kontemplasiku kala itu membawaku pada satu titik sadar. Bahwa aku sekali-kali tidak boleh menghampakan harapan kedua orangtuaku. Aku tertegun lama dibuatnya. Lama sekali.

Sopir travel yang sepintas hanya biasa-biasa itu rupa-rupanya seorang ayah yang sangat luar biasa. Ia seorang ayah dari calon hafizh Al-Quran. Ia mungkin memang tidak memiliki pengetahuan agama yang memadai, tapi ia ingin sekali memiliki anak yang shaleh. Anak yang akan menjadi penyejuk jiwa, pengobat jerih, dan penguap lelahnya hidup. Anak yang kelak tak akan putus-putus mengirimkan pundi-pundi amal dan bait-bait doa bagi kedua orangtuanya, sekalipun mereka telah berada dalam liang lahat.

 Kuala Lumpur, 1 Oktober 2013








Senin, 29 April 2013

Guru Matematika Kami, Murabbiyah Kami


Dalam beberapa kesempatan, saya begitu saja teringat dengan asupan-asupan spirit tarbawi dan semangat qurani yang telah disuntikkan oleh guru Matematika saya sewaktu di madrasah aliyah dulu. Seorang ibu guru akhwat yang inspiratif, muda, enerjik, dan selalu penuh semangat. Suntikan spirit dan semangat yang pada perkembangannya menjadi titik tolak perubahan besar pada diri saya. Bahwa betapa di sekolah itulah saya mulai mengenal arti kesadaran berislam yang sesungguhnya. Bahwa sejatinya pengakuan sebagai Muslim tidaklah sesederhana dan sekadar melakukan rutinitas ibadah shalat, puasa, zakat, dan semacamnya. Cakupan Islam ini luas, ajaran Islam itu menyeluruh. Maka, di samping bimbingan yang kami peroleh dari para ustadz dan senior, di sekolah itu kami juga merasa tercerahkan oleh petuah-petuah dan kisah-kisah dari guru Matematika kami tersebut.

Ibu Mutia Farina. Demikian nama ibu guru Matematika kami nan inspiratif itu. Beberapa menit sebelum pelajaran usai, beliau kerap bercerita tentang pergerakan, tarbiyah, dakwah, Palestina, Syaikh Ahmad Yasin, Hasan Al-Banna, Ikhwanul Muslimin, Hamas, dan sebagainya. Wacana-wacana semacam ini tentu saja masih baru dan asing bagi saya serta bagi teman-teman yang saat itu belum begitu mengenal apa itu tarbiyah. Namun, seiring perjalanan waktu, tanpa sadar hal tersebut secara tidak langsung semakin mengokohkan tekad dan langkah saya pribadi dalam menapaki jalan dakwah ini.

Dari titik inilah, sejak saat itu saya mulai meninggalkan hobi saya menggandrungi musik-musik pop dan Barat serta segala hal yang saya rasa sudah bertentangan dengan pilihan yang saya ambil. Mulai saat itu pula saya mulai membenahi diri dari hal sekecil-kecilnya dan bertekad menjadi seorang Muslim yang sebenar-benarnya. Ya, saya ingin seperti pahlawan-pahlawan yang diceritakan oleh Ibu Mutia di hadapan kami. Saya ingin menyerap seutuhnya nilai-nilai keteladanan yang telah diwariskan oleh Nabi dan para sahabat. Saya ingin… Ah, mungkin inilah secuil dari manisnya nikmat iman dan Islam itu.

Kembali ke cerita ibu guru Matematika saya tadi. Setiap kali masuk kelas dan memulai pelajaran, ada satu jargon pembakar semangat yang selalu beliau lantangkan di hadapan kami. Setiap kali beliau bertanya dengan gaya khasnya, “Kaifa hâlukum?”, maka kami dengan semangat empat lima biasanya secara serempak akan menjawab, “Alhamdulillâh… Luar Biasa… Allâhu Akbar…!!” Tentu saja jawaban-jawaban semacam ini bukan hasil rangkaian kata-kata kami sendiri, melainkan justru beliaulah yang “mendiktekan” hingga kami hafal dengan sebegitu mantapnya.


Bu Mutia Farina bersama keluarga kecilnya.


Hasilnya justru sangat luar biasa! Dengan pencerahan-pencerahan tarbawi yang beliau selipkan sedemikian rupa, pelajaran Matematika yang ketika itu terkesan “angker” bagi kebanyakan kami dan cenderung tidak kami sukai, seakan dengan simsalabim tersulap menjadi mengasyikkan oleh kehadiran ibu guru akhwat itu. Sejak saat itu, sebagian besar teman-teman saya yang sama sekali tidak tertarik dengan segala tetek-bengek ilmu hitung-menghitung dengan serta merta jadi “menyukai” pelajaran Matematika. Terang saja, bukan karena Matematikanya tentunya. Tapi justru karena ibu guru akhwat yang membuat kami segan itu, dan juga karena sederetan inspirasi, motivasi, dan refleksi yang beliau ketengahkan tentang sahabat Nabi, tentang Palestina, Syaikh Ahmad Yasin, dan sang pembaharu Hasan Al-Banna yang bagi kami jauh lebih “menarik” ketimbang Matematika itu sendiri.

Maka jadilah jam pelajaran Matematika yang diampu oleh Ibu Mutia itu sebuah liqa’ yang mengasyikkan. Bahkan, pernah suatu ketika seorang teman saya berkomentar, seandainya seluruh jam pelajaran Matematika ini diisi dengan motivasi dan cerita-cerita inspiratif dari Ibu Mutia itu, tentu akan lebih menarik lagi. Ada-ada saja. Sampai sekarang pun saya masih suka tertawa geli sendiri jika mengingat kenangan indah tersebut. Kini, Ibu Mutia Farina sudah tidak lagi mengajar di sekolah itu. Akan tetapi, spirit tarbawi dan semangat qurani yang beliau tanamkan dalam jiwa-jiwa kami, akan selalu terkenang sampai kapanpun. Terima kasih, Ibu Mutia.


Toko Haji Manti

Waktu aku kecil dulu, toko kain dan pakaian itu sudah ada dan cukup dikenal di Pasar Raya Solok ini, pelanggannya banyak pula. Aku masih ingat betul, bahwa dahulunya orangtua dan keluargaku kerap berbelanja busana Muslim atau bahan pakaian di toko tersebut, terutama pada saat bulan Ramadan atau beberapa hari menjelang lebaran tiba. Ini terbukti dengan mudahnya aku bisa menemukan tas plastik khas toko pakaian itu di rumah kami. Saat-saat mendekati lebaran seperti itu, para pembeli busana Muslim biasanya akan datang membludak ke komplek pertokoan lantai atas dimana toko itu berada. Dan aku tentu saja ikut serta diajak oleh ayah atau ibuku berbelanja di sana, sembari memenuhi keinginan anak-anak seusiaku yang biasanya sudah merengek-rengek minta dibelikan baju baru.

Ya, toko busana Muslim dan bahan pakaian itu bernama “Toko Haji Manti”. Dari namanya sekilas bisa diketahui bahwa pemiliknya adalah seorang laki-laki yang sudah naik haji bernama Manti. Meski kami sekeluarga adalah pelanggan di toko tersebut dan sering berbelanja di sana, aku yang saat itu masih ingusan cenderung tidak mau ambil pusing tentang siapa laki-laki yang bernama Haji Manti itu. Pikiran kanak-kanakku saat itu berkata bahwa urusan kami hanyalah berbelanja dan selesai. Hal yang barangkali agak berbeda dengan cara berpikir orang dewasa seperti ayah, ibuku, dan penjual di toko itu.

Bagi mereka, menjadi pelanggan di sebuah toko tentu tidak sesederhana itu. Ketika pelanggan datang, dan karena mereka sebelumnya telah saling berkenalan, sang penjual atau pemilik toko perlu berbasa-basi dahulu sejenak dengan pelanggan tersebut. Menanyakan kabarnya, keluarganya, dan seterusnya, baru setelah itu ia menanyakan apa kebutuhan yang hendak ia cari. Sikap semacam ini biasanya akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Si pembeli akan semakin betah untuk berlangganan dan berbelanja di toko itu karena ia memperoleh harga istimewa setiap kali berbelanja, begitu pula dengan si penjual atau pemilik toko yang tentunya tidak ingin kehilangan siapapun pelanggannya.

Hingga pada suatu ketika, beberapa tahun kemudian setelah terakhir kalinya aku berbelanja di toko tersebut, di hari itu aku kembali sampai di blok dimana Toko Haji Manti itu berada tanpa sengaja. Ya, sekali lagi tanpa sengaja. Aku katakan demikian karena aku sama sekali tidak berniat datang ke sana. Pun kala itu aku adalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang baru saja kembali menginjak kampung halaman, yang sudah tidak banyak ingat dengan semua sekat di Pasar Raya Solok ini, setelah empat tahun lamanya aku berada di Negeri Seribu Menara, Mesir.

Hari itu adalah Ramadan pertamaku di kampung halaman setelah kembali dari ranah perantauan. Dan pada siang itu, aku menyengajakan diri ke Pasar Raya Solok guna membeli kebutuhan pakaian Muslim yang nanti akan kukenakan pada saat menjadi khatib Idul Fitri. Kebetulan pamanku yang menjadi pimpinan pengurus sebuah masjid di kota Padang memintaku untuk menyampaikan khutbah Idul Fitri nanti di sana. Maka, di siang yang terik itu jadilah aku berkeliling-keliling di komplek pertokoan lantai atas yang menjadi sentra lapak-lapak yang menyediakan aneka rupa busana Muslim.

Setelah berputar-putar dari toko ke toko dan memilah-milih pakaian dan motif yang cocok menurutku, akhirnya aku sampai di depan pintu toko itu. Tampak di sana dua orang gadis pelayan toko berjilbab dan seorang bapak tua yang mengenakan songkok haji berwarna putih. Seperti lazimnya para penjual atau pelayan toko pakaian di sini, dua gadis tersebut lalu dengan ramah berbasa-basi mempersilahkan aku singgah di toko mereka, seraya berkata: “Masuaklah, Da! Cari apo tu? Baju koko, saruang, bahan celana?” Jika diterjemahkan, kira-kira mereka berujar begini: Silahkan masuk, Mas. Mau cari apa? Koko, sarung, atau bahan celana? Aku membalas sikap basa-basi mereka dengan tersenyum sekenanya. Aku pun masuk ke toko itu dan mengatakan bahwa aku ingin mencari baju koko setelah bapak berkopiah haji tadi menghampiriku dan bertanya hal serupa.

Entah apa yang terlihat oleh bapak haji itu dari penampilan dan pembawaanku, sehingga ia terdorong untuk bertanya lebih jauh setelah aku mulai melihat model-model terbaru baju koko di toko tersebut.
“Nak, tinggal di mana?”
“Saya tinggal di Talang, Pak Haji,” jawabku sambil sedikit mengembangkan senyum.
“Di Talang di mana?”, cecarnya lagi.
“Di Koto Gaek,” sahutku.
Ia terus bertanya, “Rumahnya di sebelah mananya SDN 10?”
Beliau rupa-rupanya kenal dengan kampung dimana aku tinggal.
“Rumah saya persis di depan sekolah itu, Pak Haji,” tukasku.
Ia terdiam sebentar, lalu berujar, “Jadi kamu ini siapanya Bapak Sulaiman Kayo?”, tanyanya lagi sambil menyebutkan sebuah nama.
Aku cukup terkaget, ternyata beliau kenal pula dengan gelar ayahku. “Saya anaknya, Pak Haji,” ungkapku dengan sedikit sumringah.

Ilustrasi

Aku berpikir sejenak, mengapa beliau bisa kenal dengan ayahku. Aku lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan toko itu, lalu menemukan papan bertuliskan “Toko Haji Manti” di salah satu sisi toko tersebut. Ahaaa! Ternyata inilah toko yang dahulu kerap kusambangi sewaktu kecil bersama ayahku dan sudah menjadi langganan kami sekeluarga.

Berikutnya, tak disangka-sangka, rencana membeli busana Muslim di siang itu tersulap menjadi sebuah ajang silaturrahim yang cukup hangat. Ya, beliaulah Haji Manti, si empu toko busana Muslim tersebut. Sosok itu kemudian mulai bertanya kepadaku tentang banyak hal, mulai dari siapa namaku, sudah tamat kuliah atau belum, hingga soal pekerjaanku apa. Pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan kepada seorang anak muda di zaman sekarang.  

Dan betapa gembiranya beliau saat kuberitahu bahwa aku sebenarnya belum lama di Solok ini, baru beberapa bulan, sebab sebelumnya aku merantau ke Bumi Para Nabi guna menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar. Pun aku mengungkapkan bahwa kegiatanku kini adalah sebagai guru agama dan bahasa Arab di sebuah madrasah aliyah di kampungku. Namun aku tidak berniat akan berlama-lama mengabdi di sana, karena keinginanku untuk melanjutkan studi S-2 ke Negeri Jiran sudah begitu menggebu-gebu. Beliau menyimak semua yang aku utarakan dengan seksama. Hingga kemudian beliau berkata: “Bapak juga punya anak yang dulu belajar di Universitas Al-Azhar seperti kamu. Selepas menyelesaikan studinya di sana, ia kemudian melanjutkan S-2 di sebuah universitas di Jakarta. Kini ia telah berkeluarga dan bekerja di sebuah kementerian di ibukota. Kamu barangkali mengenal dia,” pungkas beliau.

Seketika aku jadi teringat dengan seorang pejabat muda yang bekerja di Kementerian Agama Pusat yang dulu bertugas mengurus pemberangkatan kami ke Mesir pada tahun 2006. Aku lantas menebak-nebak nama itu di hadapan beliau. Benar apa kata orang, kadang dunia ini begitu sempit. Rupa-rupanya, pejabat yang kumaksudkan tersebut adalah anak sulung dari Pak Haji Manti itu. Beliau lalu melanjutkan ceritanya, bahwa anaknya yang kini bekerja di Kementerian Agama itu adalah satu-satunya putera beliau yang begitu berambisi untuk meraih pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral, sementara adik-adiknya banyak yang lebih memilih untuk mengikuti jejak beliau berniaga.

Aku kemudian bercerita kepada beliau bahwa beberapa waktu yang lalu aku mengajukan permohonan beasiswa guna melanjutkan studi ke Malaysia kepada Kementerian Agama Pusat lewat putera Pak Haji Manti itu. Kebetulan di Kementerian Agama saat itu tengah dibuka program bantuan beasiswa untuk studi S-2 ke luar negeri. Putera Pak Haji Manti itu dengan senang hati membantu melancarkan pengurusan beasiswaku, semata-mata karena kami satu kampung halaman, Solok. Alhamdulillah, berkat bantuan beliau, akhirnya aku berhasil memperoleh bantuan beasiswa yang cukup memperlancar urusan birokrasi pendaftaran studi masterku di International Islamic University Malaysia (IIUM). Pak Haji Manti turut senang dan bahagia mendengar apa yang aku ceritakan. Beliau lalu berkata: “Syukurlah. Bapak dari dulu selalu mengajari anak-anak Bapak untuk membantu orang lain selagi mereka mampu melakukannya. Karena Nabi pernah bilang, “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.”

Setelah dua jam lebih lamanya kami mengobrol panjang lebar di toko itu, aku akhirnya mohon pamit kepada Pak Haji Manti. Beliau menyatakan sangat senang sekali berjumpa dan berkenalan denganku. Aku pun demikian. Tak lupa ia memintaku untuk datang ke rumahnya pada hari lebaran nanti, yang lalu kujawab dengan ucapan insya Allah. Silaturrahim di siang Ramadhan itu terasa amat membawa berkah. Beliau lantas memberikan potongan harga yang tak masuk akal atas baju koko yang aku beli darinya. Sebelum aku melangkahkan kaki, dengan tubuh bergetar Pak Haji Manti memelukku lama sekali. Kulihat bulir-bulir hangat menganaksungai di wajahnya yang sudah mengeriput itu. Aku tak bisa menangkap apa makna di balik bahasa tubuh beliau itu, hingga beliau mengatakan: “Bapak serasa melihat dan berbicara dengan anak sulung Bapak sendiri,” ujarnya terisak. Dan aku pun lantas meninggalkan Toko Haji Manti itu dengan perasaan yang mengharu-biru.  

Kuala Lumpur, 29 April 2013