Sabtu, 24 November 2018

[Notes from Kuala Lumpur] Kampung PNS dan Pudarnya Pesona Merantau

Dalam pengamatanku dari waktu ke waktu, kampungku kini perlahan-lahan bermetamorfosis menjadi "kampung PNS". Seiring bergulirnya roda zaman, semakin banyak penduduk kampung ini yang kulihat berhasil menjadi pegawai negeri, entah itu bekerja sebagai karyawan kantor pemerintahan, guru, atau tenaga kesehatan. Dahulu, saat aku masih ingusan, pegawai pemerintah di kampung ini hanya bisa dihitung jari, itu pun rata-rata bekerja sebagai guru. Kala aku kecil, masyarakat kampungku rata-rata hidup miskin dan apa adanya. Sekarang pun sebenarnya tak sedikit yang masih hidup susah, namun secara umum kini jauh lebih baik. 

Betapa tidak, sebagian besar penduduk kampung hidup dari bekerja sebagai petani, dan rata-rata mereka hanya berpendidikan rendah. Yang namanya bertani padi, hasilnya tak selalu seperti yang diharapkan. Adakalanya petani bisa memperoleh hasil padi yang melimpah, yang kemudian sebagian besar bahkan keseluruhannya diserahkan kepada tauke padi langganan. Saat musim panen, tauke padi ini akan tampak sibuk hilir-mudik mengangkut gabah para petani dari sawah-sawah dengan mobil bak terbuka.
Pemandangan Gunung Talang yang menjadi latar kampungku.
Kenapa kusebut tauke langganan? Ya, karena kepada para juragan kilang padi itulah para petani di kampung ini berhutang beras dan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari jelang musim panen tiba, lalu dibayar dengan gabah saat musim panen. Bila berlebih, mereka akan menerima uang dari tauke tersebut. Namun, tak jarang hasil panen hanya cukup untuk menutupi lobang hutang yang menganga lebar, bahkan terkadang hutang itu pun tak lunas. Begitu seterusnya dari tahun ke tahun. Singkatnya, mereka berputar-putar dari musim panen ke musim panen berikutnya dalam lingkaran gali lobang tutup lobang.

Lain lagi ketika sedang tidak beruntung, maka tanaman padi sudah lebih dahulu tandas oleh hama tikus sebelum dipanen, sehingga bulir-bulir padi menjadi hampa dan hanya berlebih beberapa sukat saja, bahkan habis tak bersisa. Bila sudah begini, maka di mana-mana hanya keluhan para petani yang terdengar. Di jalan atau di kedai kopi orang-orang akan menceritakan kisah sawahnya masing-masing. Tak pelak, ketika hasil sawah tak didapat, maka alamat hutang yang akan terus bertambah. Siapa pun tentu sedih dan iba melihat hal ini, karena kerja keras mereka mengolah sawah selama berbulan-bulan hanya menyisakan kecewa dan duka lara.

Maka, lantaran sebagian besar penduduk hidup dari bertani dan banyak yang hidup susah, maka dulu anak-anak mereka hanya bersekolah hingga jenjang SMA saja. Jarang yang bisa melanjutkan kuliah, kendati mereka mampu secara intelektual. Tak sedikit di antara anak-anak kampung ini yang berprestasi cemerlang di bangku sekolahnya. Namun, karena orangtua mereka tidak mampu, mereka harus mengubur dalam-dalam impian untuk bisa melanjutkan pendidikan.

Jalan kampungku yang kini telah beraspal.
Alhasil, selepas SMA, banyak yang memilih pergi merantau, entah itu ke Batam, Pekanbaru, Jakarta, dan wilayah-wilayah lain di Pulau Jawa. Sehingga, kala akhir tahun ajaran tiba, di saat yang sama terminal bus besar di kotaku biasanya ramai oleh keluarga yang akan melepas anak-anak mereka yang baru tamat sekolah untuk pergi mengadu nasib. Bermodal ijazah SMA, mereka kemudian bekerja sebagai buruh pabrik, sedang sebagian lainnya memilih berniaga, seperti lazimnya yang dilakukan oleh orang Minang di perantauan. Dari hasil bekerja di perantauan itulah, mereka bisa mengirim uang untuk orangtua di kampung halaman.

Dulu, aku menjadi saksi hidup dan merasakan sendiri kepedihan hidup di kampung ini. Orangtuaku, seperti halnya penduduk lainnya, adalah petani. Sejak kecil kami sudah terbiasa hidup dalam segala keterbatasan, namun aku berusaha untuk tidak mengeluh dan meratapi nasib. Lebih tepatnya, memilih untuk menahan diri dari menginginkan sesuatu yang tak mampu dimiliki. Sebaliknya, sejak kecil aku sudah terbiasa berpikir keras bagaimana agar bisa terlepas dari belenggu kemiskinan ini. Aku ingin kuliah setinggi mungkin. Aku tak ingin mengadu nasib di perantauan seperti yang dilakukan oleh orang-orang.  

Akan tetapi, bukan hidup namanya bila ia tak berputar. Roda hidup akan terus bergulir, akan selalu ada perubahan dan keajaiban yang terjadi. Apa yang kututurkan di atas adalah potret kampungku sekira dua puluh tahun yang lalu. Kini, visi dan orientasi hidup orang-orang sudah jauh berubah ke arah yang lebih baik. Entah bagaimana jalan ceritanya, mungkin juga karena kemajuan zaman, sekarang semakin jarang terdengar anak-anak kampungku yang pergi merantau dan mengadu nasib ke kota besar. Mereka kini lebih banyak yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Pesona merantau sepertinya sudah memudar di mata mereka. Kemajuan teknologi, membaiknya kondisi ekonomi, dan semakin mudahnya akses informasi agaknya turut berperan mempengaruhi dan mengubah pola pikir penduduk kampungku.

Selain itu, mereka yang berhasil menjadi PNS terlihat semakin bertambah dari tahun ke tahun, seiring dengan semakin banyaknya lulusan perguruan tinggi, sehingga dengan alasan itulah aku menjuluki kampungku ini dengan sebutan “kampung PNS”. Menjadi PNS kini sudah menjadi tolok ukur keberhasilan orang-orang di kampungku. Bila di sebuah keluarga ada yang menjadi PNS, maka keluarga itu dipandang sukses dan terhormat.

Oleh karena itu, hampir di setiap rumah kini ada sarjana atau setidaknya yang tengah menimba ilmu di bangku universitas, dengan harapan suatu hari nanti bisa mengikuti jejak orang-orang menjadi pegawai negeri. Begitu juga denganku. Apa yang aku khawatirkan tentang diriku dulu alhamdulillah tidak terbukti. Berkat segenap usaha dan doa, aku berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan S-1 dan S-2 di luar negeri. Pada musim penerimaan CPNS tahun ini, aku pun ikut berkompetisi untuk menjadi bagian dari abdi negara. Bila ada yang bertanya: Mengapa (masih) tertarik menjadi pegawai negeri? Karena merantau dan mengadu nasib di negeri orang bagi kami juga tidak lagi menarik. []





Jumat, 16 November 2018

[Notes from Kuala Lumpur] Hidup dan Pilihan

Hidup ini pilihan, dan pilihan itu sifatnya sangat personal dan subjektif. Ada seorang rekan yang dikenal cukup cerdas. Dalam pandangan orang lain, bila ia mau sedikit berusaha, rasa-rasanya ia bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan jenjang S-2 sampai S-3 ke luar negeri, lalu mendapatkan kesempatan-kesempatan hidup yang lebih baik.


Namun entah kenapa, pilihan-pilihan semacam itu tidak ia lakoni. Selepas menyelesaikan jenjang S-1 dari sebuah kampus Islam yang cukup terkemuka, ia lebih memilih menjadi guru ngaji bagi anak-anak di kampungnya, yang kerap dipandang remeh dan mengundang tanya bagi sebagian orang. Ya, dipandang remeh dikarenakan penghasilan guru ngaji kampung yang tak seberapa bila dibandingkan dengan kebutuhan hidup yang makin mencekik dari waktu ke waktu.

Kala aku mendengar cerita ini, aku hanya tertegun sambil berpikir. Orang-orang kampung yang berpandangan semacam itu mungkin ada benarnya. Bagi mereka, lulusan S-1 harusnya bisa dapat pekerjaan yang lebih baik. Jadi PNS, guru, atau karyawan misalnya. Bukan jadi guru ngaji yang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang yang hanya tamat pesantren bahkan lulusan sekolah umum sekalipun.

Tapi, kembali lagi kepada apa yang kuutarakan di atas. Bahwa pilihan-pilihan yang diambil oleh seseorang dalam hidup ini, sesungguhnya sifatnya sangat personal dan subjektif. Ia mungkin saja memiliki alasan-alasan pribadi atas pilihan-pilihannya itu, yang kadang tak perlu diketahui oleh orang lain. Adapun bagiku, sederhana saja: karena hidup ini pilihan, jangan menyinyiri dan merusuhi pilihan-pilihan hidup orang lain.