Senin, 29 April 2013

Guru Matematika Kami, Murabbiyah Kami


Dalam beberapa kesempatan, saya begitu saja teringat dengan asupan-asupan spirit tarbawi dan semangat qurani yang telah disuntikkan oleh guru Matematika saya sewaktu di madrasah aliyah dulu. Seorang ibu guru akhwat yang inspiratif, muda, enerjik, dan selalu penuh semangat. Suntikan spirit dan semangat yang pada perkembangannya menjadi titik tolak perubahan besar pada diri saya. Bahwa betapa di sekolah itulah saya mulai mengenal arti kesadaran berislam yang sesungguhnya. Bahwa sejatinya pengakuan sebagai Muslim tidaklah sesederhana dan sekadar melakukan rutinitas ibadah shalat, puasa, zakat, dan semacamnya. Cakupan Islam ini luas, ajaran Islam itu menyeluruh. Maka, di samping bimbingan yang kami peroleh dari para ustadz dan senior, di sekolah itu kami juga merasa tercerahkan oleh petuah-petuah dan kisah-kisah dari guru Matematika kami tersebut.

Ibu Mutia Farina. Demikian nama ibu guru Matematika kami nan inspiratif itu. Beberapa menit sebelum pelajaran usai, beliau kerap bercerita tentang pergerakan, tarbiyah, dakwah, Palestina, Syaikh Ahmad Yasin, Hasan Al-Banna, Ikhwanul Muslimin, Hamas, dan sebagainya. Wacana-wacana semacam ini tentu saja masih baru dan asing bagi saya serta bagi teman-teman yang saat itu belum begitu mengenal apa itu tarbiyah. Namun, seiring perjalanan waktu, tanpa sadar hal tersebut secara tidak langsung semakin mengokohkan tekad dan langkah saya pribadi dalam menapaki jalan dakwah ini.

Dari titik inilah, sejak saat itu saya mulai meninggalkan hobi saya menggandrungi musik-musik pop dan Barat serta segala hal yang saya rasa sudah bertentangan dengan pilihan yang saya ambil. Mulai saat itu pula saya mulai membenahi diri dari hal sekecil-kecilnya dan bertekad menjadi seorang Muslim yang sebenar-benarnya. Ya, saya ingin seperti pahlawan-pahlawan yang diceritakan oleh Ibu Mutia di hadapan kami. Saya ingin menyerap seutuhnya nilai-nilai keteladanan yang telah diwariskan oleh Nabi dan para sahabat. Saya ingin… Ah, mungkin inilah secuil dari manisnya nikmat iman dan Islam itu.

Kembali ke cerita ibu guru Matematika saya tadi. Setiap kali masuk kelas dan memulai pelajaran, ada satu jargon pembakar semangat yang selalu beliau lantangkan di hadapan kami. Setiap kali beliau bertanya dengan gaya khasnya, “Kaifa hâlukum?”, maka kami dengan semangat empat lima biasanya secara serempak akan menjawab, “Alhamdulillâh… Luar Biasa… Allâhu Akbar…!!” Tentu saja jawaban-jawaban semacam ini bukan hasil rangkaian kata-kata kami sendiri, melainkan justru beliaulah yang “mendiktekan” hingga kami hafal dengan sebegitu mantapnya.


Bu Mutia Farina bersama keluarga kecilnya.


Hasilnya justru sangat luar biasa! Dengan pencerahan-pencerahan tarbawi yang beliau selipkan sedemikian rupa, pelajaran Matematika yang ketika itu terkesan “angker” bagi kebanyakan kami dan cenderung tidak kami sukai, seakan dengan simsalabim tersulap menjadi mengasyikkan oleh kehadiran ibu guru akhwat itu. Sejak saat itu, sebagian besar teman-teman saya yang sama sekali tidak tertarik dengan segala tetek-bengek ilmu hitung-menghitung dengan serta merta jadi “menyukai” pelajaran Matematika. Terang saja, bukan karena Matematikanya tentunya. Tapi justru karena ibu guru akhwat yang membuat kami segan itu, dan juga karena sederetan inspirasi, motivasi, dan refleksi yang beliau ketengahkan tentang sahabat Nabi, tentang Palestina, Syaikh Ahmad Yasin, dan sang pembaharu Hasan Al-Banna yang bagi kami jauh lebih “menarik” ketimbang Matematika itu sendiri.

Maka jadilah jam pelajaran Matematika yang diampu oleh Ibu Mutia itu sebuah liqa’ yang mengasyikkan. Bahkan, pernah suatu ketika seorang teman saya berkomentar, seandainya seluruh jam pelajaran Matematika ini diisi dengan motivasi dan cerita-cerita inspiratif dari Ibu Mutia itu, tentu akan lebih menarik lagi. Ada-ada saja. Sampai sekarang pun saya masih suka tertawa geli sendiri jika mengingat kenangan indah tersebut. Kini, Ibu Mutia Farina sudah tidak lagi mengajar di sekolah itu. Akan tetapi, spirit tarbawi dan semangat qurani yang beliau tanamkan dalam jiwa-jiwa kami, akan selalu terkenang sampai kapanpun. Terima kasih, Ibu Mutia.


Toko Haji Manti

Waktu aku kecil dulu, toko kain dan pakaian itu sudah ada dan cukup dikenal di Pasar Raya Solok ini, pelanggannya banyak pula. Aku masih ingat betul, bahwa dahulunya orangtua dan keluargaku kerap berbelanja busana Muslim atau bahan pakaian di toko tersebut, terutama pada saat bulan Ramadan atau beberapa hari menjelang lebaran tiba. Ini terbukti dengan mudahnya aku bisa menemukan tas plastik khas toko pakaian itu di rumah kami. Saat-saat mendekati lebaran seperti itu, para pembeli busana Muslim biasanya akan datang membludak ke komplek pertokoan lantai atas dimana toko itu berada. Dan aku tentu saja ikut serta diajak oleh ayah atau ibuku berbelanja di sana, sembari memenuhi keinginan anak-anak seusiaku yang biasanya sudah merengek-rengek minta dibelikan baju baru.

Ya, toko busana Muslim dan bahan pakaian itu bernama “Toko Haji Manti”. Dari namanya sekilas bisa diketahui bahwa pemiliknya adalah seorang laki-laki yang sudah naik haji bernama Manti. Meski kami sekeluarga adalah pelanggan di toko tersebut dan sering berbelanja di sana, aku yang saat itu masih ingusan cenderung tidak mau ambil pusing tentang siapa laki-laki yang bernama Haji Manti itu. Pikiran kanak-kanakku saat itu berkata bahwa urusan kami hanyalah berbelanja dan selesai. Hal yang barangkali agak berbeda dengan cara berpikir orang dewasa seperti ayah, ibuku, dan penjual di toko itu.

Bagi mereka, menjadi pelanggan di sebuah toko tentu tidak sesederhana itu. Ketika pelanggan datang, dan karena mereka sebelumnya telah saling berkenalan, sang penjual atau pemilik toko perlu berbasa-basi dahulu sejenak dengan pelanggan tersebut. Menanyakan kabarnya, keluarganya, dan seterusnya, baru setelah itu ia menanyakan apa kebutuhan yang hendak ia cari. Sikap semacam ini biasanya akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Si pembeli akan semakin betah untuk berlangganan dan berbelanja di toko itu karena ia memperoleh harga istimewa setiap kali berbelanja, begitu pula dengan si penjual atau pemilik toko yang tentunya tidak ingin kehilangan siapapun pelanggannya.

Hingga pada suatu ketika, beberapa tahun kemudian setelah terakhir kalinya aku berbelanja di toko tersebut, di hari itu aku kembali sampai di blok dimana Toko Haji Manti itu berada tanpa sengaja. Ya, sekali lagi tanpa sengaja. Aku katakan demikian karena aku sama sekali tidak berniat datang ke sana. Pun kala itu aku adalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang baru saja kembali menginjak kampung halaman, yang sudah tidak banyak ingat dengan semua sekat di Pasar Raya Solok ini, setelah empat tahun lamanya aku berada di Negeri Seribu Menara, Mesir.

Hari itu adalah Ramadan pertamaku di kampung halaman setelah kembali dari ranah perantauan. Dan pada siang itu, aku menyengajakan diri ke Pasar Raya Solok guna membeli kebutuhan pakaian Muslim yang nanti akan kukenakan pada saat menjadi khatib Idul Fitri. Kebetulan pamanku yang menjadi pimpinan pengurus sebuah masjid di kota Padang memintaku untuk menyampaikan khutbah Idul Fitri nanti di sana. Maka, di siang yang terik itu jadilah aku berkeliling-keliling di komplek pertokoan lantai atas yang menjadi sentra lapak-lapak yang menyediakan aneka rupa busana Muslim.

Setelah berputar-putar dari toko ke toko dan memilah-milih pakaian dan motif yang cocok menurutku, akhirnya aku sampai di depan pintu toko itu. Tampak di sana dua orang gadis pelayan toko berjilbab dan seorang bapak tua yang mengenakan songkok haji berwarna putih. Seperti lazimnya para penjual atau pelayan toko pakaian di sini, dua gadis tersebut lalu dengan ramah berbasa-basi mempersilahkan aku singgah di toko mereka, seraya berkata: “Masuaklah, Da! Cari apo tu? Baju koko, saruang, bahan celana?” Jika diterjemahkan, kira-kira mereka berujar begini: Silahkan masuk, Mas. Mau cari apa? Koko, sarung, atau bahan celana? Aku membalas sikap basa-basi mereka dengan tersenyum sekenanya. Aku pun masuk ke toko itu dan mengatakan bahwa aku ingin mencari baju koko setelah bapak berkopiah haji tadi menghampiriku dan bertanya hal serupa.

Entah apa yang terlihat oleh bapak haji itu dari penampilan dan pembawaanku, sehingga ia terdorong untuk bertanya lebih jauh setelah aku mulai melihat model-model terbaru baju koko di toko tersebut.
“Nak, tinggal di mana?”
“Saya tinggal di Talang, Pak Haji,” jawabku sambil sedikit mengembangkan senyum.
“Di Talang di mana?”, cecarnya lagi.
“Di Koto Gaek,” sahutku.
Ia terus bertanya, “Rumahnya di sebelah mananya SDN 10?”
Beliau rupa-rupanya kenal dengan kampung dimana aku tinggal.
“Rumah saya persis di depan sekolah itu, Pak Haji,” tukasku.
Ia terdiam sebentar, lalu berujar, “Jadi kamu ini siapanya Bapak Sulaiman Kayo?”, tanyanya lagi sambil menyebutkan sebuah nama.
Aku cukup terkaget, ternyata beliau kenal pula dengan gelar ayahku. “Saya anaknya, Pak Haji,” ungkapku dengan sedikit sumringah.

Ilustrasi

Aku berpikir sejenak, mengapa beliau bisa kenal dengan ayahku. Aku lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan toko itu, lalu menemukan papan bertuliskan “Toko Haji Manti” di salah satu sisi toko tersebut. Ahaaa! Ternyata inilah toko yang dahulu kerap kusambangi sewaktu kecil bersama ayahku dan sudah menjadi langganan kami sekeluarga.

Berikutnya, tak disangka-sangka, rencana membeli busana Muslim di siang itu tersulap menjadi sebuah ajang silaturrahim yang cukup hangat. Ya, beliaulah Haji Manti, si empu toko busana Muslim tersebut. Sosok itu kemudian mulai bertanya kepadaku tentang banyak hal, mulai dari siapa namaku, sudah tamat kuliah atau belum, hingga soal pekerjaanku apa. Pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan kepada seorang anak muda di zaman sekarang.  

Dan betapa gembiranya beliau saat kuberitahu bahwa aku sebenarnya belum lama di Solok ini, baru beberapa bulan, sebab sebelumnya aku merantau ke Bumi Para Nabi guna menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar. Pun aku mengungkapkan bahwa kegiatanku kini adalah sebagai guru agama dan bahasa Arab di sebuah madrasah aliyah di kampungku. Namun aku tidak berniat akan berlama-lama mengabdi di sana, karena keinginanku untuk melanjutkan studi S-2 ke Negeri Jiran sudah begitu menggebu-gebu. Beliau menyimak semua yang aku utarakan dengan seksama. Hingga kemudian beliau berkata: “Bapak juga punya anak yang dulu belajar di Universitas Al-Azhar seperti kamu. Selepas menyelesaikan studinya di sana, ia kemudian melanjutkan S-2 di sebuah universitas di Jakarta. Kini ia telah berkeluarga dan bekerja di sebuah kementerian di ibukota. Kamu barangkali mengenal dia,” pungkas beliau.

Seketika aku jadi teringat dengan seorang pejabat muda yang bekerja di Kementerian Agama Pusat yang dulu bertugas mengurus pemberangkatan kami ke Mesir pada tahun 2006. Aku lantas menebak-nebak nama itu di hadapan beliau. Benar apa kata orang, kadang dunia ini begitu sempit. Rupa-rupanya, pejabat yang kumaksudkan tersebut adalah anak sulung dari Pak Haji Manti itu. Beliau lalu melanjutkan ceritanya, bahwa anaknya yang kini bekerja di Kementerian Agama itu adalah satu-satunya putera beliau yang begitu berambisi untuk meraih pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral, sementara adik-adiknya banyak yang lebih memilih untuk mengikuti jejak beliau berniaga.

Aku kemudian bercerita kepada beliau bahwa beberapa waktu yang lalu aku mengajukan permohonan beasiswa guna melanjutkan studi ke Malaysia kepada Kementerian Agama Pusat lewat putera Pak Haji Manti itu. Kebetulan di Kementerian Agama saat itu tengah dibuka program bantuan beasiswa untuk studi S-2 ke luar negeri. Putera Pak Haji Manti itu dengan senang hati membantu melancarkan pengurusan beasiswaku, semata-mata karena kami satu kampung halaman, Solok. Alhamdulillah, berkat bantuan beliau, akhirnya aku berhasil memperoleh bantuan beasiswa yang cukup memperlancar urusan birokrasi pendaftaran studi masterku di International Islamic University Malaysia (IIUM). Pak Haji Manti turut senang dan bahagia mendengar apa yang aku ceritakan. Beliau lalu berkata: “Syukurlah. Bapak dari dulu selalu mengajari anak-anak Bapak untuk membantu orang lain selagi mereka mampu melakukannya. Karena Nabi pernah bilang, “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.”

Setelah dua jam lebih lamanya kami mengobrol panjang lebar di toko itu, aku akhirnya mohon pamit kepada Pak Haji Manti. Beliau menyatakan sangat senang sekali berjumpa dan berkenalan denganku. Aku pun demikian. Tak lupa ia memintaku untuk datang ke rumahnya pada hari lebaran nanti, yang lalu kujawab dengan ucapan insya Allah. Silaturrahim di siang Ramadhan itu terasa amat membawa berkah. Beliau lantas memberikan potongan harga yang tak masuk akal atas baju koko yang aku beli darinya. Sebelum aku melangkahkan kaki, dengan tubuh bergetar Pak Haji Manti memelukku lama sekali. Kulihat bulir-bulir hangat menganaksungai di wajahnya yang sudah mengeriput itu. Aku tak bisa menangkap apa makna di balik bahasa tubuh beliau itu, hingga beliau mengatakan: “Bapak serasa melihat dan berbicara dengan anak sulung Bapak sendiri,” ujarnya terisak. Dan aku pun lantas meninggalkan Toko Haji Manti itu dengan perasaan yang mengharu-biru.  

Kuala Lumpur, 29 April 2013 










Sabtu, 27 April 2013

[Notes from Kuala Lumpur] Haji Amri Abdullah


Nama beliau Amri Abdullah, namun di komplek ini orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Haji Amri. Seorang bapak berusia enam puluhan tahun yang senantiasa lekat dengan peci rajutnya. Sosok berjiwa malaikat yang termasuk mula-mula aku kenal di Kuala Lumpur ini. Sosok yang kemudian banyak memberikan pembelajaran-pembelajaran hidup kepadaku. Seperti kebanyakan orang-orang seumuran beliau, wajah dan kulit sosok itu jelas sudah tidak kencang lagi. Pun demikian dengan rambut kepalanya yang telah menipis dan beruban. Meski begitu, banyak hal yang membuatku salut dan kagum kepada beliau. Di usia senjanya, tubuhnya masih tampak tegap di samping pembawaannya yang selalu enerjik dan bugar. 

Aku mengenal beliau semenjak aku memutuskan keluar dari mahallah (asrama) IIUM dan memilih tinggal bersama Pak Cik Fadhli di bilangan Pinggiran Batu Caves, Selangor. Pak Cik Fadhli masih terbilang kerabat dekatku. Sejatinya ia adalah keponakan dari kekekku dari pihak ibu, meski bukan keponakan kandung. Dulu sebelum terbang ke Malaysia, aku hanya mendengar sedikit informasi tentang beliau dari kedua orangtuaku dan beberapa orang sanak keluarga di kampung. Bahwa beliau adalah kerabat kami dan kini menetap dan menjadi warga negara Malaysia. Ya, sebatas itu saja. Hingga ketika aku telah menginjakkan kaki di Negeri Jiran ini, tak disangka-sangka aku kemudian dipertemukan dengan beliau secara mengejutkan. Benar, karena aku tidak begitu kenal siapa dan bagaimana beliau karena kami belum pernah bersua dan berkenalan sebelumnya.

Singkatnya, Haji Amri adalah tetangga sekaligus sahabat karib Pak Cik Fadhli. Di komplek yang bernama Kampung Wira Damai ini, rumah mereka berdekatan. Hanya berjarak empat rumah saja. Seketika aku pindah dan tinggal di rumah Pak Cik Mahmud ini, esok subuhnya aku diajak joging oleh beliau berkeliling komplek sembari memperkenalkan kepadaku segala hal yang ada di Kampung Wira Damai. Setelah penat, kami lantas menghabiskan waktu di pagi itu dengan mampir sejenak di sebuah warung roti canai. Di situlah aku berjumpa dan berkenalan dengan Pak Haji Amri. Kebetulan juga beliau baru saja selesai joging. Di warung itu kami berbincang-bincang ringan sambil menikmati sarapan roti canai dan segelas teh tarik. Ia bertanya padaku tentang banyak hal, mulai dari mana asalku hingga alasan kedatanganku ke Malaysia.

Aku dan Pak Cik Fadhli lalu diajaknya singgah di rumahnya barang sejenak. Ruang tengah rumahnya ber-AC, sehingga selalu terasa adem dan sejuk. Udara Kuala Lumpur terkadang memang cukup panas dan gerah di siang hari, tetapi tidak sepanas Jakarta atau Padang. Di sini masih banyak kawasan-kawasan hijau yang terjaga. Bahkan di kawasan Selangor dimana Kampung Wira Damai ini berada, bukit-bukit kecil yang dilestarikan kehijauannya bisa terlihat sepanjang mata memandang.

Jika boleh menilai dan membanding-bandingkan, rumah Pak Haji Amri termasuk rumah yang paling bagus dan elegan di komplek ini. Desainnya cukup mewah untuk ukuran rumah bertingkat, kendati tidak begitu besar. Sementara rumah-rumah warga lainnya di komplek ini masih banyak yang berbentuk rumah Melayu dengan atap seng biasa. Pak Cik Fadhli pernah bercerita kepadaku, bahwa penduduk komplek ini sebagian besar adalah pendatang. 

Konon, tanah Kampung Wira Damai ini dahulunya adalah hutan lebat, namun kemudian dibabat dan dibuka oleh pemerintah Malaysia kala itu untuk dijadikan pemukiman, lalu tanahnya dibagi-bagikan secara gratis bagi para pendatang yang membutuhkan, dengan jatah tiga setengah kali tiga setengah meter untuk masing-masing keluarga. Ya, sangat kecil sebenarnya. Itulah kenapa banyak warga di komplek ini yang membangun rumah bertingkat seperti Pak Haji Nazar atau membeli petak tanah di sebelahnya agar bisa mendirikan rumah lebih besar, seperti yang dilakukan oleh Pak Cik Fadhli.

Sejak saat itu, aku jadi semakin dekat dengan Pak Haji Amri. Rupa-rupanya, semenjak aku tinggal bersama Pak Cik Fadhli sekeluarga, beliau memendam keinginan besar agar ia bisa belajar membaca Al-Quran dan masalah-masalah agama denganku, karena baginya aku adalah tamatan Universitas Al-Azhar, Mesir yang tahu banyak tentang agama, sehingga keberadaanku di Malaysia ini harus ia manfaatkan. 

Demikianlah, jika aku tidak punya jadwal kuliah sore, maka jadilah setiap hari beliau akan datang ke rumah menjelang malam, lalu kami mendirikan shalat Maghrib berjamaah bersama, kemudian dilanjutkan dengan menyimak bacaan Al-Quran beliau hingga waktu Isya tiba. Memang, bacaan Al-Quran beliau belum bersih benar. Masih banyak kekeliruan dalam membedakan huruf, tanda panjang, dan hukum-hukum tajwid lainnya. Namun justru karena itulah beliau mau belajar. Dan bagiku, tak banyak orang di zaman seperti sekarang yang memiliki kesadaran untuk mempelajari dan memperbaiki bacaan Al-Quran seperti beliau. Atas permintaan dan semangatnya yang luar biasa, kami kemudian memutuskan untuk belajar membaca Al-Quran dari nol besar lagi. Ya, dari buku Iqra’ yang biasa digunakan oleh anak-anak kelas satu sekolah dasar. Salut.

Pak Haji Amri adalah sosok yang cukup kaya dan berada. Namun kekayaannya itu tidaklah ia dapat secara instan ataupun hasil warisan orangtuanya. Beliau juga masih orang Minangkabau sepertiku, asli Bukittinggi. Namun karena telah menetap di Malaysia selama tiga puluh tahun lebih, ia dan keluarganya kini telah berpindah kewarganegaraan sebagai penduduk Malaysia dan memiliki identity card (IC) biru. 

Kendati demikian, sehari-hari bersama istrinya yang biasa kupanggil Bu Haji, ia masih berbicara dengan bahasa Minang kental khas Bukittinggi. Ia tidak ingin melupakan identitas dirinya sebagai orang Minang, ujarnya kepadaku suatu ketika saat kutanya tentang hal tersebut. Hanya bersama kedua anaknya saja ia bercakap-cakap dengan bahasa Melayu di rumah. Beliau memiliki dua orang anak perempuan, dan kedua-duanya telah bekerja dan berkeluarga. Bahkan baru-baru ini, kala resepsi pernikahan anak gadis bungsunya yang berjodoh dengan seorang lelaki asal Johor, beliau menggelar pesta besar-besaran di sebuah auditorium megah di tengah kota Kuala Lumpur. Undangan yang hadir tidak main-main, 1400 orang! Aku tidak dapat membayangkan, berapa puluh ribu ringgit yang ia belanjakan untuk menghelat acara sebesar dan semewah itu.

Selain itu, Pak Haji Amri adalah sosok yang gemar berjalan-jalan. Dengan mobil sedan Honda yang dimilikinya, ia kerap mengajakku pergi kemana-mana. Makan siang ke restoran Minang yang berjejer di Jalan Gombak atau sekadar menghabiskan waktu ke kawasan Chow Kit untuk mengusir kejenuhan. Maklum, di rumahnya Pak Haji Amri kerap merasa sendiri sebab ia sudah berhenti berwirausaha dan memutuskan ingin menikmati masa-masa rehatnya. Sementara istrinya sejak pagi sudah bertolak menuju kedai jahit miliknya, begitu pula dengan kedua anak perempuannya yang kini sudah tinggal bersama keluarganya masing-masing. Jangan heran bila kukatakan bahwa mobil sedannya tersebut adalah mobil beliau pribadi. Ya, betul-betul mobil pribadi karena hanya beliau yang menggunakan dan menaikinya. Sementara istri dan kedua anak perempuannya juga memiliki mobil masing-masing dan hanya mereka sendiri pula yang memakainya.

Di Malaysia fenomena tersebut cukup biasa. Setiap keluarga di sini rata-rata memiliki mobil yang biasa diparkir begitu saja di depan pagar rumah, tak peduli bagaimana kondisi rumahnya. Di Kampung Wira Damai ini misalnya, walaupun rumah-rumah penduduknya sederhana, namun setidak-tidaknya mereka memiliki dua mobil, meski hanya mobil buatan dalam negeri bermerk Proton.

Suatu siang di akhir pekan aku kembali diajak oleh Pak Haji Amri guna menemaninya membeli sesuatu ke Chow Kit, lalu makan siang di restoran Minang langganannya di Jalan Gombak. Sepanjang perjalanan, seperti biasa ia akan bercerita tentang banyak hal. Kala itu ia berkisah bagaimana ia memperoleh kekayaan dan kemapanan hidup seperti sekarang.  Ia menuturkan bahwa masa kecilnya dulu sangat menyedihkan. Saking susahnya ia hanya sempat bersekolah hingga kelas dua sekolah dasar. Seperti kebanyakan masyarakat ketika itu, kedua orangtuanya pun bukanlah orang yang berotak cemerlang, sehingga tidak ada yang membimbing beliau akan pentingnya sekolah dan pendidikan, termasuk pendidikan agama. Barangkali itulah sebabnya kini di usia senjanya ia termotivasi benar untuk membetulkan bacaan Al-Qurannya yang masih patah-patah. 

Terang saja, setiap kali beliau belajar mengaji denganku, sosok itu selalu mampu mengingatkanku pada sebait sabda nabawi, “Orang yang membaca Al-Quran dan ia masih terbata-bata dan belum fasih dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." Ya, kendati terbata-bata, namun boleh jadi pahala bacaan Al-Quran beliau lebih banyak ketimbang aku sendiri. Dan betapa terkejutnya aku kala pertama kali aku diajaknya naik ke lantai atas rumahnya. Di sana kudapati ratusan buku-buku islami berbahasa Indonesia dan Melayu yang tertata rapi dalam rak-rak perpustakaan pribadi. Beliau mengatakan bahwa semua buku tersebut sudah habis ia lahap, semata-mata karena ingin meluapkan “balas dendam” akan pendidikan agama yang tak sempat ia cecap. Mengagumkan.

Beliau kemudian memutuskan merantau ke Jakarta. Selama mengadu nasib di sana, ia menumpang tinggal di rumah sebuah keluarga berada. Di ibukota beliau benar-benar merintis bisnis dari nol besar, dari pedagang asongan sampai pedagang kecil-kecilan yang berjualan di emperan kaki lima. Sewaktu aku dibawanya berjalan-jalan di gang-gang sempit di Chow Kit, beliau menunjuk ke arah seorang pedagang kecil yang menggelar dagangan berupa tisu, jarum, gunting, sisir, dan benda-benda remeh-temeh lainnya, seraya berkata: “Dulu saya melakukan hal yang serupa dengan pedagang itu.” 

Setelah beberapa lama di Jakarta, ia kemudian diajak seorang rekannya untuk mencoba peruntungan di Singapura. Dari sanalah kemudian terbentang jalan untuknya menuju Negeri Jiran, Malaysia. Pada gilirannya, di Kuala Lumpur ia menjadi pengusaha pakaian Muslim dan perlengkapan ibadah yang besar dan sukses. Di masa-masa gemilangnya kala itu, ia telah berhasil memperoleh keuntungan hingga jutaan ringgit sehingga ia dan keluarganya bisa naik haji dan umrah ke Tanah Suci berkali-kali. Kini, lima tahun sudah ia sudah tidak lagi bergelut dengan dunia bisnis dan lebih memilih menikmati hari tuanya. Selama rentang waktu tersebut ia pernah memutar uangnya kepada dua orang rekan yang ia kenal untuk dikelola. Akan tetapi di tengah jalan, kedua orang tersebut berkhianat. Ya, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Setelah kejadian itu, ia tidak lagi terpikir untuk berinvestasi.

Aku menyimak kisah pengalaman hidup sosok inspiratif itu dengan penuh kekaguman. Hukum alam benar adanya, bahwa siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Siapa yang menanam, ia akan menuai. Siapa yang berada di jalur yang benar, maka ia akan sampai ke tujuan. Pak Haji Amri adalah bukti nyata akan kesungguhan itu, betapa ia memulai segalanya dari bawah, namun berkat kerja keras dan upaya sungguh-sungguh, kini ia justru telah memperoleh segalanya. Beliau pula dengan apik menerjemahkan pesan Nabi, “Sembilan per sepuluh dari pintu rezeki adalah dari perniagaan.” Ia yang sedang mengemudikan sedan Honda berwarna silver itu memperhatikan aku yang tertegun di sampingnya. Ia lantas mengejutkan lamunanku, “Jadi, apa rencanamu kelak?” “Aku akan menjadi dosen sekaligus pengusaha besar seperti Pak Haji,” tukasku dengan optimis. Beliau pun tersenyum seraya mengaminkan. Dan Kampung Wira Damai di sore itu terasa damai sekali, sedamai impian-impianku yang berpendar-pendar dalam pikiran.

Kuala Lumpur, 27 April 2013