Hi, Good People. While I was translating a parenting book project yesterday, I was inspired to write something.
Apa pun impianmu, bila Allah ridha, bisa terwujud berkat doa ibumu. Imam Bukhari saja, kehilangan kedua penglihatannya pada waktu kecil.
Pada suatu malam, ibunya bermimpi didatangi oleh Nabi Ibrahim. Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim berujar kepadanya: Duhai ibu, Allah akan mengembalikan penglihatan anakmu dengan doamu yang tak putus-putus.
Tak lama berselang, berkat doa ibunya, Allah mengembalikan penglihatan Imam Bukhari sehingga ia bisa melihat secara normal. Kisah ini diuraikan oleh Al-Lalikai dalam kitab Syarh As-Sunnah.
Maka, the lesson learned adalah jika kamu punya impian, cita-cita, atau keinginan, jangan dipendam sendiri, jangan diperjuangkan sendirian. You will get tired instead. Beritahukan kepada ibumu dan libatkan beliau dalam doa-doa panjangnya. Insha Allah, you will see the miracle in your life. 🙂
Pena Kecil Lazuardi Biru
Inspirasi | Refleksi | Kontemplasi | Motivasi |
Jumat, 10 Juli 2020
Sabtu, 24 November 2018
[Notes from Kuala Lumpur] Kampung PNS dan Pudarnya Pesona Merantau
Dalam pengamatanku dari waktu ke waktu, kampungku kini
perlahan-lahan bermetamorfosis menjadi "kampung PNS". Seiring bergulirnya
roda zaman, semakin banyak penduduk kampung ini yang kulihat berhasil menjadi
pegawai negeri, entah itu bekerja sebagai karyawan kantor pemerintahan, guru,
atau tenaga kesehatan. Dahulu, saat aku masih ingusan, pegawai pemerintah di
kampung ini hanya bisa dihitung jari, itu pun rata-rata bekerja sebagai guru. Kala
aku kecil, masyarakat kampungku rata-rata hidup miskin dan apa adanya. Sekarang
pun sebenarnya tak sedikit yang masih hidup susah, namun secara umum kini jauh
lebih baik.
Betapa tidak, sebagian besar penduduk kampung hidup dari
bekerja sebagai petani, dan rata-rata mereka hanya berpendidikan rendah. Yang
namanya bertani padi, hasilnya tak selalu seperti yang diharapkan. Adakalanya
petani bisa memperoleh hasil padi yang melimpah, yang kemudian sebagian besar
bahkan keseluruhannya diserahkan kepada tauke padi langganan. Saat musim panen,
tauke padi ini akan tampak sibuk hilir-mudik mengangkut gabah para petani dari
sawah-sawah dengan mobil bak terbuka.
![]() |
| Pemandangan Gunung Talang yang menjadi latar kampungku. |
Kenapa kusebut tauke langganan? Ya, karena kepada para
juragan kilang padi itulah para petani di kampung ini berhutang beras dan uang
untuk kebutuhan hidup sehari-hari jelang musim panen tiba, lalu dibayar dengan
gabah saat musim panen. Bila berlebih, mereka akan menerima uang dari tauke tersebut.
Namun, tak jarang hasil panen hanya cukup untuk menutupi lobang hutang yang
menganga lebar, bahkan terkadang hutang itu pun tak lunas. Begitu seterusnya
dari tahun ke tahun. Singkatnya, mereka berputar-putar dari musim panen ke
musim panen berikutnya dalam lingkaran gali lobang tutup lobang.
Lain lagi ketika sedang tidak beruntung, maka tanaman padi sudah
lebih dahulu tandas oleh hama tikus sebelum dipanen, sehingga bulir-bulir padi
menjadi hampa dan hanya berlebih beberapa sukat saja, bahkan habis tak bersisa.
Bila sudah begini, maka di mana-mana hanya keluhan para petani yang terdengar.
Di jalan atau di kedai kopi orang-orang akan menceritakan kisah sawahnya
masing-masing. Tak pelak, ketika hasil sawah tak didapat, maka alamat hutang yang
akan terus bertambah. Siapa pun tentu sedih dan iba melihat hal ini, karena
kerja keras mereka mengolah sawah selama berbulan-bulan hanya menyisakan kecewa
dan duka lara.
Maka, lantaran sebagian besar penduduk hidup dari bertani dan
banyak yang hidup susah, maka dulu anak-anak mereka hanya bersekolah hingga
jenjang SMA saja. Jarang yang bisa melanjutkan kuliah, kendati mereka mampu
secara intelektual. Tak sedikit di antara anak-anak kampung ini yang
berprestasi cemerlang di bangku sekolahnya. Namun, karena orangtua mereka tidak
mampu, mereka harus mengubur dalam-dalam impian untuk bisa melanjutkan
pendidikan.
![]() |
| Jalan kampungku yang kini telah beraspal. |
Alhasil, selepas SMA, banyak yang memilih pergi merantau,
entah itu ke Batam, Pekanbaru, Jakarta, dan wilayah-wilayah lain di Pulau Jawa.
Sehingga, kala akhir tahun ajaran tiba, di saat yang sama terminal bus besar di
kotaku biasanya ramai oleh keluarga yang akan melepas anak-anak mereka yang
baru tamat sekolah untuk pergi mengadu nasib. Bermodal ijazah SMA, mereka kemudian
bekerja sebagai buruh pabrik, sedang sebagian lainnya memilih berniaga, seperti
lazimnya yang dilakukan oleh orang Minang di perantauan. Dari hasil bekerja di perantauan
itulah, mereka bisa mengirim uang untuk orangtua di kampung halaman.
Dulu, aku menjadi saksi hidup dan merasakan sendiri kepedihan
hidup di kampung ini. Orangtuaku, seperti halnya penduduk lainnya, adalah
petani. Sejak kecil kami sudah terbiasa hidup dalam segala keterbatasan, namun aku
berusaha untuk tidak mengeluh dan meratapi nasib. Lebih tepatnya, memilih untuk
menahan diri dari menginginkan sesuatu yang tak mampu dimiliki. Sebaliknya,
sejak kecil aku sudah terbiasa berpikir keras bagaimana agar bisa terlepas dari
belenggu kemiskinan ini. Aku ingin kuliah setinggi mungkin. Aku tak ingin
mengadu nasib di perantauan seperti yang dilakukan oleh orang-orang.
Akan tetapi, bukan hidup namanya bila ia tak berputar. Roda
hidup akan terus bergulir, akan selalu ada perubahan dan keajaiban yang terjadi.
Apa yang kututurkan di atas adalah potret kampungku sekira dua puluh tahun yang
lalu. Kini, visi dan orientasi hidup orang-orang sudah jauh berubah ke arah
yang lebih baik. Entah bagaimana jalan ceritanya, mungkin juga karena kemajuan
zaman, sekarang semakin jarang terdengar anak-anak kampungku yang pergi
merantau dan mengadu nasib ke kota besar. Mereka kini lebih banyak yang
melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Pesona merantau sepertinya
sudah memudar di mata mereka. Kemajuan teknologi, membaiknya kondisi ekonomi,
dan semakin mudahnya akses informasi agaknya turut berperan mempengaruhi dan
mengubah pola pikir penduduk kampungku.
Selain itu, mereka yang berhasil menjadi PNS terlihat semakin
bertambah dari tahun ke tahun, seiring dengan semakin banyaknya lulusan
perguruan tinggi, sehingga dengan alasan itulah aku menjuluki kampungku ini
dengan sebutan “kampung PNS”. Menjadi PNS kini sudah menjadi tolok ukur
keberhasilan orang-orang di kampungku. Bila di sebuah keluarga ada yang menjadi
PNS, maka keluarga itu dipandang sukses dan terhormat.
Oleh karena itu, hampir di setiap rumah kini ada sarjana atau
setidaknya yang tengah menimba ilmu di bangku universitas, dengan harapan suatu
hari nanti bisa mengikuti jejak orang-orang menjadi pegawai negeri. Begitu juga
denganku. Apa yang aku khawatirkan tentang diriku dulu alhamdulillah tidak
terbukti. Berkat segenap usaha dan doa, aku berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan
S-1 dan S-2 di luar negeri. Pada musim penerimaan CPNS tahun ini, aku pun ikut
berkompetisi untuk menjadi bagian dari abdi negara. Bila ada yang bertanya:
Mengapa (masih) tertarik menjadi pegawai negeri? Karena merantau dan mengadu
nasib di negeri orang bagi kami juga tidak lagi menarik. []
Jumat, 16 November 2018
[Notes from Kuala Lumpur] Hidup dan Pilihan
Hidup ini pilihan, dan pilihan itu sifatnya sangat personal dan subjektif. Ada seorang rekan yang dikenal cukup cerdas. Dalam pandangan orang lain, bila ia mau sedikit berusaha, rasa-rasanya ia bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan jenjang S-2 sampai S-3 ke luar negeri, lalu mendapatkan kesempatan-kesempatan hidup yang lebih baik.
Namun entah kenapa, pilihan-pilihan semacam itu tidak ia lakoni. Selepas menyelesaikan jenjang S-1 dari sebuah kampus Islam yang cukup terkemuka, ia lebih memilih menjadi guru ngaji bagi anak-anak di kampungnya, yang kerap dipandang remeh dan mengundang tanya bagi sebagian orang. Ya, dipandang remeh dikarenakan penghasilan guru ngaji kampung yang tak seberapa bila dibandingkan dengan kebutuhan hidup yang makin mencekik dari waktu ke waktu.
Kala aku mendengar cerita ini, aku hanya tertegun sambil berpikir. Orang-orang kampung yang berpandangan semacam itu mungkin ada benarnya. Bagi mereka, lulusan S-1 harusnya bisa dapat pekerjaan yang lebih baik. Jadi PNS, guru, atau karyawan misalnya. Bukan jadi guru ngaji yang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang yang hanya tamat pesantren bahkan lulusan sekolah umum sekalipun.
Tapi, kembali lagi kepada apa yang kuutarakan di atas. Bahwa pilihan-pilihan yang diambil oleh seseorang dalam hidup ini, sesungguhnya sifatnya sangat personal dan subjektif. Ia mungkin saja memiliki alasan-alasan pribadi atas pilihan-pilihannya itu, yang kadang tak perlu diketahui oleh orang lain. Adapun bagiku, sederhana saja: karena hidup ini pilihan, jangan menyinyiri dan merusuhi pilihan-pilihan hidup orang lain.
Selasa, 11 April 2017
[Notes from Kuala Lumpur] BERSYUKUR + MENULIS = BAHAGIA
"Write down 3 things you are grateful for every morning. It's proven to make you more relaxed, healthy and happy."
Ini cara lain dari bersyukur yang sangat sederhana. Saat membaca tips ini di Instagram, seketika saya teringat metode serupa pernah diungkapkan oleh seorang penulis dalam buku yang bertajuk "Magic". Ia menuturkan, "If you want to have magic in your life, you have to be able yo be grateful."
Bersyukur yang bagaimana? Yap, dengan cara MENULISKAN di buku harian atau di selembar kertas setidak-tidaknya tiga nikmat yang kita syukuri setiap hari dalam hidup. Nikmat tidur enak tadi malam, nikmat air bersih yang mengalir tak henti-henti, nikmat punya kedua orangtua yang masih sehat, nikmat punya teman-teman dan kolega-kolega baik, nikmat bisa sekolah di luar negeri. Apa saja. Semakin banyak yang kita tulis, semakin baik.
Mari tuliskan, lalu biasakan hal ini setiap pagi dan malam, niscaya dalam hidup kita akan terjadi keajaiban berupa nikmat-nikmat yang kita syukuri tersebut akan dikasih lebih dan semakin berlimpah, di samping jiwa dan raga kita akan lebih sehat, lebih damai, dan lebih bahagia.
Demikian pula sebaliknya. Bila kita mengeluh, niscaya apa yang kita keluhkan itu juga akan kian bertambah dan bertambah. Bukankah Tuhan berfirman, "Jika kalian bersyukur, Aku benar-benar akan menambahnya bagi kalian. Jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku benar-benar pedih."
Kuala Lumpur, 10 April 2017
Selasa, 18 Oktober 2016
[Notes from Kuala Lumpur] Saya dan Dilema Alumni Timur Tengah
Di awal tahun ajaran baru yang lalu, iklan-iklan
kebutuhan guru berseliweran tak henti-henti di akun social media saya
dari berbagai yayasan pendidikan, terutama dari yayasan yang menaungi
sekolah-sekolah Islam yang baru tumbuh. Menariknya, sebagian besar
dengan terang-terangan menyasar alumni Timur Tengah, seperti tamatan
Universitas Al-Azhar Mesir, Arab Saudi, dan sebagainya.
Saat membaca
satu demi satu postingan iklan tersebut, saya jadi kerap
bertanya-tanya, mengapa harus demikian? Mengapa misalnya, mereka tidak
mencari lulusan dalam negeri, padahal yang akan diajar juga cuma
anak-anak setingkat SD dan SMP, yang tentunya hanya akan diajarkan
pengetahuan Islam dasar. Rasanya tidak adil ketika mereka memandang
sebelah mata lulusan-lulusan UIN, IAIN, dan STAI.
Saya
kemudian berasumsi, bahwa hal ini agaknya sangat berhubungan erat
dengan upaya marketing dan pencitraan sekolah, sehingga sekolah-sekolah
tersebut nantinya jadi punya nilai jual di mata masyarakat. Dengan kata
lain, mereka punya guru jebolan luar negeri, sehingga poin ini jadi
nilai lebih dan daya tarik tersendiri untuk menggaet murid lebih banyak.
Hey, ini kan sekolah-sekolah swasta. Mereka pasti juga mempertimbangkan perolehan pundi-pundi profit dong. Tidak cuma dan tidak sesederhana mengurus kegiatan ajar-mengajar doang.
Hanya
saja, satu hal yang menjadi titik perhatian saya selama ini. Bahwa
sesungguhnya masyarakat punya ekspektasi yang tinggi terhadap
alumni-alumni Timur Tengah, dan itu adalah fakta yang tak bisa dibantah.
Jebolan Timur Tengah dinilai punya kedalaman ilmu agama yang lebih,
sehingga ketika seorang tamatan Timur Tengah pulang ke Tanah Air,
biasanya ia akan diundang untuk berceramah ke sana ke mari, atau seperti
yang saya utarakan di atas, diminta, bahkan sampai dibujuk untuk
menjadi tenaga pengajar oleh pengelola-pengelola yayasan, terutama di
sekolah-sekolah berbasis pesantren.
Namun, ekspektasi yang besar tersebut seringkali tidak diimbangi dengan pemberian apresiasi yang layak dan seharusnya kepada alumni Timur Tengah. Dalam hal ini, tengoklah para pemilik dan pengelola yayasan yang biasanya adalah orang-orang yang bermobil mentereng dan berumah megah. Sementara alumni Timur Tengah yang mereka pekerjakan hanya dibayar sekadarnya, sangat jauh dari cukup. Hal ini rasanya sudah menjadi rahasia bersama yang dikeluhkan oleh kalangan alumni Timur Tengah sendiri.
Saya kerap tidak mengerti,
mengapa masyarakat kita, khususnya para pengelola pendidikan swasta itu
punya cara pandang demikian. Apakah mereka melihat bahwa alumni Timur
Tengah itu bak malaikat yang tidak perlu sandang, makan, dan papan yang
layak? Ataukah mereka menilai bahwa mengajar agama itu sudah menjadi
kewajiban sang alumni, sehingga tak perlu diapresiasi dan digaji? Saya
sendiri sudah merasakan perlakuan semacam ini sekembali dari Mesir dulu.
Bahkan hengkangnya saya ke Malaysia guna melanjutkan studi salah
satunya dilatarbelakangi oleh rendahnya apresiasi materi yang saya
terima selama menjadi guru.
Maka, ekspektasi
besar yang mereka elu-elukan terhadap jebolan Timur Tengah seharusnya
juga diimbangi dengan upaya mengapresiasi yang besar pula. Bayarlah
mereka secara profesional, sebagaimana mereka sudah mengajar dan bekerja
pada yayasan-yayasan tersebut dengan penuh dedikasi. Perhatikan
kesejahteraan mereka. Segalanya mesti berprinsip apple to apple. Lamak dek awak, katuju dek urang.
Apalagi, alumni Timur Tengah sudah dengan rela mewakafkan
sepenuh usia dan dirinya kepada yayasan tersebut, bahkan menggantungkan
kepulan asap dapur rumah tangganya pada yayasan mereka. []
Kuala Lumpur, 19 Oktober 2016
Selasa, 03 November 2015
[Notes from Kuala Lumpur] Berapa Persen Ilmu yang Sudah Engkau Tahu?
Saat mengambil mata kuliah Islamization of Knowledge yang diampu oleh Dr. Mishawy di semester ketiga lalu, di suatu petang beliau pernah menyampaikan bahwa apa yang diajarkan oleh setiap dosen dari sebuah mata kuliah, pada dasarnya hanyalah 15% dari apa yang seharusnya diketahui dan dikuasai oleh setiap mahasiswa dari mata kuliah tersebut. Apa yang diketengahkan oleh dosen, lanjut beliau, sesungguhnya hanyalah pengantar, mahasiswalah yang harus mengembangkannya.
Dengan kata lain, jika dalam satu semester sebuah mata kuliah dijabarkan dalam beberapa kali pertemuan ke sejumlah titik tema, dengan beberapa topik sentral, kemudian diturunkan lagi ke dalam aneka pembahasan, maka kesemua itu baru setara dengan 15% dari skala 100% mata kuliah itu sendiri.
![]() |
Artinya, seorang pembelajar dengan spesialisasi bidang keilmuan apapun, dengan latar belakang fakultas manapun, dituntut harus pro-aktif dalam mencari dan menguasai suatu bidang keilmuan. Bukan hanya menerima apa yang dijelaskan oleh dosen di kelas atau membaca diktat-diktat semata, akan tetapi juga dengan menelaah referensi-referensi lain dengan semangat pencapaian level 100% itu tadi.
Jika seharusnya demikian, maka menuntut ilmu sejatinya adalah sebuah proses yang mesti dilakukan secara terus menerus, yang tidak boleh terhenti di kelas saja, atau hanya berpatokan pada course outline yang diberikan. Mengapa? Sebab, menuntut ilmu harus dipahami sebagai upaya membangun semangat keingintahuan yang besar, sebagai usaha melangkah menuju kepakaran suatu bidang ilmu. Hal ini tentu harus diperkuat dengan semangat membaca dan menelaah dengan kesadaran, tanpa tekanan ujian, nilai, atau apapun.
Persoalannya, berapa banyak mahasiswa, terutama mahasiswa jenjang postgraduate di universitas-universitas yang menyadari semangat ini? Berapa banyak insan akademis yang sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa kuliah mestinya tidak sesederhana datang ke kampus, masuk kelas, mendengarkan dosen, mengerjakan tugas, ujian, lalu lulus? Jika kuliah hanya dipahami seperti itu, maka tak heran bila selepas menyelesaikan jenjang pendidikan di kampus, kita kerap tak merasa sebagai orang yang berilmu. Bahkan rasanya sedikit sekali ilmu yang kita serap dan bawa pulang dari bangku kuliah. Pun apa yang dipelajari di kelas seolah-olah menguap seiring kita mengenakan toga dan diwisuda.
Tak jarang, dengan kadar sebesar 15% yang kita dapatkan di kelas, kita sering sudah merasa cukup, itu pun terkadang dengan belajar yang malas-malasan, bahkan hanya ingin sekadar lulus di mata kuliah tersebut. Maka, dari porsi ilmu sebesar 15% yang dituangkan oleh dosen, berapa persen yang masih mengendap di dalam gelas-gelas keilmuan kita? Tetap 15%, 10%, 5%, 1%, atau malah tidak bersisa sama sekali?
Di titik ini, menjadi insan pembelajar sejati dengan semangat keingintahuan dan upaya pencapaian level kepakaran adalah keniscayaan, keharusan. Seorang mahasiswa harus berupaya keras untuk mengejar 85% pundi-pundi keilmuan lainnya dengan banyak membaca, menelaah, menulis, diskusi, dan berbagai media lainnya. Dengan begitu, semoga kita benar-benar menjadi insan-insan yang berilmu. Seumpama yang dikatakan dalam sebuah syair Arab, bahwa ilmu itu bukan yang tertulis di buku-buku, namun yang terhimpun di dalam dada.
Kuala Lumpur, 4 November 2015
Senin, 11 Mei 2015
[Notes from Kuala Lumpur] Jangan Jadi Ustadz Instan!
Setiap kali menyimak pengajian atau taushiyah, saya senantiasa memposisikan diri sebagai seorang pendengar yang baik. Namun ada kesan dalam hati yang tidak bisa dibohongi, bahwa pengajian yang tengah disampaikan seringkali terasa janggal di hati dan mengganjal di pikiran ketika sang ustadz bukanlah orang di bidangnya, atau si ustadz hanya belajar agama secara otodidak dan instan, tapi memiliki semangat dakwah yang tinggi.
Akibatnya, poin-poin yang ia sampaikan cenderung gersang dan hambar-hambar saja, apalagi substansi materi yang perlu dikaji lagi benar dan salahnya. Bagi saya pribadi, bila yang mengetengahkan pengajian atau taushiyah tersebut adalah seorang ustadz sungguhan yang punya latar belakang dan kapasitas syar'i yang mumpuni, taushiyah yang disampaikan terasa lebih menggugah dan membekas di hati. Tapi jika sebaliknya, rasanya ingin cepat-cepat saja keluar dari masjid.
Ok, perbandingannya lebih kurang mungkin begini. Saya yang tidak punya latar belakang pendidikan ekonomi, lalu sekonyong-konyong belajar ilmu ekonomi dan segala seluk-beluknya secara acak, amburadul, dan otodidak dari buku-buku dan artikel-artikel yang tersebar luas di internet, lantas menyampaikan pidato atau kuliah ekonomi di hadapan mahasiswa ekonomi atau orang banyak setelah itu.
Maka saya yakin seyakin-yakinnya, banyak orang yang akan mengejek dan menertawakan saya, entah itu secara diam-diam atau terang-terangan, apalagi oleh orang-orang yang lebih tahu dan lebih punya kapasitas dalam bidang ilmu ekonomi itu sendiri. Mengapa? Karena ilmu ekonomi jelas bukan spesialisasi saya, bukan disiplin ilmu yang saya geluti. Sehingga apa yang saya pelajari dan sampaikan dari hanya baca-baca itu, sangat mungkin lebih banyak salahnya ketimbang benarnya, lebih rentan menimbulkan salah dan janggal, di samping akan mempermalukan diri saya sendiri bahkan menyesatkan orang lain. Dan di dunia nyata, saya pribadi cenderung tidak mau mengambil langkah konyol itu.
Perumpamaan ini mungkin bisa dianalogikan ke kasus yang saya kemukakan di awal tadi. Yang jelas, mempelajari disiplin ilmu apapun, semuanya perlu didukung oleh perangkat, metode, dan prosesnya sendiri-sendiri, apalagi belajar seluk-beluk agama yang sesungguhnya tidak semudah baca-baca tanpa dilandasi dengan motede yang benar, terlebih lagi bila hasil bacaan itu tidak untuk ditelan sendiri, melainkan juga akan disampaikan ke orang lain, diceramahkan ke jamaah satu masjid.
Saya kadang jadi berpikir, jika dakwah ini diasumsikan dengan sebegitu sederhananya, lama-lama disiplin ilmu syar'i yang menjadi pilar utama dakwah ini bisa menjadi ilmu yang terkesan gampangan, yang tidak punya kompetensi, yang bisa dipelajari hanya lewat comot-comot bacaan dan artikel di internet. Selesai baca, langsung bisa berdiri di mimbar, langsung bisa jadi murabbi (ups!), langsung koar-koar di Twitter dan bikin kicauan panjang-lebar tak karuan dan mendebat orang-orang (If you know who I mean), langsung bisa jadi dai kondang dan ustadz besar. Semoga tidak. Imam Syafi'i sendiri pernah berwasiat bahwa ilmu itu hanya bisa digapai dengan enam hal: intelegensi, semangat, kerja keras, ketersediaan finansial, upaya membersamai guru, dan proses waktu. Terakhir, yang instan itu, ujar seorang novelis, cukuplah pada benda bernama mie saja, oh iya, dan kopi. :p
Akibatnya, poin-poin yang ia sampaikan cenderung gersang dan hambar-hambar saja, apalagi substansi materi yang perlu dikaji lagi benar dan salahnya. Bagi saya pribadi, bila yang mengetengahkan pengajian atau taushiyah tersebut adalah seorang ustadz sungguhan yang punya latar belakang dan kapasitas syar'i yang mumpuni, taushiyah yang disampaikan terasa lebih menggugah dan membekas di hati. Tapi jika sebaliknya, rasanya ingin cepat-cepat saja keluar dari masjid.
Ok, perbandingannya lebih kurang mungkin begini. Saya yang tidak punya latar belakang pendidikan ekonomi, lalu sekonyong-konyong belajar ilmu ekonomi dan segala seluk-beluknya secara acak, amburadul, dan otodidak dari buku-buku dan artikel-artikel yang tersebar luas di internet, lantas menyampaikan pidato atau kuliah ekonomi di hadapan mahasiswa ekonomi atau orang banyak setelah itu.
Maka saya yakin seyakin-yakinnya, banyak orang yang akan mengejek dan menertawakan saya, entah itu secara diam-diam atau terang-terangan, apalagi oleh orang-orang yang lebih tahu dan lebih punya kapasitas dalam bidang ilmu ekonomi itu sendiri. Mengapa? Karena ilmu ekonomi jelas bukan spesialisasi saya, bukan disiplin ilmu yang saya geluti. Sehingga apa yang saya pelajari dan sampaikan dari hanya baca-baca itu, sangat mungkin lebih banyak salahnya ketimbang benarnya, lebih rentan menimbulkan salah dan janggal, di samping akan mempermalukan diri saya sendiri bahkan menyesatkan orang lain. Dan di dunia nyata, saya pribadi cenderung tidak mau mengambil langkah konyol itu.
Perumpamaan ini mungkin bisa dianalogikan ke kasus yang saya kemukakan di awal tadi. Yang jelas, mempelajari disiplin ilmu apapun, semuanya perlu didukung oleh perangkat, metode, dan prosesnya sendiri-sendiri, apalagi belajar seluk-beluk agama yang sesungguhnya tidak semudah baca-baca tanpa dilandasi dengan motede yang benar, terlebih lagi bila hasil bacaan itu tidak untuk ditelan sendiri, melainkan juga akan disampaikan ke orang lain, diceramahkan ke jamaah satu masjid.
Saya kadang jadi berpikir, jika dakwah ini diasumsikan dengan sebegitu sederhananya, lama-lama disiplin ilmu syar'i yang menjadi pilar utama dakwah ini bisa menjadi ilmu yang terkesan gampangan, yang tidak punya kompetensi, yang bisa dipelajari hanya lewat comot-comot bacaan dan artikel di internet. Selesai baca, langsung bisa berdiri di mimbar, langsung bisa jadi murabbi (ups!), langsung koar-koar di Twitter dan bikin kicauan panjang-lebar tak karuan dan mendebat orang-orang (If you know who I mean), langsung bisa jadi dai kondang dan ustadz besar. Semoga tidak. Imam Syafi'i sendiri pernah berwasiat bahwa ilmu itu hanya bisa digapai dengan enam hal: intelegensi, semangat, kerja keras, ketersediaan finansial, upaya membersamai guru, dan proses waktu. Terakhir, yang instan itu, ujar seorang novelis, cukuplah pada benda bernama mie saja, oh iya, dan kopi. :p
Kuala Lumpur, 11 Mei 2015
Langganan:
Postingan (Atom)






