Senin, 18 Februari 2013

Notes from Kuala Lumpur


[Notes from Kuala Lumpur #2] Hujan lebat yang menerjang Kuala Lumpur dan sekitarnya sejak siang tadi membuat saya tidak bisa berangkat ke kampus IIUM petang ini. Benar-benar menjengkelkan. Apalagi sekarang ini saya tinggal di bilangan Batu Caves, Selangor. Tidak bisa terbilang dekat jika ditempuh dalam kondisi hujan bergemuruh seperti sekarang. Ditambah lagi dengan kondisi motor butut Kriss Modenas buatan Malaysia yang biasanya sering mati di tengah perjalanan lantaran hujan, seperti yang saya alami sepekan silam. Baru kali ini saya menemukan karakter sepeda motor seperti itu, yang ternyata juga dikeluhkan oleh banyak teman saya di IIUM. Pak Cik Fadhli pun hari ini sepertinya juga tidak bisa diajak berkompromi untuk mengantarkan saya dengan mobilnya. Beliau belakangan ini cukup sibuk, apalagi jelang Pemilihan Raya di Malaysia. Ah, jika demikian adanya, perjalanan akan sangat beresiko dan membahayakan. Maka, dengan penuh penyesalan, jadilah saya harus melewatkan kuliah Islamic Banking oleh Professor Azman petang ini. Huufft... (Edisi 2 Mei 2012)



[Notes from Kuala Lumpur #3] Beberapa hari yang lalu saya membaca status Facebook seorang senior di Cairo sana. Status yang menyatakan bahwa seorang yang belajar ilmu agama itu mestinya hidup pas-pasan saja, lantaran waktunya habis ia gunakan hanya untuk belajar dan belajar. Tak patut untuk terjun ke dunia kerja atau bisnis. Ah, ini opini yang keliru dan jelas merupakan upaya penggiringan orang lain kepada pemikiran yang salah. Para sahabat Nabi saja yang juga belajar agama lebih dari kita, mereka bekerja keras dan berbisnis. Memangnya sampai kapan kita akan berstatus mahasiswa yang senantiasa "menengadahkan tangan" kepada orang lain? (Edisi 3 Mei 2012)


[Notes from Kuala Lumpur #4] Betul-betul salut sekaligus iri dengan putera-putera Negeri Jiran Malaysia. Mereka yang kuliah sampai ke luar negeri betul-betul diperhatikan dan dibiayai oleh pemerintah kerajaan, bahkan yang melanjutkan studi ke Mesir sekalipun. Sehingga orangtua mereka tidak perlu merogoh kocek barang sepeser pun untuk membiayai mereka. Hal demikian terus berlanjut hingga mereka menamatkan pendidikan, sebab pemerintah Malaysia mengirimkan biaya hidup dan pendidikan setiap bulan kepada mereka dengan nominal yang sangat besar. Selepas tamat, mereka pun akan diberikan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan yang bonafid dengan gaji yang mampu menyejahterakan hidup mereka. Bagaimana dengan kita? Mau sampai S2 atau S3 sekalipun kita di luar negeri, sampai kapanpun, jangan pernah terlalu berharap kepada pemerintah abal-abal Indonesia Raya ini. :P (Edisi 4 Mei 2012)



[Notes from Kuala Lumpur #10] Ini kejadian sepekan yang lalu. Seorang bapak paruh baya yang menjadi pembantu rumah tangga di sebuah keluarga elit Indonesia di sini meninggal dunia mendadak, padahal semasa hidupnya ia dikenal tidak memiliki penyakit apa-apa. Meninggalnya pun tanpa pamit. Tenang dan tidak menyusahkan keluarga majikannya. Seketika pembantu ini meninggal, sang majikan sontak menangis histeris. Barangkali karena ia sudah bekerja sejak lama dan telah dianggap oleh sang majikan sebagai keluarganya sendiri. Namun naifnya, keluarga elit ini tak mengerti perkara agama, alias sedikit sekuler. Hal yang kini sudah dipandang lumrah terjadi pada keluarga-keluarga kaya dan beruang. Pun keluarga ini sepertinya tak cakap bertetangga, sehingga di hari itu tak satu pun tetangganya yang datang melayat. Seandainya saat itu kami tidak datang, barangkali jenazah bapak itu tidak akan terurus sebagaimana mestinya, bahkan mungkin akan dibiarkan begitu saja seperti mayat kucing. Memilukan. (Edisi 7 Juni 2012)









Ustadz Penjual Buah


Aku kerap tersadarkan secara tiba-tiba bahwa hidupku senantiasa dikelilingi oleh sosok-sosok yang banyak memberikan renungan dan pembelajaran hidup. Pembelajaran bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah ruang-ruang kesempatan untuk bersyukur dan berbuat dengan sebaik-baiknya. Pembelajaran bahwa poin penilaian yang membedakan kita dengan orang lain di sisi Allah hanyalah seberapa berkualitas amalan dan sejauh apa ketakwaan yang kita punya.


Seperti perjumpaanku dengan seorang “ustadz” penjual buah tiga pekan silam. Ketika itu aku bertemu dan berkenalan dengannya di rumah dakwah kami yang baru sempat kusambangi semenjak pulang dari Mesir. Kala itu ia mengaku menjadi seorang penjual buah keliling yang berjualan dari daerah ke daerah. Sebut saja namanya Rahmat. Setiap hari ia membeli berbagai jenis buah secara borongan di pasar-pasar tradisional yang tersebar di negeri ini, berupa mangga, duku, rambutan, pepaya, jeruk, dan sebagainya, lalu menjualnya secara eceran di daerah lain. Begitu setiap subuh buta ia menjemput rezeki dengan menempuh jarak yang tak bisa terbilang dekat. Usianya masih relatif cukup muda, jika kutaksir sekitar dua puluh delapan tahun. Benar saja, di perjumpaan berikutnya ia mengaku telah menikah dan sudah dikaruniai tiga orang anak.

Sepintas tak ada sesuatu yang begitu istimewa pada penampilannya. Ia mengatakan bahwa ia hanya tamat sekolah dasar dan lebih memilih untuk bekerja sebagai penjual buah. Sebagaimana lazimnya seorang pekerja keras, gurat-gurat kesederhanaan dan kebersahajaan terpahat jelas pada wajah sawo matangnya. Kendati demikian, ia tak pernah datang ke markas ini dengan wajah dan penampilan layaknya seorang pedagang serabutan di pasar. Ia selalu hadir dengan semangat muda dan penampilan terbaik yang ia miliki, dengan jenggot dan rambut tersisir rapi. Selalu datang tepat waktu dan tidak pernah terlambat, apalagi sampai absen hanya karena alasan remeh-temeh. Benar-benar pukulan telak bagi siapa saja yang tidak menghargai waktu dan suka mencari-cari alasan untuk tidak menjadi lebih baik.

Hal lain yang membuatku takjub dan kagum pada sosok itu adalah semangat dan loyalitasnya yang luar biasa terhadap dakwah ini. Tak jarang ia harus meninggalkan dagangan buahnya demi membuat dirinya lebih berarti. Ia adalah sosok pedagang jujur dan apa adanya, yang tidak mengurangi takaran dan timbangan. Ia bukanlah golongan pedagang yang disindir dalam Surat Al-Muthaffifin. Saat i’tikaf pada sepuluh penghujung Ramadan silam, ia adalah orang yang hampir selalu datang pertama kali dan tak pernah alpa. Aku yakin, tentu ia tidak sekadar bermodal semangat sampai pada di titik ini. Aku pun percaya, pilihannya tersebut berangkat dari sebuah pemahaman yang utuh tentang apa dan bagaimana berislam yang sesungguhnya.

Belakangan aku semakin kerap bertemu dan bertatap muka dengannya, baik itu di jalan, di masjid, ataupun di sekolah tempatku mengajar sekarang. Aku kembali dikagetkan ternyata siswa bernama Wildan yang begitu menonjol di antara teman-temannya karena sangat kuat menghafal Al-Quran itu adalah anak dari “ustadz” penjual buah tersebut. Seketika aku jadi teringat dengan kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terlahir dari rahim seorang wanita yang tidak mau berbuat curang dalam berdagang. Begitu pula dengan siswa bernama Wildan tersebut. Ia seolah hadir sebagai keberkahan dari sesosok ayahnya yang saleh dan jujur itu.

*Coretan ini pernah dimuat di portal dakwatuna.com edisi 18 Januari 2012 M/ 23 Shafar 1433 H