Minggu, 27 Oktober 2013

Ingin Melanjutkan Studi di International Islamic University Malaysia (IIUM)?

Anda berniat melanjutkan kuliah ke luar negeri atau masih bingung untuk melanjutkan program master dan doktoral ke mana? International Islamic University Malaysia (IIUM) bisa menjadi pilihan.

Kenapa IIUM? 

Sebagai sebuah universitas bertaraf International, IIUM atau juga dikenal dengan nama Universitas Islam Antarabangsa (UIA) adalah universitas populer dan berpengaruh di Malaysia. Dengan mahasiswa lebih dari 100 negara di dunia, IIUM telah menghasilkan ribuan alumni mumpuni yang berkiprah di berbagai bidang. 

Kampus IIUM Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia
Kunjungi website resmi IIUM di 
http://www.iium.edu.my/

Highlight Studi di Malaysia: 
http://www.iium.edu.my/life-iium/studying-malaysia


A. Program Strata Satu (S1): Undergraduate Studies

1. Informasi umum program kuliah dan persyaratan:
http://www.iium.edu.my/programmes-courses#ug_health

2. Biaya kuliah: 
http://www3.iium.edu.my/finance/uploaded_files/2011/International%20Undergraduate4.pdf

B. Programa S2 (Master) dan S3 (Doktoral): Postgraduate Studies
1. Informasi umum program kuliah dan persyaratan:
http://www.iium.edu.my/cps
http://www.iium.edu.my/cps/programmes-offered

2. Biaya kuliah: 
http://www.iium.edu.my/cps/fee_structure
http://www.iium.edu.my/finance/services/available-services/fee-structures 

Salah satu sudut "kampus biru" IIUM
Proses sederhana mendaftar di IIUM:

Pertama: Pendaftaran berkas dan dokumen (bisa dikirim), melampirkan item-item berikut:
1. Uang pendaftaran RM 75 (Rp 260 ribu)
2. Fotocopy Ijazah dan transkrip dilegalisir masing-masing 3 lembar dengan nilai min. IPK 3.00, Good, Jayyid.
3. Terjemahan ijazah dan transkrip nilai dalam bahasa Inggris yang dilegalisir masing-masing 3 lembar.
4. Lima (5) lembar pas photo ukuran 4 x 6.
5. Dua rekomendasi (tazkiyah) dari perorangan/lembaga/ormas Islam yang dikenal (dalam bahasa Inggris diutamakan)
6. Proposal disertasi untuk program S3.
7. Bank Statement dan foto copy buku tabungan. (Surat ini adalah keterangan dari bank bahwa wali/sponsor memiliki rekening di bank bersangkutan dan mempunyai tabungan yang cukup untuk kuliah anak walinya. Surat tersebut ditujukan ke IIUM. Biasanya Bank sudah punya format untuk surat seperti ini tinggal diminta)
8. Sertifikat IELTS/TOEFL (Ini pilihan saja, kalau belum punya bisa mengikuti tes di IIUM setelah daftar ulang jika telah diterima secara administrasi)
9. Bisa dilampirkan juga fotocopy sertifikat prestasi atau kegiatan berprestise yang pernah diikuti. Dokumen ini bisa jadi pertimbangan tambahan panitia penerimaan MABA IIUM.

Kedua: Setelah berkas didaftarkan kita tunggu berkas-berkas tersebut diverifikasi sampai nanti mendapatkan Offer Letter (tanda terima). Tanda terima ini nanti dipakai untuk daftar ulang yang biasanya dilakukan 2 minggu sebelum perkuliahan dimulai. Semua dokumen asli yang dilampirkan ketika daftar sebelumnya wajib dibawa untuk verifikasi, kemudian pada fase ini kita membayar uang pendaftaran, administrasi, kesehatan, asuransi, dan uang kuliah semester pertama.

Ketiga: Setelah daftar ulang bagi mahasiswa yang tidak melampirkan sertifikat bahasa seperti TOEFL/IELTS, maka diwajibkan ikut test internal IIUM namanya EPT (English Proficiency Test) dan APT (Arabic Proficiency Test). Semua calon mahasiswa wajib mengikuti EPT, adapun APT hanya diikuti oleh calon mahasiswa yang akan masuk fakultas islamic studies seperti IRKHS (Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences) yang menggunakan pengantar bahasa Arab. Bagi lulusan Timur Tengah tidak perlu mengikuti APT, cukup memverifikasi ijazah sehingga APT dianggap lulus. Sementara EPT wajib diiikuti oleh semua calon mahasiswa.

Keempat: Ketika hasil diumumkan, selanjutnya ada proses administrasi lanjutan selama 2-4 hari. Jika nilai EPT/APT memenuhi standar, maka bisa langsung mengambil mata kuliah. Jika tidak maka calon mahasiswa harus ikut program kelas bahasa (CELPAD) dimana di setiap akhir semester tersebut akan diadakan tes EPT/APTkembali. Setelah mencapai nilai EPT/APT standar baru kemudian boleh mengikuti perkuliahan sesuai jurusan masing-masing.


Di samping itu, di IIUM ada dua kali gelombang masuk (intake), yaitu September (first semester) dan Februari (second semester). Untuk intake September, deadline-nya tanggal 31 Mei setiap tahunnya, Sedangkan untuk intake Februari, deadline-nya tanggal 18 November setiap tahun.

Kelima: Masa kuliah normal di IIUM untuk S1 4 tahun, S2 2 tahun, dan S3 3 tahun. 

Itulah proses yang akan dilalui jika ingin melanjutkan kuliah di IIUM.

INGAT... Saat ini IIUM adalah universitas international yang terjangkau dan kompetitif biaya kuliahnya di Malaysia. So, tentukan segera pilihan studi Anda!

For further information and registration, please kindly contact:

Jemmy Hendiko, Lc.
Master Student at IIUM

E-mail: jemmyhendiko55@gmail.com
Facebook: Jemmy Hendiko
Twitter: @JemmyHandy

Rabu, 09 Oktober 2013

Akhirnya Aku Berdakwah di Hadapan Bupati

Jujur, dalam berdakwah, aku bukanlah sosok yang piawai beretorika seperti ustadz-ustadz kondang yang kerap muncul di televisi. Aku bukan pula singa podium yang bisa dengan mudah memukau para audiens dan pendengar. Kemampuanku berceramah di atas mimbar cenderung biasa-biasa saja. Apalagi saat pertama kali didapuk menjadi khatib Jumat di masjid kampungku sekembali dari Mesir dulu. Lantaran sebelumnya jarang menyampaikan ceramah, kala itu aku dilanda demam panggung. Keringat dinginku berhamburan keluar, kendati akhirnya tugas tersebut bisa kutunaikan dengan baik. 

Memang, sejatinya dakwah tak melulu harus disampaikan di atas mimbar dengan gaya retorika yang berapi-api, namun sebagian besar masyarakat memandang bahwa orang yang belajar agama itu harus pandai berceramah. Sehingga mau tidak mau, kemampuan berbicara di depan publik harus benar-benar dilatih dan dikuasai oleh siapapun yang menekuni bidang agama, apalagi jika ia tamat dari sebuah universitas Islam. Hal ini sudah kusadari sejak duduk di bangku madrasah aliyah dulu, di samping dengan terus mengasah pena virtualku dengan cara berdakwah lewat tulisan. 

Dan di hari itu, seorang pejabat teras pemda kabupaten meneleponku pagi-pagi. Kebetulan ia seorang warga di kampungku, jadi aku mengenalnya dengan baik. Aku diminta untuk mengisi kajian dhuha di masjid kantor bupati sepekan ke depan. Ia menuturkan, bahwa acara tersebut adalah agenda bulanan di lingkungan pemda, yang juga akan dihadiri oleh bupati dan seluruh jajarannya. 

Tentu saja undangan itu menjadi kehormatan tersendiri bagiku, apalagi saat itu aku baru beberapa minggu menginjakkan kaki di kampung halaman. Kesempatan ini akan menjadi semacam personal branding untuk memperkenalkan diriku di hadapan bupati dan pejabat-pejabat teras di lingkungan pemda, sehingga pengaruh dakwahku nantinya kepada mereka bisa semakin dalam dan intens, di samping aku ingin sekali menyampaikan nilai-nilai Islam yang betul-betul berlandaskan Al-Quran dan Hadis dengan cara yang menggugah dan menyadarkan.  

Bukan apa-apa, aku kerap mendengar dari masyarakat bahwa kini di daerahku sudah semakin jarang dai yang berbicara dengan landasan ilmu. Dai-dai yang berceramah di masjid-masjid hanya mengulang-ulang apa yang sudah sering mereka sampaikan. Terlebih lagi banyak pula di antara mereka yang hanya berkelakar dan menyampaikan guyonan, bahkan naifnya dengan mempermainkan ayat-ayat dan hadis. Yang penting jamaah bisa terhibur dan tertawa terpingkal-pingkal. Na’ûdzubillâh. Betul-betul miris. Akhirnya, ceramah agama tak ubahnya ajang stand up comedy show. Nyaris tidak ada ilmu yang bisa diserap dan dibawa pulang. Pada gilirannya, jamaah jenuh, pengajian pun ditinggalkan.  

Saat itu pun tiba. Pagi itu, sebelum bupati dan jajarannya sampai, aku sudah berada di dalam masjid di kompleks perkantoran pemda tersebut. Para staf dan pegawai tampak sudah datang memenuhi masjid. Ketika itu aku diamanahkan oleh panitia untuk menyampaikan tafsir Surat Al-Fatihah. Berhari-hari aku mempersiapkan materi tersebut dengan membaca ragam kitab tafsir. 

Setelah acara dibuka dengan sambutan bupati, akhirnya sampailah giliranku untuk mengetengahkan kajian dhuha di pagi itu. Tafsir ayat demi ayat dari Surat Al-Fatihah aku bentangkan sedetail dan semenggugah mungkin. Bupati beserta para jajarannya itu tampak khusyuk mendengarkan pengajian yang aku uraikan. Selama lebih kurang satu jam lamanya aku berada di atas podium.

Setelah turun dari mimbar dan acara ditutup, bupati memanggilku untuk duduk bersama pejabat-pejabat lainnya. Aku lantas ditanyai tentang beberapa hal yang berkaitan dengan tema yang aku sampaikan tadi. Semuanya aku jawab sesuai dengan ilmu dan pemahaman yang kumiliki. Sesekali ia menyanggah, karena menurutnya apa yang aku sampaikan berbeda dari apa yang ia peroleh dari gurunya. Belakangan dari bisik-bisik panitia aku mengetahui, rupa-rupanya sang bupati memiliki “guru spiritual” sendiri, yang konon memiliki “pemahaman sendiri” pula. Kendati demikian, bupati tampak puas dengan penjelasanku, begitu pula dengan pejabat-pejabat itu.

Setelah bupati dan jajarannya beranjak, aku pun bersiap-siap pamit. Panitia menyampaikan terima kasih banyak atas kajian dhuha yang aku sampaikan di pagi itu. Dalam perjalanan pulang aku berandai-andai, sekiranya aku saja yang menjadi “guru spiritual” bagi bupati itu. :-) 

Kuala Lumpur, 10 Oktober 2013