Selasa, 31 Desember 2013

Mahasiswa Sebagai Duta Budaya dan Pariwisata Nusantara

Oleh: Jemmy Hendiko, Lc.

Indonesia adalah percikan sorga di muka bumi. Sepintas anekdot yang kerap terdengar dari mulut para wisatawan ini tak terlalu berlebihan. Tak dipungkiri, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang terkenal dengan kekayaan kultur dan keelokan geografisnya. Beragam suku, adat istiadat, kesenian, bahasa, dan keindahan alam bertabur dari Sabang sampai Merauke, dari barat ke timur. Menyatu dalam perpaduan Bhineka Tunggal Ika. Hanya saja, dengan kekayaan alam dan budaya yang kaya sedemikian rupa, sektor pariwisata di negeri ini agaknya masih saja tertinggal dari negara-negara lain, sebut saja dari negara-negara tetangga, semisal Malaysia dan Thailand. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan upaya promosi yang sepertinya belum tertangani secara serius dan optimal oleh pihak-pihak terkait.

Secara umum, data yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia pada tahun 2013 menyebutkan bahwa total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dari bulan Januari-Oktober lalu tercatat sebanyak 7.134.052 orang, sementara di periode yang sama pada tahun 2012 silam terdata sebesar 6.538.129 orang. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun terjadi peningkatan sekitar 8,56%.

Berdasarkan data tersebut, dari sembilan pintu masuk utama kedatangan wisatawan di seluruh Indonesia, sumber kedatangan terbesar wisatawan diperoleh melalui pintu masuk Bali, Jakarta, dan Batam, dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 10,50%, 9,49%, dan 8,00% dari tahun sebelumnya. Data tersebut juga memperlihatkan bahwa wisatawan terbanyak berasal dari Singapura, Malaysia, dan Australia.

Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah sepanjang dua tahun terakhir, mengapa hanya tiga lokasi ini saja yang ramai dituju oleh wisatawan dari luar negeri? Ada apa dengan kawasan-kawasan wisata di bahagian timur, tengah, dan barat Indonesia? Bagaimana cara menarik turis mancanegara lainnya untuk menyambangi daerah-daerah lain di nusantara? Indonesia tentu tidak hanya mempunyai Bali yang gaungnya bahkan mengalahkan nama Indonesia sendiri. Indonesia masih memiliki banyak budaya dan kawasan wisata lainnya yang tersebar di berbagai provinsi dan pulau. Di samping masalah pelayanan, keamanan, dan kenyamanan di kawasan objek wisata itu sendiri, agaknya aspek promosilah yang menjadi persoalan mendasar.

Kendati demikian, jika dibandingkan dengan Malaysia, popularitas Indonesia sebagai salah satu negara tujuan wisata tampaknya masih kalah saing. Menurut data United Nation’s World Tourism Organization (UNWTO), pada tahun 2011 lalu Malaysia menempati peringkat kesembilan dalam daftar wisata tersohor di dunia, bahkan tercatat sebagai negara destinasi wisata terpopuler kedua di Asia setelah China. Dalam beberapa tahun terakhir, Malaysia memang begitu gencar memajukan sektor pariwisatanya, salah satunya lewat program “Visit Malaysia Year” yang diluncurkan pertama kali pada tahun 1990 dengan mengambil tema “Fascinating Malaysia, Year of Festival”. Kala itu, Malaysia berhasil mendatangkan sebanyak 7,4 juta wisatawan asing dari 4,8 juta orang pada tahun 1989. Upaya promosi sektor pariwisata tersebut kemudian dilanjutkan pada tahun 1994 dan 2007 dengan mengangkat tema-tema yang mampu menarik wisatawan dan memperkenalkan “Orang Utan” sebagai maskot.

Pada perhelatan “Visit Malaysia Year” yang diadakan untuk ketiga kalinya pada tahun 2007, Negeri Jiran itu kian meningkatkan upaya promosi dan kampanye pariwisatanya. Program “Visit Malaysia Year” yang saat itu bertepatan dengan dirgahayu kemerdekaan Malaysia yang ke-50 digelar secara besar-besaran dengan menampilkan beragam kegiatan promosi dan kampanye, di antaranya 200 pergelaran budaya lintas negara dan 50 pergelaran lainnya yang menampilkan kekayaan pariwisata lokal di Malaysia. Tak tanggung-tanggung, selepas acara tersebut sukses digelar, wisatawan yang datang ke Malaysia seketika membludak. Tercatat sebanyak 20,97 juta wisatawan membanjiri Malaysia dalam kurun waktu satu tahun dengan total penerimaan dana sebesar RM 46,1 milyar! Benar-benar jumlah yang fantastis. Belum ada dalam sejarah pariwisata Indonesia capaian yang sehebat itu. Di sini, terlihat sekali arti dan kekuatan dari sebuah program promosi yang mampu menarik kunjungan wisatawan.

Pada tahun 2014 nanti, negara pimpinan Perdana Menteri Datuk Sri Najib Tun Razak itu kembali akan menggelar program serupa dengan mengangkat tema “Celebrating 1Malaysia, Truly Asia”. Sebuah tema yang merefleksikan keragaman dalam persatuan rakyat Malaysia. Dengan mengusung tema yang cukup meyakinkan itu, Malaysia seolah ingin mencitrakan bahwa negaranya merupakan kawasan Asia yang sesungguhnya. Dari program promosi pariwisata yang keempat kalinya dan direncanakan menjadi yang terbesar dan termegah ini, Malaysia menargetkan kunjungan wisatawan sebanyak 36 juta wisatawan dan penerimaan dana sebesar RM 168 milyar hingga tahun 2020, seperti yang tertera dalam the Malaysian Tourism Transformation Plan (MTTP) 2020.


Berkaca dari pengalaman Malaysia di atas, apa yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah Indonesia demi memajukan sektor pariwisata di Tanah Air? Ya, di samping membenahi aspek pelayanan, keamanan, dan kenyamanan dalam negeri, upaya promosi dan kampanye juga harus digenjot dan dilakukan secara besar-besaran. Pemerintah bisa mengajak semua lapisan masyarakat untuk terlibat dalam upaya ini. Promosi dan kampanye bisa dilakukan lewat media, peluncuran program tahun kunjungan wisata ke Indonesia, atau lewat perwakilan pemerintah di luar negeri, yang dalam hal ini adalah KBRI. Namun ada satu hal yang sepertinya terlupakan, peran mempromosikan sektor pariwisata nusantara ini juga bisa dilakukan oleh komunitas mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Mengapa demikian? Dengan pola interaksi yang luas dan pergaulan internasional multi-etnis yang terbangun di kampus, peran ini akan terasa maksimal di tangan mahasiswa.

Salah satu komunitas mahasiswa Indonesia di luar negeri yang mampu memainkan peran sebagai duta promosi budaya dan pariwisata nusantara adalah Persatuan Pelajar Indonesia – International Islamic University Malaysia (PPI-IIUM). Saat ini ada sekitar 800 mahasiswa Indonesia di semua jenjang yang tengah menimba ilmu di universitas Islam berlevel internasional di Negeri Jiran itu. Sedangkan di IIUM sendiri kini tercatat ada ribuan mahasiswa mancanegara yang berasal dari 80 negara. Melihat jumlah ini, saya melihat ada potensi besar untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata Indonesia kepada mereka di lingkungan kampus. Pun dengan jumlah mahasiswa dari berbagai negara yang meningkat dari tahun ke tahun, IIUM setiap tahun juga intens menggelar pekan atraksi seni dan budaya lintas negara bertajuk “Global Ummatic Festival” yang diikuti oleh puluhan perwakilan negara peserta. Tentu ini adalah kesempatan bagi setiap mahasiswa di lingkungan kampus IIUM untuk saling mengenal dan mempromosikan budaya dan pariwisata negara masing-masing.


Pada pergelaran “Global Ummatic Festival 2013” yang diadakan beberapa waktu yang lalu, Indonesia berhasil meraih gelar "The Best Cultural Performance" setelah di babak final mampu menyingkirkan perwakilan tuan rumah Malaysia, Singapura, dan Bangladesh. Pada tahun ini, ajang pergelaran seni dan budaya internasional yang menjadi agenda tahunan di IIUM itu diikuti oleh sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, India, China, Bangladesh, Afghanistan, Pakistan, Mesir, Yaman, Irak, Palestina, Yordania, Machedonia, Somalia, dan Nigeria.

Pada malam penutupan yang juga dihadiri oleh Rektor IIUM, Prof. Datuk Seri Dr. Zaleha Kamaruddin itu, Indonesia yang diwakili oleh sejumlah mahasiswa yang tengah menimba ilmu di IIUM, kembali mempertontonkan aksi mereka yang mengagumkan dengan mengangkat tema “Mutiara Nusantara”. Di hadapan ribuan penonton yang memadati gedung Cultural Activity Center (CAC), mereka dengan penuh percaya diri menampilkan tarian kreasi adat Papua dengan atraksi lompat bambu dan diiringi alat-alat musik daerah. Selepas itu, diketengahkan pula penampilan lagu-lagu daerah dari berbagai provinsi yang dinyanyikan secara bersambung. Saat pembukaan beberapa hari sebelumnya, mereka juga mengetengahkan penampilan serupa.

Sorak-sorak dan tepuk tangan dari ribuan penonton terdengar membahana di gedung CAC kala nama Indonesia diumumkan sebagai jawara dalam perhelatan “Global Ummatic Festival” itu. Dari informasi yang saya dengar, rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang tampil malam itu berlatih siang dan malam dan nyaris tidak tidur demi mempersiapkan penampilan spektakuler tersebut. Betapa tidak, di samping berlatih membawakan tari kreasi adat Papua, mereka harus mencari bambu yang akan digunakan dalam atraksi seni di atas panggung, membuat rumbai-rumbai dari tali, menghiasi kepala mereka dengan topi dari dedaunan, dan mencoret-coret wajah. Persis seperti suku pedalaman di Papua. Benar-benar pekerjaan yang tidak ringan. Salut.

Selain itu, acara yang dihelat sejak 8 November lalu itu juga memamerkan stan-stan pameran seni dan budaya dari perwakilan negara-negara peserta. Indonesia sendiri memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan kesenian, budaya, dan pariwisata Tanah Air, khususnya kepada para mahasiswa mancanegara yang belajar di IIUM. Selama sepekan pergelaran seni dan budaya lintas negara tersebut, Indonesia yang diwakili oleh PPI-IIUM gencar memperkenalkan berbagai kesenian, budaya, dan pariwisata nusantara kepada setiap mahasiswa asing yang berkunjung ke stan pameran. Di sana mereka memamerkan miniatur peta Indonesia, foto-foto tarian adat setiap daerah, pakaian adat, alat musik, kuliner, dan lokasi wisata yang terkenal di setiap pulau, dan berbagai kesenian lainnya. Saya melihat stan pameran Indonesia selalu ramai dikunjungi mahasiswa dari negara-negara lain. Mereka antusias bertanya tentang pakaian adat, alat musik, wayang, batik, dan wisata Pulau Bali tersohor itu. Rekan-rekan PPI-IIUM dengan penuh semangat pula menjelaskan kepada mereka. Tak jarang mereka minta berpose dengan mengenakan pakaian adat atau dengan latar miniatur peta nusantara yang dipamerkan di stan tersebut. Di bagian ini, tugas penanggungjawab juga tidak kalah beratnya. Demi mempersiapkan latar stan pameran, mereka harus mendesain miniatur peta Indonesia jauh-jauh hari sebelumnya, mempersiapkan aneka pakaian adat, alat musik, dan gambar-gambar lokasi wisata. Upaya yang sangat patut diacungi jempol.  


Dari sini, saya melihat bahwa peran mahasiswa, terlebih lagi mahasiswa yang belajar di luar negeri tidak hanya sebagai insan akademis. Mereka juga bisa berperan sebagai duta pariwisata di negara tempat mereka merantau. Mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia kepada warga negara lain yang mereka temui, baik itu di lingkungan kampus ataupun di lingkungan tempat mereka bersosialisasi. Dengan begitu, setidaknya mahasiswa sudah membantu program pemerintah dalam upaya mempromosikan budaya dan pariwisata nusantara ke kancah global. Pada gilirannya, kita harapkan citra Indonesia sebagai percikan sorga di muka bumi semakin dikenal oleh dunia, sehingga para wisatawan dari mancanegara terus berdatangan. Jika negara lain saja bisa, kenapa kita tidak?



*Esai ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Esai Gema Ilmiah Ankara (GIA) Turki 2013 dengan tema "Mempromosikan Kekayaan Budaya Indonesia". Doakan semoga juara ya. :-)

*Tulisan ini dimuat pula dalam majalah "Suara Nusantara" Yayasan Ikatan Rakyat Malaysia Indonesia (YIRMI) edisi Januari 2015.