Oleh: Jemmy Hendiko, Lc.
Indonesia adalah percikan sorga di muka bumi. Sepintas
anekdot yang kerap terdengar dari mulut para wisatawan ini tak terlalu
berlebihan. Tak dipungkiri, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang
terkenal dengan kekayaan kultur dan keelokan geografisnya. Beragam suku, adat
istiadat, kesenian, bahasa, dan keindahan alam bertabur dari Sabang sampai
Merauke, dari barat ke timur. Menyatu dalam perpaduan Bhineka Tunggal Ika. Hanya
saja, dengan kekayaan alam dan budaya yang kaya sedemikian rupa, sektor
pariwisata di negeri ini agaknya masih saja tertinggal dari negara-negara lain,
sebut saja dari negara-negara tetangga, semisal Malaysia dan Thailand. Mengapa
demikian? Hal ini dikarenakan upaya promosi yang sepertinya belum tertangani
secara serius dan optimal oleh pihak-pihak terkait.
Secara umum, data yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Republik Indonesia pada tahun 2013 menyebutkan bahwa total
kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dari bulan Januari-Oktober lalu
tercatat sebanyak 7.134.052 orang, sementara di periode yang sama pada tahun
2012 silam terdata sebesar 6.538.129 orang. Artinya, dalam kurun waktu satu
tahun terjadi peningkatan sekitar 8,56%.
Berdasarkan data tersebut, dari sembilan pintu masuk utama kedatangan
wisatawan di seluruh Indonesia, sumber kedatangan terbesar wisatawan diperoleh melalui
pintu masuk Bali, Jakarta, dan Batam, dengan pertumbuhan masing-masing sebesar
10,50%, 9,49%, dan 8,00% dari tahun sebelumnya. Data tersebut juga
memperlihatkan bahwa wisatawan terbanyak berasal dari Singapura, Malaysia, dan
Australia.
Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah sepanjang dua
tahun terakhir, mengapa hanya tiga lokasi ini saja yang ramai dituju oleh wisatawan
dari luar negeri? Ada apa dengan kawasan-kawasan wisata di bahagian timur,
tengah, dan barat Indonesia? Bagaimana cara menarik turis mancanegara lainnya untuk
menyambangi daerah-daerah lain di nusantara? Indonesia tentu tidak hanya
mempunyai Bali yang gaungnya bahkan mengalahkan nama Indonesia sendiri.
Indonesia masih memiliki banyak budaya dan kawasan wisata lainnya yang tersebar
di berbagai provinsi dan pulau. Di samping masalah pelayanan, keamanan, dan
kenyamanan di kawasan objek wisata itu sendiri, agaknya aspek promosilah yang
menjadi persoalan mendasar.
Kendati demikian, jika dibandingkan dengan Malaysia,
popularitas Indonesia sebagai salah satu negara tujuan wisata tampaknya masih
kalah saing. Menurut data United Nation’s World Tourism Organization (UNWTO),
pada tahun 2011 lalu Malaysia menempati peringkat kesembilan dalam daftar
wisata tersohor di dunia, bahkan tercatat sebagai negara destinasi wisata
terpopuler kedua di Asia setelah China. Dalam beberapa tahun terakhir, Malaysia
memang begitu gencar memajukan sektor pariwisatanya, salah satunya lewat
program “Visit Malaysia Year” yang diluncurkan pertama kali pada tahun 1990
dengan mengambil tema “Fascinating Malaysia, Year of Festival”. Kala itu,
Malaysia berhasil mendatangkan sebanyak 7,4 juta wisatawan asing dari 4,8 juta
orang pada tahun 1989. Upaya promosi sektor pariwisata tersebut kemudian dilanjutkan
pada tahun 1994 dan 2007 dengan mengangkat tema-tema yang mampu menarik
wisatawan dan memperkenalkan “Orang Utan” sebagai maskot.
Pada perhelatan “Visit Malaysia Year” yang diadakan untuk
ketiga kalinya pada tahun 2007, Negeri Jiran itu kian meningkatkan upaya promosi
dan kampanye pariwisatanya. Program “Visit Malaysia Year” yang saat itu
bertepatan dengan dirgahayu kemerdekaan Malaysia yang ke-50 digelar secara
besar-besaran dengan menampilkan beragam kegiatan promosi dan kampanye, di
antaranya 200 pergelaran budaya lintas negara dan 50 pergelaran lainnya yang
menampilkan kekayaan pariwisata lokal di Malaysia. Tak tanggung-tanggung, selepas
acara tersebut sukses digelar, wisatawan yang datang ke Malaysia seketika membludak.
Tercatat sebanyak 20,97 juta wisatawan membanjiri Malaysia dalam kurun waktu satu
tahun dengan total penerimaan dana sebesar RM 46,1 milyar! Benar-benar jumlah
yang fantastis. Belum ada dalam sejarah pariwisata Indonesia capaian yang
sehebat itu. Di sini, terlihat sekali arti dan kekuatan dari sebuah program promosi
yang mampu menarik kunjungan wisatawan.
Pada tahun 2014 nanti, negara pimpinan Perdana Menteri Datuk Sri Najib Tun Razak itu kembali akan menggelar program serupa dengan mengangkat tema “Celebrating 1Malaysia, Truly Asia”. Sebuah tema yang merefleksikan keragaman dalam persatuan rakyat Malaysia. Dengan mengusung tema yang cukup meyakinkan itu, Malaysia seolah ingin mencitrakan bahwa negaranya merupakan kawasan Asia yang sesungguhnya. Dari program promosi pariwisata yang keempat kalinya dan direncanakan menjadi yang terbesar dan termegah ini, Malaysia menargetkan kunjungan wisatawan sebanyak 36 juta wisatawan dan penerimaan dana sebesar RM 168 milyar hingga tahun 2020, seperti yang tertera dalam the Malaysian Tourism Transformation Plan (MTTP) 2020.
Berkaca dari pengalaman Malaysia di atas, apa yang sebaiknya
dilakukan oleh pemerintah Indonesia demi memajukan sektor pariwisata di Tanah
Air? Ya, di samping membenahi aspek pelayanan, keamanan, dan kenyamanan dalam
negeri, upaya promosi dan kampanye juga harus digenjot dan dilakukan secara
besar-besaran. Pemerintah bisa mengajak semua lapisan masyarakat untuk terlibat
dalam upaya ini. Promosi dan kampanye bisa dilakukan lewat media, peluncuran
program tahun kunjungan wisata ke Indonesia, atau lewat perwakilan pemerintah
di luar negeri, yang dalam hal ini adalah KBRI. Namun ada satu hal yang
sepertinya terlupakan, peran mempromosikan sektor pariwisata nusantara ini juga
bisa dilakukan oleh komunitas mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Mengapa
demikian? Dengan pola interaksi yang luas dan pergaulan internasional multi-etnis
yang terbangun di kampus, peran ini akan terasa maksimal di tangan mahasiswa.
Salah satu komunitas mahasiswa Indonesia di luar negeri yang
mampu memainkan peran sebagai duta promosi budaya dan pariwisata nusantara
adalah Persatuan Pelajar Indonesia – International Islamic University Malaysia
(PPI-IIUM). Saat ini ada sekitar 800 mahasiswa Indonesia di semua jenjang yang tengah
menimba ilmu di universitas Islam berlevel internasional di Negeri Jiran itu. Sedangkan
di IIUM sendiri kini tercatat ada ribuan mahasiswa mancanegara yang berasal dari
80 negara. Melihat jumlah ini, saya melihat ada potensi besar untuk
memperkenalkan budaya dan pariwisata Indonesia kepada mereka di lingkungan
kampus. Pun dengan jumlah mahasiswa dari berbagai negara yang meningkat dari
tahun ke tahun, IIUM setiap tahun juga intens menggelar pekan atraksi seni dan
budaya lintas negara bertajuk “Global Ummatic Festival” yang diikuti oleh
puluhan perwakilan negara peserta. Tentu ini adalah kesempatan bagi setiap
mahasiswa di lingkungan kampus IIUM untuk saling mengenal dan mempromosikan
budaya dan pariwisata negara masing-masing.
Pada pergelaran “Global Ummatic Festival 2013” yang diadakan
beberapa waktu yang lalu, Indonesia berhasil meraih gelar "The Best Cultural
Performance" setelah di babak final mampu menyingkirkan perwakilan tuan
rumah Malaysia, Singapura, dan Bangladesh. Pada tahun ini, ajang pergelaran
seni dan budaya internasional yang menjadi agenda tahunan di IIUM itu diikuti
oleh sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand,
India, China, Bangladesh, Afghanistan, Pakistan, Mesir, Yaman, Irak, Palestina,
Yordania, Machedonia, Somalia, dan Nigeria.
Pada malam penutupan yang juga dihadiri oleh Rektor IIUM,
Prof. Datuk Seri Dr. Zaleha Kamaruddin itu, Indonesia yang diwakili oleh
sejumlah mahasiswa yang tengah menimba ilmu di IIUM, kembali mempertontonkan
aksi mereka yang mengagumkan dengan mengangkat tema “Mutiara Nusantara”. Di
hadapan ribuan penonton yang memadati gedung Cultural Activity Center (CAC),
mereka dengan penuh percaya diri menampilkan tarian kreasi adat Papua dengan atraksi
lompat bambu dan diiringi alat-alat musik daerah. Selepas itu, diketengahkan
pula penampilan lagu-lagu daerah dari berbagai provinsi yang dinyanyikan secara
bersambung. Saat pembukaan beberapa hari sebelumnya, mereka juga mengetengahkan
penampilan serupa.
Sorak-sorak dan tepuk tangan dari ribuan penonton terdengar
membahana di gedung CAC kala nama Indonesia diumumkan sebagai jawara dalam
perhelatan “Global Ummatic Festival” itu. Dari informasi yang saya dengar,
rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang tampil malam itu berlatih siang dan malam
dan nyaris tidak tidur demi mempersiapkan penampilan spektakuler tersebut. Betapa
tidak, di samping berlatih membawakan tari kreasi adat Papua, mereka harus
mencari bambu yang akan digunakan dalam atraksi seni di atas panggung, membuat
rumbai-rumbai dari tali, menghiasi kepala mereka dengan topi dari dedaunan, dan
mencoret-coret wajah. Persis seperti suku pedalaman di Papua. Benar-benar
pekerjaan yang tidak ringan. Salut.
Selain itu, acara yang dihelat sejak 8 November lalu itu juga
memamerkan stan-stan pameran seni dan budaya dari perwakilan negara-negara
peserta. Indonesia sendiri memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan
kesenian, budaya, dan pariwisata Tanah Air, khususnya kepada para mahasiswa
mancanegara yang belajar di IIUM. Selama sepekan pergelaran seni dan budaya
lintas negara tersebut, Indonesia yang diwakili oleh PPI-IIUM gencar memperkenalkan
berbagai kesenian, budaya, dan pariwisata nusantara kepada setiap mahasiswa
asing yang berkunjung ke stan pameran. Di sana mereka memamerkan miniatur peta
Indonesia, foto-foto tarian adat setiap daerah, pakaian adat, alat musik,
kuliner, dan lokasi wisata yang terkenal di setiap pulau, dan berbagai kesenian
lainnya. Saya melihat stan pameran Indonesia selalu ramai dikunjungi mahasiswa
dari negara-negara lain. Mereka antusias bertanya tentang pakaian adat, alat
musik, wayang, batik, dan wisata Pulau Bali tersohor itu. Rekan-rekan PPI-IIUM
dengan penuh semangat pula menjelaskan kepada mereka. Tak jarang mereka minta
berpose dengan mengenakan pakaian adat atau dengan latar miniatur peta
nusantara yang dipamerkan di stan tersebut. Di bagian ini, tugas penanggungjawab
juga tidak kalah beratnya. Demi mempersiapkan latar stan pameran, mereka harus
mendesain miniatur peta Indonesia jauh-jauh hari sebelumnya, mempersiapkan
aneka pakaian adat, alat musik, dan gambar-gambar lokasi wisata. Upaya yang
sangat patut diacungi jempol.
Dari sini, saya melihat bahwa peran mahasiswa, terlebih lagi
mahasiswa yang belajar di luar negeri tidak hanya sebagai insan akademis.
Mereka juga bisa berperan sebagai duta pariwisata di negara tempat mereka
merantau. Mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia kepada warga negara
lain yang mereka temui, baik itu di lingkungan kampus ataupun di lingkungan
tempat mereka bersosialisasi. Dengan begitu, setidaknya mahasiswa sudah
membantu program pemerintah dalam upaya mempromosikan budaya dan pariwisata
nusantara ke kancah global. Pada gilirannya, kita harapkan citra Indonesia
sebagai percikan sorga di muka bumi semakin dikenal oleh dunia, sehingga para
wisatawan dari mancanegara terus berdatangan. Jika negara lain saja bisa,
kenapa kita tidak?
*Esai ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Esai Gema Ilmiah Ankara (GIA) Turki 2013 dengan tema "Mempromosikan Kekayaan Budaya Indonesia". Doakan semoga juara ya. :-)
*Tulisan ini dimuat pula dalam majalah "Suara Nusantara" Yayasan Ikatan Rakyat Malaysia Indonesia (YIRMI) edisi Januari 2015.
*Tulisan ini dimuat pula dalam majalah "Suara Nusantara" Yayasan Ikatan Rakyat Malaysia Indonesia (YIRMI) edisi Januari 2015.



