Jumat, 29 November 2013

[LOMBA MENULIS RESENSI NOVEL 12 MENIT]

Judul Buku    : 12 Menit
Penulis            : Oka Aurora
Penerbit          : Noura Books
Harga               : Rp. 54.000,-
Cetakan           : I, Mei 2013
Tebal                : xiv + 348 halaman
ISBN                 : 978-602-7816-33-6
Resensor        : Jemmy Hendiko



12 Menit; Novel Atau Promosi Grup Marching Band?

Saat pertama kali mengetahui novel ini dari sebuah laman internet, seketika saya dibuat penasaran dan ingin segera membaca. Apalagi dalam ulasan singkatnya disebutkan bahwa novel ini bercerita tentang perjuangan sebuah tim marching band di Bontang, Kalimantan Timur untuk berlaga dalam kompetisi marching band tingkat nasional. Ditambah pula dengan desain cover yang cukup eye catching dengan tulisan “12 Menit” di antara rak-rak kayu berwarna biru elegan, yang dipadu dengan beberapa benda yang akrab dengan dunia marching band, seperti stik drum, trompet, dan topi khas pemain marching band. Secarik tulisan “Nantikan Filmnya” yang menempel di sampul depan kian me-endorsement buku ini untuk dibolak-balik. Wah, ini pasti menarik. Jarang ada novel yang mengangkat tema seputar marching band, pikir saya kala itu.

Setelah novel besutan tangan Oka Aurora ini sampai ke tangan saya di Kuala Lumpur beberapa waktu yang lalu, langsung saja saya lahap dari halaman ke halaman. Adalah tak mudah bagi saya untuk memperoleh buku ini, sebab saya harus menitipkannya lewat seorang teman yang pulang ke Padang dan baru kembali ke Malaysia sebulan kemudian. Lantas, pertanyaan pertama yang menyeruak di pikiran saya kala membuka halaman pertama dari novel perdana Oka Aurora ini adalah mengapa kisah ini bertajuk “12 Menit”? Ada apa dengan “12 Menit”? Jawaban dari tanda tanya ini akhirnya saya temukan pada bab 16, dimana Rene yang berperan sebagai pelatih utama tim Marching Band Bontang PKT tersebut berkata dengan berapi-api kepada anak didiknya, “Dalam dua belas minggu ke depan, kita akan habiskan ratusan jam, siang dan malam, demi dua belas menit. Dua belas menit di Istora nanti.” (halaman 83)

Di sinilah inti cerita dari novel yang terinspirasi dari kisah nyata ini. Ya, perjuangan dan latihan keras selama ratusan jam harus dikorbankan demi kompetisi yang hanya berdurasi dua belas menit. Satu hal yang menarik adalah ide cerita yang diketengahkan dalam novel ini sudah terlebih dahulu menjadi skenario film, baru kemudian dinovelkan. Agak berbeda dengan film-film yang biasanya diangkat dari sejumlah novel, terutama novel-novel best seller. Dengan kata lain, novel ini adalah adaptasi dari sebuah film.

Bagi saya pribadi, ada kesan tersendiri kala membaca novel 12 Menit ini. Betapa mozaik-mozaiknya mampu memutar kembali kenangan yang pernah saya alami di masa-masa SMP dulu. Ya, perjuangan tokoh-tokoh yang bermimpi dan berusaha keras demi memenangkan kompetisi Grand Prix Marching Band (GPMB) tingkat nasional tersebut seketika mengingatkan saya bahwa dahulunya di masa-masa remaja, saya pernah pula menjadi bagian dari sebuah tim drum band milik sekolah, yang dalam acara-acara tertentu disulap menjadi semacam tim marching band mini, namun tanpa pasukan trompet. Drum band yang dimiliki sekolah kami itu adalah satu dari beberapa tim drum band yang cukup populer dan dikenal sekabupaten. Hingga di acara-acara bergengsi yang dihelat setiap tahun di level kabupaten, semisal upacara peringatan 17 Agustus, upacara Hari Pahlawan, sampai aneka rupa pawai massal dan budaya, sudah dipastikan tim drum band sekolah kami didapuk sebagai kelompok musik pengiring yang tampil di garda depan.

Sampai pada suatu ketika, kami yang beranggotakan puluhan siswa laki-laki dan perempuan itu harus memacu bulir-bulir adrenalin lebih kencang dari biasanya dan berlipat-lipat meningkatkan kesungguhan dan kedisiplinan dalam berlatih, ketika sebuah surat dari Dinas Pendidikan Kabupaten menunjuk tim drum band sekolah kami sebagai delegasi kabupaten guna mengikuti kompetisi drum band tingkat propinsi. Tak pelak, durasi latihan yang biasanya hanya sepekan sekali, tiba-tiba harus ditingkatkan menjadi tiga kali dalam sepekan demi memenangkan kompetisi drum band tersebut. Berlatih dan berlatih selama ratusan jam di tengah terik panas dan guyuran hujan. Singkat cerita, setelah melewati rangkaian latihan demi latihan yang melelahkan, tim drum band kami kala itu dapat berjuang dengan penuh percaya diri melawan puluhan tim lainnya seprovinsi, tampil maksimal di hadapan para juri, dan akhirnya masuk lima besar kelompok drum band terbaik.  
Adapun tokoh-tokoh utama dalam novel ini, maka sejatinya mereka seumpama para pelatih dan teman-teman satu tim saya dahulunya, yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Adalah Tara, salah seorang tokoh sentral yang mula-mula dimunculkan di babak-babak awal. Gadis berjilbab yang memulai perjuangannya di Marching Band Bontang sebagai anggota cadet band, alias anggota junior yang hanya sibuk dengan latihan baris-berbaris dan melatih kombinasi pukulan kanan-kiri, kanan-kiri. Latihan yang cenderung membosankan. Aktivitas marching band yang menuntut kemampuan musikalitas dan membedakan bunyi nada dengan baik, menjadi masalah tersendiri bagi Tara. Betapa tidak, remaja berbakat ini mengalami masalah dengan pendengarannya akibat kecelakaan yang juga merenggut nyawa ayahnya. Di saat yang sama, ibunya pergi merantau ke Inggris demi melanjutkan studi dan meninggalkannya bersama opa dan omanya. Keterbatasan pendengarannya tersebut membuat ia harus bergantung dengan alat bantu dengar yang senantiasa ia bawa ke mana-mana, namun celakanya tidak begitu membantu. Konflik batin yang dialami Tara terbilang kompleks dan mampu memantik simpati pembaca. Kelemahan daya dengarnya membuat ia sering dibentak dan diomeli oleh pelatih, karena dianggap tidak fokus, tidak becus, dan tidak serius berlatih. Pada gilirannya, Tara memutuskan untuk berhenti dari dunia marching band, kendati kemudian ia kembali lagi setelah diyakinkan oleh opa dan oma yang sangat menyayanginya. Di antara kalimat-kalimat penyemangat sang opa untuk Tara yang membuat saya tertegun adalah: “Kadang-kadang, hidup itu, ya, kayak gitu, Dek. Kayak dorong mobil di tanjakan,” jelas Opa. “susah. Berat. Capek. Tapi, kalau terus didorong, dan terus didoain, insya Allah akan sampai.” (halaman 160)

Berikutnya Rene, pelatih tim Marching Band Bontang PKT. Gadis muda berkarakter tegas, disiplin, cerewet, keras kepala, dan suka mengomel. Khas pelatih marching band yang selalu ingin sempurna dalam segala hal. Ia adalah jebolan fakultas Music Education and Human Learning di Amerika yang begitu terobsesi dengan dunia marching band sejak SMA. Selama di Amerika, Rene bahkan bertekad untuk membiayai hidupnya dari bermusik, sampai akhirnya ia bergabung ke Phantom Regiment, sebuah tim marching band profesional berskala internasional dan memegang posisi yang cukup berpengaruh. Dengan pengalamannya yang cemerlang tersebut, ia telah berhasil memenangkan grup marching band sebuah perusahaan di Jakarta dalam kompetisi GPMB selama tiga kali berturut-turut. Masalah kemudian timbul saat Rene dipinang sebagai pelatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim untuk membawa tim tersebut ke ajang GPMB tingkat nasional. Awalnya ia tak mengiyakan, karena mengkhawatirkan ibunya yang tinggal sendiri setelah ditinggal wafat sang ayah. Namun, kala ia sudah resmi sebagai pelatih, masalah demi masalah datang menghampirinya. Ia melihat anak-anak Bontang sangat berbeda dengan murid-muridnya di Jakarta dulu. Anak-anak Bontang selalu merasa “kecil” karena berasal dari daerah. Mereka sudah berpikir kalah sejak awal. Tak pelak, Rene pun kewalahan. Masalah yang mereka hadapi ternyata bukan soal tekhnis semata, namun lebih kepada bagaimana membangun kepercayaan diri, ditambah pula dengan personel demi personel yang keluar masuk begitu saja.

Elaine. Gadis belia blasteran Indonesia-Jepang yang sangat tertarik dengan dunia musik. Sebelum pindah ke Bontang, ia adalah seorang pemain biola di sebuah sekolah internasional di Jakarta. Ia terpaksa pindah ke kota kecil di Kalimantan Timur itu demi mengikuti sang ayah yang dipindahtugaskan ke sana. Ayah Elaine, Jusuke Higoshi adalah sosok pria Jepang pekerja keras, disiplin, dan perfeksionis. Khas orang Jepang kebanyakan. Sang ayah tidak mengizinkan Elaine bergabung ke grup marching band tersebut, karena ia menginginkan puteri semata wayangnya itu menjadi ilmuwan. Marching band, di matanya, adalah sia-sia dan tidak bisa memberikan jaminan hidup. Namun, di saat yang sama, Elaine terpilih sebagai field commander yang menggantikan Ronny yang mengalami kecelakaan. Konflik Elaine dengan ayahnya kian meruncing kala gadis tersebut membuang peluang emas mengikuti Olimpiade Fisika dan lebih memilih berlaga ke GPMB di Jakarta. Salah satu karakter Elaine yang membuat saya angkat topi dalam novel ini adalah kebiasaannya yang tidak tega membuang sampah sembarangan, sehingga ia selalu membawa plastik kresek yang dilipat kecil-kecil untuk membuang sampah-sampah pribadinya, lalu ia buang jika nanti sudah menemukan tempat sampah.

Selanjutnya, Lahang. Putera Dayak pedalaman yang harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk sampai ke lokasi latihan marching band. Lahang hidup miskin bersama ayahnya yang sering sakit-sakitan, sementara ibunya sudah terlebih dahulu meninggal dunia. Dilema yang dihadapi Lahang tak kalah mengharukan dengan apa yang dihadapi Elaine. Suatu saat ia harus memilih apakah harus merawat ayahnya yang sakit keras atau berangkat ke Jakarta demi mewujudkan mimpinya. Malangnya, saat ia telah sampai di Jakarta, ayahnya wafat.

Sejatinya, Novel 12 Menit bertutur tentang perjuangan meraih mimpi. Di halaman awal dituliskan sepotong ayat yang menjadi landasan penguat ide cerita, yaitu “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d [13]: 11) Demikian pula, dalam novel ini bertabur kata-kata dan ungkapan yang mampu memantik semangat positif pembaca, seperti “Dreaming is believing”. Ya, bahwa bermimpi itu adalah soal percaya atau tidak. Bagaimana membangun kepercayaan diri demi mewujudkan mimpi dan bagaimana mempercayakannya kepada Tuhan. Di titik ini, saya teringat dengan ungkapan senada yang dipopulerkan oleh Andrea Hirata dalam novel “Sang Pemimpi”, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Selain itu, ada ungkapan ayah Lahang yang cukup memberikan daya setrum hebat dalam novel ini, “Berapapun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan, karena ketakutan, anakku, tidak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu hanya keberanian”. (halaman 104)

Terlepas dari semua itu, poin menarik dan menjadi nilai tambah adalah perjuangan meraih mimpi tersebut dikemas oleh Oka Aurora dalam kisah tim marching band dengan setting kekinian, sehingga upaya mewujudkan mimpi kolektif dan misi bersama terasa lebih kentara. Sangat berbeda dengan novel-novel bergenre serupa yang biasanya cenderung menitikberatkan pada kisah mengejar mimpi atau cita-cita pribadi, seperti cerita tentang kuliah ke luar negeri atau perjuangan menjadi “sesuatu” yang diidam-idamkan.

Kendati demikian, kekurangan novel ini menurut saya berada pada tokoh Rob yang karakternya tidak begitu dieksplorasi oleh Oka dan hanya ditayangkan sepintas lalu pada segelintir bab. Padahal, di awal cerita saya sudah menduga-duga bahwa Rob-lah yang akan menjadi lakon sentral. Rob sangat mewakili karakter pekerja keras dan pengejar mimpi yang ingin ditonjolkan dalam novel ini. Di bab 3 misalnya, diceritakan betapa Rob sudah mengagumi dunia marching band sejak masih dalam gendongan. Saat ia baru mulai belajar berjalan, bicara, hingga duduk sendiri, ia sudah diizinkan untuk menyentuh beberapa alat oleh ayahnya yang merupakan seorang pelatih marching band. Hingga saat usianya menginjak sepuluh tahun, Rob sudah terpilih sebagai anggota inti termuda di grup Marching Band Pupuk Kalimantan Timur sebagai pemain trompet, dimana kemampuan tekhnisnya mampu bersaing kuat dengan para seniornya. Bahkan, yang mengagumkan, saat usianya tujuh belas tahun, ia berhasil diterima sebagai anggota The Blue Devils, sebuah drum corps terbaik di Amerika. Selain itu, jika dibandingkan dengan novel-novel bertema serupa, pendeskripsian Oka terhadap narasi cerita rasanya tidak terlalu bertenaga. Dengan kata lain, pemilihan diksi dan kata-kata tidak begitu memukau pembaca. Kekuatan novel ini menurut saya lebih berada pada alur dan plot.

Lebih jauh, saat mula-mula membaca novel ini, tiba-tiba saja saya dilanda penasaran dengan nama Marching Band Bontang Pupuk Kalimantan Timur yang menjadi alasan novel ini ditulis. Setelah googling sana-sini, rupa-rupanya tim marching band yang berasal dari Bontang tersebut tidak sekecil yang divisualisasikan dalam novel 12 Menit. Grup marching band yang lebih populer dengan singkatan MB-PKT itu ternyata sudah pernah meraih sepuluh kali juara umum dalam kejuaraan Grand Prix Marching Band (GPMB) tingkat nasional, beberapa kali di antaranya diperoleh secara berturut-turut. Ya, tim MB-PKT ini adalah grup marching band elit dan disegani. Namun, sepertinya publik tak begitu mengenal nama MB-PKT, termasuk saya sendiri, apalagi dunia marching band nyatanya tidak begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia.

Dalam sejarahnya dikemukakan, bahwa pada awalnya grup musik ini adalah kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa-siswi SMP dan SMA Yayasan Pupuk Kaltim dan dilatih secara serius untuk dapat tampil pada perayaan HUT PT Pupuk Kaltim tahun 1989 di Jakarta. Pada perkembangannya, tim yang beranggotakan 130 orang itu kemudian diikutsertakan dalam ajang GPMB di tahun 1990 dan mulai mengembangkan sistem kepelatihan dan regenerasi dengan mendatangkan pelatih asing, yaitu Andy Dougharty dan Rene Conway sebagai pelatih tetap. Sejak saat itu pula, keanggotaan yang sebelumnya hanya dibatasi pada siswa-siswi Yayasan Pupuk Kaltim dirubah total dengan menerima keikutsertaan masyarakat sekitar.

Atas dasar fakta di atas, saya berasumsi bahwa di antara tujuan diangkatnya novel yang tak lama lagi film-nya akan segera tayang ini adalah untuk mempromosikan grup Marching Band Bontang Pupuk Kalimantan Timur (MB-PKT) secara lebih luas kepada masyarakat. Sebab, rasanya sedikit janggal bila sebuah tim marching band yang berkali-kali menjadi jawara tingkat nasional namun gaungnya hanya dikenal oleh kalangan tertentu saja.

Terakhir, kehadiran novel ini seakan ingin mempertegas dan mengingatkan kembali bahwa mimpi apapun harus diraih dengan kerja keras dan jiwa pantang menyerah. Tak ada mimpi dan cita-cita yang bisa digapai dengan mudah. Seperti kata Oka, “Tak ada yang instan di dunia ini. Tak ada. Kecuali mungkin mie. Oh, dan kopi.” 


Resensi ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit yang diadakan oleh Noura Books.