Selasa, 23 Desember 2014

[Notes from Kuala Lumpur] Berguru dari Pak Cik Sofyan

Pak Cik Sofyan, demikian aku menyebut namanya. Aku mengenal beliau sebagai paman jauh dari pihak ibuku. Artinya, beliau adalah keponakan kakekku, kendati bukan keponakan kandung. Sebelum terbang ke Negeri Jiran guna melanjutkan pengembaraan ilmu, aku hanya memperoleh informasi singkat tentang beliau dari ayah dan ibuku. Bahwa kami memiliki kerabat dekat dan telah lama menetap di Malaysia.

Singkat cerita, di Negeri Jiran ini akhirnya aku bertemu bahkan tinggal di rumah beliau. Dalam pengamatanku, Pak Cik Sofyan adalah sosok yang sangat gigih dan disiplin. Beliau pernah menuturkan kepadaku, bahwa dahulunya ia datang ke Malaysia di tahun 1980-an dengan modal nol dan tidak memiliki bekal pendidikan tinggi sepertiku, kecuali hanya selembar ijazah PGA yang tidak bisa digunakan di Malaysia. Maka, mulailah ia bekerja melakukan apa saja, dari buruh bangunan sampai membuka rumah makan kecil-kecilan.

Menariknya, istri beliau sekarang dahulunya adalah guru SMP berstatus PNS di sebuah daerah di Sumatera Barat. Karena berjodoh, ia lalu meninggalkan profesi yang diidam-idamkan oleh banyak orang itu demi mengikuti jejak suaminya ke Malaysia.

Setelah menikah, mereka memulai segalanya dari bawah dengan kehidupan yang sederhana. Tapi, bukan hidup namanya jika ia tidak berputar. Berkat kesungguhan, hubungan baiknya dengan orang-orang, dan kedekatannya dengan Tuhan, siapa yang menyangka bila di kemudian hari Pak Cik Sofyan ditakdirkan menjadi anggota parlemen di sini? Bahkan apa yang dicapai anak-anaknya kini, jauh melampaui apa yang ia perkirakan. Anak pertama kuliah di Jerman, anak kedua di Chekoslovakia, anak ketiga di Jepang, sedangkan anak bungsunya diproyeksikan ke Timur Tengah, dan semuanya dengan beasiswa!  


“Saat menjadi anggota parlemen, Pak Cik tidak pernah sepeserpun memakan apa yang bukan menjadi hak Pak Cik. Jika Pak Cik yang tak berpendidikan saja mampu sampai pada titik ini, engkau harus lebih mampu lagi, Jamil,” ungkapnya kepadaku. Sungguh, nasehat beliau itulah yang membuatku tetap tegar mengejar mimpi sampai detik ini. 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi menulis #MenjagaApi yang diselenggarakan oleh Penerbit Buku Kompas (PT. Kompas Media Nusantara).

 

Jumat, 02 Mei 2014

[Notes from Kuala Lumpur] Masjid An-Nur dan Lelaki Palestina

Malam ini, selepas shalat Isya didirikan di Masjid An-Nur Wira Damai, jamaah dikagetkan dengan pemandangan di bagian belakang masjid. Di sana terlihat seorang lelaki paruh baya berwajah Arab bersama seorang bocah laki-laki yang kira-kira berusia delapan tahun. Di lehernya terpasang syal berbendera Palestina, begitu pula di leher sang anak. Ia berdiri di sekat belakang masjid dengan menggelar selembar sajadah. 

Yang membuat hati miris, kaki sebelah kiri laki-laki paruh baya tersebut terlihat sudah putus hingga ke bagian paha, sehingga ia harus menyangga tubuhnya dengan bantuan sebatang tongkat agar tetap bisa berdiri. Siapapun yang melihat hal demikian, akan langsung paham bahwa laki-laki itu mengharapkan uluran derma dari jamaah masjid ini. Spontan, satu per satu jamaah tampak mengeluarkan uang dari saku mereka. Aku pun merogoh saku celana. "Alhamdulillah, ada sedikit uang," lirihku dalam hati.

Aku lantas mendekati lelaki paruh baya itu. Setelah mengulurkan sedikit uang yang kubawa, ia menyalamiku dan mengucapkan terima kasih. Melihat syal berbendera Palestina yang tergantung di lehernya, seketika aku ingin bertanya padanya dengan bahasa Arab, "Anda dari Palestina?" Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia balik bertanya kepadaku dengan wajah sumringah, "Masya Allah, kamu bisa bahasa Arab?" "Ya, alhamdulillah," sahutku sambil tersenyum. "Saya dulu pernah belajar di Al-Azhar, Mesir," lanjutku lantaran menangkap raut keheranan di wajahnya. 



Wajar rasanya ia bertanya begitu, karena masyarakat Malaysia sehari-hari hanya akrab dengan bahasa Melayu dan Inggris. 

Satu demi satu jamaah masjid ini terus menyumbangkan derma untuknya. Lima ringgit, sepuluh ringgit, dua puluh ringgit. Melihat keadaan tubuhnya yang dibopong dengan tongkat, dengan agak berhati-hati aku bertanya kepadanya, "Kaki sebelah kiri Anda ini kenapa?" "Ini akibat serangan Israel di Gaza beberapa waktu yang lalu," ujarnya. "Innaa lillaah," balasku lirih. "Lan yushiibanaa ilaa maa kataballaahu lanaa. Tidak akan ada yang menimpa kami kecuali apa yang sudah Allah gariskan untuk kami," ungkapnya lagi. 

Ia mengatakan hal demikian dengan tegar dan amat biasa. Sama sekali tidak tersirat raut sedih dan penyesalan di wajahnya. Khas gaya orang-orang Palestina yang pernah kulihat dan kukenal di Mesir dulu. Ia lalu menceritakan bahwa ia dan keluarganya datang dari Gaza dan baru dua belas hari berada di Malaysia. Ia kini tinggal tak jauh dari Kampung Wira Damai ini.

Aku mengangguk-angguk menyimak penuturannya. Rasanya tidak perlu aku bertanya mengapa ia datang dan apa yang ia lakukan di Negeri Jiran ini. Beberapa kali aku pernah mendapati orang Palestina dan Suriah yang melakukan hal serupa di sejumlah masjid. Dan sependek yang kuketahui, pemerintah Malaysia tidak mempersoalkan kedatangan warga negara-negara Arab yang bergolak itu ke sini.

Setelah perbincangan ringan itu, aku beranjak pamit. Dari jauh aku melihat Pak Cik Fadhli berjalan lebih gegas dari biasanya, bahkan setengah berlari menuju rumah. Sesampai di pintu rumah, aku dapati Pak Cik Fadhli hendak kembali menuju masjid. Beliau lalu bertanya, "Jamil, orang Arab tadi dari mana?" "Dia dari Palestina, Pak Cik," sahutku. Beliau rupa-rupanya melihat percakapanku dengan orang Palestina tadi. Pak Cik Fadhli lantas keluar, sementara tangannya tampak menggenggam sesuatu. Mungkin lelaki Palestina tersebut akan mendapat kejutan dari beliau yang kukenal suka membantu itu. []

Kuala Lumpur, 2 Mei 2014