Selasa, 03 November 2015

[Notes from Kuala Lumpur] Berapa Persen Ilmu yang Sudah Engkau Tahu?

Saat mengambil mata kuliah Islamization of Knowledge yang diampu oleh Dr. Mishawy di semester ketiga lalu, di suatu petang beliau pernah menyampaikan bahwa apa yang diajarkan oleh setiap dosen dari sebuah mata kuliah, pada dasarnya hanyalah 15% dari apa yang seharusnya diketahui dan dikuasai oleh setiap mahasiswa dari mata kuliah tersebut. Apa yang diketengahkan oleh dosen, lanjut beliau, sesungguhnya hanyalah pengantar, mahasiswalah yang harus mengembangkannya.

Dengan kata lain, jika dalam satu semester sebuah mata kuliah dijabarkan dalam beberapa kali pertemuan ke sejumlah titik tema, dengan beberapa topik sentral, kemudian diturunkan lagi ke dalam aneka pembahasan, maka kesemua itu baru setara dengan 15% dari skala 100% mata kuliah itu sendiri.


Artinya, seorang pembelajar dengan spesialisasi bidang keilmuan apapun, dengan latar belakang fakultas manapun, dituntut harus pro-aktif dalam mencari dan menguasai suatu bidang keilmuan. Bukan hanya menerima apa yang dijelaskan oleh dosen di kelas atau membaca diktat-diktat semata, akan tetapi juga dengan menelaah referensi-referensi lain dengan semangat pencapaian level 100% itu tadi.

Jika seharusnya demikian, maka menuntut ilmu sejatinya adalah sebuah proses yang mesti dilakukan secara terus menerus, yang tidak boleh terhenti di kelas saja, atau hanya berpatokan pada course outline yang diberikan. Mengapa? Sebab, menuntut ilmu harus dipahami sebagai upaya membangun semangat keingintahuan yang besar, sebagai usaha melangkah menuju kepakaran suatu bidang ilmu. Hal ini tentu harus diperkuat dengan semangat membaca dan menelaah dengan kesadaran, tanpa tekanan ujian, nilai, atau apapun.

Persoalannya, berapa banyak mahasiswa, terutama mahasiswa jenjang postgraduate di universitas-universitas yang menyadari semangat ini? Berapa banyak insan akademis yang sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa kuliah mestinya tidak sesederhana datang ke kampus, masuk kelas, mendengarkan dosen, mengerjakan tugas, ujian, lalu lulus? Jika kuliah hanya dipahami seperti itu, maka tak heran bila selepas menyelesaikan jenjang pendidikan di kampus, kita kerap tak merasa sebagai orang yang berilmu. Bahkan rasanya sedikit sekali ilmu yang kita serap dan bawa pulang dari bangku kuliah. Pun apa yang dipelajari di kelas seolah-olah menguap seiring kita mengenakan toga dan diwisuda.

Tak jarang, dengan kadar sebesar 15% yang kita dapatkan di kelas, kita sering sudah merasa cukup, itu pun terkadang dengan belajar yang malas-malasan, bahkan hanya ingin sekadar lulus di mata kuliah tersebut. Maka, dari porsi ilmu sebesar 15% yang dituangkan oleh dosen, berapa persen yang masih mengendap di dalam gelas-gelas keilmuan kita? Tetap 15%, 10%, 5%, 1%, atau malah tidak bersisa sama sekali?

Di titik ini, menjadi insan pembelajar sejati dengan semangat keingintahuan dan upaya pencapaian level kepakaran adalah keniscayaan, keharusan. Seorang mahasiswa harus berupaya keras untuk mengejar 85% pundi-pundi keilmuan lainnya dengan banyak membaca, menelaah, menulis, diskusi, dan berbagai media lainnya. Dengan begitu, semoga kita benar-benar menjadi insan-insan yang berilmu. Seumpama yang dikatakan dalam sebuah syair Arab, bahwa ilmu itu bukan yang tertulis di buku-buku, namun yang terhimpun di dalam dada. 

Kuala Lumpur, 4 November 2015








Senin, 11 Mei 2015

[Notes from Kuala Lumpur] Jangan Jadi Ustadz Instan!

Setiap kali menyimak pengajian atau taushiyah, saya senantiasa memposisikan diri sebagai seorang pendengar yang baik. Namun ada kesan dalam hati yang tidak bisa dibohongi, bahwa pengajian yang tengah disampaikan seringkali terasa janggal di hati dan mengganjal di pikiran ketika sang ustadz bukanlah orang di bidangnya, atau si ustadz hanya belajar agama secara otodidak dan instan, tapi memiliki semangat dakwah yang tinggi. 

Akibatnya, poin-poin yang ia sampaikan cenderung gersang dan hambar-hambar saja, apalagi substansi materi yang perlu dikaji lagi benar dan salahnya. Bagi saya pribadi, bila yang mengetengahkan pengajian atau taushiyah tersebut adalah seorang ustadz sungguhan yang punya latar belakang dan kapasitas syar'i yang mumpuni, taushiyah yang disampaikan terasa lebih menggugah dan membekas di hati. Tapi jika sebaliknya, rasanya ingin cepat-cepat saja keluar dari masjid. 

Ok, perbandingannya lebih kurang mungkin begini. Saya yang tidak punya latar belakang pendidikan ekonomi, lalu sekonyong-konyong belajar ilmu ekonomi dan segala seluk-beluknya secara acak, amburadul, dan otodidak dari buku-buku dan artikel-artikel yang tersebar luas di internet, lantas menyampaikan pidato atau kuliah ekonomi di hadapan mahasiswa ekonomi atau orang banyak setelah itu. 


Maka saya yakin seyakin-yakinnya, banyak orang yang akan mengejek dan menertawakan saya, entah itu secara diam-diam atau terang-terangan, apalagi oleh orang-orang yang lebih tahu dan lebih punya kapasitas dalam bidang ilmu ekonomi itu sendiri. Mengapa? Karena ilmu ekonomi jelas bukan spesialisasi saya, bukan disiplin ilmu yang saya geluti. Sehingga apa yang saya pelajari dan sampaikan dari hanya baca-baca itu, sangat mungkin lebih banyak salahnya ketimbang benarnya, lebih rentan menimbulkan salah dan janggal, di samping akan mempermalukan diri saya sendiri bahkan menyesatkan orang lain. Dan di dunia nyata, saya pribadi cenderung tidak mau mengambil langkah konyol itu.

Perumpamaan ini mungkin bisa dianalogikan ke kasus yang saya kemukakan di awal tadi. Yang jelas, mempelajari disiplin ilmu apapun, semuanya perlu didukung oleh perangkat, metode, dan prosesnya sendiri-sendiri, apalagi belajar seluk-beluk agama yang sesungguhnya tidak semudah baca-baca tanpa dilandasi dengan motede yang benar, terlebih lagi bila hasil bacaan itu tidak untuk ditelan sendiri, melainkan juga akan disampaikan ke orang lain, diceramahkan ke jamaah satu masjid. 

Saya kadang jadi berpikir, jika dakwah ini diasumsikan dengan sebegitu sederhananya, lama-lama disiplin ilmu syar'i yang menjadi pilar utama dakwah ini bisa menjadi ilmu yang terkesan gampangan, yang tidak punya kompetensi, yang bisa dipelajari hanya lewat comot-comot bacaan dan artikel di internet. Selesai baca, langsung bisa berdiri di mimbar, langsung bisa jadi murabbi (ups!), langsung koar-koar di Twitter dan bikin kicauan panjang-lebar tak karuan dan mendebat orang-orang (If you know who I mean), langsung bisa jadi dai kondang dan ustadz besar. Semoga tidak. Imam Syafi'i sendiri pernah berwasiat bahwa ilmu itu hanya bisa digapai dengan enam hal: intelegensi, semangat, kerja keras, ketersediaan finansial, upaya membersamai guru, dan proses waktu. Terakhir, yang instan itu, ujar seorang novelis, cukuplah pada benda bernama mie saja, oh iya, dan kopi. :p

Kuala Lumpur, 11 Mei 2015

Senin, 16 Februari 2015

[Notes from Kuala Lumpur] Analogi Besi dan Atap

Segala sesuatu, ungkap Dr. Abdul Karim Bakkar dalam sebuah bukunya, memiliki kemampuan terbatas untuk memikul bebannya masing-masing. Seumpama besi yang terpancang di atas tiang-tiang bangunan untuk menopang atap yang berada di atasnya. Apa jadinya bila beban atap melebihi kemampuan besi? Benar, besi tersebut akan melengkung, bahkan mungkin akan patah. Jika sudah demikian, besi menjadi tidak berguna, karena alamat atap akan segera roboh. 


Besi Bangunan

Demikian pula dengan manusia. Kita, lanjut beliau, dengan kadar keimanan yang ada di dalam dada, dengan bekal pendidikan dan bimbingan yang kita serap di keluarga dan sekolah, serta dengan nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya, kesemua itu sesungguhnya memiliki kemampuan terbatas untuk menjadi penopang bagi diri kita. 

Maka, jangan perberat dan bebani dirimu dengan mencebur ke dalam interaksi yang rusak dan penuh dengan maksiat, dengan bergaul bersama orang-orang yang membuat engkau terseret ke dalam pusaran kesesatan. Mereka yang pada awalnya dikenal baik kemudian membelot, kerap berawal dari tantangan moral yang tak biasa semacam hal di atas. Dirimu seperti besi. Terlihat kuat, namun bisa saja menjadi rapuh, sementara pola pergaulan itu seperti atap yang bahkan mampu membuat besi menjadi bengkok. []