Jumat, 16 November 2012

Aku dan Kampus Biru IIUM Malaysia (3)

27 Maret 2012, Mahallah Uthman Block PG IIUM.

Pekan ini di IIUM memasuki masa jeda. Break time. Beberapa kantin dan cafetaria di sejumlah mahallah(asrama) banyak yang memilih tutup dan ikut meliburkan diri. Tentu saja dengan alasan logis agar dagangan mereka tidak rugi, karena memang sebagian besar pembeli dan pelanggan mereka adalah mahasiswa-mahasiswa Malaysia sendiri yang sejatinya paling mendominasi di IIUM ini. Break time dimanfaatkan oleh mereka untuk pulang kampung, sebagaimana layaknya mahasiswa-mahasiswa perantauan di Tanah Air. Kondisinya saya rasa persis seperti di Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa Negeri Jiran yang belajar di sini datang dari berbagai sudut negeri, seperti Penang, Kelantan, Johor, Negeri Sembilan, Terengganu, dan sebagainya. Bahkan tak tertutup kemungkinan ada yang berasal dari Sabah atau Serawak yang berlokasi di Pulau Kalimantan sana.

13477425802053548517

Praktis, meskipun hari ini baru hari pertama libur pertengahan semester, namun semenjak kemarin siang kampus IIUM sudah terasa sangat sepi dan lengang. Ketika saya shalat Ashar di Masjid Sultan Haji Ahmad Shah kemarin petang, shaf shalat yang biasanya sangat ramai rupanya hanya tinggal satu shaf saja. Tiba-tiba saya teringat dengan kondisi serupa di Mesir dulu. Apabila masa-masa libur semacam ini tiba, maka lihatlah situasi di Madinah Mubarak yang menjadi sentral pemondokan mahasiswa-mahasiswa asli Mesir di bilangan Nasr City, Cairo. Jika Anda melewatinya dari waktu selepas Zuhur ke atas, maka akan tampak mahasiswa-mahasiswa Mesir dari berbagai daerah yang bersiap-siap pulang kampung, yang terkadang dalam pengamatan saya cara mereka berlibur cukup norak. Misalnya, jika hari ini adalah hari terakhir kuliah, maka tak sedikit di antara mereka yang datang ke kampus dengan koper besar. Mungkin maksudnya jika selepas jam pamungkas kuliah nanti mereka bisa langsung terbang pulang. Tapi yang tak lazim adalah kebiasaan mereka membawa koper-koper raksasa itu ke dalam kelas, padahal sebetulnya mereka pun pulang hanya dengan menggunakan bis biasa atau kereta Metro saja, tidak dengan pesawat. Menggelikan sekali bukan? :-)

Di IIUM saya kembali bertemu dengan orang-orang Mesir. Hanya saja, di sini mereka lebih “pendiam”. Tidak banyak omong dan tingkah seperti di negara mereka sendiri. Di kelas Research Methodology misalnya, ada satu orang mahasiswa dari Mesir. Dalam pertemuan dengan Doktor Handawy dua pekan silam, ia paling banyak bertanya, meski hal-hal yang ia tanyakan sebenarnya tak patut untuk ditanyakan oleh seorang mahasiswa magister. Beberapa di antara kami kala itu hanya senyum-senyum saja dengan pertanyaan-pertanyaan bersifat tekhnis yang ia ajukan. Meski tidak saling berkenalan, untuk menebak apakah ia dari Mesir atau tidak, saya rasa saya tidak perlu salah. Empat tahun di Negeri Seribu Menara sudah cukup membuat saya kenal tentang mereka dari A sampai Z. Ah, lebay. :-)

Dan yang paling menarik perhatian saya di IIUM ini adalah pembawaan diri mahasiswa-mahasiswa tuan rumah Malaysia. Di Mesir dahulu, apa persepsi mahasiswa-mahasiswa Indonesia tentang mahasiswa-mahasiswa Malaysia? Sangat banyak. Bagi saya, kadang tanpa diminta, kita akan dinilai oleh orang lain. Mau atau tidak mau. Suka atau tidak suka. Di Mesir, mahasiswa-mahasiswa Malaysia jika pergi kemana-mana, sangat suka sekali bergerombol. Bergaul dan berinteraksi hanya dengan sesama mereka saja. Hampir tidak pernah saya lihat dan temukan mahasiswa Malaysia yang mempunyai pola pergaulan yang luas dengan mahasiswa dari negara-negara lain. Agak cenderung menutup diri dan punya pola interaksi yang eksklusif. Dan ternyata, di IIUM saya kembali menemukan fenomena yang serupa. Mahasiswa-mahasiswa Negeri Jiran, meskipun sudah berada di negeri mereka sendiri, tetap saja mereka sebagaimana persepsi saya di Mesir dulu. Mereka cenderung pendiam jika tengah sendiri atau sedang bersama mahasiswa dari negara lain, tapi tentu tidak dengan standar “pendiam” orang Mesir yang saya ceritakan sebelumnya. Namun lucunya, jika mereka sudah berada dalam perkumpulan sesama Malaysia, tawa lepas dan “cakap” bebas akan menghilangkan image pendiam yang sebelumnya Anda sematkan. Bahkan Amin, sepupu saya orang “asli” Malaysia yang telah terbang ke Jepang beberapa hari silam mengakui hal demikian.

Hoaaam… Sudah pukul 00.35 AM. Saya tengah begadang mengerjakan tugas-tugas paper di asrama tercinta, Mahallah Uthman. See you next time!



Aku dan Kampus Biru IIUM Malaysia (2)


10 Maret 2012. Banyak kesan dan perasaan yang menyeruak setelah sebulan lebih berada di IIUM Kuala Lumpur, Malaysia. Paling tidak, semenjak berjibaku dengan segala kegiatan akademis dan perkuliahan di kampus biru ini, aku merasa kembali dinamis dan bergerak. Tidak jalan di tempat atau malah mundur ke belakang seperti yang aku rasakan selama sebelas bulan belakangan di Indonesia. Meski berstatus sebagai jebolan Al-Azhar Mesir lantas kembali ke Tanah Air, bukan berarti segala idealisme yang mengawang di Cairo itu serta-merta akan terwujud. Ah, Indonesia tak seindah yang kau bayangkan, Kawan. Aku tiba-tiba menjadi terhenyak dan tersadar, bahwa di titik inilah selama ini mahasiswa-mahasiswa Cairo lupa dan lengah. Menjadi sosok-sosok idealis di Bumi Para Nabi, lalu membayangkan idealisme-idealisme yang melangit itu membumi seketika pulang ke Indonesia. Celakanya, mereka seolah menutup mata dari realitas yang ada dan berkembang di tengah masyarakat. Pada gilirannya, fenomena yang kerap terjadi adalah alumni-alumni Al-Azhar yang mengalami culture shock setiba di ranah kampungnya sendiri.

Kembali ke tajuk utama. Aku ingin sedikit berkisah tentang diriku dan IIUM. Di universitas internasional yang berlokasi di bilangan Gombak, Selangor ini aku menjajal peruntunganku di Kulliyah Islamic Revealed Knowledge And Human Sciences (IRKHS) pada Program Fiqh And Usul Fiqh. Dalam sepekan aku memiliki empat kali jadwal perkuliahan, yaitu dari hari Senin hingga Kamis, mulai selepas Ashar sampai waktu Maghrib menjelang dengan empat mata kuliah, yaitu: Studies of Comparative Fiqh, International Relationship, Juristic Studies of Islamic Banking, dan Research Methodology. Pada jam-jam sesenja ini, kampus Al-Azhar dan kampus-kampus di Indonesia biasanya sudah lengang karena para mahasiswa sudah pulang ke kediamannya masing-masing.

Akan tetapi, di kampus IIUM Malaysia tidak demikian adanya. Di universitas yang didirikan pada tahun 1983 ini, semenjak aktivitas perkuliahan dimulai dari jam sembilan pagi hingga bahkan tengah malam, para mahasiswa dari berbagai etnis dan bangsa tak henti-hentinya berlalu lalang di berbagai sudut kampus, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab, di IIUM tidak semua fakultas dan jurusan menyelenggarakan kegiatan perkuliahan pada jam yang sama. Yang unik dan menarik di sini, aura IIUM sebagai kampus islami sangat terasa, kendati para mahasiswa dan mahasiswi berbaur dalam satu komplek kampus dan tidak dipisah layaknya Universitas Al-Azhar, Cairo. Jarang sekali aku menemukan mahasiswa yang berlainan jenis jalan berbarengan, duduk menyepi berduaan, berboncengan sepeda motor, bermesraan di tengah keramaian publik, ataupun yang lebih parah dari itu. Kalaupun ada yang bergandengan romantis, maka bisa dipastikan mereka adalah pasangan suami istri yang legal dan sah. Kendati demikian, sesekali masih saja aku mendapati ada satu dua mahasiswa asing berkulit hitam atau putih yang merokok di lingkungan mahallah (asrama). Bagiku, orang-orang semacam inilah yang patut disentil dengan sebait pepatah, “Karena nila setitik rusak susu sebelanga.” Citra baik IIUM sebagai kampus islami selama ini bisa tercemar lantaran ulah mahasiswa-mahasiswa seperti itu.

Selain itu, belakangan ini di akhir pekan aku kerap diajak dan “dipaksa” oleh Pak Cik Fadhli datang ke rumahnya di kawasan Batu Caves. Aku tak menyangka di Negeri Jiran ini bisa dipertemukan dengan sosok yang masih terbilang keluarga dekatku itu. Sebelum berangkat ke Malaysia, aku hanya sempat mendengar cerita tentang beliau dari ayah dan ibuku. Sekedar pengetahuan singkat bahwa beliau sudah lama menetap di Malaysia dan menjadi orang besar di sini. Sebelumnya aku sama sekali tidak pernah bertemu dan berkenalan langsung dengan beliau. Sejatinya, beliau adalah keponakan kakekku. Atau dengan kata lain, beliau merupakan sepupu ibuku, sehingga dalam kekerabatan Minangkabau seharusnya aku memanggil “pak etek” kepada beliau. Namun, lantaran beliau dan keluarga sudah lama menetap dan menjadi warga negara Malaysia, agaknya panggilan kekerabatan ala Minangkabau tersebut sudah tidak berlaku lagi di sini. Apalagi dalam pengamatanku beliau sudah tak fasih lagi berbahasa Minang. Sehari-hari bersama keluarganya yang masih orang Minangkabau beliau berbicara dengan bahasa Melayu. Praktis, setiap kali aku datang ke rumahnya aku pun harus berbicara dengan bahasa Melayu yang masih patah-patah. Tak pelak, lidahku keseleo dibuatnya karena belum terbiasa.

Dan di akhir pekan ini, saat aku tengah membaca beberapa referensi yang kupinjam dari library Darul Hikmah IIUM, aku kembali ditelepon oleh beliau. Beliau mengatakan bahwa besok beliau akan menjemputku ke asrama, sehingga aku harus segera mempersiapkan curriculum vitae sebagai syarat kelayakan yang akan beliau ajukan ke sebuah ma’had tahfizh Al-Quran di sini. Rencananya aku hendak mencoba mengajar. Hitung-hitung menambah pengalaman dan mencari kesempatan untuk menghimpun pundi-pundi pemasukan. Sejauh ini aku sudah menerima beberapa tawaran untuk mengajar private, semoga pekan depan sudah bisa kumulai di sela-sela assignment kuliah yang mulai menumpuk. Memang semenjak aku bertemu beliau di sini, aku merasakan perhatian dan kasih sayang layaknya orangtua sendiri dari beliau. Bahkan atas permintaan beliau pula, dalam waktu dekat ini aku akan keluar dari mahallah dan tinggal bersama beliau sekeluarga di Batu Caves.

Sekedar informasi penting dariku, bahwa pola hidup di Malaysia sangat jauh berbeda dengan di Mesir. Di Mesir sana mahasiswa asing tidak perlu memikirkan darimana dan bagaimana mereka memperoleh pemasukan untuk bertahan hidup, karena memang banyak peluang untuk memperoleh beasiswa di samping hampir segalanya diberi oleh pihak universitas, biaya kuliah digratiskan pula. Tapi tidak dengan di Malaysia dimana segalanya diukur dengan uang, apalagi menjalani studi dengan biaya yang tergolong mahal untuk mahasiswa seukuranku. Jika sang mahasiswa bukan tipe anak yang bisanya hanya ongkang-ongkang kaki dan merengek-rengek pada orangtua, maka mau tidak mau ia harus memutar otak agar bisa membiayai kehidupan dan kuliahnya selama di Negeri Jiran ini. Sekian ceritaku kali ini. Apa ceritamu?
1347741486899359657

Aku dan Kampus Biru IIUM Malaysia (1)


24 Februari 2012. Hari ini sebulan sudah aku di Kuala Lumpur, Malaysia. Menjalani hari-hari baru dan mengesankan sebagai mahasiswa Master of Islamic Revealed Knowledge and Heritage (MIRKH) di International Islamic University Malaysia (IIUM) yang berlokasi di bilangan Gombak, Selangor. Sebuah pencapaian yang sebetulnya aku sendiri tidak bisa mempercayainya. Berkat usaha dan upaya keras yang nyaris mencapai titik nadir, bait-bait doa yang tak kunjung padam, dukungan dari orang-orang terdekat, dan tentu saja izin serta rahmat dari Dzat Yang Segala Maha, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di altar kampus biru megah IIUM Malaysia, universitas impian keduaku setelah Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Bagiku, prestasi ini menjadi resolusi dan kejutan hebat di pembuka tahun 2012.

1347741811225749578

Ya, sebulan silam, tepatnya pada tanggal 22 Januari 2012 aku kembali meninggalkan keluarga tercinta demi sebuah misi suci dan mulia. Namun tidak seperti separuh windu sebelumnya ketika aku berangkat ke Mesir dengan melintasi samudera dan benua, kali ini perjalananku jauh lebih dekat. Hanya “menyeberang” ke negeri tetangga, Malaysia. Bahkan sebenarnya jauh lebih dekat ketimbang Padang-Jakarta, harga tiketnya lebih murah pula.

Tak sedikit cerita menarik sebelum dan setelah aku sampai di Negeri Jiran ini. Semuanya saling berkait kelindan dan pada akhirnya menciptakan sebuah alur cerita yang indah untuk dikenang. Seketika aku tiba di Kuala Lumpur, lantas beberapa waktu kemudian dinyatakan lulus dalam ujian English Placement Test (EPT) IIUM yang terkenal sangat sulit dan menakutkan itu, aku benar-benar tergugu, bahkan aku menangis haru dalam diam dan kesendirian. Dalam situasi seperti ini, aku merasa bahwa Allah sangat dekat sekali denganku, bahkan barangkali lebih dekat ketimbang urat nadiku sendiri. Untuk kesekian kalinya aku mampu membuktikan kepada diri sendiri dan juga kepada semesta, bahwa aku hampir tak pernah menemukan kata sulit dan mustahil terhadap cita-cita apapun yang kuniatkan. Benar seperti kata Andrea Hirata, “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Aku membuktikan betul kata-kata ajaib penulis novel laris “Sang Pemimpi” itu. Aku meniup dan melangitkan impian untuk bisa menjajal kemampuan akademikku di kampus IIUM, hal yang sebetulnya berada di luar nalar logisku. Bukan apa-apa, secara hitung-hitungan sederhana jelas tak mudah bagiku untuk sampai ke universitas yang cukup terkemuka di Malaysia ini, mengingat besarnya pundi-pundi yang harus kuhimpun dalam rentang waktu yang tak lama, di samping sejumlah kualifikasi yang bagi sebagian calon mahasiswa cukup memberatkan. Namun, bagi Allah tak ada yang sulit, bahkan bagi-Nya sebuah kesedihan bisa tersulap menjadi seutas kemudahan.

Sesungguhnya alur perjalananku ke Kuala Lumpur, Malaysia hampir mirip saat aku memutuskan untuk berangkat ke Mesir empat tahun silam. Bimbang, serba rumit, dan butuh ragam pertimbangan. Bahkan dua pekan jelang keberangkatan aku sudah dengan tegas menyatakan kepada diri sendiri dan keluarga bahwa aku membatalkan niat ke Malaysia. Kendati demikian, aku tetap berusaha menghibur diri. Berkali-kali aku membatin sambil meyakinkan diri sendiri, “Kondisi lebih sulit dari ini sudah pernah kau alami. Jadi tenang saja. Kau akan sampai ke Kuala Lumpur.” Namun ada yang unik kala itu. Pada saat semangat mulai mengendor dan kemauan hampir tinggal separoh, aku justru nekat memesan tiket penerbangan ke Kuala Lumpur.

Akan tetapi, bukan hidupku namanya jika tak ada kejutan dan keajaiban, dan aku percaya itu. Sepekan kemudian aku berhasil memperoleh sponsor studi berkat kebaikan orang-orang dekat yang jasanya akan senantiasa kukenang, kendati nominalnya tak begitu besar dan hanya cukup untuk menutupi biaya pendaftaran ulang yang selangit. Barangkali inilah semacam firasat yang pada gilirannya mengantarkanku ke Negeri Upin dan Ipin ini. Bahwa aku harus tetap berpijak pada titik koordinat positif tempat dimana semula aku berada, tidak mundur ke koordinat negatif.  Lebih dari itu, aku lagi-lagi belajar dari prinsip dan keyakinan sederhana yang kubangun dari kecil dan hingga kini tak bergeser sedikitpun. Bahwa selama dalam diri ini ada niat yang tulus, kemauan keras, dan upaya yang sungguh-sungguh, maka jalan-jalan kemudahan itu akan senantiasa terbentang. Itu saja. Sungguh Allah Maha Benar, pada gilirannya aku membuktikan betul bahwa Allah sekali-kali tidak pernah menyalahi janji-Nya.

Kamis, 15 November 2012

Hidup Adalah Ruang Pembuktian


Aku yakin, setiap orang punya paradigma atau cara pandang tersendiri dalam menerjemahkan dan memaknai arti hidup ini. Paradigma inilah yang pada gilirannya akan mengkristal menjadi filsafat hidup yang dijadikan pegangan, entah itu sifatnya temporal atau final. Ibarat hal-hal lain, hidup ini ternyata juga bisa dinilai dari beragam segi. 
Kata orang awam, hidup itu perjuangan. Orang alim bilang, hidup itu ibadah. Semuanya benar dan sah-sah saja. Tapi menurutku, rumus-rumus yang dijadikan sebagai filsafat hidup setidaknya harus mampu menjadi stimulan dan titik tolak dalam berbuat. Secara pribadional, filsafat hidup yang aku yakini tidak terbatas pada jargon-jargon tertentu saja. Dengan kata lain, aku tidak begitu terpaku pada satu-dua filsafat hidup yang secara tidak langsung membuatku harus melakukan lompatan dari sana. Namun paling tidak, ada satu titik poin yang selama ini aku kontemplasikan dalam ruang-ruang renungku. Bahwa di dunia ini kita hanya dituntut untuk berbuat, berbuat dalam pengertian luas dan positif. Sebab, pada dasarnya, hidup ini adalah ruang pembuktian, yang pada gilirannya akan menunjukkan siapa di antara kita yang berbuat paling baik. Ayyukum ahsanu ‘amala. Baik itu berbuat untuk diri sendiri atau orang lain, maupun yang berorientasi dunia atau akhirat.
Lebih jauh, ada sebentuk korelasi yang mengikat antara hidup dan usia yang sedang dijalani­ oleh setiap individu. Titik inilah yang benar-benar sedang kupahami dan resapi sampai detik ini. Bahwa hidup ini dan juga setiap diri, sejatinya adalah artikulasi dari hari-hari yang mengkristal dalam sebuah ruang usia. Ketika hari demi hari pergi dan berlalu, maka satu demi satu bagian dari diri ini juga ikut lenyap. Begitulah Imam Hasan Al-Bashri dengan bijak membahasakan. Nilai filosofis ini jualah yang saat ini tengah aku upayakan dalam bahasa perbuatan, bagaimana agar aku senantiasa melakukan hal-hal konkret dalam hidup, memberikan sumbangsih karya, dan berbuat yang terbaik. Sebab, aku sadar bahwa aku hanya kumpulan hari, yang suatu saat akan teranulir oleh ruang dan waktu.
Berbuat dan memberi. Itulah yang lebih jelas ingin aku tegaskan. Aku jadi teringat sebuah kisah tentang lelaki embun. Ya, layaknya embun, ia selalu menyejukkan siapa saja. Ia tak pernah canggung ataupun gengsi untuk berbuat dan memberi pada orang lain. Sejatinya ia lebih mirip Abu Bakar, yang memiliki daya beri yang luar biasa dan tak terlangkaui oleh siapapun, sampai oleh Umar sekalipun.
Maka, alangkah indahnya hidup ini jika seseorang mampu berada dalam posisi pemberi. Sebab, dalam tataran realitanya, hanya orang-orang yang punya daya berilah yang akan mendapat tempat di hati khalayak. Tentu bukan hanya memberi hal-hal yang bersifat materi, namun juga memberi dalam arti seluas-luasnya. Hingga tak salah sebuah adagium mengatakan, yang kira-kira makna leksikalnya begini: Jadilah orang kaya yang senantiasa berbagi materi, atau orang alim yang selalu memberi ilmu. Terakhir, mungkin pesan moral dari novel Laskar Pelangi tak mengapa jika kututurkan di sini. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.

Catatan Seorang Pengajar Muda


Catatan ini saya tulis dengan telepon seluler sembari menyimak bait nasyid bertajuk “I Believe” yang dibawakan dengan begitu apik oleh Irfan Makki dan Maher Zain. Dalam banyak kesempatan, saya menjadi bisa lebih menikmati kegiatan menulis sambil mendengar murattal imam favorit atau nasyid-nasyid kesayangan.  

Ada perasaan yang tak bisa saya bahasakan saat mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari sekolah itu. Jujur, ada sebentuk rasa sedih dan berat meninggalkan anak-anak hebat dan inspiratif yang bersekolah di sana. Anak-anak yang saban hari terlihat berkomat-kamit dengan hafalan ayat-ayat ilahi dan dididik dengan pembinaan Islam yang utuh dan menyenangkan, terlepas dari segala bentuk kenakalan-kenakalan kecil mereka yang pada dasarnya adalah sebuah kewajaran.

Bagi saya, dengan pendidikan qurani dan tarbawi semacam itu, mereka adalah anak-anak cerdas yang kelak dengan izin Allah akan memegang peran-peran penting di negeri ini. Terkadang begitu menyejukkan bertemu dan memperhatikan tingkah polah mereka setiap hari, dengan mushaf di tangan dan spirit belajar yang acapkali tak biasa dan harus diapresiasi berjempol-jempol. Ah, begitu beruntungnya kalian diberikan bimbingan tarbawi sedemikian rupa. Sementara ustad kalian ini saja pada usia sedini itu masih terbata-bata mengeja alif-ba-ta. :-)

Namun bagaimanapun, keputusan ini harus saya ambil bulat-bulat demi merajut asa dan mimpi yang saat ini masih berwujud abstrak. Jargon “sang pemimpi” ala Andrea Hirata-pun ingin saya pinjam untuk menggambarkan kondisi saya saat ini. Tapi entahlah, semoga saja Allah memapah dan menuntun langkah-langkah kerdil dan ringkih ini menuju universitas dan negara impian saya berikutnya. Yâ Rabb, irham dha’fanâ.

Sekolah yang saya maksudkan itu adalah SDIT IQRA’ Solok, sekolah tempat saya mencatatkan kenangan hidup bersama ratusan tunas bangsa di sana. Sekolah yang sarat dengan muatan kontemplasi dan edukasi berharga bagi saya, bahkan bagi siapapun yang pernah memperhatikan aura pembelajaran dan pendidikan di sana dari jarak dekat. Bahwa pendidikan karakter sesungguhnya itu harus bermula dari pendidikan paling dasar. Dan bahwa pembinaan sikap anak sebenar-benarnya mesti berawal dari sikap sejati dan keteladanan dari sang pendidik, bukan dengan ocehan dan suruhan sang guru tanpa didahului dengan contoh nyata.

Sebab, adalah sebuah kekeliruan paling fatal dalam dunia pendidikan bila seorang guru laki-laki melarang siswanya merokok, sementara asap rokok tak henti-hentinya mengepul saban hari dari meja kerjanya. Atau merupakan sebuah aib paling naif bila seorang guru perempuan menceramahi habis-habisan siswi-siswinya yang tak becus berjilbab, sedangkan dirinya saja asyik kongkow-kongkow di hari libur dengan kepala terbuka. Sepertinya masih banyak para pengajar di sekitar kita yang lupa, bahwa dunia pendidikan yang kita ampu ini sejatinya tidak sekedar dan tidak sesederhana dunia ajar-mengajar. Tetapi lebih dari itu, ia sesungguhnya adalah dunia yang sarat dengan muatan nilai-nilai keteladanan. Sebab, anak-anak boleh jadi akan menutup telinga mereka terhadap nasehat dan kata-kata, tetapi mata mereka selalu terbuka untuk contoh dan keteladanan. Rumusnya sederhana saja, selama guru kencing berdiri, maka jangan cari kambing hitam bila murid kencing berlari. :-)

Kembali ke cerita tentang sekolah tadi. Selain kesemua hal di atas, di sekolah ini saya belajar mengajar anak-anak yang jelas bukan perkara mudah, apalagi bagi saya yang tak punya tetek-bengek strata perkuliahan edukasi. Di sekolah ini pulalah saya menemukan anak-anak yang peka dengan semangat keberagamaan pada sesama mereka. Saya jadi tersenyum geli sendiri ketika beberapa anak dengan polosnya mendatangi saya dan melaporkan kelakuan teman-teman mereka tempo hari yang menyalahi apa yang selama ini mereka dapat dan yakini.   


Suatu ketika di hari-hari perdana mengajar, saya dibuat kagum dan tercengang kala beberapa orang siswi kelas enam di sekolah ini menyapa dan memperkenalkan diri mereka di hadapan saya. Saat itu mereka tidak mencium tangan saya sebagaimana lazimnya seorang murid mencium tangan gurunya. Namun, mereka mengucapkan salam sambil mengatupkan kedua telapak tangan mereka di depan dada. Subhanallah, dalam hati saya membatin, anak-anak sebelia ini sudah paham dan mengerti mana yang mahram dan mana yang tidak. Suatu pengetahuan yang masih cukup buta pada masyarakat kita hari ini. Hal demikian terus berlanjut setiap kali bel pulang berbunyi atau saat pelajaran Bahasa Arab dan Tahfizhul Quran yang saya ajarkan selesai, atau dimanapun saat saya bersua dengan mereka.

Saya yakin, ini adalah berkat pembelajaran dan pembinaan keislaman yang sudah dibenamkan semenjak dini di sekolah tersebut. Di sekolah-sekolah lain yang bertebaran di kota ini, barangkaliattitude yang saya visualisasikan di atas merupakan pemandangan yang jarang terlihat. Pun begitu kontras dan bertolak belakang dengan kondisi ABG alay di luar sana yang kebanyakan hanya bersikap cuek dan masa bodoh dengan ajaran agama mereka sendiri. Semoga Allah senantiasa memberikan kesitiqamahan kepada Antum dalam menggenggam agama ini, Aulâdî wa Banâtî.

Tanpa sadar, saya rupanya “terlanjur” menyayangi anak-anak di sekolah tersebut, padahal keberadaan saya di sana hanya satu semester. Dan padahal sebelumnya dunia anak-anak bukanlah dunia yang menarik bagi saya. Begitupun tak pernah terlintas di pikiran, bila selepas merampungkan jenjang studi di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir saya akan ditakdirkan bergelut dengan pendidikan dasar anak-anak. Tapi Allah memang selalu memiliki skenario unik yang tak bisa ditebak. Saya ternyata belajar banyak hal dari malaikat-malaikat kecil itu. Salah satunya, belajar memengerti dunia anak-anak sekarang yang jelas berbeda dengan era 90-an semasa saya menjadi siswa ingusan dulu. :-)


Kepada para ustad dan ustazah, teruslah berjuang. Tetaplah menjadi sosok-sosok inspiratif dan diidolakan oleh anak-anak kita. Sebab, sejatinya kita tengah mendidik dan mempersiapkan generasi emas bagi bangsa ini. Generasi yang dibentuk dengan semangat Al-Quran dan spirit tarbawi. Barangkali inilah pesan dan kesan sederhana saya untuk SDIT IQRA’ yang tak sempat saya sampaikan tempo hari. Maaf dan doakan saya, karena Antum semua adalah pengajar-pengajar muda saleh dan salehah. :-) 

Aku dan Surau yang Telah Roboh

Dari dulu kampung ini seperti tidak berubah dan tidak ada keinginan untuk merubah diri.  Orang-orangnya tetap saja mereka yang hanya mengejar dunia demi dunia, namun terhadap akhirat mereka buta dan menutup mata. Bayangkan saja, surau kecil tempatku belajar mengeja alif-ba-ta di masa-masa ingusan dulu, kini tak lagi mempunyai guru mengaji. Sehingga anak-anak kampung ini, termasuk dua orang keponakanku sudah lama tak ke surau. 

Jika mereka sudah pandai mengaji Al-Quran dengan baik dan benar, tak mengapa. Tapi nyatanya, anak-anak usia SD di sini masih terbata-bata mengaji Iqra’, kalah telak dari anak-anak Malaysia yang kuampu di Kuala Lumpur sana, yang seusia mereka sudah mampu menghafal Al-Quran dengan tajwid dan bacaan yang tepat. Padahal kampungku ini memiliki banyak mamak kaum dan datuk-datuk adat, namun mereka seolah tak memiliki kepedulian sedikitpun untuk pendidikan agama anak kemenakan mereka, khususnya pendidikan belajar membaca Al-Quran di surau. Sekarang anak kemenakan mereka lebih memilih duduk berbetah-betah di depan televisi atau internet, dengan ketidakpedulian orangtua mereka yang sama parahnya.  

Ilustrasi.


Dahulu, setiap malam-malam Ramadan seperti sekarang, selalu terdengar suara anak-anak dan ibu-ibu yang melakukan tadarus Al-Quran menggunakan pengeras suara dari surau-surau kecil yang tersebar di kampung ini. Bahkan aku dan kawan-kawan sebaya dahulunya saling berebut pengeras suara agar dapat giliran mengaji paling awal, sehingga suara kami dapat didengar seantero kampung. Kini, hal demikian nyaris tak terdengar lagi. Semangat mengaji itu pun nyaris sirna. Bagaimana tidak, anak-anak kini entah bisa mengaji entah tidak. 

Kadang aku jadi berpikir, apakah aku yang harus turun tangan menggerakkan kembali semangat keagamaan yang telah memudar tersebut? Mengajar mengaji, menghidupkan kegiatan surau dan masjid, dan membimbing anak-anak muda yang keseharian mereka tak jelas itu? Memang, tak terlihat orang lain yang akan melakukannya. Namun, mengiyakan perkara ini jelas tak mudah bagiku. Saat ini aku tengah serius-seriusnya merenda masa depan. Sungguh, aku tak ingin semangat belajar dan upaya memperbaiki kualitas pribadiku terhenti lantaran kenyataan pahit di kampung sendiri. Karena masa depanku masih panjang. Karena perjuanganku belum usai. Dan karena aku yakin, setelah melihat berbagai kenyataan yang menyeruak, masa depanku bukan di sini! 

[Notes from Kuala Lumpur] S2 Tidak Sesederhana Gelar Akademis!

Dahulu, setelah beberapa minggu menginjakkan kaki di Tanah Air selepas kembali dari Mesir, seorang senior yang juga sama-sama tamatan Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir mendatangi saya ke rumah. Maksud kedatangannya kala itu adalah untuk mengajak, bahkan lebih tepatnya meminta dan memohon kesediaan saya untuk mau menjadi tenaga pengajar di pesantren yang akan ia dirikan. Saat itu saya tidak mengiyakan juga tidak menidakkan, hanya saja saya katakan bahwa saya punya rencana akan melanjutkan studi S2 ke IIUM Malaysia. Setelah pertemuan pada hari itu, ia lantas makin kerap mendatangi bahkan mengajak saya guna menemaninya ke berbagai daerah dalam rangka dakwah dan semacamnya. Saya iyakan dan turuti saja, sebab memang kala itu saya belum memiliki banyak kegiatan yang berarti, sebagaimana lazimnya seorang sarjana yang baru lulus.

Selang beberapa waktu kemudian, saya jadi mengetahui dan tersadar, bahwa tujuan sang senior kerap menjumpai dan mengajak saya kemana-mana itu adalah untuk meluluhkan kemauan saya agar bersedia menjadi guru di pesantren tersebut. Bagi sebuah pesantren baru, menemukan orang yang bersedia untuk menjadi guru adalah hal yang terbilang cukup rumit, apalagi guru yang akan menghabiskan sepenuh hari dan umurnya di pesantren, ditambah lagi dengan ragam pertimbangan dan kenyataan di sebuah pesantren baru yang memang memulai segala sesuatu dari nol besar, seperti kecilnya gaji, minimnya fasilitas, serta tuntutan harus berdedikasi penuh untuk pesantren, tapi tidak sebanding dengan apa yang diperoleh. Singkatnya, sayalah yang menjadi "target" dan "sasaran" yang akan dibidik sebagai guru di pesantren tersebut. Setelah terus dirayu, dibujuk, dan didesak, saya katakan bahwa saat ini saya belum bersedia, dikarenakan rencana melanjutkan studi S2 ke IIUM Malaysia yang masih menjadi keinginan terbesar. 


Terang saja, bagi fresh graduate yang masih berjiwa muda dan ingin terus mengembangkan diri seperti saya, mengajar di pesantren sepenuh waktu dengan mengenyampingkan peluang-peluang untuk menjadi lebih baik adalah bentuk pengungkungan dan pengebirian yang sesungguhnya. Saya bukan tidak ingin, tidak mau, atau gengsi mengajar di pesantren. Sama sekali tidak. Namun tentu setiap orang memiliki pandangan dan pilihan hidupnya masing-masing. Saya sudah putuskan sikap, kendati sebelumnya saya sempat menghadiri pertemuan para calon guru di pesantren tersebut. Namun ternyata, sang senior yang juga pimpinan pesantren itu justru menampakkan sikap yang sangat tidak mengenakkan. Saya yakin hal tersebut lantaran saya tidak berhasil ia luluhkan. Bagaimanapun, ia tentu harus menghormati apapun keputusan saya. Memangnya ia siapa? Bisa mengatur-atur bahkan memaksa saya seenaknya untuk menuruti kemauannya. Jujur, saya juga sempat dibuat dongkol dan kesal saat itu. 

Kampus IIUM di bilangan Gombak, Selangor.

Begitulah, sikap dan ucapannya yang melemahkan semangat pembelajar saya ketika itu masih teringat dengan baik. Memang, terkadang orang akan melakukan dan mengatakan apa saja demi memuluskan tujuan yang hendak ia capai. Ia mengatakan, "Buat apa kamu S2? S2 itu tak penting, hanya mengejar gelar saja." Namun nyatanya, semenjak berjibaku sebagai mahasiswa pasca sarjana di IIUM Malaysia, saya mendapatkan ilmu-ilmu baru yang sebelumnya belum pernah saya peroleh, cakrawala berpikir saya jadi semakin terarah dan berkembang, pengalaman hidup dan belajar di universitas dengan lingkungan dan sistem yang berbeda, serta yang lebih penting, menempuh S2 ternyata tidak sesederhana mengejar gelar akademis!