Pak Cik Sofyan, demikian aku menyebut namanya. Aku
mengenal beliau sebagai paman jauh dari pihak ibuku. Artinya, beliau adalah
keponakan kakekku, kendati bukan keponakan kandung. Sebelum terbang ke Negeri
Jiran guna melanjutkan pengembaraan ilmu, aku hanya memperoleh informasi
singkat tentang beliau dari ayah dan ibuku. Bahwa kami memiliki kerabat dekat dan telah lama menetap di Malaysia.
Singkat cerita, di Negeri Jiran ini akhirnya aku bertemu bahkan tinggal di rumah beliau. Dalam pengamatanku, Pak Cik Sofyan adalah sosok yang sangat gigih dan disiplin. Beliau pernah menuturkan kepadaku, bahwa dahulunya ia datang ke Malaysia di tahun 1980-an dengan modal nol dan tidak memiliki bekal pendidikan tinggi sepertiku, kecuali hanya selembar ijazah PGA yang tidak bisa digunakan di Malaysia. Maka, mulailah ia bekerja melakukan apa saja, dari buruh bangunan sampai membuka rumah makan kecil-kecilan.
Menariknya, istri beliau sekarang dahulunya adalah guru SMP berstatus PNS di sebuah daerah di Sumatera Barat. Karena berjodoh, ia lalu meninggalkan profesi yang diidam-idamkan oleh banyak orang itu demi mengikuti jejak suaminya ke Malaysia.
Setelah menikah, mereka memulai segalanya dari bawah dengan kehidupan yang sederhana. Tapi, bukan hidup namanya jika ia tidak berputar. Berkat kesungguhan, hubungan baiknya dengan orang-orang, dan kedekatannya dengan Tuhan, siapa yang menyangka bila di kemudian hari Pak Cik Sofyan ditakdirkan menjadi anggota parlemen di sini? Bahkan apa yang dicapai anak-anaknya kini, jauh melampaui apa yang ia perkirakan. Anak pertama kuliah di Jerman, anak kedua di Chekoslovakia, anak ketiga di Jepang, sedangkan anak bungsunya diproyeksikan ke Timur Tengah, dan semuanya dengan beasiswa!
“Saat menjadi anggota parlemen, Pak Cik tidak pernah sepeserpun memakan apa yang bukan menjadi hak Pak Cik. Jika Pak Cik yang tak berpendidikan saja mampu sampai pada titik ini, engkau harus lebih mampu lagi, Jamil,” ungkapnya kepadaku. Sungguh, nasehat beliau itulah yang membuatku tetap tegar mengejar mimpi sampai detik ini.
*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi menulis #MenjagaApi yang diselenggarakan oleh Penerbit Buku Kompas (PT. Kompas Media Nusantara).