Sabtu, 27 April 2013

[Notes from Kuala Lumpur] Haji Amri Abdullah


Nama beliau Amri Abdullah, namun di komplek ini orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Haji Amri. Seorang bapak berusia enam puluhan tahun yang senantiasa lekat dengan peci rajutnya. Sosok berjiwa malaikat yang termasuk mula-mula aku kenal di Kuala Lumpur ini. Sosok yang kemudian banyak memberikan pembelajaran-pembelajaran hidup kepadaku. Seperti kebanyakan orang-orang seumuran beliau, wajah dan kulit sosok itu jelas sudah tidak kencang lagi. Pun demikian dengan rambut kepalanya yang telah menipis dan beruban. Meski begitu, banyak hal yang membuatku salut dan kagum kepada beliau. Di usia senjanya, tubuhnya masih tampak tegap di samping pembawaannya yang selalu enerjik dan bugar. 

Aku mengenal beliau semenjak aku memutuskan keluar dari mahallah (asrama) IIUM dan memilih tinggal bersama Pak Cik Fadhli di bilangan Pinggiran Batu Caves, Selangor. Pak Cik Fadhli masih terbilang kerabat dekatku. Sejatinya ia adalah keponakan dari kekekku dari pihak ibu, meski bukan keponakan kandung. Dulu sebelum terbang ke Malaysia, aku hanya mendengar sedikit informasi tentang beliau dari kedua orangtuaku dan beberapa orang sanak keluarga di kampung. Bahwa beliau adalah kerabat kami dan kini menetap dan menjadi warga negara Malaysia. Ya, sebatas itu saja. Hingga ketika aku telah menginjakkan kaki di Negeri Jiran ini, tak disangka-sangka aku kemudian dipertemukan dengan beliau secara mengejutkan. Benar, karena aku tidak begitu kenal siapa dan bagaimana beliau karena kami belum pernah bersua dan berkenalan sebelumnya.

Singkatnya, Haji Amri adalah tetangga sekaligus sahabat karib Pak Cik Fadhli. Di komplek yang bernama Kampung Wira Damai ini, rumah mereka berdekatan. Hanya berjarak empat rumah saja. Seketika aku pindah dan tinggal di rumah Pak Cik Mahmud ini, esok subuhnya aku diajak joging oleh beliau berkeliling komplek sembari memperkenalkan kepadaku segala hal yang ada di Kampung Wira Damai. Setelah penat, kami lantas menghabiskan waktu di pagi itu dengan mampir sejenak di sebuah warung roti canai. Di situlah aku berjumpa dan berkenalan dengan Pak Haji Amri. Kebetulan juga beliau baru saja selesai joging. Di warung itu kami berbincang-bincang ringan sambil menikmati sarapan roti canai dan segelas teh tarik. Ia bertanya padaku tentang banyak hal, mulai dari mana asalku hingga alasan kedatanganku ke Malaysia.

Aku dan Pak Cik Fadhli lalu diajaknya singgah di rumahnya barang sejenak. Ruang tengah rumahnya ber-AC, sehingga selalu terasa adem dan sejuk. Udara Kuala Lumpur terkadang memang cukup panas dan gerah di siang hari, tetapi tidak sepanas Jakarta atau Padang. Di sini masih banyak kawasan-kawasan hijau yang terjaga. Bahkan di kawasan Selangor dimana Kampung Wira Damai ini berada, bukit-bukit kecil yang dilestarikan kehijauannya bisa terlihat sepanjang mata memandang.

Jika boleh menilai dan membanding-bandingkan, rumah Pak Haji Amri termasuk rumah yang paling bagus dan elegan di komplek ini. Desainnya cukup mewah untuk ukuran rumah bertingkat, kendati tidak begitu besar. Sementara rumah-rumah warga lainnya di komplek ini masih banyak yang berbentuk rumah Melayu dengan atap seng biasa. Pak Cik Fadhli pernah bercerita kepadaku, bahwa penduduk komplek ini sebagian besar adalah pendatang. 

Konon, tanah Kampung Wira Damai ini dahulunya adalah hutan lebat, namun kemudian dibabat dan dibuka oleh pemerintah Malaysia kala itu untuk dijadikan pemukiman, lalu tanahnya dibagi-bagikan secara gratis bagi para pendatang yang membutuhkan, dengan jatah tiga setengah kali tiga setengah meter untuk masing-masing keluarga. Ya, sangat kecil sebenarnya. Itulah kenapa banyak warga di komplek ini yang membangun rumah bertingkat seperti Pak Haji Nazar atau membeli petak tanah di sebelahnya agar bisa mendirikan rumah lebih besar, seperti yang dilakukan oleh Pak Cik Fadhli.

Sejak saat itu, aku jadi semakin dekat dengan Pak Haji Amri. Rupa-rupanya, semenjak aku tinggal bersama Pak Cik Fadhli sekeluarga, beliau memendam keinginan besar agar ia bisa belajar membaca Al-Quran dan masalah-masalah agama denganku, karena baginya aku adalah tamatan Universitas Al-Azhar, Mesir yang tahu banyak tentang agama, sehingga keberadaanku di Malaysia ini harus ia manfaatkan. 

Demikianlah, jika aku tidak punya jadwal kuliah sore, maka jadilah setiap hari beliau akan datang ke rumah menjelang malam, lalu kami mendirikan shalat Maghrib berjamaah bersama, kemudian dilanjutkan dengan menyimak bacaan Al-Quran beliau hingga waktu Isya tiba. Memang, bacaan Al-Quran beliau belum bersih benar. Masih banyak kekeliruan dalam membedakan huruf, tanda panjang, dan hukum-hukum tajwid lainnya. Namun justru karena itulah beliau mau belajar. Dan bagiku, tak banyak orang di zaman seperti sekarang yang memiliki kesadaran untuk mempelajari dan memperbaiki bacaan Al-Quran seperti beliau. Atas permintaan dan semangatnya yang luar biasa, kami kemudian memutuskan untuk belajar membaca Al-Quran dari nol besar lagi. Ya, dari buku Iqra’ yang biasa digunakan oleh anak-anak kelas satu sekolah dasar. Salut.

Pak Haji Amri adalah sosok yang cukup kaya dan berada. Namun kekayaannya itu tidaklah ia dapat secara instan ataupun hasil warisan orangtuanya. Beliau juga masih orang Minangkabau sepertiku, asli Bukittinggi. Namun karena telah menetap di Malaysia selama tiga puluh tahun lebih, ia dan keluarganya kini telah berpindah kewarganegaraan sebagai penduduk Malaysia dan memiliki identity card (IC) biru. 

Kendati demikian, sehari-hari bersama istrinya yang biasa kupanggil Bu Haji, ia masih berbicara dengan bahasa Minang kental khas Bukittinggi. Ia tidak ingin melupakan identitas dirinya sebagai orang Minang, ujarnya kepadaku suatu ketika saat kutanya tentang hal tersebut. Hanya bersama kedua anaknya saja ia bercakap-cakap dengan bahasa Melayu di rumah. Beliau memiliki dua orang anak perempuan, dan kedua-duanya telah bekerja dan berkeluarga. Bahkan baru-baru ini, kala resepsi pernikahan anak gadis bungsunya yang berjodoh dengan seorang lelaki asal Johor, beliau menggelar pesta besar-besaran di sebuah auditorium megah di tengah kota Kuala Lumpur. Undangan yang hadir tidak main-main, 1400 orang! Aku tidak dapat membayangkan, berapa puluh ribu ringgit yang ia belanjakan untuk menghelat acara sebesar dan semewah itu.

Selain itu, Pak Haji Amri adalah sosok yang gemar berjalan-jalan. Dengan mobil sedan Honda yang dimilikinya, ia kerap mengajakku pergi kemana-mana. Makan siang ke restoran Minang yang berjejer di Jalan Gombak atau sekadar menghabiskan waktu ke kawasan Chow Kit untuk mengusir kejenuhan. Maklum, di rumahnya Pak Haji Amri kerap merasa sendiri sebab ia sudah berhenti berwirausaha dan memutuskan ingin menikmati masa-masa rehatnya. Sementara istrinya sejak pagi sudah bertolak menuju kedai jahit miliknya, begitu pula dengan kedua anak perempuannya yang kini sudah tinggal bersama keluarganya masing-masing. Jangan heran bila kukatakan bahwa mobil sedannya tersebut adalah mobil beliau pribadi. Ya, betul-betul mobil pribadi karena hanya beliau yang menggunakan dan menaikinya. Sementara istri dan kedua anak perempuannya juga memiliki mobil masing-masing dan hanya mereka sendiri pula yang memakainya.

Di Malaysia fenomena tersebut cukup biasa. Setiap keluarga di sini rata-rata memiliki mobil yang biasa diparkir begitu saja di depan pagar rumah, tak peduli bagaimana kondisi rumahnya. Di Kampung Wira Damai ini misalnya, walaupun rumah-rumah penduduknya sederhana, namun setidak-tidaknya mereka memiliki dua mobil, meski hanya mobil buatan dalam negeri bermerk Proton.

Suatu siang di akhir pekan aku kembali diajak oleh Pak Haji Amri guna menemaninya membeli sesuatu ke Chow Kit, lalu makan siang di restoran Minang langganannya di Jalan Gombak. Sepanjang perjalanan, seperti biasa ia akan bercerita tentang banyak hal. Kala itu ia berkisah bagaimana ia memperoleh kekayaan dan kemapanan hidup seperti sekarang.  Ia menuturkan bahwa masa kecilnya dulu sangat menyedihkan. Saking susahnya ia hanya sempat bersekolah hingga kelas dua sekolah dasar. Seperti kebanyakan masyarakat ketika itu, kedua orangtuanya pun bukanlah orang yang berotak cemerlang, sehingga tidak ada yang membimbing beliau akan pentingnya sekolah dan pendidikan, termasuk pendidikan agama. Barangkali itulah sebabnya kini di usia senjanya ia termotivasi benar untuk membetulkan bacaan Al-Qurannya yang masih patah-patah. 

Terang saja, setiap kali beliau belajar mengaji denganku, sosok itu selalu mampu mengingatkanku pada sebait sabda nabawi, “Orang yang membaca Al-Quran dan ia masih terbata-bata dan belum fasih dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." Ya, kendati terbata-bata, namun boleh jadi pahala bacaan Al-Quran beliau lebih banyak ketimbang aku sendiri. Dan betapa terkejutnya aku kala pertama kali aku diajaknya naik ke lantai atas rumahnya. Di sana kudapati ratusan buku-buku islami berbahasa Indonesia dan Melayu yang tertata rapi dalam rak-rak perpustakaan pribadi. Beliau mengatakan bahwa semua buku tersebut sudah habis ia lahap, semata-mata karena ingin meluapkan “balas dendam” akan pendidikan agama yang tak sempat ia cecap. Mengagumkan.

Beliau kemudian memutuskan merantau ke Jakarta. Selama mengadu nasib di sana, ia menumpang tinggal di rumah sebuah keluarga berada. Di ibukota beliau benar-benar merintis bisnis dari nol besar, dari pedagang asongan sampai pedagang kecil-kecilan yang berjualan di emperan kaki lima. Sewaktu aku dibawanya berjalan-jalan di gang-gang sempit di Chow Kit, beliau menunjuk ke arah seorang pedagang kecil yang menggelar dagangan berupa tisu, jarum, gunting, sisir, dan benda-benda remeh-temeh lainnya, seraya berkata: “Dulu saya melakukan hal yang serupa dengan pedagang itu.” 

Setelah beberapa lama di Jakarta, ia kemudian diajak seorang rekannya untuk mencoba peruntungan di Singapura. Dari sanalah kemudian terbentang jalan untuknya menuju Negeri Jiran, Malaysia. Pada gilirannya, di Kuala Lumpur ia menjadi pengusaha pakaian Muslim dan perlengkapan ibadah yang besar dan sukses. Di masa-masa gemilangnya kala itu, ia telah berhasil memperoleh keuntungan hingga jutaan ringgit sehingga ia dan keluarganya bisa naik haji dan umrah ke Tanah Suci berkali-kali. Kini, lima tahun sudah ia sudah tidak lagi bergelut dengan dunia bisnis dan lebih memilih menikmati hari tuanya. Selama rentang waktu tersebut ia pernah memutar uangnya kepada dua orang rekan yang ia kenal untuk dikelola. Akan tetapi di tengah jalan, kedua orang tersebut berkhianat. Ya, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Setelah kejadian itu, ia tidak lagi terpikir untuk berinvestasi.

Aku menyimak kisah pengalaman hidup sosok inspiratif itu dengan penuh kekaguman. Hukum alam benar adanya, bahwa siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Siapa yang menanam, ia akan menuai. Siapa yang berada di jalur yang benar, maka ia akan sampai ke tujuan. Pak Haji Amri adalah bukti nyata akan kesungguhan itu, betapa ia memulai segalanya dari bawah, namun berkat kerja keras dan upaya sungguh-sungguh, kini ia justru telah memperoleh segalanya. Beliau pula dengan apik menerjemahkan pesan Nabi, “Sembilan per sepuluh dari pintu rezeki adalah dari perniagaan.” Ia yang sedang mengemudikan sedan Honda berwarna silver itu memperhatikan aku yang tertegun di sampingnya. Ia lantas mengejutkan lamunanku, “Jadi, apa rencanamu kelak?” “Aku akan menjadi dosen sekaligus pengusaha besar seperti Pak Haji,” tukasku dengan optimis. Beliau pun tersenyum seraya mengaminkan. Dan Kampung Wira Damai di sore itu terasa damai sekali, sedamai impian-impianku yang berpendar-pendar dalam pikiran.

Kuala Lumpur, 27 April 2013












Tidak ada komentar:

Posting Komentar