Kamis, 15 November 2012

[Notes from Kuala Lumpur] S2 Tidak Sesederhana Gelar Akademis!

Dahulu, setelah beberapa minggu menginjakkan kaki di Tanah Air selepas kembali dari Mesir, seorang senior yang juga sama-sama tamatan Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir mendatangi saya ke rumah. Maksud kedatangannya kala itu adalah untuk mengajak, bahkan lebih tepatnya meminta dan memohon kesediaan saya untuk mau menjadi tenaga pengajar di pesantren yang akan ia dirikan. Saat itu saya tidak mengiyakan juga tidak menidakkan, hanya saja saya katakan bahwa saya punya rencana akan melanjutkan studi S2 ke IIUM Malaysia. Setelah pertemuan pada hari itu, ia lantas makin kerap mendatangi bahkan mengajak saya guna menemaninya ke berbagai daerah dalam rangka dakwah dan semacamnya. Saya iyakan dan turuti saja, sebab memang kala itu saya belum memiliki banyak kegiatan yang berarti, sebagaimana lazimnya seorang sarjana yang baru lulus.

Selang beberapa waktu kemudian, saya jadi mengetahui dan tersadar, bahwa tujuan sang senior kerap menjumpai dan mengajak saya kemana-mana itu adalah untuk meluluhkan kemauan saya agar bersedia menjadi guru di pesantren tersebut. Bagi sebuah pesantren baru, menemukan orang yang bersedia untuk menjadi guru adalah hal yang terbilang cukup rumit, apalagi guru yang akan menghabiskan sepenuh hari dan umurnya di pesantren, ditambah lagi dengan ragam pertimbangan dan kenyataan di sebuah pesantren baru yang memang memulai segala sesuatu dari nol besar, seperti kecilnya gaji, minimnya fasilitas, serta tuntutan harus berdedikasi penuh untuk pesantren, tapi tidak sebanding dengan apa yang diperoleh. Singkatnya, sayalah yang menjadi "target" dan "sasaran" yang akan dibidik sebagai guru di pesantren tersebut. Setelah terus dirayu, dibujuk, dan didesak, saya katakan bahwa saat ini saya belum bersedia, dikarenakan rencana melanjutkan studi S2 ke IIUM Malaysia yang masih menjadi keinginan terbesar. 


Terang saja, bagi fresh graduate yang masih berjiwa muda dan ingin terus mengembangkan diri seperti saya, mengajar di pesantren sepenuh waktu dengan mengenyampingkan peluang-peluang untuk menjadi lebih baik adalah bentuk pengungkungan dan pengebirian yang sesungguhnya. Saya bukan tidak ingin, tidak mau, atau gengsi mengajar di pesantren. Sama sekali tidak. Namun tentu setiap orang memiliki pandangan dan pilihan hidupnya masing-masing. Saya sudah putuskan sikap, kendati sebelumnya saya sempat menghadiri pertemuan para calon guru di pesantren tersebut. Namun ternyata, sang senior yang juga pimpinan pesantren itu justru menampakkan sikap yang sangat tidak mengenakkan. Saya yakin hal tersebut lantaran saya tidak berhasil ia luluhkan. Bagaimanapun, ia tentu harus menghormati apapun keputusan saya. Memangnya ia siapa? Bisa mengatur-atur bahkan memaksa saya seenaknya untuk menuruti kemauannya. Jujur, saya juga sempat dibuat dongkol dan kesal saat itu. 

Kampus IIUM di bilangan Gombak, Selangor.

Begitulah, sikap dan ucapannya yang melemahkan semangat pembelajar saya ketika itu masih teringat dengan baik. Memang, terkadang orang akan melakukan dan mengatakan apa saja demi memuluskan tujuan yang hendak ia capai. Ia mengatakan, "Buat apa kamu S2? S2 itu tak penting, hanya mengejar gelar saja." Namun nyatanya, semenjak berjibaku sebagai mahasiswa pasca sarjana di IIUM Malaysia, saya mendapatkan ilmu-ilmu baru yang sebelumnya belum pernah saya peroleh, cakrawala berpikir saya jadi semakin terarah dan berkembang, pengalaman hidup dan belajar di universitas dengan lingkungan dan sistem yang berbeda, serta yang lebih penting, menempuh S2 ternyata tidak sesederhana mengejar gelar akademis!


1 komentar:

  1. kisahmu ini 'ngena' bgt di hati. first, aku jg pnh dpt pengalaman kyk gini. then, aku jg mdptkan buanyaaak ilmu baru selama aku S2. yahh, mgkin klo ilmu tdk sewah di azhar. tp pengalaman seperti diskusi, buat makalah, presentasi, dulu di azhar ga ada hahaha.

    BalasHapus