Waktu
aku kecil dulu, toko kain dan pakaian itu sudah ada dan cukup dikenal di Pasar
Raya Solok ini, pelanggannya banyak pula. Aku masih ingat betul, bahwa dahulunya
orangtua dan keluargaku kerap berbelanja busana Muslim atau bahan pakaian di
toko tersebut, terutama pada saat bulan Ramadan atau beberapa hari menjelang
lebaran tiba. Ini terbukti dengan mudahnya aku bisa menemukan tas plastik khas toko
pakaian itu di rumah kami. Saat-saat mendekati lebaran seperti itu, para
pembeli busana Muslim biasanya akan datang membludak ke komplek pertokoan
lantai atas dimana toko itu berada. Dan aku tentu saja ikut serta diajak oleh
ayah atau ibuku berbelanja di sana, sembari memenuhi keinginan anak-anak
seusiaku yang biasanya sudah merengek-rengek minta dibelikan baju baru.
Ya,
toko busana Muslim dan bahan pakaian itu bernama “Toko Haji Manti”. Dari
namanya sekilas bisa diketahui bahwa pemiliknya adalah seorang laki-laki yang
sudah naik haji bernama Manti. Meski kami sekeluarga adalah pelanggan di toko
tersebut dan sering berbelanja di sana, aku yang saat itu masih ingusan cenderung
tidak mau ambil pusing tentang siapa laki-laki yang bernama Haji Manti itu.
Pikiran kanak-kanakku saat itu berkata bahwa urusan kami hanyalah berbelanja
dan selesai. Hal yang barangkali agak berbeda dengan cara berpikir orang dewasa
seperti ayah, ibuku, dan penjual di toko itu.
Bagi
mereka, menjadi pelanggan di sebuah toko tentu tidak sesederhana itu. Ketika
pelanggan datang, dan karena mereka sebelumnya telah saling berkenalan, sang
penjual atau pemilik toko perlu berbasa-basi dahulu sejenak dengan
pelanggan tersebut. Menanyakan kabarnya, keluarganya, dan seterusnya, baru
setelah itu ia menanyakan apa kebutuhan yang hendak ia cari. Sikap semacam ini
biasanya akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Si pembeli akan
semakin betah untuk berlangganan dan berbelanja di toko itu karena ia
memperoleh harga istimewa setiap kali berbelanja, begitu pula dengan si penjual
atau pemilik toko yang tentunya tidak ingin kehilangan siapapun pelanggannya.
Hingga
pada suatu ketika, beberapa tahun kemudian setelah terakhir kalinya aku berbelanja
di toko tersebut, di hari itu aku kembali sampai di blok dimana Toko Haji Manti
itu berada tanpa sengaja. Ya, sekali lagi tanpa sengaja. Aku katakan demikian
karena aku sama sekali tidak berniat datang ke sana. Pun kala itu aku adalah
seorang pemuda berusia 25 tahun yang baru saja kembali menginjak kampung
halaman, yang sudah tidak banyak ingat dengan semua sekat di Pasar Raya Solok
ini, setelah empat tahun lamanya aku berada di Negeri Seribu Menara, Mesir.
Hari
itu adalah Ramadan pertamaku di kampung halaman setelah kembali dari ranah perantauan.
Dan pada siang itu, aku menyengajakan diri ke Pasar Raya Solok guna membeli kebutuhan
pakaian Muslim yang nanti akan kukenakan pada saat menjadi khatib Idul Fitri. Kebetulan
pamanku yang menjadi pimpinan pengurus sebuah masjid di kota Padang memintaku
untuk menyampaikan khutbah Idul Fitri nanti di sana. Maka, di siang yang terik
itu jadilah aku berkeliling-keliling di komplek pertokoan lantai atas yang
menjadi sentra lapak-lapak yang menyediakan aneka rupa busana Muslim.
Setelah
berputar-putar dari toko ke toko dan memilah-milih pakaian dan motif yang cocok
menurutku, akhirnya aku sampai di depan pintu toko itu. Tampak di sana dua
orang gadis pelayan toko berjilbab dan seorang bapak tua yang mengenakan
songkok haji berwarna putih. Seperti lazimnya para penjual atau pelayan toko
pakaian di sini, dua gadis tersebut lalu dengan ramah berbasa-basi
mempersilahkan aku singgah di toko mereka, seraya berkata: “Masuaklah, Da!
Cari apo tu? Baju koko, saruang, bahan celana?” Jika diterjemahkan,
kira-kira mereka berujar begini: Silahkan masuk, Mas. Mau cari apa? Koko,
sarung, atau bahan celana? Aku membalas sikap basa-basi mereka dengan tersenyum
sekenanya. Aku pun masuk ke toko itu dan mengatakan bahwa aku ingin mencari baju
koko setelah bapak berkopiah haji tadi menghampiriku dan bertanya hal serupa.
Entah
apa yang terlihat oleh bapak haji itu dari penampilan dan pembawaanku, sehingga
ia terdorong untuk bertanya lebih jauh setelah aku mulai melihat model-model
terbaru baju koko di toko tersebut.
“Nak,
tinggal di mana?”
“Saya
tinggal di Talang, Pak Haji,” jawabku sambil sedikit mengembangkan senyum.
“Di
Talang di mana?”, cecarnya lagi.
“Di
Koto Gaek,” sahutku.
Ia terus
bertanya, “Rumahnya di sebelah mananya SDN 10?”
Beliau
rupa-rupanya kenal dengan kampung dimana aku tinggal.
“Rumah
saya persis di depan sekolah itu, Pak Haji,” tukasku.
Ia
terdiam sebentar, lalu berujar, “Jadi kamu ini siapanya Bapak Sulaiman Kayo?”, tanyanya
lagi sambil menyebutkan sebuah nama.
Aku cukup
terkaget, ternyata beliau kenal pula dengan gelar ayahku. “Saya anaknya, Pak
Haji,” ungkapku dengan sedikit sumringah.
![]() |
| Ilustrasi |
Aku
berpikir sejenak, mengapa beliau bisa kenal dengan ayahku. Aku lantas mengedarkan
pandangan ke sekeliling ruangan toko itu, lalu menemukan papan bertuliskan “Toko
Haji Manti” di salah satu sisi toko tersebut. Ahaaa! Ternyata inilah toko yang
dahulu kerap kusambangi sewaktu kecil bersama ayahku dan sudah menjadi
langganan kami sekeluarga.
Berikutnya,
tak disangka-sangka, rencana membeli busana Muslim di siang itu tersulap
menjadi sebuah ajang silaturrahim yang cukup hangat. Ya, beliaulah Haji Manti, si
empu toko busana Muslim tersebut. Sosok itu kemudian mulai bertanya kepadaku
tentang banyak hal, mulai dari siapa namaku, sudah tamat kuliah atau belum,
hingga soal pekerjaanku apa. Pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan kepada
seorang anak muda di zaman sekarang.
Dan
betapa gembiranya beliau saat kuberitahu bahwa aku sebenarnya belum lama di Solok
ini, baru beberapa bulan, sebab sebelumnya aku merantau ke Bumi Para Nabi guna menuntut
ilmu di Universitas Al-Azhar. Pun aku mengungkapkan bahwa kegiatanku kini
adalah sebagai guru agama dan bahasa Arab di sebuah madrasah aliyah di
kampungku. Namun aku tidak berniat akan berlama-lama mengabdi di sana, karena
keinginanku untuk melanjutkan studi S-2 ke Negeri Jiran sudah begitu menggebu-gebu.
Beliau menyimak semua yang aku utarakan dengan seksama. Hingga kemudian beliau
berkata: “Bapak juga punya anak yang dulu belajar di Universitas Al-Azhar
seperti kamu. Selepas menyelesaikan studinya di sana, ia kemudian melanjutkan
S-2 di sebuah universitas di Jakarta. Kini ia telah berkeluarga dan bekerja di
sebuah kementerian di ibukota. Kamu barangkali mengenal dia,” pungkas beliau.
Seketika
aku jadi teringat dengan seorang pejabat muda yang bekerja di Kementerian Agama
Pusat yang dulu bertugas mengurus pemberangkatan kami ke Mesir pada tahun 2006.
Aku lantas menebak-nebak nama itu di hadapan beliau. Benar apa kata orang, kadang
dunia ini begitu sempit. Rupa-rupanya, pejabat yang kumaksudkan tersebut adalah
anak sulung dari Pak Haji Manti itu. Beliau lalu melanjutkan ceritanya, bahwa
anaknya yang kini bekerja di Kementerian Agama itu adalah satu-satunya putera
beliau yang begitu berambisi untuk meraih pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral,
sementara adik-adiknya banyak yang lebih memilih untuk mengikuti jejak beliau
berniaga.
Aku
kemudian bercerita kepada beliau bahwa beberapa waktu yang lalu aku mengajukan
permohonan beasiswa guna melanjutkan studi ke Malaysia kepada Kementerian Agama
Pusat lewat putera Pak Haji Manti itu. Kebetulan di Kementerian Agama saat itu
tengah dibuka program bantuan beasiswa untuk studi S-2 ke luar negeri. Putera
Pak Haji Manti itu dengan senang hati membantu melancarkan pengurusan beasiswaku,
semata-mata karena kami satu kampung halaman, Solok. Alhamdulillah, berkat
bantuan beliau, akhirnya aku berhasil memperoleh bantuan beasiswa yang cukup
memperlancar urusan birokrasi pendaftaran studi masterku di International Islamic
University Malaysia (IIUM). Pak Haji Manti turut senang dan bahagia mendengar
apa yang aku ceritakan. Beliau lalu berkata: “Syukurlah. Bapak dari dulu selalu
mengajari anak-anak Bapak untuk membantu orang lain selagi mereka mampu
melakukannya. Karena Nabi pernah bilang, “Allah akan senantiasa menolong
seorang hamba selama ia menolong saudaranya.”
Setelah
dua jam lebih lamanya kami mengobrol panjang lebar di toko itu, aku akhirnya
mohon pamit kepada Pak Haji Manti. Beliau menyatakan sangat senang sekali berjumpa
dan berkenalan denganku. Aku pun demikian. Tak lupa ia memintaku untuk datang
ke rumahnya pada hari lebaran nanti, yang lalu kujawab dengan ucapan insya
Allah. Silaturrahim di siang Ramadhan itu terasa amat membawa berkah. Beliau lantas
memberikan potongan harga yang tak masuk akal atas baju koko yang aku beli
darinya. Sebelum aku melangkahkan kaki, dengan tubuh bergetar Pak Haji Manti
memelukku lama sekali. Kulihat bulir-bulir hangat menganaksungai di
wajahnya yang sudah mengeriput itu. Aku tak bisa menangkap apa makna di balik bahasa
tubuh beliau itu, hingga beliau mengatakan: “Bapak serasa melihat dan berbicara
dengan anak sulung Bapak sendiri,” ujarnya terisak. Dan aku pun lantas meninggalkan
Toko Haji Manti itu dengan perasaan yang mengharu-biru.
Kuala Lumpur, 29 April 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar