Judul Buku : 12 Menit
Penulis : Oka
Aurora
Penerbit :
Noura Books
Harga : Rp.
54.000,-
Cetakan : I,
Mei 2013
Tebal : xiv
+ 348 halaman
ISBN :
978-602-7816-33-6
Resensor : Jemmy
Hendiko
12 Menit; Novel Atau
Promosi Grup Marching Band?
Saat pertama kali
mengetahui novel ini dari sebuah laman internet, seketika saya dibuat penasaran
dan ingin segera membaca. Apalagi dalam ulasan singkatnya disebutkan bahwa
novel ini bercerita tentang perjuangan sebuah tim marching band di Bontang,
Kalimantan Timur untuk berlaga dalam kompetisi marching band tingkat nasional. Ditambah
pula dengan desain cover yang cukup eye catching dengan tulisan “12
Menit” di antara rak-rak kayu berwarna biru elegan, yang dipadu dengan beberapa
benda yang akrab dengan dunia marching band, seperti stik drum, trompet, dan topi
khas pemain marching band. Secarik tulisan “Nantikan Filmnya” yang menempel di
sampul depan kian me-endorsement buku ini untuk dibolak-balik. Wah,
ini pasti menarik. Jarang ada novel yang mengangkat tema seputar marching band,
pikir saya kala itu.
Setelah novel besutan
tangan Oka Aurora ini sampai ke tangan saya di Kuala Lumpur beberapa waktu yang
lalu, langsung saja saya lahap dari halaman ke halaman. Adalah tak mudah bagi
saya untuk memperoleh buku ini, sebab saya harus menitipkannya lewat seorang
teman yang pulang ke Padang dan baru kembali ke Malaysia sebulan kemudian.
Lantas, pertanyaan pertama yang menyeruak di pikiran saya kala membuka halaman
pertama dari novel perdana Oka Aurora ini adalah mengapa kisah ini bertajuk “12
Menit”? Ada apa dengan “12 Menit”? Jawaban dari tanda tanya ini akhirnya saya
temukan pada bab 16, dimana Rene yang berperan sebagai pelatih utama tim
Marching Band Bontang PKT tersebut berkata dengan berapi-api kepada anak
didiknya, “Dalam dua belas minggu ke depan, kita akan habiskan ratusan jam,
siang dan malam, demi dua belas menit. Dua belas menit di Istora nanti.”
(halaman 83)
Di sinilah inti cerita
dari novel yang terinspirasi dari kisah nyata ini. Ya, perjuangan dan latihan
keras selama ratusan jam harus dikorbankan demi kompetisi yang hanya berdurasi dua
belas menit. Satu hal yang menarik adalah ide cerita yang diketengahkan dalam
novel ini sudah terlebih dahulu menjadi skenario film, baru kemudian
dinovelkan. Agak berbeda dengan film-film yang biasanya diangkat dari sejumlah
novel, terutama novel-novel best seller. Dengan kata lain, novel ini adalah adaptasi
dari sebuah film.
Bagi saya pribadi, ada
kesan tersendiri kala membaca novel 12 Menit ini. Betapa mozaik-mozaiknya mampu
memutar kembali kenangan yang pernah saya alami di masa-masa SMP dulu. Ya, perjuangan
tokoh-tokoh yang bermimpi dan berusaha keras demi memenangkan kompetisi Grand
Prix Marching Band (GPMB) tingkat nasional tersebut seketika mengingatkan saya
bahwa dahulunya di masa-masa remaja, saya pernah pula menjadi bagian dari sebuah
tim drum band milik sekolah, yang dalam acara-acara tertentu disulap menjadi
semacam tim marching band mini, namun tanpa pasukan trompet. Drum band yang
dimiliki sekolah kami itu adalah satu dari beberapa tim drum band yang cukup populer
dan dikenal sekabupaten. Hingga di acara-acara bergengsi yang dihelat setiap
tahun di level kabupaten, semisal upacara peringatan 17 Agustus, upacara Hari Pahlawan,
sampai aneka rupa pawai massal dan budaya, sudah dipastikan tim drum band
sekolah kami didapuk sebagai kelompok musik pengiring yang tampil di garda
depan.
Sampai pada suatu
ketika, kami yang beranggotakan puluhan siswa laki-laki dan perempuan itu harus
memacu bulir-bulir adrenalin lebih kencang dari biasanya dan berlipat-lipat meningkatkan
kesungguhan dan kedisiplinan dalam berlatih, ketika sebuah surat dari Dinas Pendidikan
Kabupaten menunjuk tim drum band sekolah kami sebagai delegasi kabupaten guna mengikuti
kompetisi drum band tingkat propinsi. Tak pelak, durasi latihan yang biasanya
hanya sepekan sekali, tiba-tiba harus ditingkatkan menjadi tiga kali dalam
sepekan demi memenangkan kompetisi drum band tersebut. Berlatih dan berlatih
selama ratusan jam di tengah terik panas dan guyuran hujan. Singkat cerita,
setelah melewati rangkaian latihan demi latihan yang melelahkan, tim drum band
kami kala itu dapat berjuang dengan penuh percaya diri melawan puluhan tim
lainnya seprovinsi, tampil maksimal di hadapan para juri, dan akhirnya masuk
lima besar kelompok drum band terbaik.
Adapun tokoh-tokoh utama dalam novel ini, maka sejatinya
mereka seumpama para pelatih dan teman-teman satu tim saya dahulunya, yang
memiliki karakter yang berbeda-beda. Adalah Tara, salah seorang tokoh sentral
yang mula-mula dimunculkan di babak-babak awal. Gadis berjilbab yang memulai
perjuangannya di Marching Band Bontang sebagai anggota cadet band, alias
anggota junior yang hanya sibuk dengan latihan baris-berbaris dan melatih
kombinasi pukulan kanan-kiri, kanan-kiri. Latihan yang cenderung
membosankan. Aktivitas marching band yang menuntut kemampuan musikalitas dan membedakan
bunyi nada dengan baik, menjadi masalah tersendiri bagi Tara. Betapa tidak, remaja
berbakat ini mengalami masalah dengan pendengarannya akibat kecelakaan yang
juga merenggut nyawa ayahnya. Di saat yang sama, ibunya pergi merantau ke
Inggris demi melanjutkan studi dan meninggalkannya bersama opa dan omanya. Keterbatasan
pendengarannya tersebut membuat ia harus bergantung dengan alat bantu dengar
yang senantiasa ia bawa ke mana-mana, namun celakanya tidak begitu membantu. Konflik
batin yang dialami Tara terbilang kompleks dan mampu memantik simpati pembaca.
Kelemahan daya dengarnya membuat ia sering dibentak dan diomeli oleh pelatih, karena
dianggap tidak fokus, tidak becus, dan tidak serius berlatih. Pada gilirannya, Tara
memutuskan untuk berhenti dari dunia marching band, kendati kemudian ia kembali
lagi setelah diyakinkan oleh opa dan oma yang sangat menyayanginya. Di antara
kalimat-kalimat penyemangat sang opa untuk Tara yang membuat saya tertegun
adalah: “Kadang-kadang, hidup itu, ya, kayak gitu, Dek. Kayak dorong mobil
di tanjakan,” jelas Opa. “susah. Berat. Capek. Tapi, kalau terus didorong, dan
terus didoain, insya Allah akan sampai.” (halaman 160)
Berikutnya Rene, pelatih
tim Marching Band Bontang PKT. Gadis muda berkarakter tegas, disiplin, cerewet,
keras kepala, dan suka mengomel. Khas pelatih marching band yang selalu ingin
sempurna dalam segala hal. Ia adalah jebolan fakultas Music Education and
Human Learning di Amerika yang begitu terobsesi dengan dunia marching band
sejak SMA. Selama di Amerika, Rene bahkan bertekad untuk membiayai hidupnya
dari bermusik, sampai akhirnya ia bergabung ke Phantom Regiment, sebuah
tim marching band profesional berskala internasional dan memegang posisi yang
cukup berpengaruh. Dengan pengalamannya yang cemerlang tersebut, ia telah
berhasil memenangkan grup marching band sebuah perusahaan di Jakarta dalam
kompetisi GPMB selama tiga kali berturut-turut. Masalah kemudian timbul saat
Rene dipinang sebagai pelatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim untuk membawa
tim tersebut ke ajang GPMB tingkat nasional. Awalnya ia tak mengiyakan, karena
mengkhawatirkan ibunya yang tinggal sendiri setelah ditinggal wafat sang ayah. Namun,
kala ia sudah resmi sebagai pelatih, masalah demi masalah datang
menghampirinya. Ia melihat anak-anak Bontang sangat berbeda dengan murid-muridnya
di Jakarta dulu. Anak-anak Bontang selalu merasa “kecil” karena berasal dari
daerah. Mereka sudah berpikir kalah sejak awal. Tak pelak, Rene pun kewalahan.
Masalah yang mereka hadapi ternyata bukan soal tekhnis semata, namun lebih
kepada bagaimana membangun kepercayaan diri, ditambah pula dengan personel demi
personel yang keluar masuk begitu saja.
Elaine. Gadis belia blasteran
Indonesia-Jepang yang sangat tertarik dengan dunia musik. Sebelum pindah ke
Bontang, ia adalah seorang pemain biola di sebuah sekolah internasional di
Jakarta. Ia terpaksa pindah ke kota kecil di Kalimantan Timur itu demi mengikuti
sang ayah yang dipindahtugaskan ke sana. Ayah Elaine, Jusuke Higoshi adalah
sosok pria Jepang pekerja keras, disiplin, dan perfeksionis. Khas orang Jepang
kebanyakan. Sang ayah tidak mengizinkan Elaine bergabung ke grup marching band
tersebut, karena ia menginginkan puteri semata wayangnya itu menjadi ilmuwan.
Marching band, di matanya, adalah sia-sia dan tidak bisa memberikan jaminan
hidup. Namun, di saat yang sama, Elaine terpilih sebagai field commander yang
menggantikan Ronny yang mengalami kecelakaan. Konflik Elaine dengan ayahnya
kian meruncing kala gadis tersebut membuang peluang emas mengikuti Olimpiade
Fisika dan lebih memilih berlaga ke GPMB di Jakarta. Salah satu karakter Elaine
yang membuat saya angkat topi dalam novel ini adalah kebiasaannya yang tidak tega
membuang sampah sembarangan, sehingga ia selalu membawa plastik kresek yang
dilipat kecil-kecil untuk membuang sampah-sampah pribadinya, lalu ia buang jika
nanti sudah menemukan tempat sampah.
Selanjutnya, Lahang.
Putera Dayak pedalaman yang harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk sampai
ke lokasi latihan marching band. Lahang hidup miskin bersama ayahnya yang
sering sakit-sakitan, sementara ibunya sudah terlebih dahulu meninggal dunia.
Dilema yang dihadapi Lahang tak kalah mengharukan dengan apa yang dihadapi
Elaine. Suatu saat ia harus memilih apakah harus merawat ayahnya yang sakit
keras atau berangkat ke Jakarta demi mewujudkan mimpinya. Malangnya, saat ia
telah sampai di Jakarta, ayahnya wafat.
Sejatinya, Novel 12
Menit bertutur tentang perjuangan meraih mimpi. Di halaman awal dituliskan
sepotong ayat yang menjadi landasan penguat ide cerita, yaitu “Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan
mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d [13]: 11) Demikian pula, dalam novel ini
bertabur kata-kata dan ungkapan yang mampu memantik semangat positif pembaca,
seperti “Dreaming is believing”. Ya, bahwa bermimpi itu adalah soal percaya
atau tidak. Bagaimana membangun kepercayaan diri demi mewujudkan mimpi dan
bagaimana mempercayakannya kepada Tuhan. Di titik ini, saya teringat dengan
ungkapan senada yang dipopulerkan oleh Andrea Hirata dalam novel “Sang
Pemimpi”, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Selain itu,
ada ungkapan ayah Lahang yang cukup memberikan daya setrum hebat dalam novel
ini, “Berapapun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan
ketakutan, karena ketakutan, anakku, tidak akan pernah menyambung hidupmu. Yang
akan menyambung hidupmu hanya keberanian”. (halaman 104)
Terlepas dari semua
itu, poin menarik dan menjadi nilai tambah adalah perjuangan meraih mimpi
tersebut dikemas oleh Oka Aurora dalam kisah tim marching band dengan setting
kekinian, sehingga upaya mewujudkan mimpi kolektif dan misi bersama terasa
lebih kentara. Sangat berbeda dengan novel-novel bergenre serupa yang biasanya
cenderung menitikberatkan pada kisah mengejar mimpi atau cita-cita pribadi,
seperti cerita tentang kuliah ke luar negeri atau perjuangan menjadi “sesuatu”
yang diidam-idamkan.
Kendati demikian,
kekurangan novel ini menurut saya berada pada tokoh Rob yang karakternya tidak
begitu dieksplorasi oleh Oka dan hanya ditayangkan sepintas lalu pada
segelintir bab. Padahal, di awal cerita saya sudah menduga-duga bahwa Rob-lah
yang akan menjadi lakon sentral. Rob sangat mewakili karakter pekerja keras dan
pengejar mimpi yang ingin ditonjolkan dalam novel ini. Di bab 3 misalnya, diceritakan
betapa Rob sudah mengagumi dunia marching band sejak masih dalam gendongan.
Saat ia baru mulai belajar berjalan, bicara, hingga duduk sendiri, ia sudah
diizinkan untuk menyentuh beberapa alat oleh ayahnya yang merupakan seorang
pelatih marching band. Hingga saat usianya menginjak sepuluh tahun, Rob sudah
terpilih sebagai anggota inti termuda di grup Marching Band Pupuk Kalimantan
Timur sebagai pemain trompet, dimana kemampuan tekhnisnya mampu bersaing kuat
dengan para seniornya. Bahkan, yang mengagumkan, saat usianya tujuh
belas tahun, ia berhasil diterima sebagai anggota The Blue Devils, sebuah
drum corps terbaik di Amerika. Selain itu, jika dibandingkan dengan
novel-novel bertema serupa, pendeskripsian Oka terhadap narasi cerita rasanya tidak
terlalu bertenaga. Dengan kata lain, pemilihan diksi dan kata-kata tidak begitu
memukau pembaca. Kekuatan novel ini menurut saya lebih berada pada alur dan
plot.
Lebih jauh, saat
mula-mula membaca novel ini, tiba-tiba saja saya dilanda penasaran dengan nama
Marching Band Bontang Pupuk Kalimantan Timur yang menjadi alasan novel ini
ditulis. Setelah googling sana-sini, rupa-rupanya tim marching band yang
berasal dari Bontang tersebut tidak sekecil yang divisualisasikan dalam novel
12 Menit. Grup marching band yang lebih populer dengan singkatan MB-PKT itu ternyata
sudah pernah meraih sepuluh kali juara umum dalam kejuaraan Grand Prix Marching
Band (GPMB) tingkat nasional, beberapa kali di antaranya diperoleh secara
berturut-turut. Ya, tim MB-PKT ini adalah grup marching band elit dan disegani.
Namun, sepertinya publik tak begitu mengenal nama MB-PKT, termasuk saya
sendiri, apalagi dunia marching band nyatanya tidak begitu akrab di telinga
masyarakat Indonesia.
Dalam sejarahnya
dikemukakan, bahwa pada awalnya grup musik ini adalah kegiatan ekstrakurikuler
bagi siswa-siswi SMP dan SMA Yayasan Pupuk Kaltim dan dilatih secara serius
untuk dapat tampil pada perayaan HUT PT Pupuk Kaltim tahun 1989 di Jakarta.
Pada perkembangannya, tim yang beranggotakan 130 orang itu kemudian diikutsertakan
dalam ajang GPMB di tahun 1990 dan mulai mengembangkan sistem kepelatihan dan
regenerasi dengan mendatangkan pelatih asing, yaitu Andy Dougharty dan Rene
Conway sebagai pelatih tetap. Sejak saat itu pula, keanggotaan yang sebelumnya hanya
dibatasi pada siswa-siswi Yayasan Pupuk Kaltim dirubah total dengan menerima
keikutsertaan masyarakat sekitar.
Atas dasar fakta di
atas, saya berasumsi bahwa di antara tujuan diangkatnya novel yang tak lama
lagi film-nya akan segera tayang ini adalah untuk mempromosikan grup Marching
Band Bontang Pupuk Kalimantan Timur (MB-PKT) secara lebih luas kepada masyarakat.
Sebab, rasanya sedikit janggal bila sebuah tim marching band yang berkali-kali menjadi
jawara tingkat nasional namun gaungnya hanya dikenal oleh kalangan tertentu
saja.
Terakhir, kehadiran
novel ini seakan ingin mempertegas dan mengingatkan kembali bahwa mimpi apapun
harus diraih dengan kerja keras dan jiwa pantang menyerah. Tak ada mimpi dan
cita-cita yang bisa digapai dengan mudah. Seperti kata Oka, “Tak ada yang
instan di dunia ini. Tak ada. Kecuali mungkin mie. Oh, dan kopi.”
Resensi ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit yang diadakan oleh Noura Books.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar