Rabu, 09 Oktober 2013

Akhirnya Aku Berdakwah di Hadapan Bupati

Jujur, dalam berdakwah, aku bukanlah sosok yang piawai beretorika seperti ustadz-ustadz kondang yang kerap muncul di televisi. Aku bukan pula singa podium yang bisa dengan mudah memukau para audiens dan pendengar. Kemampuanku berceramah di atas mimbar cenderung biasa-biasa saja. Apalagi saat pertama kali didapuk menjadi khatib Jumat di masjid kampungku sekembali dari Mesir dulu. Lantaran sebelumnya jarang menyampaikan ceramah, kala itu aku dilanda demam panggung. Keringat dinginku berhamburan keluar, kendati akhirnya tugas tersebut bisa kutunaikan dengan baik. 

Memang, sejatinya dakwah tak melulu harus disampaikan di atas mimbar dengan gaya retorika yang berapi-api, namun sebagian besar masyarakat memandang bahwa orang yang belajar agama itu harus pandai berceramah. Sehingga mau tidak mau, kemampuan berbicara di depan publik harus benar-benar dilatih dan dikuasai oleh siapapun yang menekuni bidang agama, apalagi jika ia tamat dari sebuah universitas Islam. Hal ini sudah kusadari sejak duduk di bangku madrasah aliyah dulu, di samping dengan terus mengasah pena virtualku dengan cara berdakwah lewat tulisan. 

Dan di hari itu, seorang pejabat teras pemda kabupaten meneleponku pagi-pagi. Kebetulan ia seorang warga di kampungku, jadi aku mengenalnya dengan baik. Aku diminta untuk mengisi kajian dhuha di masjid kantor bupati sepekan ke depan. Ia menuturkan, bahwa acara tersebut adalah agenda bulanan di lingkungan pemda, yang juga akan dihadiri oleh bupati dan seluruh jajarannya. 

Tentu saja undangan itu menjadi kehormatan tersendiri bagiku, apalagi saat itu aku baru beberapa minggu menginjakkan kaki di kampung halaman. Kesempatan ini akan menjadi semacam personal branding untuk memperkenalkan diriku di hadapan bupati dan pejabat-pejabat teras di lingkungan pemda, sehingga pengaruh dakwahku nantinya kepada mereka bisa semakin dalam dan intens, di samping aku ingin sekali menyampaikan nilai-nilai Islam yang betul-betul berlandaskan Al-Quran dan Hadis dengan cara yang menggugah dan menyadarkan.  

Bukan apa-apa, aku kerap mendengar dari masyarakat bahwa kini di daerahku sudah semakin jarang dai yang berbicara dengan landasan ilmu. Dai-dai yang berceramah di masjid-masjid hanya mengulang-ulang apa yang sudah sering mereka sampaikan. Terlebih lagi banyak pula di antara mereka yang hanya berkelakar dan menyampaikan guyonan, bahkan naifnya dengan mempermainkan ayat-ayat dan hadis. Yang penting jamaah bisa terhibur dan tertawa terpingkal-pingkal. Na’ûdzubillâh. Betul-betul miris. Akhirnya, ceramah agama tak ubahnya ajang stand up comedy show. Nyaris tidak ada ilmu yang bisa diserap dan dibawa pulang. Pada gilirannya, jamaah jenuh, pengajian pun ditinggalkan.  

Saat itu pun tiba. Pagi itu, sebelum bupati dan jajarannya sampai, aku sudah berada di dalam masjid di kompleks perkantoran pemda tersebut. Para staf dan pegawai tampak sudah datang memenuhi masjid. Ketika itu aku diamanahkan oleh panitia untuk menyampaikan tafsir Surat Al-Fatihah. Berhari-hari aku mempersiapkan materi tersebut dengan membaca ragam kitab tafsir. 

Setelah acara dibuka dengan sambutan bupati, akhirnya sampailah giliranku untuk mengetengahkan kajian dhuha di pagi itu. Tafsir ayat demi ayat dari Surat Al-Fatihah aku bentangkan sedetail dan semenggugah mungkin. Bupati beserta para jajarannya itu tampak khusyuk mendengarkan pengajian yang aku uraikan. Selama lebih kurang satu jam lamanya aku berada di atas podium.

Setelah turun dari mimbar dan acara ditutup, bupati memanggilku untuk duduk bersama pejabat-pejabat lainnya. Aku lantas ditanyai tentang beberapa hal yang berkaitan dengan tema yang aku sampaikan tadi. Semuanya aku jawab sesuai dengan ilmu dan pemahaman yang kumiliki. Sesekali ia menyanggah, karena menurutnya apa yang aku sampaikan berbeda dari apa yang ia peroleh dari gurunya. Belakangan dari bisik-bisik panitia aku mengetahui, rupa-rupanya sang bupati memiliki “guru spiritual” sendiri, yang konon memiliki “pemahaman sendiri” pula. Kendati demikian, bupati tampak puas dengan penjelasanku, begitu pula dengan pejabat-pejabat itu.

Setelah bupati dan jajarannya beranjak, aku pun bersiap-siap pamit. Panitia menyampaikan terima kasih banyak atas kajian dhuha yang aku sampaikan di pagi itu. Dalam perjalanan pulang aku berandai-andai, sekiranya aku saja yang menjadi “guru spiritual” bagi bupati itu. :-) 

Kuala Lumpur, 10 Oktober 2013




4 komentar:

  1. widih keren bisa berdakwah di hadapan pejabat
    sukses terus bro..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks, Bro. Salam kenal. Ane barusan juga walking ke blog ente. :D

      Hapus
  2. Mudik tahun besok dakwah didepan gubernur :)

    BalasHapus
  3. Bang ada beasiswa buat penghafal all quran gak buat sarjana nya crnya bagaimana ?

    BalasHapus