Aku lantas mendekati lelaki paruh baya itu. Setelah mengulurkan sedikit uang yang kubawa, ia menyalamiku dan mengucapkan terima kasih. Melihat syal berbendera Palestina yang tergantung di lehernya, seketika aku ingin bertanya padanya dengan bahasa Arab, "Anda dari Palestina?" Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia balik bertanya kepadaku dengan wajah sumringah, "Masya Allah, kamu bisa bahasa Arab?" "Ya, alhamdulillah," sahutku sambil tersenyum. "Saya dulu pernah belajar di Al-Azhar, Mesir," lanjutku lantaran menangkap raut keheranan di wajahnya.
Wajar rasanya ia bertanya begitu, karena masyarakat Malaysia sehari-hari hanya akrab dengan bahasa Melayu dan Inggris.
Satu demi satu jamaah masjid ini terus menyumbangkan derma untuknya. Lima ringgit, sepuluh ringgit, dua puluh ringgit. Melihat keadaan tubuhnya yang dibopong dengan tongkat, dengan agak berhati-hati aku bertanya kepadanya, "Kaki sebelah kiri Anda ini kenapa?" "Ini akibat serangan Israel di Gaza beberapa waktu yang lalu," ujarnya. "Innaa lillaah," balasku lirih. "Lan yushiibanaa ilaa maa kataballaahu lanaa. Tidak akan ada yang menimpa kami kecuali apa yang sudah Allah gariskan untuk kami," ungkapnya lagi.
Ia mengatakan hal demikian dengan tegar dan amat biasa. Sama sekali tidak tersirat raut sedih dan penyesalan di wajahnya. Khas gaya orang-orang Palestina yang pernah kulihat dan kukenal di Mesir dulu. Ia lalu menceritakan bahwa ia dan keluarganya datang dari Gaza dan baru dua belas hari berada di Malaysia. Ia kini tinggal tak jauh dari Kampung Wira Damai ini.
Aku mengangguk-angguk menyimak penuturannya. Rasanya tidak perlu aku bertanya mengapa ia datang dan apa yang ia lakukan di Negeri Jiran ini. Beberapa kali aku pernah mendapati orang Palestina dan Suriah yang melakukan hal serupa di sejumlah masjid. Dan sependek yang kuketahui, pemerintah Malaysia tidak mempersoalkan kedatangan warga negara-negara Arab yang bergolak itu ke sini.
Setelah perbincangan ringan itu, aku beranjak pamit. Dari jauh aku melihat Pak Cik Fadhli berjalan lebih gegas dari biasanya, bahkan setengah berlari menuju rumah. Sesampai di pintu rumah, aku dapati Pak Cik Fadhli hendak kembali menuju masjid. Beliau lalu bertanya, "Jamil, orang Arab tadi dari mana?" "Dia dari Palestina, Pak Cik," sahutku. Beliau rupa-rupanya melihat percakapanku dengan orang Palestina tadi. Pak Cik Fadhli lantas keluar, sementara tangannya tampak menggenggam sesuatu. Mungkin lelaki Palestina tersebut akan mendapat kejutan dari beliau yang kukenal suka membantu itu. []
Kuala Lumpur, 2 Mei 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar