Senin, 16 Februari 2015

[Notes from Kuala Lumpur] Analogi Besi dan Atap

Segala sesuatu, ungkap Dr. Abdul Karim Bakkar dalam sebuah bukunya, memiliki kemampuan terbatas untuk memikul bebannya masing-masing. Seumpama besi yang terpancang di atas tiang-tiang bangunan untuk menopang atap yang berada di atasnya. Apa jadinya bila beban atap melebihi kemampuan besi? Benar, besi tersebut akan melengkung, bahkan mungkin akan patah. Jika sudah demikian, besi menjadi tidak berguna, karena alamat atap akan segera roboh. 


Besi Bangunan

Demikian pula dengan manusia. Kita, lanjut beliau, dengan kadar keimanan yang ada di dalam dada, dengan bekal pendidikan dan bimbingan yang kita serap di keluarga dan sekolah, serta dengan nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya, kesemua itu sesungguhnya memiliki kemampuan terbatas untuk menjadi penopang bagi diri kita. 

Maka, jangan perberat dan bebani dirimu dengan mencebur ke dalam interaksi yang rusak dan penuh dengan maksiat, dengan bergaul bersama orang-orang yang membuat engkau terseret ke dalam pusaran kesesatan. Mereka yang pada awalnya dikenal baik kemudian membelot, kerap berawal dari tantangan moral yang tak biasa semacam hal di atas. Dirimu seperti besi. Terlihat kuat, namun bisa saja menjadi rapuh, sementara pola pergaulan itu seperti atap yang bahkan mampu membuat besi menjadi bengkok. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar