Di awal tahun ajaran baru yang lalu, iklan-iklan
kebutuhan guru berseliweran tak henti-henti di akun social media saya
dari berbagai yayasan pendidikan, terutama dari yayasan yang menaungi
sekolah-sekolah Islam yang baru tumbuh. Menariknya, sebagian besar
dengan terang-terangan menyasar alumni Timur Tengah, seperti tamatan
Universitas Al-Azhar Mesir, Arab Saudi, dan sebagainya.
Saat membaca
satu demi satu postingan iklan tersebut, saya jadi kerap
bertanya-tanya, mengapa harus demikian? Mengapa misalnya, mereka tidak
mencari lulusan dalam negeri, padahal yang akan diajar juga cuma
anak-anak setingkat SD dan SMP, yang tentunya hanya akan diajarkan
pengetahuan Islam dasar. Rasanya tidak adil ketika mereka memandang
sebelah mata lulusan-lulusan UIN, IAIN, dan STAI.
Saya
kemudian berasumsi, bahwa hal ini agaknya sangat berhubungan erat
dengan upaya marketing dan pencitraan sekolah, sehingga sekolah-sekolah
tersebut nantinya jadi punya nilai jual di mata masyarakat. Dengan kata
lain, mereka punya guru jebolan luar negeri, sehingga poin ini jadi
nilai lebih dan daya tarik tersendiri untuk menggaet murid lebih banyak.
Hey, ini kan sekolah-sekolah swasta. Mereka pasti juga mempertimbangkan perolehan pundi-pundi profit dong. Tidak cuma dan tidak sesederhana mengurus kegiatan ajar-mengajar doang.
Hanya
saja, satu hal yang menjadi titik perhatian saya selama ini. Bahwa
sesungguhnya masyarakat punya ekspektasi yang tinggi terhadap
alumni-alumni Timur Tengah, dan itu adalah fakta yang tak bisa dibantah.
Jebolan Timur Tengah dinilai punya kedalaman ilmu agama yang lebih,
sehingga ketika seorang tamatan Timur Tengah pulang ke Tanah Air,
biasanya ia akan diundang untuk berceramah ke sana ke mari, atau seperti
yang saya utarakan di atas, diminta, bahkan sampai dibujuk untuk
menjadi tenaga pengajar oleh pengelola-pengelola yayasan, terutama di
sekolah-sekolah berbasis pesantren.
Namun, ekspektasi yang besar tersebut seringkali tidak diimbangi dengan pemberian apresiasi yang layak dan seharusnya kepada alumni Timur Tengah. Dalam hal ini, tengoklah para pemilik dan pengelola yayasan yang biasanya adalah orang-orang yang bermobil mentereng dan berumah megah. Sementara alumni Timur Tengah yang mereka pekerjakan hanya dibayar sekadarnya, sangat jauh dari cukup. Hal ini rasanya sudah menjadi rahasia bersama yang dikeluhkan oleh kalangan alumni Timur Tengah sendiri.
Saya kerap tidak mengerti,
mengapa masyarakat kita, khususnya para pengelola pendidikan swasta itu
punya cara pandang demikian. Apakah mereka melihat bahwa alumni Timur
Tengah itu bak malaikat yang tidak perlu sandang, makan, dan papan yang
layak? Ataukah mereka menilai bahwa mengajar agama itu sudah menjadi
kewajiban sang alumni, sehingga tak perlu diapresiasi dan digaji? Saya
sendiri sudah merasakan perlakuan semacam ini sekembali dari Mesir dulu.
Bahkan hengkangnya saya ke Malaysia guna melanjutkan studi salah
satunya dilatarbelakangi oleh rendahnya apresiasi materi yang saya
terima selama menjadi guru.
Maka, ekspektasi
besar yang mereka elu-elukan terhadap jebolan Timur Tengah seharusnya
juga diimbangi dengan upaya mengapresiasi yang besar pula. Bayarlah
mereka secara profesional, sebagaimana mereka sudah mengajar dan bekerja
pada yayasan-yayasan tersebut dengan penuh dedikasi. Perhatikan
kesejahteraan mereka. Segalanya mesti berprinsip apple to apple. Lamak dek awak, katuju dek urang.
Apalagi, alumni Timur Tengah sudah dengan rela mewakafkan
sepenuh usia dan dirinya kepada yayasan tersebut, bahkan menggantungkan
kepulan asap dapur rumah tangganya pada yayasan mereka. []
Kuala Lumpur, 19 Oktober 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar