Dalam pengamatanku dari waktu ke waktu, kampungku kini
perlahan-lahan bermetamorfosis menjadi "kampung PNS". Seiring bergulirnya
roda zaman, semakin banyak penduduk kampung ini yang kulihat berhasil menjadi
pegawai negeri, entah itu bekerja sebagai karyawan kantor pemerintahan, guru,
atau tenaga kesehatan. Dahulu, saat aku masih ingusan, pegawai pemerintah di
kampung ini hanya bisa dihitung jari, itu pun rata-rata bekerja sebagai guru. Kala
aku kecil, masyarakat kampungku rata-rata hidup miskin dan apa adanya. Sekarang
pun sebenarnya tak sedikit yang masih hidup susah, namun secara umum kini jauh
lebih baik.
Betapa tidak, sebagian besar penduduk kampung hidup dari
bekerja sebagai petani, dan rata-rata mereka hanya berpendidikan rendah. Yang
namanya bertani padi, hasilnya tak selalu seperti yang diharapkan. Adakalanya
petani bisa memperoleh hasil padi yang melimpah, yang kemudian sebagian besar
bahkan keseluruhannya diserahkan kepada tauke padi langganan. Saat musim panen,
tauke padi ini akan tampak sibuk hilir-mudik mengangkut gabah para petani dari
sawah-sawah dengan mobil bak terbuka.
![]() |
| Pemandangan Gunung Talang yang menjadi latar kampungku. |
Kenapa kusebut tauke langganan? Ya, karena kepada para
juragan kilang padi itulah para petani di kampung ini berhutang beras dan uang
untuk kebutuhan hidup sehari-hari jelang musim panen tiba, lalu dibayar dengan
gabah saat musim panen. Bila berlebih, mereka akan menerima uang dari tauke tersebut.
Namun, tak jarang hasil panen hanya cukup untuk menutupi lobang hutang yang
menganga lebar, bahkan terkadang hutang itu pun tak lunas. Begitu seterusnya
dari tahun ke tahun. Singkatnya, mereka berputar-putar dari musim panen ke
musim panen berikutnya dalam lingkaran gali lobang tutup lobang.
Lain lagi ketika sedang tidak beruntung, maka tanaman padi sudah
lebih dahulu tandas oleh hama tikus sebelum dipanen, sehingga bulir-bulir padi
menjadi hampa dan hanya berlebih beberapa sukat saja, bahkan habis tak bersisa.
Bila sudah begini, maka di mana-mana hanya keluhan para petani yang terdengar.
Di jalan atau di kedai kopi orang-orang akan menceritakan kisah sawahnya
masing-masing. Tak pelak, ketika hasil sawah tak didapat, maka alamat hutang yang
akan terus bertambah. Siapa pun tentu sedih dan iba melihat hal ini, karena
kerja keras mereka mengolah sawah selama berbulan-bulan hanya menyisakan kecewa
dan duka lara.
Maka, lantaran sebagian besar penduduk hidup dari bertani dan
banyak yang hidup susah, maka dulu anak-anak mereka hanya bersekolah hingga
jenjang SMA saja. Jarang yang bisa melanjutkan kuliah, kendati mereka mampu
secara intelektual. Tak sedikit di antara anak-anak kampung ini yang
berprestasi cemerlang di bangku sekolahnya. Namun, karena orangtua mereka tidak
mampu, mereka harus mengubur dalam-dalam impian untuk bisa melanjutkan
pendidikan.
![]() |
| Jalan kampungku yang kini telah beraspal. |
Alhasil, selepas SMA, banyak yang memilih pergi merantau,
entah itu ke Batam, Pekanbaru, Jakarta, dan wilayah-wilayah lain di Pulau Jawa.
Sehingga, kala akhir tahun ajaran tiba, di saat yang sama terminal bus besar di
kotaku biasanya ramai oleh keluarga yang akan melepas anak-anak mereka yang
baru tamat sekolah untuk pergi mengadu nasib. Bermodal ijazah SMA, mereka kemudian
bekerja sebagai buruh pabrik, sedang sebagian lainnya memilih berniaga, seperti
lazimnya yang dilakukan oleh orang Minang di perantauan. Dari hasil bekerja di perantauan
itulah, mereka bisa mengirim uang untuk orangtua di kampung halaman.
Dulu, aku menjadi saksi hidup dan merasakan sendiri kepedihan
hidup di kampung ini. Orangtuaku, seperti halnya penduduk lainnya, adalah
petani. Sejak kecil kami sudah terbiasa hidup dalam segala keterbatasan, namun aku
berusaha untuk tidak mengeluh dan meratapi nasib. Lebih tepatnya, memilih untuk
menahan diri dari menginginkan sesuatu yang tak mampu dimiliki. Sebaliknya,
sejak kecil aku sudah terbiasa berpikir keras bagaimana agar bisa terlepas dari
belenggu kemiskinan ini. Aku ingin kuliah setinggi mungkin. Aku tak ingin
mengadu nasib di perantauan seperti yang dilakukan oleh orang-orang.
Akan tetapi, bukan hidup namanya bila ia tak berputar. Roda
hidup akan terus bergulir, akan selalu ada perubahan dan keajaiban yang terjadi.
Apa yang kututurkan di atas adalah potret kampungku sekira dua puluh tahun yang
lalu. Kini, visi dan orientasi hidup orang-orang sudah jauh berubah ke arah
yang lebih baik. Entah bagaimana jalan ceritanya, mungkin juga karena kemajuan
zaman, sekarang semakin jarang terdengar anak-anak kampungku yang pergi
merantau dan mengadu nasib ke kota besar. Mereka kini lebih banyak yang
melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Pesona merantau sepertinya
sudah memudar di mata mereka. Kemajuan teknologi, membaiknya kondisi ekonomi,
dan semakin mudahnya akses informasi agaknya turut berperan mempengaruhi dan
mengubah pola pikir penduduk kampungku.
Selain itu, mereka yang berhasil menjadi PNS terlihat semakin
bertambah dari tahun ke tahun, seiring dengan semakin banyaknya lulusan
perguruan tinggi, sehingga dengan alasan itulah aku menjuluki kampungku ini
dengan sebutan “kampung PNS”. Menjadi PNS kini sudah menjadi tolok ukur
keberhasilan orang-orang di kampungku. Bila di sebuah keluarga ada yang menjadi
PNS, maka keluarga itu dipandang sukses dan terhormat.
Oleh karena itu, hampir di setiap rumah kini ada sarjana atau
setidaknya yang tengah menimba ilmu di bangku universitas, dengan harapan suatu
hari nanti bisa mengikuti jejak orang-orang menjadi pegawai negeri. Begitu juga
denganku. Apa yang aku khawatirkan tentang diriku dulu alhamdulillah tidak
terbukti. Berkat segenap usaha dan doa, aku berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan
S-1 dan S-2 di luar negeri. Pada musim penerimaan CPNS tahun ini, aku pun ikut
berkompetisi untuk menjadi bagian dari abdi negara. Bila ada yang bertanya:
Mengapa (masih) tertarik menjadi pegawai negeri? Karena merantau dan mengadu
nasib di negeri orang bagi kami juga tidak lagi menarik. []



Tidak ada komentar:
Posting Komentar