Namun entah kenapa, pilihan-pilihan semacam itu tidak ia lakoni. Selepas menyelesaikan jenjang S-1 dari sebuah kampus Islam yang cukup terkemuka, ia lebih memilih menjadi guru ngaji bagi anak-anak di kampungnya, yang kerap dipandang remeh dan mengundang tanya bagi sebagian orang. Ya, dipandang remeh dikarenakan penghasilan guru ngaji kampung yang tak seberapa bila dibandingkan dengan kebutuhan hidup yang makin mencekik dari waktu ke waktu.
Kala aku mendengar cerita ini, aku hanya tertegun sambil berpikir. Orang-orang kampung yang berpandangan semacam itu mungkin ada benarnya. Bagi mereka, lulusan S-1 harusnya bisa dapat pekerjaan yang lebih baik. Jadi PNS, guru, atau karyawan misalnya. Bukan jadi guru ngaji yang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang yang hanya tamat pesantren bahkan lulusan sekolah umum sekalipun.
Tapi, kembali lagi kepada apa yang kuutarakan di atas. Bahwa pilihan-pilihan yang diambil oleh seseorang dalam hidup ini, sesungguhnya sifatnya sangat personal dan subjektif. Ia mungkin saja memiliki alasan-alasan pribadi atas pilihan-pilihannya itu, yang kadang tak perlu diketahui oleh orang lain. Adapun bagiku, sederhana saja: karena hidup ini pilihan, jangan menyinyiri dan merusuhi pilihan-pilihan hidup orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar