Hai semua!
Setelah lama rasanya ga nge-update blog gue yang sederhana ini, kadang-kadang gue jadi pengen nulisin apa aja. Mulai dari hal yang remeh-temeh sampai hal yang ramah-tamah. Hehe... Paling tidak ya buat belajar mendeskripsikan apa saja yang gue lihat dan temukan. Seperti yang pernah gue pelajari di sebuah workshop kepenulisan dan penerbitan yang diadakan oleh Word Smart Center bersama sejumlah penerbit Indonesia yang bertandang ke Cairo beberapa waktu silam, bahwa seorang penulis itu sebisa mungkin harus memiliki prinsip atau semacam pemikiran seperti ini: apa saja yang ia baca, lihat, temukan, dengar dan rasakan, jika itu menggelitik naluri kepenulisan dalam dirinya, maka harus segera ia tulis. “Seorang penulis juga harus cakap mendeskripsikan banyak hal dalam tulisan-tulisannya”, tutur seorang pembicara ketika itu. Kontan gue tercenung dan terhenyak mendengarnya, sembari teringat bahwa titik inilah yang selama ini jarang gue fokuskan benar-benar.
Waktu itu gue terkesan dan terinspirasi banget dari pembicara lainnya pada acara workshop tersebut. Yang gue ingat ketika itu, sebelum sang pembicara sampai ke lokasi kejadian, hehe.. maksud gue ke lokasi workshop, dia menuturkan bahwa dalam perjalanan dia menyaksikan dengan mata kakinya sendiri… (hehe.. anyway, gue sebetulnya lagi belajar ngelucu nich dalam coretan-coretan gue. Tapi kalo loe-loe semua ga ketawa, itu artinya gue harus belajar lebih keras lagi supaya loe bisa cekikikan baca tulisan gue.)
Cukup. Gue serius nich. Hehe.. Eh, sampai di mana tadi? O iya, gue lanjutin yach. Dalam perjalanan ke lokasi workshop di bilangan Distrik Sepuluh, Nasr City, Cairo, pembicara yang berasal dari sebuah penerbit di Jakarta itu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sebuah kejadian yang bagi dia menyentuuuh banget, coz mungkin ga pernah kali ya ditemukan di Indonesia, apalagi di Jakarta. Kalau bagi ribuan mahasiswa Indonesia yang sudah lumutan plus karatan di Mesir ini, sampai-sampai wajah dan warna kulit mereka udah ga bisa dikenali lagi lantaran saking berkaratnya, heuheu..., barangkali kejadian itu biasa aja dan ga ada istimewanya. Apa dan bagaimana sich kejadiannya? Hehe.. Gue sendiri juga lupa. Gubrak dah.
Tapi tenang Sodara-sodara. Jangan kecewa dulu. Inti permasalahan yang pengen gue sampaikan bukan kejadian ga penting itu. Intinya adalah pengendalian diri. Hahaha.. Bukan, intinya adalah bagaimana kejadian yang dialami oleh pembicara workshop tersebut mampu menginspirasi dirinya untuk kemudian dia tuangkan ke dalam tulisan. “Nanti pasti akan saya tulis”, ujarnya di hadapan kami dengan mata berkaca-kaca. Menggetarkan. Tapi sayang, gue lupa dia cerita apa waktu itu. Jika gue ingat lalu gue ceritain ulang di sini, gue yakin mata loe-loe semua bakal pada bercermin-cermin juga. Hihi, maksudnya berkaca-kaca juga.
Selepas acara workshop tersebut, gue seakan mendapat setruman semangat yang bervolt-volt jumlahnya untuk menulis, karena emang pada dasarnya gue pengen banget jadi penulis. Gue yakin, jika gue terus menekuni aktivitas menulis ini, skill inilah kelak yang akan menyelamatkan hidup gue. Gue juga percaya seutuhnya, seperti yang pernah gue dengar dari Bung Gede Prama di acara Kick Andy, bahwa modal pendidikan saja tidak akan pernah menyelamatkan hidup seseorang. Buktinya, betapa banyak dan bejibunnya sarjana-sarjana pintar di negeri ini yang statusnya pengangguran. Menyesak saja kerjanya di ruang-ruang publik. Akan tetapi, yang akan menyelamatkan hidup seseorang, yang akan menentukan beruntung atau tidaknya dia, atau bahkan menentukan kaya atau miskinnya dia kelak adalah skill atau keahlian yang ia miliki. Dan yakinlah, jika gue dan loe-loe semua tekuni, aktivitas menulis bisa melakukan itu semua. Happy writing!
Cairo, 30 April 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar