Senin, 03 Desember 2012

Mengintip Nuansa HUT RI di Negeri KCB



Menyoal perayaan HUT RI dari tahun ke tahun, sejatinya tak banyak yang berubah. Euforia kemeriahan adalah suatu hal yang sangat menonjol dalam even tahunan itu. Di berbagai sudut daerah di Tanah Air, kemeriahan ini biasanya akan lebih tampak mengemuka. Terang saja, hal itu tentunya bukan karena upacara peringatan detik-detik proklamasi. Namun justru dengan berbagai acara dan perlombaan yang digelar oleh masyarakat guna memeriahkan hari ulang tahun proklamasi itu. Sebut saja misalnya lomba panjat pinang, tarik tambang, balap karung, lomba makan kerupuk, lomba karaoke, serta berbagai perlombaan lainnya yang begitu identik dengan momen 17 Agutus ini. Belum lagi dengan sejumlah pawai dan arak-arakan yang ikut menambah semarak jalan-jalan utama selama perayaan itu berlangsung. Bagi sebagian masyarakat, kemeriahan beragam acara dan perlombaan tersebut seolah mampu membuat saraf-saraf otak mereka sedikit merenggang, untuk kemudian melupakan sejenak berbagai masalah dan carut-marut kehidupan yang mendera. Pun tanpa sokongan pemerintah, terkadang mereka jauh lebih pandai untuk menyulap perayaan hari ulang tahun negara ini menjadi lebih hidup.
Pendeskripsian saya di atas tentunya adalah sekelumit gambaran tentang suasana peringatan HUT RI di Indonesia. Setidaknya, fenomena tersebut terakhir kali terekam dalam benak saya pada tiga tahun silam. Sebab, setelah itu saya sudah tidak di Indonesia lagi dan telah terbang ke Negeri Kinanah, Mesir guna melanjutkan studi di Al-Azhar University.
Terkait dengan peringatan HUT RI, pada dasarnya banyak hal yang membedakan antara suasana di Tanah Air dengan nuansa yang tampak di negeri Ketika Cinta Bertasbih (KCB) ini. Gegap gempita dan kemeriahan yang sangat kentara di Indonesia barangkali tak akan begitu terlihat di sini. Wajar memang, sebab saya dan juga ribuan warga Indonesia lainnya di sini berada di negeri orang. Tentunya, ruang gerak kami untuk ikut bereuforia merdeka tidak seleluasa masyarakat di Tanah Air sana. Tapi itu bukan berarti kami lantas berdiam diri saja dan tidak merayakannya sama sekali. Untuk ukuran nasionalisme, kadang rasa kebangsaan yang kami miliki selaku warga negara Indonesia justru semakin tajam dan bertaji ketika berada di luar negeri, laiknya di Mesir ini. Lebih jauh, dalam satu dan lain hal, boleh jadi kami mampu melangkaui jiwa nasionalisme manusia-manusia di negeri sendiri.
Dalam menanggapi isu-isu nasional yang berkembang misalnya, saya melihat rekan-rekan sesama mahasiswa di sini cukup peka dan sensitif. Salah satu contohnya, ketika sengketa “perebutan” Pulau Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dan Malaysia mencuat ke permukaan beberapa waktu silam, imbasnya pun turut kami rasakan. Akibat panasnya kasus tersebut, beberapa rekan mahasiswa di sini bahkan mengopinikan untuk melakukan semacam “boikot interaksi” dengan mahasiswa-mahasiswa Malaysia di Cairo ini. Alasannya, hitung-hitung sebagai bentuk “pelajaran moral” bagi negara tetangga itu. Sepintas memang tampak sedikit menggelikan, sebab boleh jadi mahasiswa Negeri Jiran itu tidak tahu-menahu akar masalah tersebut sama sekali. Namun demikianlah adanya. Terkadang emosi kami cepat berdebur ketika dihadapkan pada permasalahan yang menyinggung rasa kebangsaan.
Kembali ke cerita tentang peringatan HUT RI tadi. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari jadi proklamasi tahun ini kembali digelar oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Cairo selaku perwakilan Indonesia di Mesir. Pada dua tahun sebelumnya, saya tidak pernah sekalipun menghadiri acara-acara massif yang diadakan oleh KBRI bertepatan pada momen ini. Alasannya, lokasi KBRI yang cukup jauh dan juga karena tidak tertarik. Saya juga berpikir paling-paling acaranya tidak semeriah di Indonesia. Namun ternyata dugaan saya salah. Untuk ukuran di negeri orang, beragam acara dan perlombaan yang digelar bisa terbilang sangat meriah. Yang pasti, memang tak ada lomba makan kerupuk, lomba panjat pinang atau yang sejenisnya seperti di Indonesia. Tapi paling tidak, segenap upaya yang telah dikerahkan oleh pihak KBRI guna memeriahkan even reguler tahunan ini sedikit banyak mampu mengobati kerinduan pada Tanah Air tercinta.
Mengenai perlombaan yang saya singgung di muka, ada cukup banyak lomba yang diselenggarakan oleh KBRI pada perayaan ini. Kebanyakan memang bersifat olahraga, seperti pertandingan bola voli, bulutangkis, tenis meja, dan bela diri. Di samping ada juga yang bercorak keahlian, semisal lomba nasyid, lomba menulis resensi buku, lomba menghafal Al-Quran, lomba tilawah Al-Quran, dan lomba membuat miniatur rumah daerah. Kesemua pertandingan dan perlombaan tersebut diikuti oleh mayoritas mahasiswa dan digelar beberapa hari sebelum acara puncak perayaan HUT RI. Sehari sebelum acara puncak, saya sempat berkunjung ke KBRI di bilangan Garden City guna mengurus suatu keperluan. Pada hari itu pelataran halaman KBRI sedang ramai-ramainya. Tampak beberapa orang sedang mendesain panggung dan menata sejumlah meja. Juga terlihat beberapa umbul-umbul yang dipasang di sejumlah sisi halaman utama. Ternyata pada malam harinya akan diselenggarakan malam penampilan kesenian Indonesia yang khusus dihadiri oleh diplomat-diplomat asing di Mesir. Setahu saya, ada beberapa kesenian khas Indonesia yang akan ditampilkan pada malam itu, di antaranya adalah atraksi Angklung dan Tari Saman.
Jika mengaca ke sejarah, ada satu hal yang patut dicatat tentang sejarah peringatan proklamasi di luar negeri. Bahwa pada tanggal 17 Agustus 1946, sebuah acara resepsi peringatan pertama HUT Kemerdekaan RI digelar di lapangan olahraga Jam’iyyah Syubban Muslimin di Cairo dan dihadiri sekitar 200 pembesar Arab dan Mesir. Acara tersebut bukan hanya acara peringatan pertama di Mesir, tetapi juga yang pertama kali diselenggarakan bangsa Indonesia di luar negeri pada saat belum satupun negara mengakui kemerdekaan Indonesia.Sejarah juga merekam, bahwa dari Mesirlah perjuangan untuk meraih kemerdekaan itu bermula. Setidaknya hal itulah yang dikemukakan oleh Duta Besar RI untuk Mesir, Bapak Dr. Abdurrahman Fachir dalam pidato sambutannya pada acara puncak peringatan HUT RI yang dilaksanakan di auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar Cairo pada tanggal 20 Agustus silam.
Acara puncak yang diselenggarakan pada malam hari itu berjalan sangat meriah, karena dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa Indonesia di Cairo. Berbagai atraksi dan pertunjukan dipertontonkan pada malam itu, semisal Tari Nusantara, Tari Melayu, kesenian gambus, phantomim, nasyid, kesenian Angklung, dan sebagainya. Ragam acara yang disuguhkan mampu membuat para penonton terhibur, bahkan terpingkal-pingkal saat menyaksikan penampilan kocak phantomim. Acara semakin semarak dan hidup tatkala bapak Duta Besar maju ke atas podium dan melantunkan tembang “Juwita Malam” di hadapan para hadirin. Setelah itu, beberapa lagu nasional pun kemudian dibawakan dengan apik oleh siswa-siswi Sekolah Indonesia Cairo (SIC) dengan iringan musik Angklung, yang mampu membuat haru para penonton. Acara pada malam itu ditutup dengan pemberian hadiah kepada para pemenang lomba-lomba yang diadakan sebelumnya. Saya sendiri alhamdulillah meraih juara pertama lomba menulis resensi buku.
Selama saya di Mesir, produk-produk Indonesia termasuk sesuatu yang cukup langka saya temukan. Kalaupun ada paling hanya ada satu-dua produk makanan saja. Suatu kali saat saya sedang hunting alat-alat tulis di sebuah tokostationery, tanpa sengaja saya menemukan lembaran kertas folio buatan Indonesia. Tanpa pikir panjang, langsung saja saya beli kertas tersebut. Karena dalam beberapa hal, sejatinya kualitas kertas produk Indonesia memang lebih bagus ketimbang kertas buatan Mesir. Ada lagi. Sebuah produk mie instan lisensi Indonesia di sini juga cukup populer. Jika dibandingkan dengan produk sejenis buatan Mesir, mie instan “kita” jauh lebih enak dan gurih, persis seperti aslinya di Indonesia. Praktis, tak peduli musim panas atau musim dingin, mie instan tersebut sangat akrab sebagai cemilan khas mahasiswa Indonesia di sini, bahkan juga mahasiswa-mahasiswa dari negara lain. Bagi saya, meskipun remeh, namun hal-hal di atas setidaknya mampu membangkitkan sebentuk kebanggaan pada produk negara sendiri. Terakhir, jika kelak saya pulang ke Tanah Air, saya berharap wajah Indonesia jauh lebih cerah.

Cairo, 21 September 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar