Sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, aku merasa sangat beruntung dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang begitu peduli dan perhatian padaku. Sebenarnya tidak hanya padaku saja, kami sekeluarga pun saling berbagi perhatian dalam banyak hal. Mulai dari bagaimana sekolahku, masalah finansial keluarga, sampai soal keponakan-keponakan baruku yang minta dicarikan nama. Tentang hal ini, jangan tanya ibuku soal kasih sayang dan perhatian beliau kepadaku. Jika sudah menyoal curah-mencurah perhatian, maka seolah-olah hanya akulah anak semata wayangnya. Kalau dikaji benar tidaknya, barangkali itu hanya ungkapan gombalku saja. Saudara-saudara perempuanku juga pasti akan tergelak mencibir bila mendengar ocehanku itu. Itu baru seberapa di antaranya. Saat aku akan berangkat ke Mesir lebih kurang tahun silam, semua keluargaku tampak sibuk mempersiapkan segalanya, seolah-olah mereka akan melepas jauh seorang anak bujang yang entah kapan lagi akan bersua.
Kami sekeluarga asli Minang. Urang awak. Orang-orang dari Sumatera Barat biasanya disebut begitu. Sejatinya keluarga kami terbilang cukup besar. Kakek dari pihak ibuku mempunyai tiga orang anak: dua orang perempuan dan seorang laki-laki. Ibuku adalah anaknya yang paling bungsu. Itu artinya, aku punya seorang bibi yang sehari-hari kami panggil ibu, dan juga seorang paman yang biasa kami panggil mamak. Bibiku yang merupakan anak pertama, punya dua orang anak, dan dua-duanya perempuan. Sedangkan mamak memiliki delapan orang anak dari hasil pernikahannya dengan dua orang istri. Sementara ibuku sendiri dikaruniai empat orang anak: tiga perempuan dan satu laki-laki. Dan akulah anak lelaki semata wayang itu. Jumlah sebanyak itu tentu belum seberapa jika digenapkan dengan keponakan-keponakanku yang terus bertambah.
Dalam adat-istiadat Minangkabau, sebenarnya memanggil “ibu” kepada kakak perempuan ibu jelas sangat tidak tepat. Justru yang seharusnya aku lakukan adalah menyebut kakak perempuan ibuku itu dengan sebutan mak uwo. Hal ini baru menjadi bahan pemikiran sederhanaku waktu duduk di kelas empat SD. Kenapa bisa mak uwo dipanggil ibu? Betul-betul tidak jelas, batinku ketika itu. Namun tanpa sadar, rupa-rupanya banyak bentuk “ketidakjelasan” dalam hal penyebutan kekerabatan dalam keluargaku. Salah seorang anak bibiku justru lain lagi. Ibuku yang seharusnya ia panggil etek, malah ia sebut layaknya kami memanggil ibu kami sendiri: ama. Aku bersaudara pun tak kalah fatalnya. Kami berempat malah kompak memanggil bibiku itu dengan sebutanibu, padahal jelas-jelas itu merupakan panggilan kedua anaknya kepada beliau. Akibatnya, bagi yang tidak mengenal silsilah keluarga kami, dijamin pasti kebingungan dengan siapa anak siapa dalam keluargaku. Malah tak sedikit yang mengira bahwa ibuku adalah anak dari bibiku itu, lantaran perbedaan usia yang cukup jauh antara mereka berdua.
Aku sendiri bahkan lebih keterlaluan lagi. Waktu masih ingusan, aku terbiasa memanggil kakak-kakak kandung dan sepupuku dengan menyebut nama mereka langsung. Entah karena orangtuaku yang tidak pernah mengajariku memanggiluni kepada mereka, atau lantaran aku yang super bandel. Yang jelas, kebiasaan burukku ini terus berlanjut sampai aku menginjak bangku madrasah tsanawiyah. Bayangkan, betapa tidak berbudi pekertinya aku selama itu kepada uni-uniku.
Sebenarnya, bukannya orangtuaku yang tidak mengajariku bersopan-santun kepada mereka. Aku bahkan masih ingat betapa aku kerap dimarahi dan dijewer oleh kedua orangtuaku lantaran sikap nakalku itu. Uni-uniku pun bahkan tak tinggal diam. Mereka nyaris selalu pasang muka tebal setiap kali aku dengan tanpa rasa bersalah menyebut langsung nama mereka. Akan tetapi, dalam hal ini yang sesungguhnya terjadi adalah lebih kepada didikan orangtuaku yang menurutku kurang tepat. Aku baru diingatkan untuk memanggil “uni” kepada mereka saat aku sudah begitu tenggelam dalam kebiasaan buruk tersebut.
Uni-uniku pun begitu. Ketika berbicara denganku, mereka hampir tidak pernah menyebut “uni” pada diri mereka sendiri, sebagaimana lazimnya dilakukan oleh seorang kakak di Minang untuk mengajari sang adik. Akibatnya, jadilah aku sesosok adik yang cukup “keterlaluan” sepanjang sejarah. Namun, untunglah hal tersebut tidak berlangsung lama. Aku tidak ingat pastinya kapan, yang jelas waktu aku masih duduk di kelas dua atau tiga tsanawiyah, aku mulai menyadari kekhilafanku itu. Walau terasa kelu dan berat, lidahku mulai kupaksakan untuk memanggil “uni” kepada kakak-kakakku tersebut. Tak ayal, keluargaku pun senang bukan kepalang dengan capaian moralku itu, terutama ibu. Perubahan signifikan ini tentunya tidak terjadi dengan begitu saja. Pengetahuan agamaku yang semakin bertambah semenjak masuk madrasah tsanawiyah turut menyadarkanku terlepas dari pelanggaran etika tersebut. Bahkan menurutku, dalam hal ini justru ibukulah yang cukup berperan.
Semenjak usiaku hampir mencapai akil baligh, beliau mulai kerap menasehatiku tentang banyak hal. Mulai dari bagaimana bersopan-santun, menghormati orang yang lebih tua, sampai suruhan mengaji ke surau yang sangat tabu jika harus kulanggar. Biasanya beliau akan menyampaikan butiran-butiran nasehatnya tersebut dengan tenang dan lembut, karena memang ibuku bukanlah tipe wanita yang keras. Sangat jarang bahkan tidak pernah aku melihat beliau memarahi atau membentak kami anak-anaknya, kecuali jika kenakalan kami sudah benar-benar kelewatan. Sepertinya ibuku tahu betul bahwa ketika sang anak sudah sering dibentak dan dimarahi, maka nasehat selembut apapun akan sukar membekas pada hatinya. Benar saja, dalam beberapa kali kesempatan, aku menemukan kasus sejumlah anak tetanggaku yang tidak pernah mempan kalau diberi nasehat. Rupa-rupanya, mereka seringkali dimarahi atau dibentak-bentak oleh ayah-ibu mereka di rumah hanya karena persoalan sepele.
Di kampung-kampung di Minangkabau, masalah etika dan sopan santun masih dijunjung tinggi dalam keseharian. Misalnya, seorang anak akan dicap tidak berbudi pekerti ketika tidak menyapa atau memberikan salam kepada orang yang lebih tua. Pernah suatu sore saat pulang mengaji dari TPA, tanpa sadar aku melakukan kesalahan fatal pada seorang tokoh desa di kampungku. Waktu itu karena terburu-buru, aku tidak begitu memperhatikan kalau orang yang berjalan di depanku adalah seorang tokoh yang cukup disegani. Lantas, tanpa ba-bi-bu, langsung saja aku serobot langkah bapak tersebut yang memang ketika itu cukup menghalangi jalanku. Seharusnya waktu itu aku menyapa beliau atau setidaknya mengucapkan salam, meskipun harus jalan mendahului. Namun karena sudah dikejar waktu, segala tata krama itu musnah sudah di kepalaku.
Tak dinyana, barangkali merasa harga dirinya dilecehkan oleh bocah sepertiku, malamnya ia bertemu dengan ayah di jalan dan meminta agar aku diajari soal tata krama. Tak pelak, akibat “rekomendasi” tokoh desa tersebut, pada malam itu juga ayah dan ibuku langsung “berceramah” panjang lebar soal tata krama, khusus buatku seorang. Setelah beliau berdua selesai berbicara, aku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Meski alasanku diterima, aku tetap diperingatkan untuk tidak lagi mengulangi kesalahan tersebut.
Dalam keluarga, aku merasa sangat diistimewakan dalam banyak hal, baik oleh keluargaku sendiri maupun oleh keluarga bibiku. Terang saja, seperti yang kukemukakan sebelumnya, barangkali karena aku anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Selain itu, jika dibandingkan dengan saudara-saudara perempuanku yang lain, aku tergolong lebih rajin dan lebih pintar dari mereka. Sewaktu menamatkan SD, NEM yang aku peroleh adalah yang tertinggi di sekolah, bahkan termasuk tiga besar sekecamatan. Hal serupa juga kuperoleh ketika aku menamatkan jenjang madrasah tsanawiyah, bahkan dengan prestasi itu aku dinyatakan langsung diterima di sebuah SMA favorit di daerahku. Tapi sayang, tawaran tersebut tak kugubris. Bukannya sombong, tapi secara pribadi, aku lebih memilih melanjutkan sekolah ke sebuah madrasah aliyah negeri yang cukup bonafid di luar kota.
Keputusan-keputusan semacam ini tentu bukan hasil pertimbanganku sendiri. Bagiku, keluarga adalah segalanya dalam hal pengambilan kebijakan, terutama ibu. Ketika aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke madrasah tsanawiyah yang berada di luar kecamatan, hampir sebagian besar keluargaku tidak menyetujui, bahkan beberapa kerabat ayah ada yang mengolok-olok keputusanku tersebut, lantaran memandang rendah nilai sekolah agama. Dalam hati aku mencibir pola pikir mereka yang sempit tersebut. Laiknya di SMP, di tsanawiyah pun aku juga bisa mengasah keilmuanku, bahkan aku akan belajar banyak hal di sana, tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu umum, tangkisku sengit waktu itu. Sebenarnya maksud mereka baik, semata-mata hanya ingin menyarankan agar aku melanjutkan ke SMP saja. Siswa brilian sepertiku lebih cocok masuk ke SMP ketimbang tsanawiyah, begitu kira-kira ucapan mereka kala itu. Namun jika sudah menyoal keinginan, aku adalah sosok yang sangat keras kepala, persis seperti ayahku. Untunglah waktu itu ibu mendukung penuh keinginanku. Pada gilirannya, aku pun bisa membuktikan bahwa aku tidak sia-sia belajar di tsanawiyah. Saat aku memutuskan untuk berangkat ke Mesir pun, aku justru lebih banyak bertukar pikiran dengan ibu. Ketika itu, beliau lebih banyak bertanya tentang apa dan bagaimana tentang studi di sana, sembari sesekali memberikan pertimbangan pada sikap gamangku dalam mengambil keputusan tersebut.
Bertukar pikiran dengan ibu selalu saja menyenangkan. Biasanya, aku akan mengutarakan apa saja yang membuat hatiku gundah pada saat beliau sedang di dapur. Sebab, waktu-waktu tersebut adalah saat dimana beliau agak rileks, sehingga beliau bersedia menjadi pendengar setia tentang apapun yang aku bicarakan.
Sejatinya ibu bukanlah wanita yang berpendidikan tinggi. Beliau hanya sempat mengecap pendidikan hingga kelas enam SD, itu pun tidak tamat. Wajar, sebab keadaan tahun enam puluhan jelas amat berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Padahal, seandainya waktu itu beliau mau menamatkan SD, maka beliau berpeluang besar untuk bisa belajar di sebuah sekolah pendidikan guru di kota kabupaten, seperti yang dilakukan oleh seorang mamakku. Kini mamakku itu mengajar di sebuah sekolah akademi pelayaran di Padang. Namun meskipun begitu, yang membuatku takjub pada ibu adalah semangat ingin tahu beliau yang luar biasa. Setelah aku menamatkan sekolah di madrasah aliyah, tak jarang beliau bertanya kepadaku tentang sejumlah persoalan agama yang tak beliau mengerti, karena di sekolah itu belajar agama memang lebih banyak dan intensif ketimbang di madrasah aliyah biasa.
Jangan tanya soal peringkat berapa aku di kelas. Kalau mau diusut, selama enam tahun di SD, mungkin akulah yang menempati posisi puncak. Tapi lantaran aku bersaing dengan anak salah seorang guru di sekolah, apa lacur, selama enam tahun berturut-turut, aku dipaksa setia bertengger di posisi kedua, meski upayaku belajar sudah jungkir balik untuk memperoleh rangking pertama. Kalau ada yang mengatakan ada semacam konspirasi di balik semua itu, aku akan mengatakan mungkin saja. Sangat mustahil rasanya jika semenjak kelas satu sampai kelas enam aku tetap saja bercokol di peringkat kedua. Kegundahanku perihal rangking pertama yang begitu sulit kuraih itu pernah kuutarakan pada ibu. Waktu itu beliau hanya menjawab singkat saja. Kalau engkau memang merasa bisa untuk meraihnya, coba buktikan di ujian nasional nanti. Ibu akan selalu mendoakan, ujar beliau.
Selang beberapa lama, ujian nasional pun digelar di rayon kecamatan. Dalam pelaksanaan ujian nasional ketika itu, semua siswa SD yang berada di bawah pengawasan rayon tersebut digabungkan pada satu tempat. Itu artinya, kesemua hal yang berkaitan dengan teknis dan hasil ujian tentu saja berada di luar kontrol guru-guruku di sekolah. Saat perolehan NEM diumumkan, ternyata aku bisa membuktikan kepada semua orang dan juga kepada ibu bahwa aku lebih pintar dari anak guruku tersebut. Capaian NEM yang aku peroleh rupanya jauh meninggalkan poin “sang juara” itu. Aku pun bersyukur dan tersenyum lega atas prestasi gemilang tersebut.
Aku yakin, apapun yang aku peroleh sampai detik ini tak lepas dari doa restu kedua orang tuaku, terlebih ibu. Semenjak SD, aku sudah terbiasa mengikuti berbagai perlombaan, mulai dari olimpiade mata pelajaran hingga beberapa kali ikut serta dalam perlombaan MTQ, sampai-sampai aku menjadi sosok yang sangat kempetitif. Tak jarang ibu akan bernazar puasa sunat jika aku berhasil menjuarai sebuah lomba. Setidaknya, prestasi yang telah kutorehkan selama ini kuharapkan bisa membuat kedua orangtuaku bangga. Bahwa mereka juga punya seorang anak yang patut untuk disebut-sebut dan dibanggakan, sebagaimana yang dilakukan dan menjadi impian para orangtua lainnya.
Kini, tiga tahun sudah aku di Cairo. Itu artinya, selama itu juga aku tidak bertemu dengan ibunda yang telah melahirkan dan mendidikku itu. Nuraniku sebagai anak tentu merasakan kerinduan yang mendesak-desak kepada beliau, sementara waktu kepulanganku ke Tanah Air belumlah tiba. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dulu aku dilepas saat akan berangkat ke Negeri Seribu Menara ini. Aku dilepas dengan selaksa doa dan air mata oleh kedua orangtua dan handai taulan yang ketika itu ikut mengantar. Melihat semua pemandangan melankolis tersebut, tangisku pun pecah. Bahkan, saat memeluk ibunda untuk terakhir kalinya, mata ini kupicingkan sekuat-kuatnya. Aku tak kuasa menatap wajah beningnya. Aku yakin, di pagi yang mengharukan itu, ibunda tak sanggup membendung buliran-buliran bening yang meleleh di wajahnya yang sudah mulai mengeriput itu. Ia menangisi kepergianku. Dalam isak tangisnya, beliau hanya berujar singkat: capai cita-citamu, Nak! Kontan aku hanya bisa tergugu dengan semua itu.
Bait-bait Ummi-nya Ahmad Bukhatir yang kuputar di komputer terdengar syahdu mengiringiku menulis memoar ini, membuatku tercenung dan terdiam lama. Bagaimanapun, satu yang pasti, aku akan berupaya mewujudkan apa yang menjadi harapan kedua orangtuaku di Negeri Kinanah ini. Tentu tidak hanya dengan menggondol gelar License semata, tapi sebisa mungkin lebih dari itu.Lasaufa a’ûdu yâ ummî…
Cairo, 21 April 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar