Kamis, 15 November 2012

Aku dan Surau yang Telah Roboh

Dari dulu kampung ini seperti tidak berubah dan tidak ada keinginan untuk merubah diri.  Orang-orangnya tetap saja mereka yang hanya mengejar dunia demi dunia, namun terhadap akhirat mereka buta dan menutup mata. Bayangkan saja, surau kecil tempatku belajar mengeja alif-ba-ta di masa-masa ingusan dulu, kini tak lagi mempunyai guru mengaji. Sehingga anak-anak kampung ini, termasuk dua orang keponakanku sudah lama tak ke surau. 

Jika mereka sudah pandai mengaji Al-Quran dengan baik dan benar, tak mengapa. Tapi nyatanya, anak-anak usia SD di sini masih terbata-bata mengaji Iqra’, kalah telak dari anak-anak Malaysia yang kuampu di Kuala Lumpur sana, yang seusia mereka sudah mampu menghafal Al-Quran dengan tajwid dan bacaan yang tepat. Padahal kampungku ini memiliki banyak mamak kaum dan datuk-datuk adat, namun mereka seolah tak memiliki kepedulian sedikitpun untuk pendidikan agama anak kemenakan mereka, khususnya pendidikan belajar membaca Al-Quran di surau. Sekarang anak kemenakan mereka lebih memilih duduk berbetah-betah di depan televisi atau internet, dengan ketidakpedulian orangtua mereka yang sama parahnya.  

Ilustrasi.


Dahulu, setiap malam-malam Ramadan seperti sekarang, selalu terdengar suara anak-anak dan ibu-ibu yang melakukan tadarus Al-Quran menggunakan pengeras suara dari surau-surau kecil yang tersebar di kampung ini. Bahkan aku dan kawan-kawan sebaya dahulunya saling berebut pengeras suara agar dapat giliran mengaji paling awal, sehingga suara kami dapat didengar seantero kampung. Kini, hal demikian nyaris tak terdengar lagi. Semangat mengaji itu pun nyaris sirna. Bagaimana tidak, anak-anak kini entah bisa mengaji entah tidak. 

Kadang aku jadi berpikir, apakah aku yang harus turun tangan menggerakkan kembali semangat keagamaan yang telah memudar tersebut? Mengajar mengaji, menghidupkan kegiatan surau dan masjid, dan membimbing anak-anak muda yang keseharian mereka tak jelas itu? Memang, tak terlihat orang lain yang akan melakukannya. Namun, mengiyakan perkara ini jelas tak mudah bagiku. Saat ini aku tengah serius-seriusnya merenda masa depan. Sungguh, aku tak ingin semangat belajar dan upaya memperbaiki kualitas pribadiku terhenti lantaran kenyataan pahit di kampung sendiri. Karena masa depanku masih panjang. Karena perjuanganku belum usai. Dan karena aku yakin, setelah melihat berbagai kenyataan yang menyeruak, masa depanku bukan di sini! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar