![]() |
| Ilustrasi. |
Dahulu, setiap malam-malam Ramadan seperti sekarang, selalu terdengar suara anak-anak dan ibu-ibu yang melakukan tadarus Al-Quran menggunakan pengeras suara dari surau-surau kecil yang tersebar di kampung ini. Bahkan aku dan kawan-kawan sebaya dahulunya saling berebut pengeras suara agar dapat giliran mengaji paling awal, sehingga suara kami dapat didengar seantero kampung. Kini, hal demikian nyaris tak terdengar lagi. Semangat mengaji itu pun nyaris sirna. Bagaimana tidak, anak-anak kini entah bisa mengaji entah tidak.
Kadang aku jadi berpikir, apakah aku yang harus turun tangan menggerakkan kembali semangat keagamaan yang telah memudar tersebut? Mengajar mengaji, menghidupkan kegiatan surau dan masjid, dan membimbing anak-anak muda yang keseharian mereka tak jelas itu? Memang, tak terlihat orang lain yang akan melakukannya. Namun, mengiyakan perkara ini jelas tak mudah bagiku. Saat ini aku tengah serius-seriusnya merenda masa depan. Sungguh, aku tak ingin semangat belajar dan upaya memperbaiki kualitas pribadiku terhenti lantaran kenyataan pahit di kampung sendiri. Karena masa depanku masih panjang. Karena perjuanganku belum usai. Dan karena aku yakin, setelah melihat berbagai kenyataan yang menyeruak, masa depanku bukan di sini!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar