Kamis, 15 November 2012

Catatan Seorang Pengajar Muda


Catatan ini saya tulis dengan telepon seluler sembari menyimak bait nasyid bertajuk “I Believe” yang dibawakan dengan begitu apik oleh Irfan Makki dan Maher Zain. Dalam banyak kesempatan, saya menjadi bisa lebih menikmati kegiatan menulis sambil mendengar murattal imam favorit atau nasyid-nasyid kesayangan.  

Ada perasaan yang tak bisa saya bahasakan saat mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari sekolah itu. Jujur, ada sebentuk rasa sedih dan berat meninggalkan anak-anak hebat dan inspiratif yang bersekolah di sana. Anak-anak yang saban hari terlihat berkomat-kamit dengan hafalan ayat-ayat ilahi dan dididik dengan pembinaan Islam yang utuh dan menyenangkan, terlepas dari segala bentuk kenakalan-kenakalan kecil mereka yang pada dasarnya adalah sebuah kewajaran.

Bagi saya, dengan pendidikan qurani dan tarbawi semacam itu, mereka adalah anak-anak cerdas yang kelak dengan izin Allah akan memegang peran-peran penting di negeri ini. Terkadang begitu menyejukkan bertemu dan memperhatikan tingkah polah mereka setiap hari, dengan mushaf di tangan dan spirit belajar yang acapkali tak biasa dan harus diapresiasi berjempol-jempol. Ah, begitu beruntungnya kalian diberikan bimbingan tarbawi sedemikian rupa. Sementara ustad kalian ini saja pada usia sedini itu masih terbata-bata mengeja alif-ba-ta. :-)

Namun bagaimanapun, keputusan ini harus saya ambil bulat-bulat demi merajut asa dan mimpi yang saat ini masih berwujud abstrak. Jargon “sang pemimpi” ala Andrea Hirata-pun ingin saya pinjam untuk menggambarkan kondisi saya saat ini. Tapi entahlah, semoga saja Allah memapah dan menuntun langkah-langkah kerdil dan ringkih ini menuju universitas dan negara impian saya berikutnya. Yâ Rabb, irham dha’fanâ.

Sekolah yang saya maksudkan itu adalah SDIT IQRA’ Solok, sekolah tempat saya mencatatkan kenangan hidup bersama ratusan tunas bangsa di sana. Sekolah yang sarat dengan muatan kontemplasi dan edukasi berharga bagi saya, bahkan bagi siapapun yang pernah memperhatikan aura pembelajaran dan pendidikan di sana dari jarak dekat. Bahwa pendidikan karakter sesungguhnya itu harus bermula dari pendidikan paling dasar. Dan bahwa pembinaan sikap anak sebenar-benarnya mesti berawal dari sikap sejati dan keteladanan dari sang pendidik, bukan dengan ocehan dan suruhan sang guru tanpa didahului dengan contoh nyata.

Sebab, adalah sebuah kekeliruan paling fatal dalam dunia pendidikan bila seorang guru laki-laki melarang siswanya merokok, sementara asap rokok tak henti-hentinya mengepul saban hari dari meja kerjanya. Atau merupakan sebuah aib paling naif bila seorang guru perempuan menceramahi habis-habisan siswi-siswinya yang tak becus berjilbab, sedangkan dirinya saja asyik kongkow-kongkow di hari libur dengan kepala terbuka. Sepertinya masih banyak para pengajar di sekitar kita yang lupa, bahwa dunia pendidikan yang kita ampu ini sejatinya tidak sekedar dan tidak sesederhana dunia ajar-mengajar. Tetapi lebih dari itu, ia sesungguhnya adalah dunia yang sarat dengan muatan nilai-nilai keteladanan. Sebab, anak-anak boleh jadi akan menutup telinga mereka terhadap nasehat dan kata-kata, tetapi mata mereka selalu terbuka untuk contoh dan keteladanan. Rumusnya sederhana saja, selama guru kencing berdiri, maka jangan cari kambing hitam bila murid kencing berlari. :-)

Kembali ke cerita tentang sekolah tadi. Selain kesemua hal di atas, di sekolah ini saya belajar mengajar anak-anak yang jelas bukan perkara mudah, apalagi bagi saya yang tak punya tetek-bengek strata perkuliahan edukasi. Di sekolah ini pulalah saya menemukan anak-anak yang peka dengan semangat keberagamaan pada sesama mereka. Saya jadi tersenyum geli sendiri ketika beberapa anak dengan polosnya mendatangi saya dan melaporkan kelakuan teman-teman mereka tempo hari yang menyalahi apa yang selama ini mereka dapat dan yakini.   


Suatu ketika di hari-hari perdana mengajar, saya dibuat kagum dan tercengang kala beberapa orang siswi kelas enam di sekolah ini menyapa dan memperkenalkan diri mereka di hadapan saya. Saat itu mereka tidak mencium tangan saya sebagaimana lazimnya seorang murid mencium tangan gurunya. Namun, mereka mengucapkan salam sambil mengatupkan kedua telapak tangan mereka di depan dada. Subhanallah, dalam hati saya membatin, anak-anak sebelia ini sudah paham dan mengerti mana yang mahram dan mana yang tidak. Suatu pengetahuan yang masih cukup buta pada masyarakat kita hari ini. Hal demikian terus berlanjut setiap kali bel pulang berbunyi atau saat pelajaran Bahasa Arab dan Tahfizhul Quran yang saya ajarkan selesai, atau dimanapun saat saya bersua dengan mereka.

Saya yakin, ini adalah berkat pembelajaran dan pembinaan keislaman yang sudah dibenamkan semenjak dini di sekolah tersebut. Di sekolah-sekolah lain yang bertebaran di kota ini, barangkaliattitude yang saya visualisasikan di atas merupakan pemandangan yang jarang terlihat. Pun begitu kontras dan bertolak belakang dengan kondisi ABG alay di luar sana yang kebanyakan hanya bersikap cuek dan masa bodoh dengan ajaran agama mereka sendiri. Semoga Allah senantiasa memberikan kesitiqamahan kepada Antum dalam menggenggam agama ini, Aulâdî wa Banâtî.

Tanpa sadar, saya rupanya “terlanjur” menyayangi anak-anak di sekolah tersebut, padahal keberadaan saya di sana hanya satu semester. Dan padahal sebelumnya dunia anak-anak bukanlah dunia yang menarik bagi saya. Begitupun tak pernah terlintas di pikiran, bila selepas merampungkan jenjang studi di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir saya akan ditakdirkan bergelut dengan pendidikan dasar anak-anak. Tapi Allah memang selalu memiliki skenario unik yang tak bisa ditebak. Saya ternyata belajar banyak hal dari malaikat-malaikat kecil itu. Salah satunya, belajar memengerti dunia anak-anak sekarang yang jelas berbeda dengan era 90-an semasa saya menjadi siswa ingusan dulu. :-)


Kepada para ustad dan ustazah, teruslah berjuang. Tetaplah menjadi sosok-sosok inspiratif dan diidolakan oleh anak-anak kita. Sebab, sejatinya kita tengah mendidik dan mempersiapkan generasi emas bagi bangsa ini. Generasi yang dibentuk dengan semangat Al-Quran dan spirit tarbawi. Barangkali inilah pesan dan kesan sederhana saya untuk SDIT IQRA’ yang tak sempat saya sampaikan tempo hari. Maaf dan doakan saya, karena Antum semua adalah pengajar-pengajar muda saleh dan salehah. :-) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar