Aku yakin, setiap orang punya paradigma atau cara pandang tersendiri dalam menerjemahkan dan memaknai arti hidup ini. Paradigma inilah yang pada gilirannya akan mengkristal menjadi filsafat hidup yang dijadikan pegangan, entah itu sifatnya temporal atau final. Ibarat hal-hal lain, hidup ini ternyata juga bisa dinilai dari beragam segi.
Kata orang awam, hidup itu perjuangan. Orang alim bilang, hidup itu ibadah. Semuanya benar dan sah-sah saja. Tapi menurutku, rumus-rumus yang dijadikan sebagai filsafat hidup setidaknya harus mampu menjadi stimulan dan titik tolak dalam berbuat. Secara pribadional, filsafat hidup yang aku yakini tidak terbatas pada jargon-jargon tertentu saja. Dengan kata lain, aku tidak begitu terpaku pada satu-dua filsafat hidup yang secara tidak langsung membuatku harus melakukan lompatan dari sana. Namun paling tidak, ada satu titik poin yang selama ini aku kontemplasikan dalam ruang-ruang renungku. Bahwa di dunia ini kita hanya dituntut untuk berbuat, berbuat dalam pengertian luas dan positif. Sebab, pada dasarnya, hidup ini adalah ruang pembuktian, yang pada gilirannya akan menunjukkan siapa di antara kita yang berbuat paling baik. Ayyukum ahsanu ‘amala. Baik itu berbuat untuk diri sendiri atau orang lain, maupun yang berorientasi dunia atau akhirat.
Lebih jauh, ada sebentuk korelasi yang mengikat antara hidup dan usia yang sedang dijalani oleh setiap individu. Titik inilah yang benar-benar sedang kupahami dan resapi sampai detik ini. Bahwa hidup ini dan juga setiap diri, sejatinya adalah artikulasi dari hari-hari yang mengkristal dalam sebuah ruang usia. Ketika hari demi hari pergi dan berlalu, maka satu demi satu bagian dari diri ini juga ikut lenyap. Begitulah Imam Hasan Al-Bashri dengan bijak membahasakan. Nilai filosofis ini jualah yang saat ini tengah aku upayakan dalam bahasa perbuatan, bagaimana agar aku senantiasa melakukan hal-hal konkret dalam hidup, memberikan sumbangsih karya, dan berbuat yang terbaik. Sebab, aku sadar bahwa aku hanya kumpulan hari, yang suatu saat akan teranulir oleh ruang dan waktu.
Berbuat dan memberi. Itulah yang lebih jelas ingin aku tegaskan. Aku jadi teringat sebuah kisah tentang lelaki embun. Ya, layaknya embun, ia selalu menyejukkan siapa saja. Ia tak pernah canggung ataupun gengsi untuk berbuat dan memberi pada orang lain. Sejatinya ia lebih mirip Abu Bakar, yang memiliki daya beri yang luar biasa dan tak terlangkaui oleh siapapun, sampai oleh Umar sekalipun.
Maka, alangkah indahnya hidup ini jika seseorang mampu berada dalam posisi pemberi. Sebab, dalam tataran realitanya, hanya orang-orang yang punya daya berilah yang akan mendapat tempat di hati khalayak. Tentu bukan hanya memberi hal-hal yang bersifat materi, namun juga memberi dalam arti seluas-luasnya. Hingga tak salah sebuah adagium mengatakan, yang kira-kira makna leksikalnya begini: Jadilah orang kaya yang senantiasa berbagi materi, atau orang alim yang selalu memberi ilmu. Terakhir, mungkin pesan moral dari novel Laskar Pelangi tak mengapa jika kututurkan di sini. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.
apapun filosofi hidup kita hendaknya hidup itu dipakai untuk kebaikan dan kemanfaatan bagi diri dan sesama..
BalasHapus