24 Februari 2012. Hari ini sebulan sudah aku di Kuala Lumpur, Malaysia. Menjalani hari-hari baru dan mengesankan sebagai mahasiswa Master of Islamic Revealed Knowledge and Heritage (MIRKH) di International Islamic University Malaysia (IIUM) yang berlokasi di bilangan Gombak, Selangor. Sebuah pencapaian yang sebetulnya aku sendiri tidak bisa mempercayainya. Berkat usaha dan upaya keras yang nyaris mencapai titik nadir, bait-bait doa yang tak kunjung padam, dukungan dari orang-orang terdekat, dan tentu saja izin serta rahmat dari Dzat Yang Segala Maha, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di altar kampus biru megah IIUM Malaysia, universitas impian keduaku setelah Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Bagiku, prestasi ini menjadi resolusi dan kejutan hebat di pembuka tahun 2012.

Ya, sebulan silam, tepatnya pada tanggal 22 Januari 2012 aku kembali meninggalkan keluarga tercinta demi sebuah misi suci dan mulia. Namun tidak seperti separuh windu sebelumnya ketika aku berangkat ke Mesir dengan melintasi samudera dan benua, kali ini perjalananku jauh lebih dekat. Hanya “menyeberang” ke negeri tetangga, Malaysia. Bahkan sebenarnya jauh lebih dekat ketimbang Padang-Jakarta, harga tiketnya lebih murah pula.
Tak sedikit cerita menarik sebelum dan setelah aku sampai di Negeri Jiran ini. Semuanya saling berkait kelindan dan pada akhirnya menciptakan sebuah alur cerita yang indah untuk dikenang. Seketika aku tiba di Kuala Lumpur, lantas beberapa waktu kemudian dinyatakan lulus dalam ujian English Placement Test (EPT) IIUM yang terkenal sangat sulit dan menakutkan itu, aku benar-benar tergugu, bahkan aku menangis haru dalam diam dan kesendirian. Dalam situasi seperti ini, aku merasa bahwa Allah sangat dekat sekali denganku, bahkan barangkali lebih dekat ketimbang urat nadiku sendiri. Untuk kesekian kalinya aku mampu membuktikan kepada diri sendiri dan juga kepada semesta, bahwa aku hampir tak pernah menemukan kata sulit dan mustahil terhadap cita-cita apapun yang kuniatkan. Benar seperti kata Andrea Hirata, “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Aku membuktikan betul kata-kata ajaib penulis novel laris “Sang Pemimpi” itu. Aku meniup dan melangitkan impian untuk bisa menjajal kemampuan akademikku di kampus IIUM, hal yang sebetulnya berada di luar nalar logisku. Bukan apa-apa, secara hitung-hitungan sederhana jelas tak mudah bagiku untuk sampai ke universitas yang cukup terkemuka di Malaysia ini, mengingat besarnya pundi-pundi yang harus kuhimpun dalam rentang waktu yang tak lama, di samping sejumlah kualifikasi yang bagi sebagian calon mahasiswa cukup memberatkan. Namun, bagi Allah tak ada yang sulit, bahkan bagi-Nya sebuah kesedihan bisa tersulap menjadi seutas kemudahan.
Sesungguhnya alur perjalananku ke Kuala Lumpur, Malaysia hampir mirip saat aku memutuskan untuk berangkat ke Mesir empat tahun silam. Bimbang, serba rumit, dan butuh ragam pertimbangan. Bahkan dua pekan jelang keberangkatan aku sudah dengan tegas menyatakan kepada diri sendiri dan keluarga bahwa aku membatalkan niat ke Malaysia. Kendati demikian, aku tetap berusaha menghibur diri. Berkali-kali aku membatin sambil meyakinkan diri sendiri, “Kondisi lebih sulit dari ini sudah pernah kau alami. Jadi tenang saja. Kau akan sampai ke Kuala Lumpur.” Namun ada yang unik kala itu. Pada saat semangat mulai mengendor dan kemauan hampir tinggal separoh, aku justru nekat memesan tiket penerbangan ke Kuala Lumpur.
Akan tetapi, bukan hidupku namanya jika tak ada kejutan dan keajaiban, dan aku percaya itu. Sepekan kemudian aku berhasil memperoleh sponsor studi berkat kebaikan orang-orang dekat yang jasanya akan senantiasa kukenang, kendati nominalnya tak begitu besar dan hanya cukup untuk menutupi biaya pendaftaran ulang yang selangit. Barangkali inilah semacam firasat yang pada gilirannya mengantarkanku ke Negeri Upin dan Ipin ini. Bahwa aku harus tetap berpijak pada titik koordinat positif tempat dimana semula aku berada, tidak mundur ke koordinat negatif. Lebih dari itu, aku lagi-lagi belajar dari prinsip dan keyakinan sederhana yang kubangun dari kecil dan hingga kini tak bergeser sedikitpun. Bahwa selama dalam diri ini ada niat yang tulus, kemauan keras, dan upaya yang sungguh-sungguh, maka jalan-jalan kemudahan itu akan senantiasa terbentang. Itu saja. Sungguh Allah Maha Benar, pada gilirannya aku membuktikan betul bahwa Allah sekali-kali tidak pernah menyalahi janji-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar