10 Maret 2012. Banyak kesan dan perasaan yang menyeruak setelah sebulan lebih berada di IIUM Kuala Lumpur, Malaysia. Paling tidak, semenjak berjibaku dengan segala kegiatan akademis dan perkuliahan di kampus biru ini, aku merasa kembali dinamis dan bergerak. Tidak jalan di tempat atau malah mundur ke belakang seperti yang aku rasakan selama sebelas bulan belakangan di Indonesia. Meski berstatus sebagai jebolan Al-Azhar Mesir lantas kembali ke Tanah Air, bukan berarti segala idealisme yang mengawang di Cairo itu serta-merta akan terwujud. Ah, Indonesia tak seindah yang kau bayangkan, Kawan. Aku tiba-tiba menjadi terhenyak dan tersadar, bahwa di titik inilah selama ini mahasiswa-mahasiswa Cairo lupa dan lengah. Menjadi sosok-sosok idealis di Bumi Para Nabi, lalu membayangkan idealisme-idealisme yang melangit itu membumi seketika pulang ke Indonesia. Celakanya, mereka seolah menutup mata dari realitas yang ada dan berkembang di tengah masyarakat. Pada gilirannya, fenomena yang kerap terjadi adalah alumni-alumni Al-Azhar yang mengalami culture shock setiba di ranah kampungnya sendiri.
Kembali ke tajuk utama. Aku ingin sedikit berkisah tentang diriku dan IIUM. Di universitas internasional yang berlokasi di bilangan Gombak, Selangor ini aku menjajal peruntunganku di Kulliyah Islamic Revealed Knowledge And Human Sciences (IRKHS) pada Program Fiqh And Usul Fiqh. Dalam sepekan aku memiliki empat kali jadwal perkuliahan, yaitu dari hari Senin hingga Kamis, mulai selepas Ashar sampai waktu Maghrib menjelang dengan empat mata kuliah, yaitu: Studies of Comparative Fiqh, International Relationship, Juristic Studies of Islamic Banking, dan Research Methodology. Pada jam-jam sesenja ini, kampus Al-Azhar dan kampus-kampus di Indonesia biasanya sudah lengang karena para mahasiswa sudah pulang ke kediamannya masing-masing.
Akan tetapi, di kampus IIUM Malaysia tidak demikian adanya. Di universitas yang didirikan pada tahun 1983 ini, semenjak aktivitas perkuliahan dimulai dari jam sembilan pagi hingga bahkan tengah malam, para mahasiswa dari berbagai etnis dan bangsa tak henti-hentinya berlalu lalang di berbagai sudut kampus, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab, di IIUM tidak semua fakultas dan jurusan menyelenggarakan kegiatan perkuliahan pada jam yang sama. Yang unik dan menarik di sini, aura IIUM sebagai kampus islami sangat terasa, kendati para mahasiswa dan mahasiswi berbaur dalam satu komplek kampus dan tidak dipisah layaknya Universitas Al-Azhar, Cairo. Jarang sekali aku menemukan mahasiswa yang berlainan jenis jalan berbarengan, duduk menyepi berduaan, berboncengan sepeda motor, bermesraan di tengah keramaian publik, ataupun yang lebih parah dari itu. Kalaupun ada yang bergandengan romantis, maka bisa dipastikan mereka adalah pasangan suami istri yang legal dan sah. Kendati demikian, sesekali masih saja aku mendapati ada satu dua mahasiswa asing berkulit hitam atau putih yang merokok di lingkungan mahallah (asrama). Bagiku, orang-orang semacam inilah yang patut disentil dengan sebait pepatah, “Karena nila setitik rusak susu sebelanga.” Citra baik IIUM sebagai kampus islami selama ini bisa tercemar lantaran ulah mahasiswa-mahasiswa seperti itu.
Selain itu, belakangan ini di akhir pekan aku kerap diajak dan “dipaksa” oleh Pak Cik Fadhli datang ke rumahnya di kawasan Batu Caves. Aku tak menyangka di Negeri Jiran ini bisa dipertemukan dengan sosok yang masih terbilang keluarga dekatku itu. Sebelum berangkat ke Malaysia, aku hanya sempat mendengar cerita tentang beliau dari ayah dan ibuku. Sekedar pengetahuan singkat bahwa beliau sudah lama menetap di Malaysia dan menjadi orang besar di sini. Sebelumnya aku sama sekali tidak pernah bertemu dan berkenalan langsung dengan beliau. Sejatinya, beliau adalah keponakan kakekku. Atau dengan kata lain, beliau merupakan sepupu ibuku, sehingga dalam kekerabatan Minangkabau seharusnya aku memanggil “pak etek” kepada beliau. Namun, lantaran beliau dan keluarga sudah lama menetap dan menjadi warga negara Malaysia, agaknya panggilan kekerabatan ala Minangkabau tersebut sudah tidak berlaku lagi di sini. Apalagi dalam pengamatanku beliau sudah tak fasih lagi berbahasa Minang. Sehari-hari bersama keluarganya yang masih orang Minangkabau beliau berbicara dengan bahasa Melayu. Praktis, setiap kali aku datang ke rumahnya aku pun harus berbicara dengan bahasa Melayu yang masih patah-patah. Tak pelak, lidahku keseleo dibuatnya karena belum terbiasa.
Dan di akhir pekan ini, saat aku tengah membaca beberapa referensi yang kupinjam dari library Darul Hikmah IIUM, aku kembali ditelepon oleh beliau. Beliau mengatakan bahwa besok beliau akan menjemputku ke asrama, sehingga aku harus segera mempersiapkan curriculum vitae sebagai syarat kelayakan yang akan beliau ajukan ke sebuah ma’had tahfizh Al-Quran di sini. Rencananya aku hendak mencoba mengajar. Hitung-hitung menambah pengalaman dan mencari kesempatan untuk menghimpun pundi-pundi pemasukan. Sejauh ini aku sudah menerima beberapa tawaran untuk mengajar private, semoga pekan depan sudah bisa kumulai di sela-sela assignment kuliah yang mulai menumpuk. Memang semenjak aku bertemu beliau di sini, aku merasakan perhatian dan kasih sayang layaknya orangtua sendiri dari beliau. Bahkan atas permintaan beliau pula, dalam waktu dekat ini aku akan keluar dari mahallah dan tinggal bersama beliau sekeluarga di Batu Caves.
Sekedar informasi penting dariku, bahwa pola hidup di Malaysia sangat jauh berbeda dengan di Mesir. Di Mesir sana mahasiswa asing tidak perlu memikirkan darimana dan bagaimana mereka memperoleh pemasukan untuk bertahan hidup, karena memang banyak peluang untuk memperoleh beasiswa di samping hampir segalanya diberi oleh pihak universitas, biaya kuliah digratiskan pula. Tapi tidak dengan di Malaysia dimana segalanya diukur dengan uang, apalagi menjalani studi dengan biaya yang tergolong mahal untuk mahasiswa seukuranku. Jika sang mahasiswa bukan tipe anak yang bisanya hanya ongkang-ongkang kaki dan merengek-rengek pada orangtua, maka mau tidak mau ia harus memutar otak agar bisa membiayai kehidupan dan kuliahnya selama di Negeri Jiran ini. Sekian ceritaku kali ini. Apa ceritamu?
how to apply on it?
BalasHapusKonsultasikan rencana studi anda di Malaysia & Brunei Darussalam bersama kami, silahkan menghubungi :
HapusDivisi Education Agency PT PADMA
Jl. Taman Curie No. 5 Bandung 40171
(Tina, Yudo, Donny & Akmal)
Senin s/d Jumat jam 08.30 - 16.30
Universitas di Malaysia yang merupakan partner PT Padma adalah :
1. Universiti Utara Malaysia (UUM) www.uum.edu.my
2. University of Kuala Lumpur (UniKL) www.unikl.edu.my
3. Malaysia Multimedia University (MMU) www.mmu.edu.my
4 Asia Pasific University (APU) www.apu.edu.my
5. International Islamic University of Malaysia (IIUM) www.iium.edu.my
Universitas di Brunei Darussalam yang merupakan patner PT Padma adalah :
1. Universiti Brunei Darussalam (UBD) www.ubd.edu.bn
2. Institut Teknologi Brunei (EDU) www.itb.edu.bn
3. Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) www.unissa.edu.bn
Website : www.padma-edu.com
e-mail : padmastudi@gmail.com
Phone : 022 4230450 / 082188991900
tweeter : @padmastudi
Info yang sangat bermanfaat buat kita semua.
BalasHapusDi dalam blog ini membincangkan tentang Kampus Biru IIUM Malaysia. Ia memberikan banyak maklumat dan dapat membantu mereka yang sedang mencari maklumat yang berkaitan. Saya di sini, mempunyai sumber rujukan dalam menerapkan idea-idea yang bernas hanya dengan read more laman sesawang ini kerana ia dapat melengkapkan kertas kerja yang diberikan dengan sempurna dan menghasilkan kualiti yang baik. Terima Kasih dengan perkongsian yang terbaik ini.